Yang Terluka

Yang Terluka
Dianggap Gila


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sudah dua tahun Kalfa pindah ke Bandung. Kini anak-anak Echa dan Radit sudah berumur lima tahun. Mereka juga sudah masuk ke sekolah TK. Aleena tetap manjadi anak yang paling antusias jika mengenai sekolah dan pelajaran. Di usia yang empat tahun pun dia sudah pandai membaca. Berbeda dengan Aleeya.


"B-u Bu k-u Ku, dibaca ...."


"Belut," jawab Aleeya.


Kalau sudah begini Echa akan menarik keningnya dengan sangat keras. Dia memilih mendatangkan Ra


guru baca dari pada tensi datang ya naik.


Pagi ini mereka bertiga sudah memaki seragam sekolah. Rambut mereka sudah dikuncir dua. Sepatu mereka sama serta tas pun hanya berbeda warna.


"Semangat banget nih cucu, Engkong," ujar Rion.


"Iya dong," jawab Aleena.


"Bubu, di sekolah baru banyak hantunya gak ya?" tanya Aleesa.


"Kamu mau sekolah apa mau ngoleksi hantu?" sergah Echa dengan tatapan jengah.


"Dua-duanya," jawab Aleesa tanpa dosa.


Iyan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aleesa, sedangkan Aleeya terlihat malas sekali sekolah.


"Kenapa dalam satu Minggu hari liburnya cuma satu? Kenapa gak dibalik aja? Hari liburnya enam, haru masuknya satu," celoteh Aleeya.


Hari masuk yang Aleeya maksud adalah hari masuk sekolah. Aleeya sudah memiliki ciei-ciri murid malas sekolah.


Echa pusing kalau mendengar celotehan ketiga anaknya ini. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda. Seperti Aleena, dia akan terus banyak bertanya kepada sang ayah Karena ayahnya pintar. Apapun yang ditanyakan Aleena pasti bisa Radit jawab, kecuali jika Aleena bertanya proses pembuahan pada manusia. Itu akan berujung Radit mati kutu.


Aleesa lebih diarahkan kepada hal spiritual. Radit dan Echa yakin, jika Aleesa rajin mengaji kemampuannya akan terarah kepada hal-hal yang baik dan lurus. Berbeda dengan Aleeya yang senang sekali memainkan gadget sama seperti Iyan. Makanya, dia tumbuh manjadi anak yang malas. Namun, akhir-akhir ini dia lebih suka dengan piano. Radit pun mendaftarkan Aleeya les musik. Orang tua hanya bisa mengarahkan saja dan berharap anaknya sukses pada jalan yang dia tekuni.


Tibanya di sekolah baru, mereka sangat antusias. Apalagi Aleesa, dia melihat anak seusianya yang memakai seragam yang sama, tetapi penuh dengan darah. Dia sudah tahu bahwa anak itu adalah hantu.


"Hai!" Aleesa menyapanya.


Anak itu tersenyum ke arah Aleesa begitu juga dengan Aleesa. Teman-teman Aleesa yang lain menatap aneh Aleesa.


"Kamu bicara sama siapa?" tanya. Jane kepada Aleesa.


"Meriam," jawab Aleesa.


"Meriam?" ulang Jane.


Tidak ada nama anak yang bernama Meriam di kelas Aleesa. Jane bengong dan melihat Aleesa mengayun-ayunkan tangannya sendiri menuju kelasnya.


Ketika di dalam kelas pun, Aleesa melarang siapapun temannya duduk di kursi sampingnya.


"Di sini tempat Meriam!" seru Aleesa.


Padahal di sana tidak ada siapa-siapa, tetapi Aleesa selalu menyebut nama Meriam. Semenjak berkenalan dengan Meriam, Aleesa lebih sering berbicara sendiri serta tertawa sendiri. Wali kelasnya pun melihat sendiri sikap Aleesa yang aneh tersebut. Sudah dua Minggu ibu Pipit memperhatikan tingkah aneh Aleesa. Jika, ibu Pipit bertanya kepada Aleena dan Aleeya mereka hanya menggedikkan bahu. Mereka berdua sudah berjanji untuk tidak memberitahukan keistimewaan saudara mereka.


