Yang Terluka

Yang Terluka
Rencana Tuhan


__ADS_3

Maafkan Bubu, Nak. Sampai saat ini Bubu masih menangisi kamu.


Itulah yang selalu Echa katakan di dalam hati sebelum tidur. Sedih itu mungkin sudah hilang, tetapi rasa kehilangan itu masih membekas di hati yang terdalam.


Tidak bisa mengungkapkan perasaannya begitulah Echa. Kepada Radit pun dia masih belum mampu berbicara jujur tentang semua yang dia rasakan. Sekarang ini, dia hanya ingin dipeluk oleh sang ayah. Pelipur segala lara di hatinya. Penenang di kala dia sedang terpuruk.


Sudah dua minggu berlalu, kesedihan itu masih menyelimuti hati Echa. Setelah masa libur selesai, Radit memilih untuk mengambil cuti karena dia tidak tega melihat sang istri masih dalam keadaan terpuruk. Meskipun ada dua asisten rumah tangga, Radit tetap tidak mampu meninggalkan Echa dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.


Semalaman Radit tidak bisa terlelap karena besok dia harus kembali bekerja. Pikirannya masih berkelana memikirkan sang istri. Dia takut, istrinya akan bersedih kembali. Sedangkan Echa sudah berkata akan baik-baik saja. Asalkan Radit pulang tidak larut malam.


Dilema itulah yang sedang dirasakan oleh Radit. Memperpanjang cuti pun dia tidak bisa. Terpaksa itulah yang harus Radit lakukan.


Sebelum berangkat, Radit sarapan bersama sang istri. Menyuapi Echa layaknya anak kecil dan sesekali dia mengecup kening Echa karena masih tidak tega meninggalkan istrinya.


"Udah siang, Ay. Berangkat gih," titah Echa karena sudah lebih dari sepuluh menit Radit memeluk tubuhnya.


"Benar kamu tidak apa-apa?" Radit terus memastikan.


"Tidak apa-apa, Ay," imbuh Echa.


Radit menghela napas berat kemudian dia mengantar sang istri masuk ke dalam kamar mereka. Radit mengecup kening Echa sangat dalam beralih ke bibir merah cherry Echa. Memagutnya dengan penuh penghayatan dan rasa sayang.


Setelah puas, Radit mengusap bibir sang istri dan mengecup keningnya kembali.


"Aku pergi, ya. Kalo ada apa-apa segera hubungi aku," ujar Radit.


Ketika Radit keluar dari rumah, seseorang masuk ke dalam halaman rumahnya. Mata Radit membuka ketika melihat sang ayah mertuanya yang datang.


"A-ayah," sapa Radit.


Rion menatap sinis ke arah Radit. Dia mampu menebak jika menantunya ini sedang menyimpan sesuatu darinya.


"Echa mana?"


"A-ada di dalam," jawab Radit ragu.


Rion tidak menunggu Radit untuk masuk ke dalam rumah. Dada Radit sudah berdegup sangat cepat karena dia takut Echa akan marah kepadanya.


Radit mengajak mertuanya masuk ke dalam kamar. Di mana Echa sedang menunduk dalam dengan air mata yang berjatuhan.


"Dek."


Suara yang sangat Echa rindukan. Suara yang menghangatkan hatinya. Dengan pelan, dia menegakkan kepalanya. Seketika air matanya mengalir deras. Rion segera berhambur memeluk tubuh Echa.


Menangis dalam dekapan sang ayah adalah cara untuk meluapkan sedih, sakit serta kecewa. Sekarang ini kesedihan masih menyelimuti hati Echa.


Rion masih membungkam mulutnya, membiarkan sang putri menumpahkan semuanya. Usapan lembut sang ayah memberikan kehangatan untuk Echa,


Setelah tangis Echa reda, Rion menatap sendu manik mata putrinya. Sorot mata Echa tidak bisa membohonginya.


"Katakan pada Ayah, apa yang telah terjadi?"


Echa dan Radit kompak menutup mulut mereka. Hanya keheningan yang tercipta. Lama Rion menunggu akhirnya desahan kesal yang dia keluarkan.


"Kamu itu putri Ayah, ikatan batin kita kuat, Dek," ujar Rion.


