Yang Terluka

Yang Terluka
Perginya Bubu


__ADS_3

Echa menceritakan semua kelakuan kedua anaknya yang di luar nalar manusia waras. Rion dan Radit malah tertawa terbahak mendengarnya.


"Berapa sih kerugian hari ini? Biar aku transfer." Echa menatap nyalang ke arah Radit. Bukan masalah uangnya, tetapi kenakalan anak-anaknya yang membuat Echa emosi tingkat tinggi.


"Uang gak jadi masalah untuk aku, tapi bisa gak dua anak ini gak selalu bikin masalah? Kalian mau Bubu cepat mati?" Suara Echa sudah mulai meninggi. Bibir Aleeya dan Aleesa sudah bergetar karena ketakutan.


Echa berlalu meninggalakan ketiga putrinya bersama ayah dan juga kakek mereka. Hari ini Echa sudah meminum dua butir Paracetamol, kepalanya yang sangat pusing karena ulah kedua anaknya yang super duper.


"Baba."


Mereka pun menangis dan memeluk tubuh Radit. Rion hanya tersenyum tipis. Dia mengakui kalau dua cucunya ini sangat aktif bisa dibilang nakal. Wajar jika Echa mengeluh kelelahan. Bukan hanya tenaga, tetapi lelah hati juga menghadapi duo tuyul Badung.


"Makanya jangan bandel. Rasain tuh akibatnya," ejek Iyan.


Aleeya dan Aleesa pun menangis keras. Aleena hanya memeluk tubuh ayahnya karena Aleena tidak ikut-ikutan dalam masalah ini.


Echa memilih untuk masuk ke dalam kamar. Menyiapkan pakaian dan segala perlengkapannya untuk bertolak ke Bandung besok. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Berat sebenarnya, tetapi dia memiliki tanggung jawab yang lain.


Ketiga anak Echa sudah terlelap dengan sisa air mata di ujung mata mereka. Radit mengecup kening ketiga putrinya satu per satu.


"Kalian terlalu aktif, kasihan ibu kalian," gumam Radit.


Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu temaram. Radit masuk ke dalam kamarnya terlihat Echa yang tengah duduk di tepian tempat tidur.


Rangkulan hangat Radit berikan kepada sang istri tercinta. Echa pun memeluk pinggang Radit dengan sangat erat.


"Jangan khawatir, aku akan menjaga mereka. Kamu fokus saja ya." Echa semakin memeluk erat tubuh Radit.


"Nanti aku dan anak-anak akan menyusul kamu." Kecupan hangat Radit berikan di kening Echa.


Matahari belum menampakkan dirinya, tetapi Echa sudah rapi dengan kostum kerjanya. Riasan tipis dia poleskan di wajah cantiknya. Radit memeluk tubuh istrinya dari belakang. Seakan enggan untuk berpisah.


"Janji ya, jemput aku di sana." Kini Echa sudah berucap.


"Iya, Sayang. Pasti aku akan datang. Semangat ya."


Kepergian Echa tidak diketahui oleh ketiga anak-anaknya. Alhasil pagi-pagi kediaman Rion sudah sangat bising karena tangisan ketiga cucu-cucunya.


"Dedek mau Bubu," lirih Aleeya.


"Kakak Sa juga."


Aleena hanya bisa menangis memeluk bonekanya. Radit dengan sabar menghentikan tangis ketiga anak-anaknya. Hari ini Radit mengambil cuti untuk mengurus si triplets.


"Bubu ke mana, Ba?" tanya Aleena setelah selesai dipakaikan baju.


"Kemarin kalian telah berbuat apa kepada Bubu?"


Aleeya dan Aleesa pun tertunduk. Mereka sangat melihat aura kemarahan di wajah ibunya semalam.


"Bu-bu ma-lah?" tanya ragu Aleesa.


Radit hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan ketiga anaknya sudah menangis kembali.


"Sekarang sama Baba dulu, ya. Kita sarapan dan berangkat sekolah."


Radit membawa ketiga anaknya yang sudah sembab dan juga hidung memerah ke ruang makan. Mereka hanya memandangi nasi goreng sosis kesukaan mereka tanpa menyentuhnya.


"Kalau kalian gak makan, Bubu akan lebih marah dan gak akan kembali ke sini," ancam Radit.


