
Dua bulan berlalu, perkembangan si triplets sangat bagus sekali. Di usia delapan bulan mereka bertiga sudah bisa merangkak, kecuali Aleeya yang bergerak layaknya suster ngesot. Anak Radit-Echa yang satu itu selalu tertinggal dari kedua kakaknya. Dia juga memiliki perbedaan yang sangat mencolok, yaitu cengeng.
"Baba!"
Teriakan ala Tarzan sudah terdengar. Radit yang tengah asyik bermain PS bersama Iyan pun mendengus kesal.
"Bentar Bu," teriak balik Radit.
Belum lama ini rumah ini seperti hutan belantara. Penuh teriakan di mana-mana.
"Baba, Bubu hitung sampai ti ...."
"Iya, Baba ke sana sekarang." Radit meletakkan stik PS di mana saja dan berlari ke arah sang istri.
"Astaghfirullah!" ucap Radit.
Echa sudah terduduk di lantai dan membiarkan ketiga anaknya bermandikan bedak. Mereka tengah asyik berguling-guling di atas tumpahan bedak. Tawa mereka sangat riang sehingga membuat Echa tidak tega untuk melarang. Padahal, mereka bertiga sudah mandi.
"Kenapa anak-anak Baba kayak tuyul begini?" Radit mengahampiri ketiga putrinya. Mereka seolah mengajak bicara Radit.
Echa hanya bisa menghela napas kasar. Lelah sudah pasti dia rasakan. Mengejar-ngejar ketiga putrinya yang seperti memiliki baterai yang tak pernah lemah.
"Biarin aja dulu. Kalau udah bosan juga mereka nangis," ujar Radit yang ikut duduk di samping sang istri.
Radit meletakkan kepala sang istri di bahunya. Menggenggam tangan Echa kemudian menciumnya.
"Pasti lelah banget, ya." Echa hanya mengangguk pelan seraya menajamkan matanya. Radit mengecup ujung kepala sang istri.
"Ya ampun cucu Engkong," pekik Rion melihat keadaan si triplets layaknya moci.
Rion segera masuk ke dalam kamar si triplets. Matanya melebar ketika anak dan menantunya malah berpelukan. Membiarkan ketiga anaknya seperti Dakochan.
"Echa!" pekik Rion.
Echa menatap sepintas ke arah sang ayah. Kemudian, dia meletakkan kepalanya kembali di pundak Radit.
"Jangan bawel, anak Echa juga gak rewel," larangnya.
Rion yang hendak membuka suaranya pun tidak jadi. Mendengar ucapan sang anak membuatnya mendengus kesal. Rion tidak menghiraukan sepasang suami-istri tidak punya hati.
Kerjaannya mesra-mesraan mulu. Gak ngehargain ayahnya banget.
Begitulah suara hati seorang duda yang dilarang menikah lagi oleh ketiga anaknya. Hari-harinya hanya dia habiskan dengan bekerja, menemani Iyan bermain serta bersama ketiga cucunya.
"Uyul." Panggilan sayang dari sang engkong membuat Aleeya ngesot ke arah Rion. Tangannya terus terulur ke depan meminta bantuan. Namun, Rion bersikap tegas. Agar Aleeya bisa menjangkaunya.
"Hore! Cucu Engkong pintar," ucapnya girang.
"Sekarang, Uyul mandi lagi terus Mimi susu, oke." Aleeya terus mengoceh tidak jelas dan membuat Rion semakin gemas.
Tidak peduli wajah Aleeya penuh dengan bedak. Dia terus menciumi pipi gembil Aleeya. Rion terus mengajak berbicara Aleeya sambil memandikan ulang Aleeya.
"Tjacaca." Kalimat itulah yang keluar dari mulut Aleeya.
"Udah selesai, saatnya pakai baju," ucap Rion sambil mencium pipi Aleeya yang sudah wangi.
"Dek, ambilkan baju untuk Aleeya." Echa pun bangkit dari duduknya. Melangkahkan kaki menuju lemari baju Aleeya.
"Dit, buatkan susu," titah Rion lagi.
Untung saja di dalam kamar di triplets ada mini pantry. Semua susu dan MPASI ada di sana. Agar mempermudah Echa untuk tidak keluar kamar ketiga anaknya.
