
"Tere," gumam Radit.
Echa hanya memandang wajah datar. Wanita itu adalah perempuan pertama yang dekat dengan Radit, serta perempuan yang telah merebut Riza dari Echa. Tatapan tidak bersahabat sangat Aleesa tunjukan kepada Tere.
"Masih ingat sama aku," ujar Tere seraya tersenyum.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Radit.
"Mau ketemu kamu lah," sahutnya manja.
Aleesa yang merasa sangat tidak suka kepada Tere segera menghampiri Tere dan menggigit tangan Tere dengan sangat keras hingga berdarah.
"Aw! Sakit," jerit Tere.
Radit segera mengambil Aleesa dan menggendongnya. Namun, dia membiarkan saja Tere kesakitan dan tidak berniat untuk menolongnya.
"Kak Radit, sakit!" serunya.
Aleeya segera mengambil kotak P3K yang ada di samping lemari kaca. Tere pun tersenyum melihat tingkah laku Aleeya. Namun, Aleeya meneteskan minyak angin super hot ke daerah luka bekas gigitan Aleesa di tangan Tere. Dia semakin menjerit kesakitan.
Bukannya menolong, Radit memanggil Pak Mat untuk membawa wanita menyebalkan ini.
"Bawa dia keluar! Jangan sampai masuk lagi ke sini," titahnya.
Tere meronta-ronta ketika tubuhnya diseret paksa oleh Pak Mat. Ingin memberontak, tetapi Pak Mat malah menekan luka bekas gigitan hingga dia menjerit kesakitan.
"Jangan coba-coba mengganggu rumah tangga Neng Echa. Didatengin pengawalnya baru tahu rasa," sungut Pak Mat.
Mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan membuat Tere berteriak bagai orang gila. Sedangkan Radit dan Echa membawa Aleesa yang nampak masih marah ke kamar. Diikuti kedua putrinya yang lain.
"Kakak Sa, udahan ya marahnya," imbuh Radit sambil mengusap lembut rambut putri keduanya.
"Ay, apa efek dari demamnya?"
Radit masih menatap ke arah Aleesa. Dia melihat ada kemarahan yang besar dari sorot mata Aleesa. Namun, sorot mata itu seperti bukan sorot mata Aleesa. Dia teringat akan ucapan dari Iyan.
Jika, Abang merasa ada yang berubah dari Aleesa. Bisikkan ayat kursi di telinganya.
Radit mulai mendekatkan bibirnya di telinga Aleesa. Membisikkan ayat kursi di telinga kanannya. Sorot kemarahan itu pun mulai pudar, berganti dengan sayunya mata Aleesa yang lama-kelamaan terpejam.
Echa bingung dengan keadaan putri keduanya. Tatapan teduh Radit mampu membuat Echa tenang. Seolah mengatakan bahwa Aleesa baik-baik saja. Radit mulai menidurkan kedua anaknya yang lain. Namun, di karpet berbulu bukan di tempat tidur. Radit berjaga-jaga jika Aleesa akan kambuh lagi.
Untung saja kedua anak Radit yang lain penurut. Hanya dengan sebotol susu dan cerita dongeng yang dibacakan Radit, mereka pun terlelap dengan damainya. Echa hanya memandangi ketiga putrinya sambil duduk bersandar di dinding. Melihat Radit membacakan dongeng untuk Aleeya dan Aleena membuat Echa bahagia. Setelah tugasnya selesai, Radit menghampiri Echa dan duduk di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Radit. Dia meletakkan kepala Echa pada pundaknya.
"Ada apa dengan Aleesa?" Kini Echa menatap manik mata Radit.
"Apa kamu mau tahu yang sebenarnya?" Mendengar ucapan Radit, Echa segera menegakkan tubuhnya. Menatap Radit dengan rasa penasaran.
"Aleesa ... memiliki keistimewaan seperti Iyan." Mata Echa membola, dia benar-benar tidak percaya.
"Maksud kamu ...."
Radit mengangguk, mengerti dengan apa yang dimaksud Echa.
"Kamu ingat ketika aku tugas ke luar Kota, Aleesa terus menangis?" Echa mengangguk.
"Dia sedang diajak bicara sama Mamih. Awalnya aku gak percaya. Kamu juga ingat 'kan ketika Aleesa pulang dari rumah Papih. Dia masih terjaga hingga tengah malam. Kata Iyan dia sedang diajak main sama Devandra." Lagi-lagi Echa terdiam, dia menutup mulutnya tak percaya.