"Ketika hati Ayah gelisah dan selalu mengingat kamu, Ayah yakin sedang


ada yang tidak beres dengan kamu." Echa hanya bisa menunduk dalam. Dia tidak sanggup untuk mengatakannya kepada Rion.


"Echa keguguran, Yah." Jawaban dari Radit membuat Rion tersentak. Kemudian, dia menatap Echa dengan sorot mata meminta jawaban. Hanya sebuah anggukan yang Echa berikan.

__ADS_1


Bukan hanya Echa yang sedih, Rion pun ikut merasakan kesedihan yang putrinya rasakan. Rion memeluk tubuh Echa dengan sangat erat.


"Yang sabar ya, Dek. Ayah yakin, Tuhan sudah menyiapkan hadiah yang indah di balik musibah ini." Echa hanya bisa menangis dan menangis.


"Maafkan Echa, Ayah. Echa tidak bisa menjaga cucu Ayah."


"Tidak apa-apa, Dek. Usia kamu masih sangat muda. Jika, sudah waktunya pasti Tuhan akan menitipkannya kembali kepada kamu dan Radit."


"Maafkan Radit, Ayah. Radit tidak memberitahu kabar ini kepada Ayah. Radit tidak mau membuat Ayah dan semuanya khawatir," sesalnya.


"Rencananya, setelah Radit kembali dari tugas, Radit akan mengajak Echa untuk berlibur ke Indonesia. Ternyata rencana Tuhan sangat tidak disangka-sangka. Ketika Radit tiba di rumah, Radit dikejutkan akan kabar Echa masuk rumah sakit dan mengalami keguguran," terangnya.


"Ayah boleh minta sesuatu sama kalian?" Radit dan Echa menatap bingung ke arah Rion.


"Jika, ada apa-apa dengan kalian tolong hubungi Ayah atau Mamah kalian. Jangan sembunyikan apapun dari kami. Ayah berhak tahu kabar kalian karena kalian adalah anak-anak Ayah."


Ucapan Rion membuat Echa dan Radit kompak mengangguk pelan. Hati Radit menghangat mendengar ucapan dari mertuanya. Radit pikir, Rion tidak menyukainya terlebih sikap ketus selalu Rion tunjukkan kepada Radit.


"Ayah, Radit titip istri Radit, ya. Sudah dua minggu ini Radit tidak ke rumah sakit."


"Pergilah, Ayah akan menjaga istri kamu." Radit tersenyum, sebelum pergi dia mencium tangan Rion terlebih dahulu.


Echa terus memeluk tubuh sang ayah. Menumpahkan segala rindu yang sudah menggunung. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Echa. Begitulah cara Echa untuk menyampaikannya. Terlalu nyaman berada di dalam dekapan sang ayah, akhirnya Echa pun terlelap dengan damainya.


Sedih menatap wajah sang putri yang terlihat lebih tirus. Apalagi musibah tengah menimpanya. Kehilangan anak yang sudah ditunggu-tunggu sudah pasti akan menyakitkan. Dua tahun menunggu bukanlah waktu yang sebentar. Namun, Tuhan berkata lain.


"Kamu pasti mampu melalui semua ini, Dek. Kamu adalah wanita kuat dan hebat," ucap pelan Rion.


Rasa khawatir yang Rion rasakan belakangan ini ternyata benar adanya. Putrinya sedang dirundung duka yang mendalam. Bukan hanya Rion yang terus mengingat Echa. Ayanda pun sama, hatinya terasa tidak tenang dan bayangan Echa selalu memenuhi kepalanya. Hanya saja, Ayanda tidak bisa terbang ke Ausi karena salah satu dari si kembar sedang demam.


Rion menemani Echa sembari membaringkan tubuhnya di sofa. Ponselnya berdering dan Arya lah yang menghubunginya. Baru saja Rion menjawab sambungan telepon, dia sudah dikejutkan dengan ucapan Arya. Matanya menatap ke arah Echa yang sedang terlelap.


Senyum Echa melengkung ketika sang suami baru saja masuk kamar. Letih yang Radit rasakan hilang karena senyuman manis sang istri.