Setelah selesai memakaikan baju Aleeya, Rion beralih kepada kedua kakak Aleeya. Satu per satu dari mereka Rion bawa ke kamar mandi untuk dimandikan. Ketiga cucunya lebih senang mandi dengan air yang mengalir dari pada harus dicelupkan ke dalam bak.
Ketika semuanya sudah rapih dan hendak terlelap, Rion menyuruh Echa dan Radit untuk membawa tubuh anaknya satu per satu ke kamarnya. Kamar si triplets penuh dengan bedak bayi dan harus segera dibersihkan.
"Mbak, bersihkan kamar si triplets. Jangan sampai ada bedak yang tersisa." Mbak Ina mengangguk patuh.
Dengan damainya ketiga anak Echa terlelap di atas ranjang duda. Mereka sangat nyenyak tidur dia atas ranjang besar nan empuk.
__ADS_1
Echa membuka pintu kamar sang ayah ketika dia sudah selesai mandi lalu makan. Bibirnya tersenyum ketika melihat ketiga anak kesayangannya tengah tidur nyenyak.
"Ayah, kamar mereka sudah bersih. Biar Echa bawa mereka."
"Biar mereka tidur sama Ayah malam ini," imbuh Rion.
"Jangan Ayah, mereka nanti mengganggu Ayah. Tengah malam jadwal mereka bangun." Rion tetap bersikukuh menginginkan ketiga cucunya tidur bersamanya malam ini.
"Kamu cukup bawakan keperluan di triplets ke sini." Echa hanya menghela napas kasar. Mau tidak mau dia menuruti perintah sang ayah.
Pelukan dari belakang membuat Echa tersenyum. Apalagi cincin pernikahan yang sama dengan yang dia gunakan masih melingkar di jari tangan itu.
"Anak-anak tidur sama Ayah?" Echa mengangguk pelan. Dia meletakkan belakang kepalanya di dada bidang sang suami.
"Gak apa-apa, Yang. Malam ini kamu bisa istirahat. Aku ingin memeluk kamu malam ini karena besok aku harus ke Surabaya." Echa mendesah panjang.
"Maaf." Radit meletakkan dagunya di bahu Echa.
"Aku memilih hari Minggu karena banyak orang di rumah. Jika, hari biasa sudah pasti kamu akan kelelahan," terang Radit yang tidak melepaskan lingkaran tangannya di perut Echa.
"Senin siang atau sore aku usahakan sudah sampai di Jakarta."
Resiko memiliki suami pengusaha ya begini. Selalu ditinggal ke luar Kota bahkan ke luar negeri. Sama halnya dengan profesinya sebagai dokter ketika berada di Ausi. Echa haruas mengikuti ke mana Radit bertugas. Meskipun hanya beberapa hari, Echa harus ikut. Tidak peduli biaya yang harus dia keluarkan, yang paling penting Echa selalu ada bersamanya.
Keadaannya dengan sekarang berbeda. Echa sudah memiliki buntut. Tidak tanggung-tanggung, buntut yang Echa miliki berjumlah tiga. Susah jika harus membawa mereka. Apalagi, usia mereka masih di bawah satu tahun.
Echa dan Radit membawa kebutuhan si kembar ke kamar sang ayah. Bibir mereka berdua melengkung sempurna ketika melihat sang ayah sedang memeluk tubuh ketiga cucunya yang tengah tidur berpelukan. Momen yang sangat langka. Echa meminjam. ponsel sang suami dan mengambil gambar yang membuat Echa sangat terharu.
Sekembalinya Echa ke kamar, Echa segera membuka ponselnya. Dia mengirim gambar tersebut ke nomor ponselnya. Bibirnya pun terangkat dengan sempurna ketika menatap foto yang membuat hatinya menghangat.
Dia mengetikkan sesuatu di atas benda pipihnya.
Jika melihat seperti ini, berharap waktu bisa diulang kembali. Ingin merasakan pelukan seorang ayah ketika seusia mereka. Namun, hal yang tidak dapat kembali adalah waktu. Satu detik saja terlewat tidak akan mengembalikkan keadaan. Pria kesayangan dan tiga boneka gembulku.
