
Hari berganti minggu serta minggu berganti bulan. Usia kandungan Echa sekarng sudah memasuki empat bulan. Morning sickness masih sering Echa rasakan. Pusing serta mual pun masih sering muncul. Namun, Echa menyikapinya dengan santai.
Sudah dua hari Radit pergi ke luar Kota meninggalkan Echa bersama kedua asisten rumah tangga. Sebenarnya Radit menolak, tetapi Echa berhasil meyakinkan Radit jika dia akan baik-baik saja. Melihat keyakinan pada sorot mata Echa, akhirnya Radit pun pergi.
"Miss you, Sayang." Pesan yang sudah dua hari ini selalu Radit kirimkan kepada Echa.
Terkadang sikap Radit ini membuat Echa geli seperti anak yang baru kasmaran. Semakin kesini Echa pun terbiasa dengan perlakuan dan kata-kata manis yang selalu Radit lontarkan untuknya. Begitulah suaminya, dibalik wajah datar bak papan bangunan, ternyata memiliki sikap romantis yang tidak terduga,
Tiba-tiba, Echa merasakan perutnya sakit. Namun, dia masih santai dalam menghadapinya. Wajar, itulah yang dokter katakan. Echa memilih untuk berbaring dengan tangan yang masih memegang perutnya. Rasa sakit itu semakin menjadi hingga Echa meringis menahan sakit.
"Sakit," ringisnya.
Echa mencoba mengambil ponsel pun tidak bisa. Dia hendak menghubungi asisten rumah tangga yang berada di bawah untuk mengambilkannya air hangat.
Sudah setengah jam rasa sakit itu tidak hilang. Dengan sangat pelan dan hati-hati Echa bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk buang air kecil.
Setelah selesai, tetesan sabun membuatnya terpeleset dan terjatuh dalam posisi duduk.
"Aw!" Ketika dia lihat ke bawah, sudah ada darah yang mengalir di kakinya.
"Tolong!" teriaknya.
Kebetulan Bi Ami baru selesai membersihkan ruang kerja Radit dan hendak melihat majikannya. Samar terdengar telinganya mendengar teriakan minta tolong. Dia melongokkan kepala ke dalam kamar, Nonanya tidak ada di sana.
"Tolong!" Suara itu terdengar kembali.
Bi Ami berlari ke dalam kamar sang majikannya. "Nona," panggil Bi Ami.
Ruang ganti pakaian di periksa, tetapi tidak ada siapa-siapa. Hatinya mengatakan jika majikannya ada di kamar mandi. Ketika Bi Ami membuka pintu kamar mandi, matanya melotot.
"Ya Tuhan, Nona," teriaknya.
Echa sedang menangis sambil menatap ke arah darah yang mengalir di kakinya.
Bi Ami, Bi Iroh serta security yang berjaga membawa tubuh Echa ke dalam mobil. Security yang didampingi Bi Ami membawa Echa ke rumah sakit terdekat. Mereka pun sebenarnya takut, apalagi melihat darah yang terus mengalir. Majikan mereka pun masih merintih kesakitan.
Tibanya di rumah sakit, Echa segera ditangani oleh dokter. Bi Ami sibuk menghubungi Radit. Namun, tidak ada jawaban dari pria tersebut. Satu jam berlalu, dokter keluar dengan wajah sendu.
"Kalian keluarga pasien Nyonya Elthasya?" Bi Ami pun mengangguk.
Sebelum berbicara, dokter itu menghela napas kasar terlebih dahulu. Seperti sedang menanggung beban yang sangat berat.
"Nyonya Elthasya mengalami keguguran," ujarnya lemah.
Bi Ami dan security pun menunduk dalam mendengar ucapan dari dokter. Hati mereka berdua sangat sakit mendengarnya.
"Sekarang, kami harus melakukan kuretase," lanjutnya lagi.
Bi Ami hanya dapat mengangguk lemah, menunggu Radit pun itu tidak mungkin. Terlalu lama, jadwalnya besok Radit baru tiba di Kota ini.
Di dalam kereta yang membawanya menuju Kota di mana dia tinggal, senyum Radit terus dia ukirkan. Rencananya dia ingin mengajak sang istri liburan karena dia mendapat cuti selama seminggu. Radit ingin pulang kampung ke Indonesia. Ledekan demi ledekan Radit dapatkan. Namun, Radit tidak pernah memperdulikan.
