Yang Terluka

Yang Terluka
Uncle dan Om


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Aksa ke Indonesia. Ketiga keponakannya sangat antusias sekali. Apalagi Aksa mengatakan bahwa dirinya membawa oleh-oleh untuk mereka.


Si triplets sudah cantik dengan kaos hitam serta celana Levis panjang dengan sepatu kets putih. Sama halnya dengan sang ibu yang memakai busana kembaran. Mereka menjemput Aksa di Bandara karena Mimo dan Aki si triplets sedang berada di Singapura dan Aska sedang memantau kafenya di Bandung.


"Lama," keluh Aleeya.


Dari jarak seratus meter seorang pria tampan tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arah si triplets.


"Uncle!" panggil mereka ketika melihat Aksa.


Ketiga anak balita itu berlari dan memeluk tubuh sang paman.


"Mana oleh-olehnya?"


Aksa melongo mendengar ucapan Aleeya. Bukannya ucapan penuh rindu malah palakan yang dia dapatkan.


"Ayo Uncle, kita pulang. Kakak Sa ingin buka oleh-olehnya," ujar Aleesa.


Aleena sudah menarik tangan Aksa untuk segera menuju sang ibu. Aksa mencium tangan sang kakak kemudian memeluknya.


"Kangen," ucapnya.


"Kakak juga kangen sama kamu," balas Echa.


Mereka pulang dengan mobil yang dikendarai oleh Echa. Aksa terus tertawa ketika mendengar celotehan-celotehan ketiga keponakannya yang sudah semakin besar.


"Uncle tahu gak? Temen kita ada yang milip si Patkai. Pelutnya gendut, lubang idungnya besal dan ngeselin," adu Aleeya.


"Tapi, sama Om kuping dia dijewel. Dia nangis," tambah Aleesa.


"Sama Om juga disentil jidatnya," lanjut Aleena.


Aksa tertawa, dia tengah membayangkan bagaimana murkanya adiknya itu melihat ketiga keponakannya dijahili oleh teman sekelas mereka.


"Abang berapa hari di Jakarta?" tanya Echa.


"Paling satu Minggu, Kak."


Tibanya di rumah sang mommy, si triplets langsung membuka koper milik Aksa. Mereka bersorak gembira ketika melihat banyak boneka, cokelat, miniatur super Hero dan Disneyland juga banyak lagi yang lainnya.


"Itu semua buat kalian, tetapi jangan berantem, ya."


"Baik, Uncle."


Jika, menyangkut mainan dan makanan ketiga anak Echa akan kompak, sedangkan Echa sudah masuk ke dapur.


"Kakak lagi ngapain?" tanya Aksa ketika mengambil air dingin di lemari pendingin.


"Mau bikin makanan buat kamu."


Aksa tersenyum dan mengecup pipi sang kakak sebagai tanda terima kasih. Ketika Aksa pulang ke Jakarta Kakak atau Mommy-nya akan memasakkan makanan kesukaannya. Meskipun, ada pelayan mereka berdua akan melarang.


"Kamu ganti baju dulu, ya. Kalau udah siap Kakak panggil." Aksa pun mengangguk mengerti.


Namun, ketika Aksa hendak beristirahat ketiga keponakannya malah sudah lebih dulu bermain di atas kasur empuk miliknya.


"Loh, kenapa mainnya di tempat tidur?" tanya Aksa ketika membuka sepatunya.


Tidak ada jawaban dari mereka. Aksa hanya menghela napas kasar dan mulai masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan tubuh, Aksa sudah tidak melihat ketiga keponakannya. Dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa dia sadari, ada tiga anak kecil yang tengah cekikikan di bawah tempat tidur yang dia tempati.


"Kalau Uncle sudah tidul. Balu kita keljain." Aleena dan Aleesa pun mengangguk mantap.


Mereka di bawah asyik dengan mainan miniatur Disneyland yang Aksa bawa. Ketika dengkuran terdengar, Aleeya mulai merangkak keluar. Dia mengintip dengan mendongakkan kepalanya ke atas. Sang paman sudah tidur dengan nyenyaknya.


"Udah tidul," kata Aleeya dengan sangat pelan.


Aleena dan Aleesa mulai merangkak keluar. Senyum mereka mengembang dengan sempurna. Aleeya mulai mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata alat make up mainan yang sengaja Riana kirimkan untuk ketiga keponakannya yang menggemaskan ini.