Kabar tersebut sudah tersebar ke telinga para wali murid yang lainnya. Mereka juga sudah melihat tingkah aneh Aleesa dan meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan Aleesa yang mereka anggap gila.


Ketika malam tiba, Aleena


mengerjakan selembar surat kepada ibunya. Dahi Echa mengkerut ketika menerima surat itu.


"Dari ibu guru."

__ADS_1


Aleena berlalu begitu saja. Dia sebenarnya sudah tahu perihal permasalahan sang adik, tetapi dia tidak mau memaparkannya kepada ibu atau ayahnya.


"Surat panggilan."


Echa sedikit terkejut dengan surat panggilan yang ada di tangannya. Pikiran jelek sudah berkelana, Aleesa sudah melakukan kesalahan apa. Echa mencoba membicarakan semuanya kepada Radit. Seperti biasa Radit akan menenangkannya.


"Datang saja," ujarnya.


Keesokan harinya Echa datang ke sekolah si tripelts. Dia masuk ke ruangan kantor. Sudah ada ibu Pipit di sana.


"Maaf Bu, mengganggu waktu ibu," ujar ibu Pipit. Echa hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ini masalah Aleesa, Bu." Bu Pipit menjeda ucapannya sejenak.


"Maaf sebelumnya, apa Aleesa itu berbeda?" tanya Bu Pipit.


"Berbeda?" tanya ulang Echa.


"Apa Aleesa memiliki teman imajinasi?" tanya Bu Pipit.


"Memangnya kenapa?" tanya Echa.


"Dia selalu berbicara sendiri di dalam kelas. Dia selalu menyebut Meriam."


Echa menghela napas kasar. Apa yang dia takutkan terjadi juga.


"Sudah ada surat petisi dari wali murid untuk mengeluarkan Aleesa dari sekolah ini. Aleesa dianggap gila."


Belum kering ucapan Bu Pipit, suara gaduh terdengar di kelas Aleesa. Bu Pipit dan juga Echa segera berhambur ke arah kelas. Aleesa sudah memukul Jane dengan penggaris panjang. Tangan Jane berdarah.


"Aku gak gila!" seru Aleesa dengan urat-urat kemarahannya.


"Kakak Sa, tenangkan dirimu kamu, Sayang." Echa memeluk erat tubuh Aleesa.


"Aleesa benar-benar gila, Mah. Dia memukul tangan aku sampai berdarah," adunya pada anak ibu.


"Kakak Sa gak gila Bubu," ucap Aleena dengan berlinang air mata.


"Iya, Sayang. Kamu gak gila."


Aleena dan Aleeya memeluk tubuh Aleesa. Mereka ikut menitikan air mata. Sebenarnya kesabaran Aleesa sudah habis hari ini. Dia sudah lelah dengan makian dan cacian dari Jane. Dikatai anak aneh, orang gila, anak setan. Semuanya dia telan sendirian. Kesabaran manusia itu pasti ada batasnya. Begitu juga dengan Aleesa.


Ibu dari Jane datang dengan amarah yang menggebu. Dia menarik tangan Aleesa hingga Aleesa terhubung ke daepan.


"Jangan kasar!" pekik Echa.


Ibu dari Jane mengambil penggaris dan memukul kembali tangan Aleesa hingga berdarah. Echa mendorong tubuh ibu dari Jane dengan sangat kasar.


"Pukul saya! Jangan pernah lukai.


anak saya!" teriak Echa dengan marah yang menggebu-gebu.


Ibu dari Jane seperti orang kesetanan, dia memukul Echa secara membabi buta.


"Bubu," teriak ketiga anaknya.


Pihak keamanan sudah melerai ibu dari Jane dan juga Echa. Tangan putih Echa sudah terlihat memerah. Ketiga anak Echa memeluk tubuhnya dan menangis.


"Pasti Bubu sakit 'kan," ujar Aleena.

__ADS_1


"Tidak ada kata sakit untuk melindungi kalian, Nak."