"Iyan bilang, ada orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kita. Namun, benteng yang kuat itu berada pada Aleesa. Aleesa akan mengalahkan semuanya yang tak kasat mata. Ditambah, Aleesa memiliki penjaga yang sangat kuat. Dua anak kecil yang berjubah putih, tetapi tidak pernah menampakkan wajahnya. wajahnya hanya berupa bias cahaya terang. Iyan pun tidak bisa melihatnya. Hanya Aleesa yang bisa melihatnya," ungkap Radit.
"Tadi ... kamu bisikkan apa di telinga Aleesa?" tanya Echa penasaran.
"Ayat kursi. Hanya itu yang mampu menyembuhkan Aleesa." Echa menatap sendu ke arah Aleesa yang tengah tertidur di atas kasur.
"Dia malaikat penjaga untuk rumah tangga kita, Yang." Air mata Echa pun menetes mendengar ucapan Radit.
Sedangkan di Bandung, Iyan sudah merengek ingin meminta pulang kepada sang ayah. Hatinya merasa tidak enak. Kepalanya kepikiran terus kepada Aleesa.
"Jo, beritahu aku. Ada apa dengan Aleesa?" Jojo hanya menggedikkan bahu tanpa mau membuka mulutnya.
"Ayah, ayo," ajak Iyan.
Nisa yang mengerti akan kekhawatiran Iyan ikut membujuk sang kakak untuk segera pulang. Apalagi teman Iyan sedari tadi hanya diam seakan sedang berkonsentrasi memikirkan sesuatu.
"A, sepertinya ada yang terjadi dengan keluarga Echa," bisik Nisa.
Rion tersentak mendengar ucapan Nisa. Dia menatap tajam ke arah Nisa yang terlihat serius.
"Biasanya feeling anak indigo itu selalu benar, A. Tolong kali ini percaya sama Nisa."
__ADS_1
Rion segera menghubungi Echa maupun Radit. Namun, tak satupun panggilannya dijawab oleh anak dan manantunya ini.
"Ke mana mereka?" gumam Rion.
Rion tak putus asa, dia menelepon Pak Mat. Menanyakan perihal anak, menantu serta cucunya.
"Iya Pak, tadi ada yang datang ke rumah. Katanya ingin bertemu dengan Mas Radit, seorang perempuan. Usianya sih kayaknya lebih tua dari Neng Echa. Gak lama di dalam, Mas Radit manggil saya dan suruh usir perempuan itu," jelas Pak Mat dari balik sambungan telepon.
Rion baru percaya dengan apa yang dikatakan oleh Iyan. Dia memilih pamit kepada ibu dan adiknya. Untung Mamah Dina dan juga Nisa mengerti. Sedangkan Riana terus menggerutu.
"Baru juga sampe," gerutunya.
"Aleesa dalam bahaya, Kak," seru Iyan.
Riana dan Rion menoleh ke arah Iyan dengan tatapan sangat terkejut.
"Jangan banyak tanya, sekarang kita pulang ke Jakarta," tukasnya.
Setelah dua jam menempuh perjalanan menuju Jakarta, mobil Rion terparkir di halaman rumahnya. Mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.
"Dek," panggil Rion.
Tidak ada jawaban dari siapa pun. Rion semakin panik dibuatnya. Di ruang televisi pun tidak ada siapa-siapa.
Rion segera menuju kamar ketiga cucunya. Hatinya lega ketika melihat ketiga cucunya tertidur pulas. Anak menantunya juga tertidur dalam keadaan duduk dan bersandar di dinding.
"Ada apa sebenarnya, Iyan?" tanya Rion.
Iyan memilih turun ke lantai bawah dan menuju halaman samping di mana pohon mangga berada. Pohon yang menjadi markas para sahabat tak kasat mata Iyan.
Di atas pohon ada Devandra yang tengah tiduran di batang pohon. Sedangkan Om Uwo sedang membacakan dongeng untuk Dev.
"Om Uwo!" Suara Iyan membuatnya menoleh. Dev yang sedang tertidur pun kembali terjaga mendengar suara Iyan.
"Apa yang terjadi?" tanya Iyan dengan wajah khawatir.
Om Uwo menoleh ke arah Dev. Dijawab anggukan oleh Dev.
"Aleesa ...." Om Uwo dan Dev menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
"Wanita itu?" tanya Iyan.