Si triplets bagai maling yang sedang mengendap-endap. Naik ke atas tempat tidur pun mereka sangat hati-hati. Mereka merangkak perlahan agar tidak membangunkan sang paman yang terlihat sangat kelelahan.


Mereka sudah berada di samping Aksa. Aleeya mulai membuka alat make up yang dia pegang. Mereka silih bergantian memberikan polesan di wajah tampan sang paman yang tengah tertidur pulas.


"Selesai," ucap pelan Aleeya.


Ketiga anak Echa tertawa cekikikan sambil menutup mulut mereka.


"Kayak ondel-ondel," bisik Aleesa.


Mereka meninggalakan kamar Aksa tanpa jejak. Tak lupa alat make up itu Aleeya masukkan lagi ke dalam tasnya.


"Dari mana kalian, Nak?" tanya Echa yang baru melihat ketiga anaknya.


"Dali kamal kita, Bu." Aleeya mulai berbohong.


"Bubu, Kakak Sa ingin susu kotak."


"Kakak Na juga."


"Dedek juga, Bu. Tapi, dua," imbuh Aleeya.


Echa yang tengah sibuk memasak untuk Aksa pun mengambilkan minuman kesukaan ketiga anaknya di dalam lemari pendingin. Kedua orang tua Echa selalu menyediakan makanan dan minuman kesukaan ketiga cucu mereka. Jadi, ketika mereka main mereka betah.


"Mau buahnya gak?" tanya Echa.

__ADS_1


Ketiga anaknya pun kompak bilang iya. Echa memotong buah melon dan juga mengambil anggur hijau dan juga anggur ungu. Setelah itu, Echa berikan kepada ketiga anaknya. Lengkungan senyum terukir di wajah Echa ketika melihat ketiga anaknya makan dengan lahapnya.


"Bubu lanjut masak lagi, ya. Setelah selesai makan, sampahnya di buang ke tempat sampah dan piring bekas buahnya taruh ke wastafel." Echa selalu mengajarkan anak-anaknya menjaga kebersihan dan kerapihan.


Setelah makanan siap di meja makan, Echa memanggil Aksa dan juga ketiga anaknya. Aksa jalan sempoyongan karena masih mengantuk. Namun, pekikan suara sang kakak membuat matanya terbuka lebar.


"Wajah kamu kenapa?" tanya Echa ketika melihat adiknya ini seperti dakocan.


"Kenapa memangnya, Kak?" tanya balik Aksa.


"Coba kamu ke kamar mandi, terus ngaca." Aksa menuruti perintah sang kakak, sedangkan ketiga anak Echa sudah tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa jadi anak-anak usil?" hardik Echa kepada ketiga anak-anaknya.


"Gak usah heran, emaknya juga biang usil." Arya sudah membuka suara. Dia baru saja datang bersama Beeya.


"Keusilan anak-anak lu nurun dari lu. Jadi, jangan heran. Apa yang lu tanam itu yang akan lu tuai," ujar Arya sambil mengunyah bakwan yang baru saja dia suapkan ke dalam. mulutnya. Echa berdecak kesal mendengar ucapan Arya.


Si triplets malah sedang asyik berpelukan seperti Teletubbies bersama Beeya.


"Mau nitip nih pasti," tebak Echa.


"Si Beeya ingin ketemu si Abang katanya," ucap Arya yang sedang mengambil minuman dingin.


"Abang!" teriak Beeya ketika melihat Aksa keluar dari kamar mandi. Dia pun berhambur memeluk tubuh Aksa.


"Udah gede ya, kamu. Udah punya pacar belum?"


"Jangan pacaran dulu. Belajar yang bener," omel Arya.


Aksa dan Echa pun tertawa. Mereka berdua tahu bahwa Beeya ini adalah siswa populer. Banyak yang suka dengan Beeya. Setiap laki-laki yamg menyatakan cinta padanya, pasti dia terima. Ketika dia bosan dia akan memutuskan secara sepihak dan berganti ke laki-laki yang lain. Itulah yang membuat Arya geram.


"Justru pacaran itu bisa mengusir rasa bosan ketika belajar terus-menerus Pah." Jawaban Beeya membuat Aksa dan Echa tertawa kembali.


"Susah ngomong sama kamu," sungut Arya.