Echa memilih membawa ketiga anaknya pulang. Dia tidak ingin anaknya terluka lagi. Sesampainya di rumah, Echa segera mengobati luka Aleesa. Bukannya Aleesa yang menangis, melainkan Echa.


"Maafkan Bubu ya, Nak."


Aleesa mengusap lembut air mata Echa. "Kakak Sa lebih sakit ketika melihat Bubu menangis."


Mereka menangis bersama, Aleena dan juga Aleeya pun ikut menangis. Mendengar laporan dari Mbak Ina, Radit segera pulang. Amarahnya memuncak ketika melihat tangan sang istri sudah penuh luka merah.


Dhanang Radit sudah mengeras. Dia segera pergi lagi dan menuju sekolah si triplets. Radit sampai menggebrak meja kepala sekolah.


"Anda tidak becus jadi kepala sekolah!" geramnya..


Pihak keamanan sudah menarik tubuh Radit dan mendudukkan tubuh Radit di sofa.


"Maaf, Pak."


"Saya akan lakukan visum terhadap anak dan istri saya. Kenapa pihak sekolah malah lalai seperti ini?" pekiknya.


Radit tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. Bu Pipit selaku wali kelas si triplets mencoba untuk mencairkan keadaan.


"Anak saya memang berbeda. Dia tidak gila, dia memang memiliki teman imajinasi. Malah dia memiliki kemampuan di luar kewajaran," terang Radit.


"Maksud Bapak?" tanya Bu Pipit


"indera keenam."


Semua guru tercengang mendengar ucapan dari Radit. Antara percaya atau tidak.


"Anak saya tidak akan melawan jika lawannya sudah keterlaluan. Istri saya pun tidak akan pernah diam saja ketika anak-anak saya diperlakukan seperti itu," terangnya.


"Saya akan tetap melaporkan orang tua dari anak yang bernama Jane Karena telah menganiaya istri saya." Radit pergi begitu saja dan mengurus semuanya.


Hatinya sangat sakit ketika ada orang yang memperlakukan istrinya dengan sangat kasar. Dia pun tidak pernah memperlakukan Echa seperti itu.


Rahang Addhitama dan juga Rion mengeras. Mereka hanya pura-pura tidak tahu karena mereka tahu Echa tidak akan mengatakan apapun. mereka malah menyembunyikan luka serta luka Aleesa. Kedua anaknya pun dilarang keras untuk mengatakan hal apapun kepada semua orang.


Teman-teman Aleesa yang tak kasat matalah yang murka sekali. Merkea mendatangi rumah Jane dan menerornya.


Keesokan paginya sekolah si triplets sudah ramai oleh pihak media serta pihak kepolisian. Radit tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jane yang baru saja datang dengan ibunya terperanjat ketika semua media mengambil gambarnya.


"Ada apa ini?"


Pihak kepolisian segera membawa ibunda Jane ke dalam mobil polisi. Jane berteriak histeris.


"Mamah!"


Bu Pipit memeluk tubuh Jane yang sudah menangis keras. Di kantor polisi, ternyata sudah ada Echa dan ketiga anaknya. Jane menatap nyalang ke arahnya.


"Kurang ajar!"


Radit sudah menahan tangan dari ibu Jane. Tatapannya sangat tajam.


"Pasal berlapis sudah menanti Anda. Silakan hidup bersama suami Anda di penjara."


Jane melebarkan matanya ketika Radit mengetahui suaminya dipenjara. Inilah yang membuat ibunda dari Jane bersikap aroga dan sering main tangan.


Semenjak kejadian ini Radit memutuskan untuk memindahkan ketiga anaknya ke sekolah biasa. Si triplets pindah ke sekolah biasa. Namun, sikap Aleesa masih tetap sama. Untungnya ada yang memiliki kemampuan itu juga, namanya Vito.

__ADS_1


Sebelumnya, Radit dan Echa menjelaskan keistimewaan Aleesa agar tidak ada anak-anak yang menganggapnya aneh. Wali kelasnya memaklumi karena di kelasnya pun ada yang memiliki kemampuan yang sama seperti Aleesa.


__ADS_2