Pukul sembilan malam, Radit tiba di kediamannya. Dia pulang lebih cepat karena pekerjaannya sudah selesai. Sengaja Radit tidak memberikan kabar kepada Echa. Dia ingin memberikan kejutan kepada istrinya.
Ketika dia masuk, suasana rumah nampak hening. Hanya ada suara gemercik air di dapur. Dia langsung menuju kamar atas di mana kamarnya berada. Senyumnya pudar ketika dia tidak menemukan sosok yang dia cari. Membuka ruang ganti pun sudah, kamar mandi pun sudah. Istrinya tidak ada. Radit turun ke lantai bawah dan menuju dapur. Dilihatnya hanya ada Bi Iroh yang sedang melamun di meja makan.
"Bi," panggil Radit.
Bi Iroh sedikit terlonjak ketika mendengar suara yang dia kenali. Dia menoleh dan sudah ada Radit tak jauh dari tempatnya sekarang.
__ADS_1
"Istri saya di mana?" Mata Bi Iroh nanar mendengar pertanyaan dari Radit.
"Di mana Bi?" Tanya Radit dengan suara sedikit meninggi.
"Di rumah sakit, Tuan."
Sekarang, mata Radit yang melebar mendengar ucapan Bi Iroh. "Kenapa dengan istri saya?" tanyanya lagi.
"Nona .... keguguran." Hati Radit bagai dihujam belati panjang. Sakit, sudah pasti dia rasakan.
Tanpa banyak bicara, Radit pergi menuju rumah sakit. Kebetulan security yang membawa mobil Radit baru saja tiba. Dia mengantarkan Radit menuju rumah sakit karena security itu tidak ingin terjadi hal yang buruk terhadap majikannya.
Tiba di rumah sakit, Radit segera berlari menuju kamar perawatan yang dimaksud. Ketika dia membuka pintu, hatinya semakin sakit ketika melihat Echa yang tengah menangis sambil memegangi perutnya. Sedangkan Bi Ami sedang mengusap lembut pundak Echa.
"Sayang," panggil lirih Radit.
Mata Echa seketika bertemu dengan mata Radit. Air mata sudah meluncur bebas membasahi wajah Echa. Radit menghampiri Echa dan segera memeluk tubuh istrinya.
"Maafkan aku." Sebuah kalimat yang terucap dari bibir Echa. Suaranya sangat bergetar, air matanya terus berjatuhan.
"Aku bukan ibu yang baik. Aku tidak bisa menjaga bayi kita," sesalnya.
Sakit memang, tetapi Radit juga tidak bisa menyalahkan istrinya. Dokter Lucy memang sudah mengatakan jika kandungan Echa sedikit melemah akhir-akhir ini. Radit tidak menyangka akan terjadi apa yang tidak dia inginkan.
Radit mengurai pelukannya dan menatap manik mata penuh kepiluan dari sang istri. Dia menghapus air mata yang sudah membasahi wajah Echa. Kemudian, mengecup kening Echa sangat dalam.
"Ini bukan salah kamu. Mungkin, Tuhan belum mengijinkan kita untuk memiliki momongan. Tuhan tau apa yang sedang kita alami," tuturnya.
Kondisi keuangan Radit sedang berada di bawah untuk sekarang ini. Usaha prakteknya sudah gulung tikar karena kecurangan yang dilakukan oleh pegawai-pegawainya. Usaha kafenya pun sedang merosot karena sudah banyak pesaing, untuk mendatangkan koki handal serta barista kopi handal pun Radit masih ragu. Dikarenakan tabungannya semakin menipis. Dia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Dia ingin sukses dengan tangan dan usahanya sendiri. Itulah prinsip yang masih Radit pegang hingga saat ini.