****


Malam harinya, si triplets memaksa kepada Echa dan juga Radit untuk menginap di rumah Mimo dan Aki mereka. Padahal di sana hanya ada Aksa seorang diri.


"Antal ke lumah Mimo. Dedek ingin tidul sama Uncle," kata Aleeya.


"Baba, ayo!" Aleesa sudah menarik tangan sang ayah, sedangkan Aleena sudah memeluk boneka kesayangannya.


Radit dan Echa pun akhirnya mengantarkan ketiga anaknya ke rumah sang mamah. Padahal sekarang sudah jam sembilan malam.


Aksa yang sudah menggunakan piyama membuka pintu rumah. Dahinya mengkerut ketika melihat ketiga keponakannya yang memakai piyama senada sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ya udah. Gak ngompol 'kan?"


"Enggak, Uncle," jawab mereka bertiga kompak.


Aksa tersenyum dan menggiring ketiga keponakannya untuk masuk ke dalam rumah.


"Kalau malam mereka nangis. Anterin ke rumah aja, ya." Aksa pun mengangguk dan mengunci pintu rumahnya kembali.


Si triplets sudah memposisikan tubuhnya mereka di atas tempat tidur Aksa. Tanpa banyak drama, mereka pun langsung tertidur pulas. Aksa mengusap lembut rambut ketiga keponakannya. Mencium hangat kening si triplets satu per satu.


Jam dua belas malam, pintu kamar Aksa terbuka. Sinar cahaya yang sangat minim, membuat orang itu melangkah pelan menuju tempat tidur. Dia menggelengkan kepala tidak percaya.


"Ngapain tiga tuyul tidur di sini?" tanyanya dalam hati. Orang itu kemudian menatap ke arah Aksa, seringai licik pun terukir di wajahnya.


Pagi menjelang, ketiga anak Echa merasa sesak ketika tubuh mereka tidak bisa digerakkan. Si triplets menatap ke arah kiri dan kanan mereka. Dua pria yang sama dengan piyama yang sama juga.


"Om ... Uncle," tunjuk Aleeya ke arah Aksa dan juga Aska.


Jarangnya mereka bertemu dengan Aska maupun Aksa, membuat mereka sedikit lupa akan ciri-ciri yang membedakan antara Aksa dan juga Aska.


"Ini, Uncle," kata Aleesa menunjuk ke arah kanan.


"Yang ini Kakak Sa," sanggah Aleena menunjuk ke arah kiri.


Keributan antar ketiga anak kembar ini membuat Aksa dan Aska terbangun. Mata Aksa melebar ketika melihat Aska sudah berada di depannya. Kode mata dari Aska membuat Aksa mengangguk. Aksa ingin bertanya kepada adiknya kapan pulang. Namun, sepertinya adiknya ini sedang ingin bermain-main dengan si triplets.


"Om," panggil Aleeya.


"Iya," sahut Aska dan Aksa berbarengan.


Mereka berdua sudah tahu kelicikan Aleeya. Sekarang giliran mereka berdua yang mengerjai ketiga keponakan mereka.


Si triplets adalah anak-anak yang memiliki jiwa penasaran cukup tinggi. Mereka tidak akan menyerah sebelum menemukan jawabannya.


Tatapan penuh selidik trio Al tunjukkan kepada Aska dan juga Aksa. Inchi demi inchi dari wajah kedua paman kembarnya mereka telusuri.


"Ih, pup lalatnya juga sama dk ujung hidung," celoteh Aleena, sambil menyentuh hidung Aksa dan juga Aska.


Kedua paman kembar mereka pun tertawa terbahak-bahak.


"Bental," kata Aleeya bagai detektif.


Aleeya pun berdiri. Dia berjalan pelan ke arah belakang Aksa dan Aksa. Dia berjinjit untuk melihat unyeng-unyeng di kepala kedua pamannya ini.


"Ini satu," ucapnya.

__ADS_1


"Ini juga satu," katanya lagi.


"Kok sama?" Wajah bingung Aleeya membuat Aksa dan Aska tertawa.


"Kenapa sama? Dedek dan Kakak Sa aja beda," ocehnya sendiri.


"Coba tebak, mana Om mana Uncle," ujar Aska.


"Om dan Uncle lebih baik mandi dulu kalena belum mandi makanya mukanya sama." Dua paman muda itu pun tertawa lagi dan lagi. Apalagi ucapan Aleena ini sangat lucu di telinga mereka.


