Yang Terluka

Yang Terluka
Demam


__ADS_3

Malam hari, Rion dan Echa terlihat panik ketika mendapati sangat putri kedua demam sangat tinggi. Echa sudah menitikan air mata karena panas yang tidak kunjung turun. Sedangkan Rion sudah menelepon dokter anak untuk datang ke rumahnya. Radit sedang bertugas ke luar Kota. Baru besok dia akan pulang.


"Nak, jangan bikin Bubu takut." Suara Echa bergetar dengan tangan yang menggendong Aleesa. Tangis Aleesa tak kunjung berhenti membuat air mata Echa terus menetes.


"Kak, Abang video call," ucap Riana.


"Sayang, jangan khawatir. Kasih pertolongan pertama dengan memberikan Aleesa obat yang ada di kotak P3K. Aku menyimpan obat khusus anak-anak kita di dalam sana." Dengan cepat Riana mengambil kotak P3K. Ada sebuah botol obat yang berbentuk sirup khusus untuk bayi.


"Kasih sesuai petunjuk," ujar Radit.


"Ri, jangan ditutup dulu, ya. Biar Abang liat Kakak kamu. Kalo kamu ingin tidur, letakkan saja ponsel kamu di atas meja yang mengarah kepada Kakakmu." Riana mengangguk patuh.


Iyan mendekat ke arah ponsel dan membawa ponsel Riana keluar dari kamar sang kakak.


"Ada apa, Iyan?"


"Abang, Aleesa tidak apa-apa. Dia hanya sedang dibisikkan sesuatu oleh seorang wanita. Ketika Iyan berkomunikasi dengan beliau. Beliau hanya tersenyum dan mengaku jika beliau adalah Oma dari Aleesa. Wajahnya sedikit mirip Abang. Kemudian, beliau mengatakan jika Aleesa istimewa. Nantinya, akan sama seperti Iyan."


Radit menghela napas kasar. Jadi, ini jawaban dari mimpinya ketika si kembar lahir. Anak yang Mamihnya bisikkan sesuatu itu adalah Aleesa.


"Iyan, tolong suruh teman-teman Iyan untuk jaga Aleesa, ya. Kalo menampakkan diri harus pake wajah yang cantik dan tampan," pinta Radit. Iyan mengangguk cepat.


"Semua teman Iyan selalu jaga para kurcaci dari makhluk-makhluk jahat. Serta manusia jahat." Radit sedikit tersentak mendengar ucapan Iyan.


"Manusia jahat?" ulang Radit.


"Ya, banyak yang menginginkan mereka, Bang. Kebanyakan rekan bisnis orang tua Abang dan Kakak. Mereka tahu bahwa anak-anak Abang adalah kesayangan tiga para pria kaya raya."


Mendengar penjelasan dari Iyan, Radit sedikit terkejut. Namun, di satu sisi dia merasa sangat lega. Ada teman-teman Iyan yang menjaga ketiga putrinya. Itulah yang menyebabkan mereka menjadi anak yang tidak rewel.


Tiga puluh menit berselang, suhu di tubuh Aleesa menurun. Suhu panas tubuhnya kembali normal. Semua orang yang menemaninya di kamar sudah terlelap di kasur yang Rion gelar di lantai. Hanya Echa yang masih terjaga ditemani Radit yang berada di balik panggilan video.

__ADS_1


"Ay, cepet pulang." Hati Radit sakit melihat permintaan Echa yang tulus dari hati. Wajah Echa sangat sayu.


Ketika anak-anaknya sakit, Echa sangat membutuhkan Radit di sisinya. Bukan tanpa alasan, Radit lah sebagai penopang tubuhnya di kala Echa sudah mengatakan lelah.


"Iya, Sayang. Besok aku akan bicara kepada Papih, ya." Echa mengangguk pelan.


"Sekarang kamu tidur, takutnya nanti anak-anak bangun lagi."


Mereka cerminan sepasang suami-istri yang saling membantu dan melengkapi. Radit tidak masalah untuk menggantikan peran istrinya untuk menjaga ketiga anaknya. Menurut Radit, tugas seorang ibu sangatlah berat. Harus mengurus anak dua puluh empat jam nonstop. Jadi, sebagai suami dia harus membantu Echa selelah apapun dia.