Mata mereka berkaca-kaca kembali mendengar penuturan sang ayah, dengan terpaksa mereka memakan sarapan yang sudah disiapkan. Mengunyahnya dengan pelan seperti tak ada rasa, hambar.


Setelah selesai, Radit membawakan bekal satu buah susu kotak dan puding Oreo kesukaan mereka. Namun, wajah tak bersemangat mereka terlihat jelas. Meskipun begitu, Mereka tetap berangkat ke sekolah.


"Jangan nakal dan jangan buat onar. Jangan buat Bubu semakin kesal." Ketiga kurcaci itu pun mengangguk.


Rasa bersalah kini menyelimuti hati Aleeya dan juga Aleesa. Tidak seperti biasanya sang ibu marah seperti ini. Sering mereka membuat onar, tetapi sang ibu tidak pernah pergi seperti sekarang. Rasa hampa dan berbeda kini mereka rasakan.


Kalfa yang baru saja datang tercengang melihat si kembar tiga yang tengah melamun. Sapaan Kalfa pun tidak digubris oleh mereka. Akhirnya, Kalfa mengeluarkan cokelat dan memberikannya kepada mereka bertiga. Mereka hanya menatap Kalfa, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Biasanya Aleeya yang sangat antusias, tapi kali ini berbeda.


"Kalian kenapa?" tanya Kalfa yang sedari tadi kebingungan.


"Bubu pelgi," lirih Aleena.


Aleesa dan Aleeya sudah terisak. Dia memeluk tubuh kakaknya. "Maafkan Dedek," kata Aleeya.


"Kakak Sa juga minta maaf," ujar Aleesa.

__ADS_1


Kalfa hanya menghela napas berat. Dia masih teringat akan kepergiaan ibunya yang belum lama ini. Sehari semalam tidur bersama jenazah sang ibu dan Kalfa pun kelaparan karena sang ibu tak kunjung bangun.


Jika, sudah menyangkut orang tua Kalfa tidak bisa bicara. Dia adalah anak sebatang kara yang beruntung diangkat oleh seorang pria kaya raya.


Tibanya di rumah, Echa menghubungi suaminya. Hal yang Echa tanyakan adalah ketiga anaknya.


"Kamu tenang saja, Sayang. Pas banget momennya, biar mereka gak terlalu nakal lagi," ujar Radit.


Hanya helaan napas berat yang keluar dari mulutnya. "Aku kangen mereka," lirih Echa.


"Sabar ya, Sayang. Nanti malam kita akan bertemu. Selesaikan dulu tugas kamu di sana."


Ada masalah yang tetjadi di toko bakery cabang Bandung. Echa harus mengatasi semuanya. Mengatur pertemuan dengan semua pihak karena mereka tidak ingin diwakilkan. Ingin bertemu langsung dengan pemiliknya. Mau tidak mau Echa harus pergi ke Bandung ketika subuh tiba. Meninggalakan ketiga anaknya bersama ayah dan suaminya karena Echa harus bermalam di sana.


Radit menjemput ketiga anaknya. Dilihatnya wajah mereka nampak pilu.


"Mau makan di luar?" Mereka kompak menggeleng.


"Dedek mau Bubu," ucapnya.


"Bubu masih marah kepada kalian," balas Radit.


Mereka bertiga naik ke dalam mobil. Seperti cuaca yang mendung wajah mereka bertiga. Sebenarnya Radit kasihan, tetapi ini juga menjadi pelajaran untuk mereka supaya tidak nakal lagi.


Sesampainya di rumah, mereka tetap mencari ibu mereka ke dapur, kamar dan juga tempat yang lain. Namun, ibu mereka tetap tidak ada.


"Mas, emang gak ngasih tahu ke mereka?" tanya Mbak Ina.


"Biarkan saja."


Makan siang pun mereka lewatkan. Namun, Radit dengan sabar menyuapi ketiga anaknya itu.


"Kalau kalian gak makan, Bubu akan tambah marah. Malah gak mau ketemu kalian lagi."


Mata ketiga anak balita itu membola dan pada akhirnya mereka mau menuruti perintah sang ayah.


Tidak ada keceriaan yang mereka tunjukkan. Menonton acara televisi pun tidak serius mereka tonton. Om Poci yang tengah beristirahat di dahan pohon mangga pun tak diganggu oleh Aleesa.