"Urusan Ibu beserta ibu-ibu PKK yang berada di rumah lama kamu, Yan."
"Jangan khawatir, Kak. Anak-anak berjubah putih itu selalu melindungi Aleesa. Apapun yang akan dikirimkan tidak akan pernah bisa mempan," jelas Devandra.
"Jo, kenapa kamu gak bilang ke aku?" sergah Iyan.
"Aku disuruh jangan bilang kepada kamu oleh Ibu. Kata ibu, ibu ingin kamu menikmati liburan dengan tenang." Hati Iyan terenyuh dengan kebaikan ibu.
Jika, ada orang lain yang tak sengaja melihat ibu. Mereka akan berlari terbirit-birit karena wajahnya yang hancur dengan jubah putih yang lusuh dan rambut yang mengembang. Namun, jika bersama Iyan dan juga Aleesa, dia akan menampakkan diri sebagai wanita cantik nan anggun dan kalem. Membuat Iyan dan Aleesa selalu merasa nyaman jika bersama dengan sosok yang Iyan sebut ibu itu.
Iyan memilih untuk kembali ke dalam rumah, Kakak dan Abangnya sudah duduk di ruang televisi menghadap Rion.
"Tere?" Radit dan Echa mengangguk.
"Mungkin tujuannya ingin menjadi pelakor," ujar Echa.
Rion menghela napas kasar. Dia menatap dalam ke arah Echa dan juga Radit. Terutama Radit.
"Dit, Ayah memanglah bukan pria yang baik. Bisa dikatakan, dulu Ayah adalah pria berengsek. Harus kamu ingat, seberengsek-berengseknya Ayah pasti Ayah menginginkan memiliki menantu yang menyayangi anak Ayah dengan tulus dan penuh cinta. Tidak akan tergoda meskipun banyak yang lebih indah di luaran sana."
"Ayah merestui kamu menikah dengan putri Ayah berarti Ayah sudah menyerahkan sepenuhnya anak Ayah kepada kamu. Echa sekarang adalah tanggung jawab kamu sepenuhnya. Satu hal yang harus kamu ingat, setetes saja air mata yang keluar dari manik mata anak Ayah. Ayah akan membawa anak serta cucu-cucu Ayah pergi meninggalkan kamu. Apalagi jika kamu selingkuh. Ayah yang akan menyeret kamu ke pengadilan agama."
Begitulah cara orang tua untuk melindungi anaknya. Seburuk-buruknya orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak mereka.
Di kediaman Tere, gigitan dari salah satu anak Radit meninggalkan luka yang sangat dalam hingga menebus dagingnya. Apalagi luka yang dia derita disiram minyak angin oleh anak Radit yang lain. Alhasil lukanya semakin memerah dan memutih seperti bernanah.
"Bisa-bisa tangan gua tetanus nih," gumamnya. Tere pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Luka Tere dibersihkan oleh petugas IGD. Mata petugas memicing ketika melihat ada hewan yang muncul di bekas gigitan itu. Putih dan menggeliat-geliat bagai belatung. Ketika disenter, ya memang benar itu belatung kecil.
"Memangnya luka di tangan ini sudah berapa lama? Kok bisa sampai dibelatungin begini," ucap sang dokter jaga.
"Belatung?" ulang Tere.
Dokter mengangguk pelan dan memperlihatkan belatung yang baru saja dia bersihkan.
"Ya Tuhan," ucap Tere tak percaya.
Setelah dibersihkan dan bebas dari belatung, luka bekas gigitan di tangan Tere ditutup agar tidak terkena debu dan kotoran. Tibanya di rumah, Tere merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Namun, ketika dia melihat ke arah belakang tidak ada apa-apa.
__ADS_1
Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Baru saja dia mendudukkan bokongnya di atas kasur, suara keran air yang terbuka terdengar. Dahi Tere pun mengernyit heran. Dia segera ke kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi terbuka, air keran air tertutup dan tidak ada siapa-siapa di dalam sana.
"Mungkin hanya halusinasi ku saja," gumamnya.
Tetesan darah mengotori lantainya membuat Tere keheranan. Dia mengikuti tetesan darah tersebut hingga menuju ke arah balkonnya.
"Aarrghh!"
Kucing kesayangannya sudah tak bernyawa di sana. Membuat Tere menangis tersedu-sedu. Tak lama, makhluk kerdil menangis dengan luka sangat banyak mengahampiri Tere.
