
Di lain tempat, rumah Rion kedatangan tamu wanita. Mbak Ina segera menuju ruang kerja sang majikan yang memang sedang sibuk sudah satu Minggu ini.
"Ada apa, Mbak?" tanya Rion, ketika Mbak Ina sudah dipersilahkan masuk.
"Ada tamu, Pak."
"Siapa?" Pandangan Rion yang sedari tadi mengarah pada layar segiempatnya menatap Mbak Ina.
"Wanita dewasa, tetapi dia mencari Den Iyan."
Rion sedikit tersentak, dia takut Iyan membuat onar di sekolah. Dia segera bangkit meninggalakan pekerjaannya. Di lantai bawah Iyan sudah berbincang dengan seorang wanita dewasa.
"Iyan," panggil Rion.
Iyan dan wanita itu pun menoleh. Wanita itu seketika terpana melihat pria yang sudah tidak muda lagi, tetapi masih sangat tampan.
"Iya, Ayah," jawab Iyan.
Rion segera menghampiri Iyan dan duduk di sampingnya. Dia menatap penuh tanya kepada Iyan.
"Ini Bu Vina. Ibu panti di mana Anggi dititipkan."
Ada kelegaan di hati Rion mendengar penjelasan dari sang putra. Pikiran jelek belakangan ini tengah menghantuinya. Apalagi dia mendengar sendiri penuturan seorang anak broken home yang masuk ke dalam kubangan penuh dosa, yaitu narkoba.
"Oh iya, Bu. Kenalkan ini ayah Iyan," ucap Iyan.
Rion mengulurkan tangannya ke arah Bu Vina, dengan senang hati Bu Vina menjabat tangan Bu Vina. Mereka sama-sama mengenalkan diri.
"Maaf, mungkin kedatangan saya ke sini membuat Anda cemas dan khawatir. Saya hanya memberikan hadiah yang dikirimkan Anggi untuk Iyan," jelasnya.
Rion hanya mengangguk dan tak menjawab apapun. Dia malah menepuk pundak Iyan dan akan kembali ke ruangan kerjanya. Masih banyak pekerjaan yang menunggunya.
"Ayah ke atas lagi, ya." Iyan pun mengangguk. Rion menganggukkan kepalanya sopan ke arah Bu Vina.
Bu Vina adalah wanita cantik yang mengenakan hijab dan berpenampilan tertutup. Bola matanya sangat indah dan kulitnya pun putih bersih.
"Kalau begitu, ibu pamit dulu, ya."
"Iya, Bu. Makasih," ucap Iyan.
__ADS_1
Iyan mengantar ibu Vina sampai ke depan rumah. Dia menggunakan motor menuju rumah Iyan.
Di sepanjang perjalanan pulang, Bu Vina terus tersenyum gembira. Melihat ayah Iyan seperti melihat aktor tampan.
"Apa dia sudah beristri?" tanyanya sendiri.
Di ruang kerja, Rion masih fokus pada layar segiempat miliknya. Tangannya dengan lincah menari-nari di atas keyboard. Sebenarnya dia tahu pandangan Bu Vina tadi itu seperti apa. Lebih baik dia menghindar dari pada membuat para wanita sakit hati karenanya.
Baru saja pekerjaannya selesai, Echa sudah masuk ke dalam ruang kerja sang ayah dan mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Kenapa?"
"Baca!" Echa menyerahkan ponselnya kepada Rion.
Rion meraih ponsel sang putri. Kedua alisnya menukik tajam membaca pesan yang baru saja masuk ke ponsel milik Echa.
Echa, ini Mamahnya Mima. Tante boleh gak dekat sama ayah kamu. Tante single Dan Ayah kamu juga single.
Rion pun tergelak, dia meletakkan ponsel Echa di atas meja.
"Ada-ada aja," ujarnya.
"Ayah gak kesepian?" Kalimat yang terdengar pilu yang Echa lontarkan.
Mata Rion membuka, dia melihat ke arah putrinya yang nampak sedih.
"Kenapa kamu nanya seperti itu?" tanya Rion.
Echa memeluk tubuh sang ayah. Echa belum bisa berkata untuk sekarang ini. Tidak ada yang lebih nyaman dari pelukan sang ayah.