Radit sangat beruntung memiliki istri yang sangat pengertian. Tidak pernah menuntut banyak serta hidup apa adanya. Ketika menghadapi persoalan seperti ini, wajar saja Radit itu kurang percaya diri atau menjadi manusia sedikit pesimis. Namun, Echa selalu memberikan masukan positif kepadanya untuk terus bangkit dan selalu semangat. Tawaran dari segi materi pun sudah Echa bicarakan dengan Radit. Lagi-lagi Radit menolak. Prinsip hidup Radit terlalu kuat. Biarlah harta yang dimiliki oleh Echa menjadi miliknya. Harta yang Radit cari tetap akan Radit berikan kepada Echa dan anak-anaknya kelak.
Radit memeluk tubuh sang istri dan terus memberikan ketenangan. Meskipun hatinya juga dirundung kesedihan. Sekarang ini, Echa lah yang sangat terpuruk.
Radit menatap ke arah Bi Ami. Sedangkan Bi Ami hanya menunduk dalam.
"Bi Ami lebih baik pulang bareng Pak Tono. Biar saya yang menjaga istri saya." Bi Ami tidak bisa menolak titah dari sang majikan.
Keesokan paginya, Echa terbangun dan melihat sang suami yang sedang tertidur dalam kondisi duduk dengan posisi kepala terbaring di tepian tempat tidur.
"Maafkan aku, Ay." Echa mengusap lembut kepala Radit. Merasakan sentuhan di kepala, Radit membuka mata dan tersenyum ke arah Echa.
"Morning, Sayang." Radit mengecup singkat bibir Echa.
"Mau ke kamar mandi?" tanya Radit. Echa pun mengangguk. Dengan telaten Radit membantu sang istri untuk membersihkan badannya dan memakaikan pakaian. Setelah istrinya sudah cantik, barulah dia yang membersihkan tubuhnya.
Seorang perawat masuk ke kamar perawatan Echa dengan membawa makanan. "Sarapan, Nyonya."
Setelah selesai mandi, Radit tersenyum ke arah Echa dan mengecup kening sang istri.
"Mau sarapan sekarang?" Echa menggeleng.
"Kenapa?" Echa hanya terdiam.
"Tidak usah dipikirkan. Mungkin itu bukan rezeki kita. Hilang satu, bisa tumbuh seribu 'kan," celoteh Radit. Echa hanya bisa merebahkan kepalanya di bahu bidang sang suami.
Radit sudah menghubungi Addhitama, dan semalam Addhitama sudah terbang dari Indonesia. Namun, keempat orang tua Echa belum ada yang tahu perihal ini. Echa yang melarang Radit untuk menghubungi mereka.
Sangat beruntung sekali menjadi istri dari Raditya Addhitama. Seorang laki-laki yang sangat menghargai wanita. Dikala seperti ini pun, Radit tidak menyalahkan istrinya. Dia selalu berpikir bahwa takdirnya memang seperti ini.
__ADS_1
Anak adalah rezeki, ketika anaknya diambil lagi oleh Tuhan berarti itu bukan rezekinya. Hanya ikhlas yang bisa dia lakukan. Dan berdoa supaya Tuhan menitipkan rezekinya kembali kepadanya serta sang istri.
Addhitama datang ketika Echa tengah terlelap sehabis mengkonsumsi obat. Beberapa bungkusan Addhitama tenteng.
"Pasti kamu belum makan." Addhitma tahu, Radit akan memprioritaskan istrinya dibandingkan dirinya.
"Makasih, Pih."
"Itu masakan Indonesia, Papih tahu kamu dan Echa pasti merindukan masakan Indonesia." Seulas senyum terukir di bibir Radit.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Addhitama dengan mata yang menatap sedih ke arah manantunya.
"Syok dan sangat terpukul," jawab Radit.
"Kamu sendiri?" tanya Addhitama kepada sang putra.
"Tidak jauh berbeda dengan istri Radit, Pih. Jika, Radit terpuruk siapa yang akan menjadi penyemangat untuk istri Radit?" imbuhnya.
Addhitama sangat bangga kepada sang putra bungsu yang memiliki kedewasaan luar biasa. Dia mengusap lembut pundak Radit.
"Tetap berusaha dan berdoa. Jangan lupa, periksakan kesehatan rahim. Echa secara berkala." Radit mengangguk patuh.
Ketika Radit dan Addhitama sedang menikmati makanan yang Addhitama bawakan. Mata Echa mengerjap dan mencari sosok sang suami.
"Ay," panggil Echa.