Echa segera berhambur memeluk tubuh Radit. Pun dengan Radit yang kini membalas pelukan sang istri tak kalah erat.


"Hari ini ngapain aja?" tanya Radit dengan tangan yang masih melingkar di tubuh sang istri.


"Rebahan." Radit hanya tersenyum dan mengecup puncak kepala Echa.


"Ya udah, aku bersih-bersih dulu, ya."


Sedangkan di kamar yang lain, Rion sedang memikirkan bagaimana caranya agar Radit mau menerima bantuannya untuk memajukan kafe yang Radit miliki.


"Gua ketemu Om Addhitama. Dia bilang kalo usaha praktek Radit gulung tikar. Kafe yang dimilikinya pun diambang kehancuran."


Ucapan Arya menari-nari di kepala Rion. Dia tak habis pikir, kenapa Radit dan Echa tidak memberitahukannya. Malah menutupi semuanya.


"Ujian rumah tangga kalian sangat berat," lirih Rion.


Sebagai orang tua, bohong jika tidak memikirkan anaknya. Sekalipun sang anak sudah bergelimang harta. Itu tanda bahwa orang tua sangat menyayangi anaknya.


Rion memutusakan untuk membahas perihal ini dengan Radit. Berapapun modal yang Radit minta pasti akan Rion bantu.


Ketika makan malam tiba, mereka menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja. Rion sudah tidak aneh dan risih dengan sifat yang dimiliki sang putri. Makan pun harus sepiring berdua dengan sang suami.


Setelah selesai makan, Rion berbicara serius kepada Radit dan Echa. Dia ingin mengajak kedua anaknya ini berdiskusi.


"Ayah mau bicara," ujar Rion.


Echa dan Radit saling pandang. Kemudian, Radit membawa ayah mertuanya ke ruang keluarga. Rion seperti sedang menyidang kedua anaknya.

__ADS_1


"Ada apa, Yah?" tanya Echa. Echa melihat sorot mata penuh keseriusan.


"Apa benar usaha kamu sudah gulung tikar?" tanya Rion kepada Radit.


Terkejut sudah pasti Radit rasakan, tetapi dia harus bersikap santai.


"Iya, Ayah."


"Kafe kamu pun sudah berada di ujung tanduk?" tanya Rion lagi.


"Untuk kafe masih jalan, tinggal rekrut koki handal serta barista saja. Hanya saja, tabungan Radit belum cukup untuk itu. Jadi, Radit putuskan untuk bersabar dulu sambil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit." Jawaban dari sang menantu membuat hati Rion sedih. Dia memikirkan bagaimana nasib putrinya. Apalagi mereka hidup di negeri orang.


"Echa sudah menawarkan bantuan kepada Kak Radit, Ayah. Namun, dia tolak," terang Echa.


"Karena aku tidak mau menggunakan uang hasil kerja keras kamu. Uang kamu adalah uang kamu. Uang aku adalah uang kamu juga." Sudut bibir Rion terangkat mendengar ucapan Radit.


"Jika, Ayah memberikan modal kepada kamu. Apa kamu mau?" tawar Rion.


Radit hanya tersenyum dan dengan cepat dia menggeleng. "Papih pun sudah menawarkan modal yang cukup besar untuk kafe Radit. Namun, Radit tolak. Radit ingin berusaha dengan kemampuan Radit sendiri, Ayah. Radit tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk keluarga Radit. Radit yakin, dengan terus bekerja keras dan pantang menyerah semuanya bisa teratasi. Wajar jika menjalani bisnis merugi. Anggap saja sebagai pembelajaran untuk Radit agar lebih berhati-hati lagi," tandasnya.


Bangga sekali Rion memiliki menantu seperti Radit ini. Sifatnya hampir sama dengan putrinya. Itulah yang membuat putrinya tidak bisa jauh dari Radit begitu juga dengan Radit. Radit mampu memberikan kasih sayang yang tidak bisa Rion berikan.


"Ayah jangan khawatir, Radit masih praktek di rumah sakit ternama dengan penghasilan bulanan cukup untuk membahagiakan istri Radit. Radit tidak akan membuat Echa menderita, Ayah. Lebih baik Radit yang harus banting tulang siang malam bekerja, dari pada melihat istri Radit kekurangan. Radit sudah berjanji kepada diri Radit sendiri untuk selalu membahagiakan Echa apapun keadaannya."


