
Keterkejutan masih Echa rasakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Menangis dalam pelukan Radit yang sekarang bisa dia lakukan.
"Tenang, Sayang. Aku ada di sini," imbuhnya.
Rion hanya terdiam melihat sebuah keajaiban dan kebetulan yang menghampiri Radit.
"Aku belum siap kehilangan kamu," lirih Echa.
Radit semakin erat memeluk tubuh sang istri. Mencium ujung kepala Echa berkali-kali. Dia sendiri tidak menyangka akan selamat dari maut karena Aleesa yang tak mau lepas dari gendongannya. Begitu juga Iyan yang melarangnya untuk pergi.
Rifal dan Rindra serta Addhitma tiba di kediaman Rion. Kedua kakak Radit memeluk tubuh Radit dengan sangat erat.
"Makasih, sudah datang terlambat," imbuh Rindra.
"Kamu penyelamat hidup Papih," tukas Rindra.
"Dit." Addhitama segera menghampiri Radit dan berhambur memeluk tubuh putranya. Tidak ada kata yang terucap, Addhitama hanya memeluk Radit dengan ujung mata yang sedikit berair.
Echa terlihat masih syok, Radit membawa istrinya ke kamar. Meninggalkan kedua kakak dan Papihnya yang sedang berbincang dengan Rion serta Iyan.
Tubuh Echa sudah terbaring. Namun, kepalanya belum mampu berpikir jernih. Begitu juga dengan Radit, jika Aleesa tidak terus menangis sudah pasti dia kan pergi ke Bandara. Mengantarkan anak dan istrinya menjadi janda muda dan anak yatim. Radit menggeleng cepat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika terjadi seperti itu.
"Tetap dampingi aku hingga anak-anak kita besar," pinta Echa yang sudah menatap wajah Radit dengan nanar.
"Tentu, Sayang. Tentu." Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Membenamkan wajah sang istri ke dalam dada bidangnya.
__ADS_1
Tangan mereka terus memeluk satu sama lain seperti sepasang suami-istri yang tidak ingin terpisahkan.
Sedangkan di ruang tamu, Addhitama terus mengucapkan terima kasih kepada Iyan. Berkat Iyan dan Aleesa keberangkatannya ke Surabaya batal. Dia dan Radit selamat dalam kecelakaan pesawat.
"Iyan hanya bisa membantu dengan kelebihan Iyan, Om." Begitulah bocah itu menjawab.
"Iyan hanya bisa melihat apa yang akan terjadi. Tanpa bisa mencegahnya. Semuanya balik lagi ke takdir Tuhan."
Rion mengusap lembut kepala Iyan. Menatapnya dengan penuh kebanggaan.
"Keraguan saya akan keistimewaan Iyan, hari ini terjawab sudah," ujarnya.
"Ragu?" ulang Addhitama.
"Ya, putra bungsu saya ini berbeda dengan anak yang lain. Mungkin sebagian orang mengatakan bahwa anak saya ini sedikit gilaa. Senang bermain sendiri dan berbicara sendiri," terang Rion.
Rion mengangguk kecil. Rindra dan Rifal memandang lekat ke arah Iyan. Takjub dan luar biasa.
"Apa Kakak boleh tau, tadi kamu melihat apa hingga melarang Radit pergi?" tanya Rifal.
"Banyak orang yang mengeluarkan air mata. Dari sekian banyak orang itu ada Kak Echa yang menangis di sana sambil meneriakkan nama Abang."
Rindra menatap ke arah Rifal. Berita terkini tentang pesawat telah disiarkan. Mereka melihat bagaimana keluarga korban yang berteriak histeris menyebut nama sanak keluarganya yang berada di dalam pesawat itu. Pesawat yang nahas, jatuh dan belum ditemukan di mana titik jatuhnya.
"Seperti itu," tunjuk Iyan pada layar televisi.
__ADS_1
"Apa kamu selalu bisa melihat kejadian buruk yang akan menimpa seseorang?" tanya Rindra penasaran.
"Ini kali pertama Iyan dapat melihat tentang ini. Semoga ke depannya Iyan tidak bisa melihat hal yang seperti ini lagi. Iyan takut karena tidak bisa menolong mereka. Hanya bisa mencegah. Namun, cegahan Iyan pasti dianggap gila oleh orang lain," jelasnya
"Orang pertama yang mengetahui kemampuan Iyan adalah Radit. Dia lah yang sangat mengerti Iyan. Tidak pernah sekali pun Radit menganggap Iyan aneh. Meskipun ceritanya ngelantur."
"Radit selalu bilang, Iyan anak istimewa. Apa yang orang lain anggap gila itulah kelebihan yang dia miliki. Bukan hanya sekedar imajinasi anak kecil," Tutuk Rion.
"Radit pasti sering menghadapi pasien seperti Iyan ini. Dia tahu bagaimana harus bertindak," balas Addhitama.
"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada kamu, Iyan. Terima kasih telah melarang Abang Radit pergi," ucap Addhitama lagi.
"Sama-sama, Om." Iyan membalas ucapan Addhitama dengan seulas senyum yang merekah. Baru kali ini dia merasa menjadi anak yang berguna.
Addhitama dan kedua anaknya pun pulang. Mereka tidak ingin mengganggu Radit. Bagaimana pun, Echa pasti masih syok sama halnya dengan Radit.
Rion memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat. Iyan tersenyum dan merasakan kehangatan pelukan sang ayah yang sudah jarang dia rasakan.
"Makasih, kamu sudah membuat Kakak tidak bersedih. Makasih telah menyelamatkan Bang Radit," ujar Rion yang masih memeluk Iyan.
"Iyan akan menjadi pria hebat yang akan melindungi dua kakak perempuan yang Iyan miliki. Iyan harus bisa seperti Ayah. Malah Iyan ingin lebih dari Ayah."
Mata Rion berkaca-kaca mendengar ucapan Iyan. Anak sekecil Iyan bisa berbicara hal seperti ini.
"Kak Echa selalu bilang, Iyan harus jadi pria hebat. Iyan harus bisa menjadi pemimpin. Iyan harus bisa menggantikan Ayah untuk menjadi nahkoda di dalam rumah ini. Kak Echa juga bilang, anak ayah cuma tiga. Iyan emang anak bungsu, tetapi Iyan laki-laki. Tugas anak laki-laki itu lebih berat," ungkap Iyan.
__ADS_1
Semakin bangga Rion pada putranya. Mulutnya kelu tidak bisa menjawab perkataan Iyan. Anak yang luar biasa, dan putri sulungnya pun lebih luar biasa. Sedikit demi sedikit Echa memberi pengertian kepada Iyan. Pengertian tentang status anak laki-laki dalam keluarga. Echa bagai sosok ibu pengganti untuk Iyan. Selalu membimbing Iyan dan tak pernah lelah untuk mengingatkan.