Radit memilih meninggalkan makanannya dan menghampiri sang istri. Mengusap lembut rambut Echa dengan penuh kasih sayang.
"Papih bawain kamu bakso. Mau dimakan sekarang?" Echa menggeleng, tangannya malah memeluk tubuh Radit dengan eratnya.
"Kenapa, Yang?" tanya Radit.
Tidak ada jawaban apapun. Echa hanya membenamkan wajahnya di dada bidang Radit. Radit hanya bisa mengusap lembut punggung sang istri.
"Jangan terlalu dipikirkan, Cha. Kalian masih sangat muda. Ketika Tuhan sudah mempercayakan, pasti akan Tuhan titipkan kembali janin di perut kamu," jelas Addhitama.
Addhitama bangkit dari duduknya menghampiri sang menantu. Mengusap lembut kepala Echa dengan penuh kasih sayang.
"Boleh kamu sedih, tetapi jangan terlalu berlarut. Bukan hanya kamu yang sedih, Radit dan Papih pun sangat sedih mendengarnya. Namun, Papih percaya ada hikmah di balik musibah ini. Ada kebahagiaan setelah kesedihan."
"Tuhan sedang menguji kalian, baik dengan materi ataupun dengan anak. Papih yakin kalian bisa melewati ini semua. Kalian anak-anak Papih yang kuat dan tangguh."
Echa beralih menatap sang Papih mertua. Matanya berkaca-kaca. Addhitama memeluk tubuh ringkih sang menantu.
"Kalian mesti bersabar lagi. Jangan putus asa, terus berusaha dan berdoa. Buah dari kesabaran itu pasti kebahagiaan. Percaya dengan itu," terangnya.
Pelukan hangat Addhitma seperti pelukan sang ayah. Echa merasa nyaman berada di dekapan hangat sang Papih mertua. Radit melengkungkan senyum karena merasa bahagia papihnya mampu menerima Echa dan memperlakukan Echa dengan sangat baik.
"Jangan bersedih terus, ya. Ikhlaskan meskipun sulit dilakukan. Anak kamu dan Radit sudah berada di surga bersama Tuhan. Nanti, ketika kalian pergi dia lah yang akan menjemput kalian berdua di pintu surga."
Sungguh menentramkan ucapan Addhitama. Echa semakin mengeratkan pelukannya kepada Addhitama.
Dukungan dari Addhitama serta Radit dan juga para asisten rumah tangga membuat Echa bisa tersenyum kembali. Tidak dipungkiri hatinya masih belum ikhlas. Akan tetapi. semuanya sudah terjadi dan Echa harus bisa melaluinya.
Radit dengan setia selalu memberikan kebahagiaan kepada sang istri. Tidak membuat Echa stres. Itulah cara memulihkan psikis Echa. Radit tahu, senyuman Echa adalah kamuflase belaka. Dia hanya sedang mencoba baik-baik saja di hadapan semua orang. Pada nyatanya, hatinya sedang dirundung duka yang mendalam.
Seperti malam ini, Radit menarik tubuh Echa ke dalam dekapannya. Mencium kening Echa serta puncak kepala Echa.
"Aku tahu, kamu masih sedih. Aku pun merasakan hal yang sama. Terkadang, aku berpikir kenapa Tuhan memberikan cobaan begitu berat kepada rumah tangga kita? Setelah praktek ku tutup, kafe pun di ujung kebangkrutan sekarang anak kita diambil kembali oleh Tuhan. Apa salah kita?"
__ADS_1
"Namun, ketika aku kaji lebih dalam lagi. Tuhan tidaklah jahat, justru Tuhan tidak ingin melihat anak kita terlahir dalam kesulitan yang sedang kita hadapi. Makanya, Tuhan mengambilnya kembali. Menyuruh kita untuk bersabar lagi dan berusaha lagi. Tuhan menitipkan janin ke perut kamu karena Tuhan percaya kita mampu mengurusnya. Sekarang. tugas kita untuk meyakinkan Tuhan bahwa kita mampu mengurus titipan-Nya dengan memperbaiki semuanya. Memperbaiki diri kita masing-masing serta keadaan finansial kita. Supaya Tuhan memberikan kepercayaan-Nya lagi kepada kita untuk memiliki anak."
...****************...