Mata Echa berkaca-kaca mendengar ucapan dari Radit. Dia menatap Radit dengan tatapan penuh cinta membuat Radit tersenyum dan merengkuh pinggang Echa.


"Apapun akan aku lakukan untuk kamu. Tujuanku menikah dengan kamu hanya satu. Ingin selalu membuat kamu tersenyum." Echa melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. Menelusupkan wajahnya di dada bidang Radit.


Lengkungan senyum terukir di bibir Rion. Dia sangat bahagia melihat anak dan menantunya bahagia seperti ini. Menjalani biduk rumah tangga dengan penuh cinta. Sekarang, yang bisa Rion lakukan hanya berdoa. Agar rumah tangga putra-putrinya langgeung hingga akhir hayat.


"Ay, kamu beneran gak mau terima tawaran dari Ayah?" Radit yang sedang fokus dengan ponsel menatap ke arah sang istri yang sudah menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.


"Kenapa? Kamu takut kita miskin?" Dengan cepat Echa menggeleng dan memeluk pinggang sang suami.


"Mau kamu miskin sekalipun aku tidak peduli, aku akan tetap mendampingi kamu," ujarnya.


Radit tersenyum bahagia mendengar ucapan Echa. Dia menangkup wajah Echa. "Aku akan terus berusaha untuk membahagiakan kamu. Tetaplah berada di samping aku dan dukung aku. Aku akan buktikan kepada kamu, bahwa aku mampu." Echa mengangguk dengan cepat.


Radit memeluk erat istrinya. Tidak ada kebahagiaan selain memiliki istri yang sabar seperti Echa. Hidup Echa yang bergelimang harta dan penuh kemudahan di kala lajang, tidak membuat Echa menjadi wanita manja dan hidup mewah. Echa lebih memilih hidup sederhana meskipun uang di tabungannya tidak terhitung nilainya. Dari Echa lah Radit belajar banyak hal.


Malam ini, tidak ada lagi kalimat pengantar tidur sedih yang biasa Echa ucapkan. Kehadiran sang ayah mampu memulihkan hatinya yang sedih. Apalagi ayahnya tidak menyalahkan Echa atas kejadian yang tidak diinginkan ini. Ayahnya sama seperti Radit, selalu memberikan semangat dan kepercayaan diri untuknya supaya dia mampu bangkit lagi.


Anak kamu sudah di surga, Dek. Harusnya kamu bahagia. Tangis kamu akan menjadi kesedihan baginya. Ikhlaskan, Tuhan pasti sudah merencanakan sesuatu yang lebih indah dari apa yang kamu dan Radit pikirkan.


Wejangan yang Rion berikan kepada Echa setelah Echa bangun tidur. Dengan sentuhan lembut sang ayah, tutur kata yang menyejukkan hati membuat diri Echa yang sesungguhnya kembali lagi. Ikhlas itu sulit, tetapi jika kita belajar untuk ikhlas pasti akan mudah mengikhlaskan apa yang telah pergi. Apa yang bukan menjadi milik kita.


Malam ini Bubu sudah tidak menangis, Nak. Bahagia di sana bersama Tuhan. Tunggu Bubu dan Baba di sana ya, Nak. Bubu dan Baba sayang kamu.


Senyum terukir di wajah Echa. Ujung matanya pun mengeluarkan bulir bening. Namun,air mata kebahagiaan karena dia harus bisa melupakan apa yang sudah terjadi.


"Sayang, ayo tidur." Radit menarik tangan Echa yang masih duduk bersandar.


Dengan nyamannya sang suami tidur sambil membenamkan wajahnya di b


dada sang istri yang kancing bajunya sudah terlepas dengan penutupnya sudah dia singkapkan. Sebuah tempat yang mampu membuat Radit tertidur dengan pulas hingga pagi datang.


"Nak, apa kamu iri kepada Babamu hingga kamu tidak bertahan di perut Bubu?" kekeh Echa.


...****************...


Like dan komen ya ...

__ADS_1


__ADS_2