Yang Terluka

Yang Terluka
Garis Horizontal


__ADS_3

Tulang di tubuh Echa bagai tak berfungsi dengan baik. Lemas dan tak berdaya mendengar ucapan dokter IGD.


ICU (Intensive Care Unit) adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien yang membutuhkan penanganan ketat. Ruang yang menjadi tempat berbaringnya Echa dengan segala alat medis yang terpasang di tubuhnya. Kali ini, berlaku pada Aleesa.


"Dek, kamu pasti kuat. Kamu tidak boleh rapuh untuk Aleesa dan dua anak kamu yang lainnya," ujar Rion.


"Temani Aleesa, Kak. Dia memerlukan kamu."


Telinga Echa bagai orang yang tuli. Dadanya sangat sesak seakan pasokan oksigen tidak bisa dia hirup.


"Baba," gumaman lirih yang keluar dari mulut Echa.


Singapura.


Radit merasa tidak tenang, di telinganya selalu terdengar gumaman-gumaman lirih suara Echa.


"Kamu tidak apa-apa 'kan?" Monolognya.


Radit terus menghubungi Echa, tetapi tidak ada jawaban dari istrinya. Sudah lebih dari lima kali Radit terus menghubungi Echa. Dia beralih pada ponsel Rion, sama juga. Menghubungi ponsel Ayanda pun sama. Iyan dan Riana pun sama.


"Ya ampun, kalian pada ke mana?" Khawatir yang sekarang dirasakan oleh Radit.


Dia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Kali ini, bayang-bayang wajah Aleesa menari-nari di kepalanya.


"Kamu sehat 'kan, Nak?"


Di kediaman Rion, Iyan sibuk menyuruh penjaga ketiga keponakannya untuk membuat Aleena dan Aleeya terlelap kembali. Hatinya sungguh sangat cemas. Apalagi, dia mendengar dari Mbak Ina bahwa mata Aleesa sudah mendelik ke atas semua.


"Selamatkan Aleesa," pintanya sambil menengadahkan tangan.


Kembali ke rumah sakit, Echa sudah duduk di samping ranjang pesakitan Aleesa. Tubuh Aleesa sudah dipasang beberapa alat membuat Echa tak henti menitikan air mata.


"Jangan pergi, Nak. Bubu masih ingin bermain bersama kamu," lirihnya, sambil menggenggam tangan mungil Aleesa.


Tetesan air mata membasahi punggung tangan kecil Aleesa. Sungguh hidup Echa terasa hancur. Napasnya seperti tinggal di kerongkongan.


Tuhan, jangan ambil putriku.


Tak dia duga Aleesa bisa separah ini. Padahal dokter mengatakan bahwa kondisi Aleesa semakin membaik. Akan tetapi, malah sebaliknya. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Echa.


"Bangunlah Aleesa, Bubu dan Baba membutuhkan kamu. Kedua saudaramu juga pasti merindukan kamu," ujar Echa dengan sangat pelan.


Apa aku masih sanggup menerima kenyataan ini? Kuatkan aku, Tuhan. Kuatkan aku.


Echa menunduk dalam di samping brankar tempat Aleesa tidur. Sekarang, dia merasa benar-benar sendiri.


Sekarang, aku merasakan hal yang sama seperti apa yang mamah rasakan. Tanpa suami yang ada di samping aku.


Cobaan yang begitu berat yang harus Echa hadapi. Ketika suaminya kerja ke luar negeri, dia harus dihadapi dengan musibah seperti ini.


Rion dan Ayanda menunggu di luar ruang ICU. Hati mereka pun ikut hancur.


"Dek, lebih baik kamu pulang. Kedua anak Echa sangat membutuhkan kamu. Hubungi Radit. Bagaimana pun dia harus tahu." Ayanda mengangguk pelan. Dia pergi meninggalkan rumah sakit dengan hati yang sangat perih.