"Lontong gosong, kenapa Aleesa tidak keluar?" tanya Om Uwo.


"Mana saya tahu. Saya lihat mereka sudah kembali tadi, tapi sampai jam segini mereka belum kelihatan juga," ujar lontong gosong.


Dev mengikuti perintah Om Uwo, Dev tercengang ketika melihat si triplets tertidur dengan memeluk baju ibu mereka. Dev berkeliling ruangan mencari ibu si kembar tiga tersebut. Namun, dia tidak menemukannya.


Akhirnya, Dev kembali ke pohon mangga. Om Uwo seakan meminta penjelasan dari Dev.


"Sepertinya ibu mereka tidak ada," terang Dev.


"Masih gelap ibunya berangkat, sudah dijemput. Bawa tas cukup gede juga," tutur lontong gosong.


Om Uwo dan Dev saling pandang. Mereka satu pemikiran, mengira Echa kabur dari rumah.


"Jangan salah paham kalian, itu emaknya si bocah Badung ada pekerjaan ke luar Kota, tapi gak bilang sama anak-anaknya biar mereka gak bandel, gitu sih yang saya dengar," ungkapnya lagi.


"Syukurlah," ucap Dev dan Om Uwo.


Sore menjelang, si triplets bangun dari tidur siang mereka. Lagi-lagi mereka menangis karena tidak ada sang ibu.


"Jangan nangis lagi dong, anak-anak Baba 'kan pintar gak cengeng."


"Mau Bubu," ucap Aleesa seraya terisak.


Radit hanya bisa memeluk tubuh ketiga anaknya ini. Dia tengah membayangkan bagaimana jika Echa pergi untuk selamanya dan meninggalakan tiga anak-anak mereka. Pasti dia tidak akan pernah sanggup kehilangan istrinya, begitu juga anaknya.


"Mandi dulu, ya. Nanti malam kita ke pasar malam." Si triplets pun menggeleng, yang ada dipikiran mereka adalah sang ibu.


Di Bandung, Echa juga tengah memikirkan ketiga anaknya. Rasa rindu menghampiri hatinya setiap saat. Belum juga dua puluh empat jam, tetapi rindunya sudah menggebu-gebu.


Echa ingin menghubungi mereka melalui Radit. Namun, Radit melarangnya. Biarkan ketiga anak itu menjalani hukuman mereka. Ketika mereka akan melakukan kenakalan mereka akan berpikir dua kali.


"Baba, yang salah 'kan Dedek dan juga Kakak Sa. Kenapa Bubu juga tinggalin Kakak Na?" Aleena sudah berderai air mata.


Selama tiga tahun ibu mereka sendiri yang mengurus mereka bertiga pasti akan ada rasa kehilangan yang luar biasa.


"Jika satu salah, berarti yang lain juga harus terkena hukuman. Kalian mengerti?"


Si triplets malah memeluk tubuh Radit. Ada rasa kasihan kepada anak-anaknya ini. Namun, Radit juga harus tegas kepada mereka. Takutnya kenakalan mereka akan terus sampai mereka besar. Itu akan lebih merepotkan.

__ADS_1


Ketika tidur pun mereka memilih tidur bersama ayah mereka. Memeluk piyama dan daster yang sering ibu mereka gunakan jika malam tiba. Lengkungan senyum terukir di wajah Radit. Ada sebuah rasa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Cinta anak-anak mereka begitu besar kepada ibu mereka.


Radit mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya via sambungan video. Mata Echa berkaca-kaca melihat anak-anaknya yang sedang tertidur memeluk bajunya, menghirup aroma tubuh ibunya.


"Besok pagi aku akan menjemput kamu di sana. Tadinya mau sore ini, tapi aku urungkan. Aku ingin tahu bagaimana malam mereka tanpa kamu." Echa pun tersenyum dan mengangguk pelan.


"Kamu istirahat ya, Sayang. Sampai ketemu besok."


Di tengah malam. si triplets terbangun. Namun, mereka tidak membangunkan ayah mereka. Mereka menangis tanpa suara. Terus mendekap baju sang ibu, seperti tengah memeluk tubuh ibunya.


"Dedek kangen Bubu," ucap pelan Aleeya.


Bukannya Radit tidak tahu, dia hanya pura-pura tertidur.


