
Rindra dan Rival sudah berada di ruang makan bersama Addhitama. Sedangkan Radit belum keluar dari kamarnya.
Selang lima menit, langkah kaki Radit terdengar. Dia tidak ikut gabung dengan keluarganya melainkan pamit kepada sang papih.
"Mau ke mana?" tanya Addhitama.
"Anter pacar sekolah," sahut Radit.
Mimik muka Rindra sudah merah padam mendengar jawaban Radit. Seakan jawaban Radit itu sebuah ledekan untuk dirinya.
"Sarapan dulu, Dit. Jarang-jarang kan kita sarapan bareng," pinta Addhitama.
"Udah sih Pih, kalo dia gak mau jangan dipaksa," ketus Rindra.
Radit pun hanya tersenyum tipis. "Tenang aja, Pih. Aku sarapan di rumah calon mertua aja. Calon mertua aku baik kok," ucap Radit dengan penuh penekanan.
Rival hanya menggigit kepala sendok. Dia sedang menonton pertandingan sengit antara abangnya dan juga adiknya.
"Ya udah, hati-hati." Radit pun menganggukkan kepala.
Setelah kepergian Radit, suasana semakin hening di meja makan. "Sepertinya aku bakalan dilangkahi sama Radit," kata Rival memecah keheningan.
"Radit masih sekolah, Echa juga masih SMA. Masih lama lah," balas Addhitama.
"Tapi, udah lengket banget kayak perangko gitu, Pih," sanggah Rival.
Rindra yang tidak ingin mendengar tentang Radit pun menyudahi sarapannya. "Aku berangkat dulu," pamitnya.
Rival pun tersenyum tipis ke arah Rindra. Si manusia penuh obsesi yang merasa tidak nyaman dengan obrolan yang dibuka Rival.
"Pih, jodohin aja Abang. Biar gak ganggu hubungan orang," bisik Rival kepada sang papih.
Bukannya persetujuan yang dia terima melainkan pukulan di bahu yang cukup panas yang Rival dapatkan.
"Jangan macam-macam," ancam Addhitama.
Rasa kesal dan marah masih menyelimuti hati Radit. Melihat wajah sang Abang seperti melihat wajah musuh yang ingin sekali dia bantai.
Tiba sudah dia dikediaman Gio. Kedatangannya disambut senyuman cerah seorang gadis berseragam putih abu-abu.
"Udah siap?" Echa pun mengangguk.
__ADS_1
"Kamu udah sarapan?" tanya Echa ketika Radit memakaikan helm di kepala Echa.
"Belum, nanti aja beli di jalan." Echa pun hanya mengangguk.
Sepanjang perjalan menuju sekolah, Radit terus menggenggam tangan Echa yang sedang melingkar di pinggangnya. Seakan dia tidak ingin berpisah dengan Echa.
Sesampainya di sekolah, Radit membenarkan poni Echa yang berantakan. "Belajar yang benar. Nanti aku jemput." Echa pun mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Radit.
Ketika Echa melangkahkan kaki ke arah kelas. Dia dihadang oleh Tere. Echa pun hanya berdecak kesal.
"Minggir," sentak Echa.
"Gak usah songong deh, lu tuh cuma anak tiri doang. Gak usah berlagak kaya putri," ujar Tere.
Echa pun tertawa. "Emang gua anak tiri, terus masalah buat lu? Sirik bilang cuy," cibir Echa.
Dia pun pergi meninggalkan Tere dan memilih ke kantin. Dia memesan susu cokelat hangat untuk mengembalikkan mood-nya yang sedang berantakan.
"Cha." Suara yang Echa kenali. Dan orang itu sudah duduk di depan Echa.
Echa hanya menghela napas kasar ketika Riza menatapnya dengan tatapan sendu.
"Aku tersiksa, Cha."
"Kamu masih sayang sama aku, tapi aku udah gak sayang sama kamu," sahut Echa.
"Denger ya, Za. Kamu yang ninggalin aku pas aku lagi sayang-sayangnya sama kamu. Kamu yang membuat semua yang indah menjadi hancur berantakan. Kamu yang memilih jalan ini, bukan aku."
"Aku harap kamu tidak ganggu aku lagi. Aku sudah punya pacar begitu pun kamu. Anggap aja, hubungan kita kemarin hanyalah uji coba pacaran." Echa pun bangkit dari duduknya tanpa menyentuh sedikit pun susu yang sudah ada di hadapannya.
Sudah tidak ada perasaan apa-apa untuk Riza. Yang ada di hatinya hanyalah Raditya. Laki-laki yang tidak tahu datang dari mana tapi, bisa langsung masuk ke dalam hidupnya.