Tibanya di rumah Echa, kedua adik Echa masih terjaga beserta Mbak Ina.


"Mom, gimana keadaan Aleesa?" Wajah Riana terlihat sangat khawatir.


"Kritis."

__ADS_1


Jawaban Ayanda membuat mata Iyan melebar. Bayang-bayang kematian menari-nari di kepalanya.


"Jangan sampai terjadi," imbuhnya.


Iyan menatap ke arah Jojo yang memasang wajah pilu juga. Seakan Jojo mengetahui semuanya.


"Jo."


Jojo hanya menggeleng dan kemudian menunduk. Sedangkan Dev sudah tidak ada.


"Kita doakan Aleesa sama-sama ya. Semoga Aleesa bisa melalui masa kritisnya."


Tidak ada orang yang tidak sedih mendengar kabar berita ini. Apalagi Iyan yang seketika murung.


"Jo, apa yang Iyan lihat salah 'kan Jo?" Iyan masih bersikeras menyangkal semuanya.


"Iyan gak mau kehilangan Aleesa, Jo."


Kabar kritisnya Aleesa baru pagi ini terdengar ke telinga Radit. Panik, khawatir jadi satu. Dia membatalkan semuanya. Dia tidak peduli dengan kerugian yang akan dia derita, yang paling penting adalah anaknya.


"Sayang, kenapa panggilanku tidak pernah kamu jawab?"


Jangankan membawa ponsel, Semalaman Echa hanya menggunakan baju tidur tanpa alas kaki menemani Aleesa yang tak pernah membuka mata. Hingga pagi menjelang pun mata Aleesa semakin rapat.


"Sampai kapan kamu akan tidur, Nak? Bangunlah, Nak."


Derai air mata mewarnai pagi hari yang cerah. Wajah pucat Aleesa sangat menyakitkan baginya. Dokter memeriksa kondisi Aleesa dan dia hanya menggelengkan kepala. Bertanda belum ada perubahan yang berarti.


Ayanda datang bersama Mbak Ina dan juga kedua cucunya. Dia membawakan baju untuk Rion dan juga Echa. Serta makanan untuk mereka.


"Mas, sudah masuk ke dalam?" Rion menggeleng. Ayanda menghela napas kasar.


"Bubu." Kedua anak Echa yang lain terus memanggil namanya. Apalagi, mereka semakin menangis keras karena merindukan ibunya.


"Radit sudah diberitahu?"


"Sudah, Mas. Dia langsung terbang katanya," jawab Ayanda.


"Kalian mau ketemu Bubu?" Aleeya dan Aleena pun mengangguk.


"Engkong panggil Bubu dulu, ya."


Rion masuk ke dalam ruang ICU, hatinya sangat terluka ketika melihat putrinya sedang bermandikan air mata.


"Bangun, Nak. Nanti kita akan bermain bersama dan berlibur bersama. Asal Kakak Sa bangun. Jangan tidur terus." Hati Rion bagai disayat-sayat pisau yang sangat tajam. Sedih sudah pasti. Dia mencoba menguatkan diri untuk. melangkah menuju ke arah Echa. Tangannya menyentuh pundak Echa dan Echa menangis tersedu sambil kepala yang menunduk dalam.


"Jangan menangis, Dek." Rion memeluk tubuh putrinya yang benar-benar rapuh. Tidak ada sedikit pun binar cerah di wajahnya. Hanya raut kepiluan yang wajahnya pancarkan.


"Bukan hanya Aleesa yang membutuhkan kamu. Aleeya dan Aleena juga sangat membutuhkan kamu. Keluarlah! Temui mereka. Sekalian kamu sarapan. Kamu harus menjadi ibu yang kuat untuk ketiga putri kamu."


Echa pun tersadar dari kesedihannya. Benar kata sang ayah, masih ada Aleena dan Aleeya yang sangat membutuhkannya.