"Sabar ya, Nak. Besok kita akan bertemu dengan Bubu."


Keesokan paginya, mata sembab terlihat jelas. Rion dan Iyan merasa kasihan kepada si triplets. Mereka menatap ke arah Radit, dan Radit pun menganggukkan kepalanya.


"Sarapan yang banyak, terus kita jalan-jalan," ucap Radit dengan penuh semangat.


"Gak mau," jawab Aleena.


"Ingin jalan-jalan sama Bubu," lanjut Aleesa.


Setelah selesai sarapan, Radit menyiapkan barang bawaan ketiga putrinya dibantu oleh Rion. Tak lupa mereka pun didandani dengan cantik. Memakai baju yang lucu dan senada. Tentunya baju merk ternama.


Radit menuntun ketiga anaknya menuju mobil. Lontong gosong yang berdiri di depan rumah Echa pun menggeser tubuhnya. Jika, ditabrak oleh Radit pasti akan terjatuh dan tidak bisa bangun lagi. Namun, melihat wajah sedih Aleesa membuat lontong gosong itu berkaca-kaca.


"Meskipun nakal, kamu tetaplah menggemaskan," imbuhnya.


Tidak banyak pertanyaan yang keluar dari mulut di triplets. Mereka duduk tenang di kursi penumpang.


"Mampir dulu ke minimarket ya. Beli jajanan kalian."


Di dalam mini market pun mereka tidak mengambil apa-apa. Namun, Radit tetap mengambilkan makanan kesukaan mereka. Takut sewaktu-waktu mereka lapar dalam perjalannya.


Dua jam berkendara, tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut ketiga anaknya. Radit menghentikan mobil di sebuah rumah yang sangat asri. Si triplets tidak tahu itu rumah siapa. Mereka hanya mengikuti sang ayah saja.


Ketika pintu rumah terbuka mata si triplets berkaca-kaca. Mereka berhambur memeluk tubuh Echa dengan linangan air mata.


"Jangan tinggalin Dedek lagi," ucap Aleeya lirih.


"Kakak Sa janji, Kakak Sa gak akan nakal lagi," ujar Aleesa.


Keharuan pun tercipta. Radit dan Bu Dina tersenyum melihat ketiga anak Echa yang sangat menyayangi ibu mereka.


Si triplets benar-benar tidak ingin lepas dari Echa. Sedari tadi menempel terus.


"Kok manja sih?" Mereka hanya menatap ke arah sang ayah, kemudian memeluk ibunya kembali.


Radit menggelengkan kepala. Ada kebanggan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


"Kamu menjadi ibu yang sangat luar biasa. Nenek bangga sama kamu." Echa hanya membalasnya dengan senyuman.


"Echa tidak ingin anak-anak Echa merasakan hal yang sama ketika Echa dan Kak Radit kecil. Sebisa mungkin kita memberikan yang terbaik untuk mereka."


Radit tersenyum dan mengecup ujung kepalanya. Bu Dina merasa sangat bahagia, bisa menyaksikan cicit-cicitnya lahir ke dunia. Meskipun usianya sudah renta.


"Bubu, lapal," ucap Aleeya.


Echa dan Radit pun tertawa mendengar ucapan anak bungsunya ini. Radit dan Echa memutusakan untuk makan di luar bersama Nenek dan ketiga anak mereka. Momen yang jarang terjadi.


Si triplets benar-benar menikmati makanan yang orang tuanya pesan. Apalagi banyak dedaunan yang disajikan. Semakin menggugah selera mereka.


"Meni doyan ka lalaban," imbuh Bi Dina.


"Kata Om Arya mereka turunan kambing." Bu Dina pun tertawa.


"Anak-anak kamu tuh benar-benar orang Sunda asli. Gede sedikit juga pasti doyan sambal."


Setelah selesai makan, Aleesa menatap ke sebuah pohon besar yang rimbun. Di sana berdiri sesosok lontong putih, tapi berwajah merah.


"Bubu, boleh nambah satpam satu lagi gak?" tanya Aleesa.


"Satpam?" ulang Echa.


Aleesa mengangguk dengan cengiran khasnya.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau kamu ...."


"Lucu Bubu, wajahnya melah gitu. Jadi, gak pellu Kakak Sa pakein maskel."


__ADS_2