Dada Echa terasa sesak setelah menuliskan kalimat itu. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan mata yang terpejam. Kecupan lembut Radit berikan. Mampu membuat Echa membuka mata.
Radit naik ke tempat tidur dan menarik tubuh sang istri untuk berbaring di sampingnya. Mencium hangat kening Echa sebelum dia terlelap.
Echa membenamkan wajahnya di dada bidang Radit. Tidak butuh waktu lama, istrinya pun terlelap. Radit menggapai ponselnya di atas nakas. Ketika membuka aplikasi WhatsApp hatinya terasa hancur. Status sang istri sangat mengiris hati. Bukan hanya Radit yang merasa sedih. Ayanda dan Arya pun merasakan hal yang sama.
Hanya sebuah kata maaf yang bisa Mamah ucapkan. Maafkan Mamah sudah membuat kamu menjadi anak yang berbeda. -Ayanda-
Waktu memang tidak bisa diulang. Biarlah itu menjadi pembelajaran sekaligus penyesalan terdalam untuk seorang ayah yang masih hidup di zaman jahiliah. Dari kisah lu, gua bisa memetik hikmah jika disakiti tidak harus membalas dengan kesakitan lagi. Harus dibalas dengan cinta dan kasih. Disakiti tidak harus membenci. Pada dasarnya manusia adalah gudang khilaf dan salah.
-Arya-
Dua orang yang menjadi saksi bisu kepedihan seorang Elthasya Afani. Seorang anak yang tidak dipedulikan oleh sang ayah semenjak di dalam perut. Sekarang, dia lah yang menjadi kebanggaan dari ayah yang telah tidak mempedulikannya.
Inilah salah satu bukti, jika anak yang tidak diinginkan akan menjadi sosok pahlawan bagi orang tuanya. Sosok yang dengan tulus merawat ayahnya tanpa meminta apapun. Cukup, tinggal bersama dengannya di rumah yang besar. Hanya itu permintaan Echa.
Terlalu nyaman berada di dalam pelukan Radit membuat Echa bangun kesiangan. Apalagi alarm tengah malam Echa tidak ada. Sedang tidur bersama sang kakek.
Echa tersenyum ketika melihat sang suami masih terlelap. Echa memandangi wajah tampan sang suami kemudian mengecup kening Radit sangat dalam.
"Love you so much."
Echa segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ketika suara pintu kamar mandi tertutup, Radit membuka matanya. Bibirnya terangkat dengan sempurna mendengar ucapan manis yang dia rekam di pagi hari.
"Love you so much, Sayang," gumamnya.
Harusnya Radit sudah terbang ke Surabaya bersama sang Papih. Namun, ketika Radit bangun jam lima pagi. Echa yang biasanya sudah terjaga, pagi ini masih terlelap dengan damainya. Dia tidak tega membangunkan istri tercintanya.
Radit mulai menghidupkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada sang ayah. Pesan gambar pun dia kirim. sebagai bukti bahwa istrinya masih tertidur dengan nyenyaknya. Jika, menyangkut istri dari anak-anaknya, Addhitama tidak akan marah. Addhitama lah yang selalu memberi wejangan kepada ketiga anaknya untuk menyayangi istri serta menghormatinya. Pekerjaan seorang ibu rumah tangga lebih lelah dibandingkan kepala keluarga.
"Udah bangun?" tanya Echa yang sedikit terkejut ketika suaminya sudah duduk di tepian tempat tidur.
Radit meletakkan ponselnya dan bangkit dari duduknya. Menghampiri sang istri yang nampak sudah wangi dan segar.
"Boleh minta sesuatu?" Kerlingan nakal muncul di wajahnya.
__ADS_1
Radit menarik tangan sang istri ke dalam kamar mandi. "Aku udah mandi, Ay," tolak Echa. Namun, Radit masih bergeming.
Radit merengkuh pinggang Echa dan dia pepetkan ke dinding kamar mandi. Mengecup bibir merah Cherry Echa dengan lembut kemudian berubah menjadi panas. Tangan Radit pun sudah tidak bisa diam. Sudah membuka handuk kimono sang istri.
Gelora mereka semakin memanas, hingga Radit sudah tidak tahan lagi.
"Aku ingin, Sayang," bisiknya dengan suara parau.