"Jangan pernah berpikir Ayah ingin membina rumah tangga lagi. Cukup kamu temani Ayah di sini, hidup Ayah sudah sangat sempurna. Apalagi ada ketiga cucu ayah yang menjadi obat mujarab untuk mengobati semua luka yang ayah derita."
Terkadang, ucapan itu tidak sesuai dengan isi hati yang sesungguhnya. Inilah yang Echa takutkan.
"Jangan pura-pura bahagia terus di depan Echa, Yah. Echa juga ingin melihat Ayah bahagia," terangnya.
"Ayah memang sangat bahagia dan baik-baik saja, Dek. Ayah memiliki tiga anak yang luar biasa. Tiga cucu yang sangat cantik dan satu menantu yang bikin Ayah terus istighfar setiap hari."
Echa terkekeh mendengar ocehan sang ayah tentang suaminya. Echa tidak akan pernah marah karena begitulah cara ayahnya menyayangi Radit.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini 'kan Echa sibuk, Yah. Jadi, Echa tidak bisa memperhatikan Ayah."
Rion mengusap lembut kepala Echa. Dia tak segan mengecup puncak kepala sang putri.
"Ayah tidak masalah, Dek. Buat Ayah kamu selalu menyempatkan waktu untuk memeluk Ayah pun Ayah udah sangat senang. Semuanya sudah digantikan oleh ketiga cucu Ayah," ungkapnya.
Echa sangat betah jika berlama-lama memeluk ayahnya. Malah, belaian tangan sang ayah mampu membuatnya terlelap dengan damainya.
"Kamu tetap putri kecil, Ayah." Rion mengecup kening Echa, sebelum dia letakkan di sofa.
Rion meninggalakan Echa seorang diri. Dia masuk ke ruang kerja Radit.
"Pindahin istri kamu," titah Rion.
"Sebentar, Yah. Sedikit lagi."
"Ayah tunggu di ruang kerja Ayah, ya." Radit mengangguk.
Lima belas menit kemudian, Radit masuk ke ruang kerja ayahnya. Lengkungan senyum terukir di wajah Radit ketika ayah mertuanya tengah membelai lembut rambut sang istri.
"Ayah," panggil Radit pelan.
Rion menepuk karpet yang dia duduki. Radit menuruti perintah sang ayah mertua.
"Jaga anak Ayah, ya. Jangan pernah sia-siakan dia. Dia permata indah yang ayah miliki," ucapnya seraya memandang wajah damai Echa.
"Dia bagai permata hitam yang Ayah miliki. Awalnya dipandang sebelah mata, ternyata dia sangat berharga sekali." Mata Rion sudah berkaca-kaca.
"Bahagiakan dia, manjakan dia dengan kebahagiaan dan kesetiaan kamu. Sekalinya kamu mengkhianati anak Ayah, Ayah yang akan mengambil putri Ayah dari kamu. Jangan harap kamu bisa kembali lagi kepadanya. Ayah yang akan menjadi ayah untuk si triplets. Ayah juga mampu membahagiakan Echa dan ketiga anaknya," tutur Rion.
Radit menghela napas kasar dan menatap penuh cinta ke arah istrinya.
"Tanpa Ayah minta pun, Radit akan menjaga istri Radit. Bidadari yang Tuhan kirimkan untuk menemani Radit. Malaikat tak bersayap yang Tuhan datangkan untuk menyembuhkan segala luka tak kasat mata yang pernah Radit derita."
"Radit sangat mencintai Echa, Ayah. Radit sudah berjanji kepada diri Radit sendiri, Radit gak boleh buat Echa menangis. Radit harus membuat Echa bahagia. Apa yang tidak pernah Echa rasakan di waktu kecil, akan Radit berikan."
Rion tersenyum dan menepuk pundak sang menantu. Di balik sifat menyebalkan yang Radit miliki, Rion akui Radit adalah pria yang sangat baik dan mampu menerima putrinya apa adanya. Radit juga bukan dari keluarga sembarangan. Apalagi ayah dari Radit sangat menyayangi Echa layaknya putri kandungnya sendiri. Kedua saudara Radit pun sangat menyayangi Echa dan ketiga cucunya.
"Radit bukan pemain wanita, Ayah. Ketika Radit setia, selamanya Radit akan setia dengan satu wanita hingga maut yang memisahkan kami berdua."
__ADS_1