Echa keluar dari ICU dengan wajah yang terlihat sangat sembab. Hati Ayanda dan Mbak Ina sangat sakit melihat wajah ceria Echa yang berubah seperti ini.


"Tata Na, anen Bubu."


"Dedek Ya, uda."


Hati Echa menghangat meskipun rasa sakit itu masih ada. Senyum Aleeya mengingatkannya pada senyum Aleesa.

__ADS_1


Tuhan, jika kamu mau mengambil Aleesa kenapa tidak ketika Aleesa baru lahir? Mungkin aku akan lebih ikhlas menerimanya. Daripada sekarang, ketika Aleesa sedang lucu-lucunya Engkau ambil. Aku tidak sanggup, Tuhan.


Ayanda menyuapi sang putri sambil bercengkrama dengan kedua buah hatinya. Makanan apapun terasa pahit di mulut Echa. Baru dua suapan, dia sudah menggeleng. Menandakan dia tidak ingin memakannya lagi.


"Kak--"


"Mah, hati dan tubuh Echa sudah mati rasa."


Selama tiga puluh menit, Echa bercanda dengan kedua anaknya. Setelah itu Echa menyuruh mereka untuk pulang. Rumah sakit tidak baik untuk kesehatan mereka.


"Jangan nakal, ya. Nanti Bubu akan pulang dan tidur bersama kalian." Aleena dan Aleeya mengangguk.


Echa masuk kembali ke ruang ICU. Sebelumnya dia memeluk tubuh sang mamah meminta doa.


"Kamu ini wanita yang hebat, Kak." Echa mencoba untuk tersenyum. Meskipun hatinya sakit.


"Echa ke dalam dulu, ya."


Baru saja Echa hendak masuk, suara langkah lari seseorang membuat Echa membalikkan tubuhnya.


"Sayang."


Mata Echa mulai nanar melihat Radit sudah ada di hadapan dirinya sekarang. Napas Radit masih tersengal dan segera memeluk tubuh Echa.


"Maafkan aku, Sayang. Harusnya aku gak pergi."


Tangan Echa memeluk tubuh Radit dengan sangat erat. Tidak ada yang bisa dia katakan. Hanya Isak tangis yang terdengar sangat lirih. Ayanda mengusap ujung matanya karena sedih melihat anak dan menantunya seperti ini.


"Jaga Echa dan ketiga anak kalian, Dit."


Radit dan Echa masuk ke ruang ICU. Sebelumnya, Radit meminta izin dulu kepada dokter. Langkah Radit terhenti ketika melihat tubuh Aleesa terbaring lemah tak berdaya. Bulir bening menetes begitu saja di wajahnya. Hatinya sangat perih melihatnya.


"Aleesa."


Radit menghampiri sang putri. Menatapnya pilu. "Maafkan Baba, Nak."


Rion mengusap lembut pundak Radit. Sedangkan Echa sudah tidak bisa menahan air matanya.


"Kalian pasti sanggup menghadapi cobaan ini. Ayah tinggal, ya."


Radit memeluk tubuh Echa dan tangannya terus menggenggam tangan Aleesa. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir mereka. Bergelut dengan pikirannya masing-masing, itulah yang mereka lakukan.


Radit menyuruh istrinya untuk duduk di kursi yang berada di samping brankar. Dia berlutut di hadapan Echa.


"Maafkan aku, Sayang. Harusnya aku gak egois dan menuruti perkataan kamu," ucapnya lirih.


"Kamu pasti sangat ketakutan 'kan." Echa memeluk tubuh Radit dengan sangat erat.


"Jangan tinggalkan aku. Aku gak sanggup menghadapi semua ini."


Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini?


Radit mencoba menenangkan hati sang istri, meskipun hatinya sendiri masih sangat pilu.


Tiit ....


Suara monitor berbunyi dan grafik yang ada di dalam monitor mulai membentuk garis lurus.


"Dokter!"

__ADS_1


__ADS_2