Echa menganggukkan kepala. Dia bersiap untuk membuka handuknya. Namun, Radit menggelengkan kepala. Dia menunjuk bibir Echa.
"Pakai ini saja."
Radit tertawa puas sedangkan Echa tak hentinya mendengus kesal.
"Pegal tau," dengusnya kesal.
Lagi-lagi Radit tertawa. Saking tidak tahannya Radit terpaksa melakukan ini. Padahal dia tidak tega, tetapi karena napsunya yang tidak bisa ditunda. Akhirnya Radit melakukannya. Dari pada dia harus uring-uringan di Surabaya.
"Maaf, Sayang." Radit mengecup kening Echa dan kemudian mengusap lembut bibirnya.
Bibir Echa masih dimanyunkan membuat Radit ingin melahapnya. "Mau aku serang lagi?" Dengan cepat Echa menggeleng.
Echa memeluk pinggang sang suami dan membenamkan wajahnya di perut Radit. Posisi Echa duduk di tepian tempat tidur. Sedangkan Radit tengah berdiri di hadapan Echa
"Cepat pulang," pintanya lirih.
Radit tersenyum dan meraih pundak sang istri untuk berdiri. Radit mengecup kening Echa sangat dalam.
"Aku akan pulang secepatnya," kata Radit.
Echa tersenyum dengan wajah yang sendu. Seperti yang hendak ditinggal tugas lama oleh sang suami.
"Pulang dengan selamat, ada aku dan anak-anak yang menunggu kamu."
Radit tidak ingin melepaskan pelukannya terhadap Echa. Mendengar ucapan sang istri membuat Radit terenyuh. Setengah jam berlalu, mereka masih berpelukan. Suara dering ponsel Radit terus berdering. Selalu tidak Radit indahkan.
"Dit, Papih kamu telepon. Katanya sebentar lagi pesawatnya akan berangkat." Rion berkata hanya dengan melongokkan kepalanya.
"Iya, Yah."
Bukannya melepaskan, Echa malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang," ucap Radit.
"Sebentar aja, Ay." Radit menghela napas kasar. Namun, hatinya seketika menghangat.
Setelah Echa sudah bermanja. Giliran Radit berpamitan kepada ketiga putrinya. Tidak biasanya, Aleesa tidak mau lepas dari gendongan Radit. Selalu saja menangis jika Radit memberikannya kepada Echa atau Rion.
"Anak Baba kenapa sih?" Aleesa semakin menangis keras.
"Abang," panggil Iyan.
Mata Iyan sudah berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepala. Membuat semua orang heran. Begitu juga dengan Radit.
"Jangan pergi. Jangan buat air mata Kak Echa jatuh," imbuhnya.
Semua orang tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Iyan. Radit menukikkan kedua alisnya masih tidak mengerti. Ponsel Radit kembali berdering. Kali ini dia menjawabnya sambil menggendong Aleesa yang tengah menangis.
"Iya, Pih. Aleesa gak mau lepas dari Radit. Setelah Aleesa berhenti menangis, Radit segera ke Bandara. Papih jangan dulu berangkat sebelum Radit sampai, ya."
Addhitama menuruti perintah Radit. Rindra dan Rifal berpesan jika Addhitama tidak boleh bepergian seorang diri. Harus dengan Radit.
Sudah lebih dari setengah jam, Radit tak kunjung muncul. Addhitama berdecak kesal karena mereka sudah ketinggalan pesawat. Pesawat yang harusnya mereka tumpangi sudah take off.
Belum lama mengudara, tiba-tiba pihak Bandara mengumumkan bahwa ada pesawat yang kehilangan kontak. Addhitama tersentak ketika pesawat yang harusnya dia tumpangi.
Tubuh Echa terkulai lemas ketika melihat berita yang ada di televisi. Radit benar-benar terkejut. Dia menatap ke arah Iyan dan juga Aleesa yang sudah berhenti menangis dan terlelap.
"Itu yang Iyan maksud, Bang. Air mata ...."
__ADS_1
Radit memeluk tubuh Iyan dan tak hentinya mengucapakan terimakasih. Dia juga segera memeluk tubuh Ecah yang sudah menangis.
"Jika, kamu jadi pergi. Sudah pasti aku akan menjadi janda dan anak-anak menjadi anak yatim."