
Semenjak Echa kembali menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, ketiga anaknya mulai disiplin. Echa menerapkan peraturan-peraturan kecil untuk ketiga anaknya.
"Mainannya beresin ya." Ketiga anak Echa mengangguk patuh.
Biasanya, setelah si triplets bemaian boneka atau apapun mainan akan berserakan di mana-mana. Hingga Echa lelah sendiri. Apalagi jika kenakalan ketiga anaknya kumat. Kepala Echa berdenyut hebat.
Aleena yang memainkan boneka memasukkan bonekanya ke dalam lemari kaca. Aleesa yang bermain masak-masakan meletakkan mainannya ke dalam boks yang berisi alat masak bohongan. Sedangkan Aleeya yang senang mematahkan kaki, tangan dan kepala Barbie, memisahkan anggota tubuh Barbie itu ke dalam empat kotak yang berbeda. Kotak khusus badan, kaki, tangan serta kepala.
"Bubu ... dah," teriak mereka bersaman.
"Cuci tangan dulu, Nak."
Mereka berlari menuju kamar mereka untuk mencuci tangan. Setelah itu mengeringkan tangan mereka dan kembali menghampiri sang ibu di dapur.
"Oyeh mam uah?" Pertanyaan pertama terlontar dari mulut Aleena.
(Boleh makan buah)
"Boleh, tunggu sebentar." Aleena mengangguk dan tersenyum. Echa membawa buah anggur hijau dan ungu di mangkuk kecil dan Aleena nampak bahagia.
"Matatih, Bu." Sebuah kecupan Aleena berikan kepada Echa. Dia pun kembali ke ruang bermain untuk menikmati buah kesukaannya.
Kali ini bagian Aleesa. Echa tersenyum dan mengusap lembut rambut putri keduanya.
"Oyeh pipik pitang?"
(Boleh keripik pisang)
Echa tertawa dan mengangguk. Aleesa sedang senang makan keripik pisang. Sudah seminggu ini Echa selalu menyetok keripik pisang khusus untuk Aleesa.
"Maacih, Bubu," ucap Aleesa setelah menerima satu toples imut keripik pisang.
Sekarang giliran Aleeya yang sudah tersenyum sumringah menunjukkan gigi susunya.
"Au totis batal."
(Mau sosis bakar)
"Oke, tunggu ya." Aleeya mengangguk. Dia tetap berdiri sambil memandangi tubuh ibunya yang tengah sibuk membakarkan sosis untuknya.
"Ini untuk Dedek Ya." Wajah bahagia terlihat jelas. Senyumnya mengembang.
"Maacih, Bubu."
Aleeya melesat menuju ke temoat kakaknya yang sudah duduk manis di atas karpet. Echa tersenyum bahagia melihat ketiga anaknya ini. Selera makannya berbeda-beda dan kadang membuat Echa kewalahan. Itulah risiko memiliki anak kembar tiga.
Echa membiarkan ketiga anaknya di ruang bermain, sedangkan dia tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk suami, ayah serta kedua adiknya.
"Neng, biar Mbak aja," tawar Mbak Ina. Echa tersenyum dan tidak membiarkan Mbak Ina meneruskan pekerjaannya.
"Tinggal sedikit lagi kok, Mbak."
Sebenarnya Radit sudah melarang Echa untuk memasak. Namun, Echa tetap keras kepala karena dia tahu suaminya akan lahap jika makan masakannya.
"Bubu, au pup," ucap Aleena.
Echa yang sedang menumis sayuran, segera mematikan kompor dan melepaskan celemek. Membawa Aleena ke kamar mandi, membuka popok Aleena dan mendudukkannya di kloset.
"Tutup setengah ya, Kakak Na." Aleena mengangguk sambil mengedan.
"Bubu," panggil Aleeya sedikit berlari.
"Kenapa Dek?"
"Tata Sa."