Di sinilah Radit sekarang, di pusara sang Mamih. Dia menatap pusara sang Mamih dengan tatapan sendu. Di tempat inilah dia selalu mengadu.
"Mih, Radit datang," lirihnya.
"Maaf, kalo setiap kedatangan Radit hanya membawa keluhan dan kesedihan. Radit bingung, mau cerita ke siapa. Tidak ada orang yang mampu menjadi pendengar yang baik untuk Radit. Kecuali, Mamih." Radit mengusap batu nisan Vivi dengan penuh kerinduan.
"Ternyata sakit ya Mih, ditikung sama Abang sendiri. Kenapa selalu Abang yang menjadi kerikil di setiap kebahagiaan yang akan Radit dapatkan. Kenapa Abang selalu menjadi ganjalan terbesar?"
"Mih, andai Mamih masih hidup, mungkin Radit akan merasakan kasih sayang dari Abang. Radit ingin merasakan kasih sayangnya, Mih. Seperti Kakak yang selalu diajak berbicara dan juga bercanda oleh Abang. Tapi, Abang hanya menganggap Radit sebagai pajangan semata."
__ADS_1
"Keinginan sederhana Radit seperti hal yang mustahil terjadi. Abang tetaplah Abang, manusia keras kepala dan juga keras hati."
Radit merasa nyaman berada di sini. Makan pun dia lakukan di samping pusara sang Mamih. Seakan dia sedang melepas rindu dengan Mamihnya.
Tempat di mana semangat Radit muncul ya di sini. Ketika Radit sudah meluapkan semuanya, beban di hatinya hilang sudah. Meskipun dia tidak pernah tahu sentuhan lembut nan hangat sang Mamih, tapi dia selalu merasa sang Mamih selalu ada di sampingnya.
Apalagi ketika Radit drop kemarin di Ausi. Kepalanya seperti sedang diusap lembut oleh tangan yang terasa hangat. Dan dia pun begitu nyaman. Begitu juga jika, Radit telah mengadu kepada sang mamih. Malamnya sang Mamih akan datang ke dalam mimpinya. Tersenyum hangat dan memeluk tubuhnya sangat erat.
Kamu kebanggaan Mamih. Kamu anak hebat. Mamih sayang kamu.
Radit melihat ke arah jam tangannya. Dia beranjak dari duduknya. "Mih, Radit pulang dulu, ya. Sebelum Radit kembali ke Ausi lagi pasti Radit akan kembali ke sini," imbuhnya.
Radit melajukan motornya menuju sekolah Echa. Pintu gerbang belum dibuka menandakan jam pelajaran belum berakhir. Radit masih betah menunggu Echa di atas motornya.
"Raditya," sapa seorang wanita cantik
Radit yang merasa dipanggil pun menoleh. Dia memicingkan matanya.
"Siapa ya?" kata Radit.
"Kamu gak inget sama aku?" Radit pun menggeleng.
"Aku tuh te ...."
"Bhal." Radit pun menoleh ke asal suara. Dan dia tersenyum manis kepada Echa.
Dengan mesranya Radit memakaikan helm ke kepala Echa. Tidak menggubris ada perempuan lain yang berada di depannya. Sedangkan mata Echa melirik tajam ke arah wanita itu.
Echa naik ke atas motor Radit dan langsung memeluk pinggang Radit. Seolah dia ingin menunjukkan bahwa Radit ini miliknya. Bibir Radit melengkung dengan sempurna. Karena tidak biasanya Echa seperti ini. Biasanya dia malu jika harus memeluk Radit di lingkungan sekolah. Tapi, kali ini malah dengan eratnya dia memeluk pinggang Radit meskipun banyak para siswa yang melihatnya.
Ditengah perjalanan, Echa melepaskan pelukannya. Radit pun tercengang. "Peluk dong," teriak Radit. Echa hanya diam.
Radit terus melajukan motornya dan membawa Echa ke sebuah cafe. Radit tahu, Echa sedang merajuk. Inilah yang dinamakan saling melengkapi, ketika sikap Echa seperti anak kecil Radit akan bersikap lebih dewasa.
"Kenapa? Kamu marah?" tanya Radit sambil mengarahkan wajah Echa ke arahnya.
Hanya tatapan tajam yang Radit terima. "Aku gak tau dia siapa, Bhul. Dia yang nyamperin aku duluan," jelasnya.
"Aku gak suka," tegasnya.
"Iya, aku tahu. Aku kan gak ngapa-ngapain sama dia. Kamu liat sendiri, kan. Hati aku hanya untuk kamu," ucapnya sambil menarik tangan Echa masuk ke dalam dekapannya.
__ADS_1
***
Kangen gak sama Radit dan Echa?