Yang Terluka

Yang Terluka
Harta Berharga


__ADS_3

Mengerjai orang tua adalah hal yang tidak sopan. Namun, Echa melakukan itu semua karena dia ingin melihat orang tuanya. Tawanya memang lepas ketika melihat kelucuan yang dilakukan oleh pria kesayangannya di Indonesia. Setelah semuanya berakhir, rasa sedih dan pedih itu kembali hadir. Rindu, itulah yang Echa rasakan.


"Pasti kalian juga ingin dimanja oleh para Kakek dan Nenek kalian," imbuh Echa, sambil mengusap perutnya.


Tidak sengaja Radit mendengar ucapan pelan sang istri ketika dia baru saja membuka pintu kamar dengan pelan. Hatinya teriris mendengar ucapan lirih Echa.


"Maafkan aku."


Radit membalikkan tubuhnya dan kembali melajukan mobilnya. Dia ingin mengurus pengunduran dirinya sekarang juga. Dia tidak ingin Echa merasa tertekan.


Pihak rumah sakit melarang Radit untuk meninggalkan pekerjaan yang telah memberikannya kehidupan layak. Apalagi Radit adalah dokter muda terbaik. Namanya sering dimuat di berita online.


"Keputusan saya sudah bulat. Saya ingin mengundurkan diri. Tidak ada yang lebih penting dibanding kebahagiaan istri saya," ucapnya dengan nada tegas.


Radit sudah tidak ingin bernegosiasi lebih lama lagi. Dia memutuskan akan bekerja sampai akhir bulan ini. Setelah itu dia akan kembali ke Indonesia dan menetap di sana.


Tibanya di rumah, dia melihat Echa sedang terlelap. Dikecupnya kening sang istri serta perut Echa yang sedikit membuncit.

__ADS_1


"Jangan sedih lagi, ya. Sebentar lagi kita akan pergi dari sini," imbuh Radit depan perut sang istri.


Berkorban sedikit tidak jadi masalah baginya. Di Indonesia pun dia masih bisa bekerja dengan sang Papih mengurus perusahaan.


Suara gemercik air membangunkan Echa. Dengan hati-hati Echa bangun dari tidurnya. Menyiapkan baju santai untuk Radit. Pelukan dari belakang membuat Echa sedikit tersentak.


"Kenapa udah bangun?" tanya Radit sambil meletakkan dagunya di bahu Radit.


"Maaf, aku ketiduran." Radit tersenyum, lalu mengecup pipi sang istri. Dibalikannya tubuh Echa dengan tangan Radit yang masih merengkuh Echa.


Setelah makan malam selesai, Radit dan Echa menghabiskan waktu di dalam kamar. Menonton televisi dengan tangan Radit yang tak pernah berhenti mengusap lembut perut Echa.


"Yang, gerak-gerak," Radit menatap sang istri dengan mata nanar.


"Iya, udah mulai terasa mereka bergerak di sana."


"Sakit?" Echa menggeleng.

__ADS_1


"Hai, anak-anak Baba. Sehat terus, ya di perut Bubu. Biar kita bisa cepat kembali ke Indonesia. Bisa bertemu dengan keluarga Bubu serta Baba."


Tangan Echa berhenti mengusap lembut rambut sang suami. Dia menatap bingung ke arah Radit dengan dahi yang berkerut. Kecupan singkat mendarat di bibir Echa yang sangat menggoda Radit.


"Awal bulan ini kita akan pulang ke Indonesia." Mata Echa membola seketika.


"Se-serius?"


"Iya, Sayang." Radit mengecup dalam kening Echa dan memeluk tubuhnya.


"Aku tidak ingin melihat istriku menyimpan rindu terlalu berat untuk semua keluarga yang berada di Indonesia. Banyak sedikit itu bisa mempengaruhi anak-anak kita di dalam sana." Echa hanya bisa membalas pelukan Radit dengan sangat erat.


"Gimana dengan pekerjaan kamu?"


"Tidak usah khawatir, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Meskipun, mereka terus bernegosiasi kepadaku tentang jabatan ataupun penghasilan, semuanya aku tolak. Tidak ada yang paling berharga di dunia ini, kecuali keluarga. Kamu dan juga anak-anak kita. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kalian semua."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2