Kedua paman si triplets mulai membersihkan tubuh mereka. Ide jahil mereka semakin menjadi. Kini, Aksa dan Aska memakai kaos yang sama, celana pendek yang sama dan juga sandal yang sama.


"Ih ... kenapa masih sama mukanya?" omel Aleeya yang sudah berkacak pinggang.


"Kan anak kembar," ucap Aska dan Aksa berbarengan.


"Bubu ... Baba ...." teriak Aleeya.


Radit dan Echa yang sedang menyantap sarapan mereka pun memilih menghampiri ketiga putrinya.


"Bubu, mana yang Om dan mana yang Uncle?" tanya Aleena.


Echa menatap ke arah kedua adik kembarnya yang berada di depannya. Senyuman penuh arti terukir di wajah mereka.


"Kok nanya sama Bubu. Kalian harusnya tahu dong, kalian 'kan keponakannya Om dan Uncle," terang Echa.


Berharap ibunya memberikan jawaban, malah hanya melempar jawaban.


"Dedek pusing Om, Uncle," keluh Aleeya.


"Kakak Sa nyelah."


"Kakak Na lapal."


Ucapan Aleena membuat tawa di rumah itu pecah. Pagi hari yang penuh dengan gelak tawa dan jarang sekali terjadi.


Meskipun ketiga keponakannya menyerah, Aska dan Aksa masih terus membuat si triplets penasaran. Setelah sarapan, otak cerdas si triplets bekerja.


Mereka menyuruh Aksa dan Aska berdiri. Kemudian tatapan tajam mereka berikan kepada Aksa dan juga Aska.


"Hape," pinta Aleena.


Otak cerdas Aleena tidak ada tandingnya. Aksa menyerahkan ponselnya kepada Aleesa dan Aska meyerahkan ponselnya kepada Aleeya.


Aleena menghampiri kedua adiknya. Dia mulai menekan tombol power ponsel yang Aleesa genggam. Senyum tipis terukir di wajahnya. Dia pun melakukan hal yang sama pada ponsel yang Aleeya pegang.


"Kakak Na tahu, mana Om dan mana Uncle. Tapi ... Kakak Na minta main di zona waktu sampai puas." Kedua pamannya pun mengangguk.


"Ini ... Uncle," tunjuknya pada Aksa.


"Dan ini ... Om," tunjuknya pada Aska.


Aksa dan Aska pun sedikit tak percaya dengan tebakan Aleena. Hanya karena ponsel dia bisa membedakan kedua pamannya.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Aska penaran.


"Hape Uncle ada foto Aunty di depannya. Sedangkan hape Om ... ada foto pelempuan pakai kacamata bulat," terangnya.


Ucapan Aleena membuat Echa, Radit dan Aksa menatap penuh tanya ke arah Aska, sedangkan Aska sudah membuang pandangannya ke mana saja.


"Dek ...." panggil Echa.


"Hanya sebuah masa lalu yang belum bisa dilupakan," lirih Aska.


"Mantan kamu, Dek?" tanya Aksa penasaran. Aska menggeleng.


"Lalu?" tanya Radit dan Echa.


"Bubu ... Baba .... udah jangan tanya-tanya Om telus. Nanti Om nangis 'kan kasihan. Di sini 'kan gak ada tukang balon hello kitty."


Omelan Aleesa membuat Radit dan Echa tertawa. Dia mengusap lembut kepala Aleesa.


"Om udah gede, Nak. Om gak suka balon," jelas Echa.


"Oh," jawab Aleesa.


"Kalau begitu kalau Om nangis, Om ingin apa?" tanya Aleena si kepo cilik.


"Om ingin uang yang banyak," jawab Aska.


Mendengar kata uang, Aleeya segera berlari menuju pintu halaman belakang rumah sang Mimo. Aleeya menarik karung kecil dengan susah payah.


"Kamu bawa apa, Dek?" tanya Radit.


"Uang buat Om," jawab Aleeya.


Wajah Aska sudah sumringah. Ketika karung itu dibuka, wajahnya malah berubah sendu, sedangkan yang lainnya sudah tertawa terbahak-bahak.


"Ini uangnya banyak loh, Om. Kata Mimo, setiap uang kembalian dali domalet atau aplamalet ditaluh di sini. Dedek aja bawanya belat."


"Itu uangnya gak laku, Aleeya!"


Ingin rasanya Aska berteriak seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2