Pagi harinya, wajah lelah Echa sangat terlihat jelas. Rion tidak tega melihat putrinya seperti ini. Untuk meninggalkan Echa pun itu tidak mungkin. Ada meeting penting yang harus dia lakukan.


"Ayah telepon Mamah, ya. Biar Mamah temenin kamu di sini," ujar Rion.


"Mamah sedang berada di Bogor sama Papa. Baru hari ini kembali ke Jakarta."


Rion menghela napas kasar mendengar jawaban Echa. Dia bingung harus bagaimana.


Echa berlari ke arah sang suami dan segera memeluknya. Radit membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Tak terasa bulir bening pun menetes di wajah Echa.


"Aku takut, Ay." Suara Echa bergetar.


Rion menatap sendu ke arah Echa begitu juga Radit. Hatinya terasa teriris mendengar ucapan dari Echa.


"Aku tidak akan pergi ke luar Kota lagi tanpa kamu dan anak-anak kita."


Rion merasa lega karena kehadiran Radit di waktu yang tepat. Dia melihat jelas bahwa Echa merasa sedih. Dia hanya bisa menjelaskan isi hatinya kepada sang suami.


"Dit, jaga Echa dan anak-anak, ya." Radit mengangguk pelan.


Echa tidak mau melepaskan pelukannya. Sedangkan ketiga anaknya masih terlelap di dalam boks bayi karena semalaman mereka tidak tidur. Echa begadang seorang diri dan ditemani oleh ayahnya yang juga terkantuk-kantuk. Akhirnya, Echa menyuruh ayahnya untuk tidur karena dia tidak tega melihat sang ayah memaksa untuk terjaga. Sedangkan pagi harinya Rion harus ke luar Kota.

__ADS_1


"Kamu istirahat, ya. Aku yang akan jaga mereka." Dengan cepat Echa menggeleng.


Tubuh Radit memiliki kehangatan luar biasa untuk Echa. Semua beban yang sedang dia pikul seakan hilang begitu saja dengan kehadiran Radit. Bukannya manja, Echa dan Radit sangat jarang terpisah. Mereka seperti sepasang sepatu yang harus selalu bersama. Berjalan beriringan mengarungi semuanya.


Tak lama Echa terlelap dengan damainya di dalam dekapan hangat Radit. Radit meletakkan tubuh Echa dengan sangat hati-hati. Dia melihat ada garis kelelahan di wajah Echa. Apalagi mata panda yang semakin terlihat.


Radit mengecup kening Echa sangat dalam. Dia memandang wajah Echa dengan lekat. Mengucapkan puluhan kata maaf dengan pelan.


Semalam, setelah sambungan video terputus. Radit segera menghubungi sang papih. Tidak perlu berdebat lama dengannya, Addhitama segera menyuruh Radit untuk terbang ke Jakarta.


Addhitma terlalu menyayangi menantu serta ketiga cucunya. Mendengar salah satu dari cucunya demam saja, Addhitama sudah kebakaran jenggot.


"Papih tidak akan menyuruh kamu untuk tugas ke luar Kota lagi. Ketika pekerjaan itu tidak bisa diwakilkan, kamu serta ketiga anakmu harus ikut."


Hati Radit teriris ketika mendengar penuturan Mbak Ina.


"Si triplets kemarin rewel semua, Mas. Untuk makan aja Neng Echa gak bisa. Mereka pengennya digendong terus. Sama Mbak juga gak mau. Biasanya mereka mau." Mbak Ina menjeda ucapannya.


"Mungkin mereka gak mau Babanya pergi makanya rewel," tukasnya lagi.


Radit hanya menghela napas kasar. Dia kembali ke kamar sang istri dengan raut wajah menyiratkan kesedihan yang mendalam. Langkah Radit terhenti di depan boks bayi si triplets.


"Baba udah pulang, Nak. Jangan nakal, ya. Biarkan Bubu istirahat. Kalian tidur yang nyenyak hari ini. Nanti Baba akan main bersama kalian." Gumaman yang sangat lembut.


Radit beralih naik tempat tidur di mana sang istri sudah terlelap dengan nyenyaknya.


"Kamu pasti sangat lelah." Tangan Radit menyingkirkan anak rambut di wajah Echa.


Kemudian, dia berbaring dan memeluk tubuh istrinya yang tengah tertidur dengan sangat erat.


"Aku akan selalu berada di samping kamu. Merawat ketiga anak kita dengan kasih sayang yang sempurna."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2