"Bos, saya menyerah. Anak itu memiliki pasukan," ujar si manusia kerdil.
Masih basah ucapan si manusia kerdil, pasukan yang dia sebut sudah menyerang Tere hingga Tere menjerit-jerit bagai orang gila.
"Pergi! Pergi sana!"
Mendengar jeritan yang sangat keras membuat ayah Tere berlari ke arah putrinya. Tangan yang diperban sudah dia cakar-cakar. Dipenglihatannya para rombongan wanita berjubah putih sedang menggerogoti tangannya yang terluka. Sehingga Tere menjerit sekuat tenaganya. Berbeda jika menurut pandangan dari Papih Tere. Tere layaknya orang stres yang ingin melukai dirinya sendiri.
"Tere sudah, Tere!" bentak Sang papah.
"Minggir! Tanganku sakit! Minggir!" serunya.
Tere semakin melukai dirinya sendiri membuat sang Papih semakin tidak kuat melihatnya. Dia dibantu pekerja di rumahnya mengikat tangan dan kaki Tere agar tidak melukai dirinya sendiri. Dia ingat, Radit teman dekat Tere adalah seorang psikolog. Papahnya segera melacak keberadaan Radit. Setelah didapat alamatnya, dia bergegas menuju alamat tersebut.
Bel berbunyi hampir di pukul sembilan membuat penghuni rumah enggan membukakannya. Berhubung, Mbak Ina belum tertidur dia membukakan pintu.
"Radit ada?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Mungkin sudah tidur, Pak," jawab Mbak Ina.
"Ijinkan saya untuk bertemu dengannya sebentar," ucap papah Tere.
Mau tidak mau, Mbak Ina harus memanggil Radit. Namun, pintunya dia kunci kembali takut orang ini punya niatan jahat.
Ketukan pintu terdengar membuat Radit yang sedang menghisap benda kenyal harus mendengus kesal.
"Maaf, ada tamu, Mas."
"Tamu?" ulang Radit.
"Papanya Tere katanya."
Radit mengernyitkan dahinya tak mengerti. Untuk apa papahnya Tere datang malam-malam begini.
"Sebentar lagi saya akan turun." Mbak Ina pun pamit.
"Ada apa, Ay?" tanya Echa yang baru saja mengancingkan piyamanya.
"Turun, yuk. Ada papahnya Tere di bawah."
"Papahnya Tere?" Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban.
Dengan sengaja Echa menggandeng tangan suaminya dengan erat. Begitu juga Radit. Memang benar, di teras rumahnya ada papahnya Tere.
"Malam Om." Sapaan dari Radit membuat papahnya Tere menoleh. Matanya memicing ketika melihat istri Radit yang sangat cantik.
"Bu-bukannya kamu mantan pacarnya Riza?"
"Iya, istri aku memang mantan pacar laki-laki yang dengan sengaja anak Om tipu," ketus Radit.
"Om ke sini tidak mau berdebat. Om hanya ingin kamu melihat kondisi Tere sekarang."
Radit dan Echa saling melempar tatap. Ada apa dengan Tere? Berhubung papahnya Tere memohon dengan sangat, akhirnya Radit menyetujuinya dengan syarat Istrinya harus ikut. Echa mengganggu ayahnya yang tengah membantu Echa mengecek toko untuk menitipkan si triplets. Iyan yang sudah tertidur pun tak luput dari gangguan Radit.
Tibanya di kediaman Tere, terdengar teriakan Tere yang memekik gendang telinga. Mereka bertiga segera menuju ke arah kamar Tere.
"Pergi! Pergi!"
Echa semakin mengeratkan genggaman tangannya kepada Radit. Radit pun mengangguk, menandakan dia juga merasakan hal yang sama. Aura dingin yang Echa dan Radit rasakan.
"Ay ...."
Wangi bunga melati kini tercium oleh Radit. Dia teringat akan perkataan Iyan tempo dulu ketika memberitahu keberadaan sosok yang dia panggil ibu.
Jika, tercium aroma bunga melati. Itu bertanda ibu ada di sekitaran kita.
Ketika Radit melangkahkan kaki, dia merasa menginjak sesuatu. Matanya melebar ketika dia menginjak bunga melati.
Berarti ....
Ting!
__ADS_1
Ponsel Radit berdering menandakan ada pesan masuk.
Ibu memboyong ibu-ibu PKK untuk memberi pelajaran kepada wanita itu supaya pintar. 😁