
Radit kembali ke Jogja setelah mendapat petuah yang melegakan. Dia benar-benar sangat bersyukur memiliki ibu mertua seperti Ayanda. Bukan hanya tutur katanya yang lembut, hatinya pun sangat baik.
"Jangan paksa Echa dulu. Biarlah dia menikmati kesendiriannya."
"Aku tidak akan memaksamu, tetapi aku akan selalu dekat dengan kamu." Radit bergumam dengan lengkungan senyum menawan.
Tibanya di Jogja, Radit dibawa ke sebuah rumah tepat di samping rumah yang disewa Echa untuk menenangkan diri. Dia hanya ingin memantau istrinya. Dilihatnya sang istri tengah menyiram tanaman di teras. Namun, wajahnya terlihat sendu. Dahinya mengkerut ketika Echa menyudahi siram menyiramnya dan duduk di kursi.
"Hai anak-anak Bubu."
Betapa sakit hati Radit ketika Echa menjadi sosok ceria di hadapan anak-anak mereka. Echa memang pandai berakting. Suara ponsel Radit terdengar, Echa segera menoleh ke arah samping rumah yang dia huni. Namun, Radit segera masuk ke dalam karena dia yakin Echa mengenali nada dering ponselnya.
"Seperti suara ponsel Kak Radit."
Echa menoleh ke arah kiri dan kanan, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
"Apa saking merindukannya, jadi berhalusinasi seperti ini."
Setelah selesai melakukan sambungan video dengan ketiga putrinya, Echa memilih masuk ke dalam rumah karena tiba-tiba tubuhnya menggigil. Radit yang sudah selesai menerima panggilan telepon berjalan ke arah luar lagi, tetapi sudah tidak ada Echa di sana.
Sudah dua hari ini Radit tidak keluar rumah karena banyak pekerjaan yang menantinya. Namun, dia selalu memantau Echa dari layar laptop. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan memantau Echa secara langsung.
__ADS_1
"Pak, makan dulu," titah sang asisten. Namun, Radit sama sekali tak menggubrisnya. Hanya segelas susu yang akan masuk ke dalam perutnya.
Sang asisten tak hentinya mengingatkan, tetapi Radit tidak mengindahkan. Dia hanya ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera memantau istrinya kembali.
Dua hari sudah Radit bekerja siang dan malam tanpa asupan makanan. Hanya kopi dan juga susu yang dia minum.
"Pak, istirahatlah. Tubuh Anda sudah hampir empat puluh delapan jam tidak tidur." Riki, asistennya selalu mengingatkan bagai istrinya.
"Sebentar lagi."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Riki. Dia sangat melihat tubuh bosnya ini semakin kurus dan juga pucat. Kini, Radit memandangi laptop miliknya yang tersambung dengan cctv di rumah sebelah. Lengkungan senyum terukir di wajahnya dan dia berkata, "tunggu aku, Sayang."
Hati Riki mencelos mendengar ucapan dari Radit. Dia sangat tahu seberapa besar cinta bosnya itu untuk Echa. Dia juga memang menyalahkan bosnya karena telah membuka celah bagi wanita yang memang pada dasarnya gatal. Radit menganggap partner bicara, tetapi wanita itu menganggapnya lebih dan disebar di sosial media. Inilah yang dinamakan apa yang Radit tanam itulah yang akan dia tuai. Dia sudah memberikan ruang kepada wanita lain di saat istrinya tengah terbalut dalam duka yang mendalam. Sekarang, dia harus menerima ketika istrinya mulai menjauhinya karena tindakan bodohnya itu. Sejatinya, tidak ada pertemanan yang tulus antara pria dan wanita.
Jam tiga pagi, Radit baru selesai mengerjakan semua laporan dan bahan untuk meeting pagi ini. Terasa perutnya yang sakit dan sangat perih. Hanya obat mag yang dia konsumsi untuk meredakan rasa nyeri itu.
Pagi hari, Riki melihat ada yang berbeda dari tubuh Radit. Wajahnya sangat pucat dan sepertinya dia tengah menahan sakit.
"Sarapan, Pak."
"Buatkan saya teh hangat."
__ADS_1
Tak biasanya seorang Raditya meminta teh hangat di pagi hari. Riki sangat yakin ada yang tidak beres dari bosnya ini. Selama di perjalanan menuju tempat rapat, Radit hanya terdiam dengan wajah yang semakin memucat.
"Pak, apa Anda baik-baik saja?" tanya Riki. Radit tidak menjawabnya. Dia masih menahan rasa sakitnya.
Baru saja Radit menginjak ruang rapat, tiba-tiba tubuhnya melemah dan ambruk seketika.
"Pak Radit!" seru semua orang.
Addhitama yang baru saja masuk ke dalam ruang rapat pun terlihat sangat panik hingga dia berteriak sekuat tenaga memanggil putranya.
Addhitama menghembuskan napas kasar ketika mendengar semuanya dari Riki. Addhitama terus memandangi tubuh putranya yang kini terbaring lemah di ranjang pesakitan. Dia pun menghubungi seseorang.
Di saat Radit tak sadarkan diri, Echa yang masih bergumul di bawah selimut terbangun dan segera terduduk. "Kak Radit."
Perasaannya sungguh tidak enak. Pikirannya tertuju pada satu nama yaitu, Radit. "Apa karena aku merindukannya."
Siang hari ketika Echa tengah menatap hamparan sawah yang luas melalui jendela kamar, suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Dia segera keluar kamar dan menuju pintu masuk. Ketika tangannya sudah membuka pintu, tubuhnya menegang melihat siapa yang datang.
"Ma-mah!"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...