Jantung Echa sudah berdegup sangat cepat. Dia takut terjadi apa-apa dengan Aleesa. Echa berlari meninggalkan Aleena di kamar mandi hingga dia menangis.
Mata Echa melebar ketika Aleesa sudah memegang dadanya.
"Ya Allah, Kakak Sa." Echa segera menggendong Aleesa dan membawanya ke kamar. Mengusap lembut dada Aleesa.
"Bubu ...."
Aleena masih menangis membuat Echa harus menurunkan tubuh Aleesa. "Bubu ke Kakak Na dulu, ya. Biar Dedek Ya yang usapin dada Kakak Sa." Aleesa mengangguk dan tangan Aleeya pun sudah mengusap lembut dada Aleesa.
Echa membuka pintu kamar mandi dan mendapati Aleena masih duduk di atas kloset dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Maafkan Bubu, Sayang." Echa mengecup kening Aleena dan kemudian membersihkannya dari kotoran. Setelah keluar dari kamar mandi, Aleena segera berlari ke arah Aleesa dan juga Aleeya. Kini, Aleena membantu adiknya mengusap dada Aleesa.
Sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun.
Echa tidak bisa melanjutkan pekerjaannya di dapur karena dia khawatir kepada Aleesa. Dia menyerahkan pekerjaan masak memasak kepada Mbak Ina.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ketiga cucu Rion sudah menunggu sang kakek di teras rumah dengan duduk manis sambil menikmati puding cokelat bersama Echa. Mobil hitam mengkilap masuk ke halaman rumah membuat mereka bertepuk tangan bahagia.
"Ton, uang," ucap mereka sambil bertepuk tangan.
__ADS_1
Ketiga tuyul itu mencoba menuruni tiga buah anak tangga agar bisa menuju sang kakek tercinta. Rion sudah berjongkok dan merentangkan tangannya lebar-lebar. Ketiga tuyul itu masuk ke dalam dekapan sang kakek.
"Nakal gak?" Tiga tuyul menggeleng dengan kompak.
"Pintar," puji sang engkong sambil menciumi pipi gembil ketiga cucunya.
Echa tersenyum dan membawakan tas sang ayah. "Anak-anak Bubu, biarkan engkong mandi dulu. Setelah itu baru main bersama kalian."
Mereka bertiga turun dari pelukan Rion dan duduk manis kembali. Kini, mereka menunggu sang ayah.
"Ayah mau kopi atau teh?" tanya Echa yang mengikuti Rion dari belakang.
"Ayah ingin teh panas." Echa mengangguk.
Echa menyuruh Mbak Ina untuk menjaga ketiga anaknya di luar. Sedangkan Echa membuatkan teh manis panas untuk sang ayah. Beginilah kehidupan sehari-hari istri dari pengusaha kaya yang melakukan apa-apa sendiri.
"Ayah, Echa taruh teh manisnya di meja samping tempat tidur, ya."
"Iya," jawab Rion dari dalam kamar mandi.
Mengurus ayahnya adalah salah satu mimpinya. Meskipun masa kecilnya kurang mendapat kasih sayang darinya, dia tidak ingin menyimpan dendam. Malah dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang ayah dan juga mamahnya.
Echa kembali ke teras, ketiga anaknya sudah menggerak-gerakkan kaki di kursi. Menandakan mereka sudah lelah menunggu.
"Baba mungkin pulang malam. Kita masuk, yuk." Echa mulai mengajak ketiga anaknya untuk masuk ke rumah. Namun, deru mesin mobil yang baru saja berhenti di halaman rumahnya membuat si triplets kegirangan.
"Baba!" teriak mereka.
Radit tersenyum bahagia ketika disambut oleh ketiga anak-anaknya yang lucu serta istrinya yang selalu terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up. Radit mengecup kening istrinya dan membawa tubuh ketiga putrinya masuk ke dalam.
"Nakal gak?" Mereka bertiga menggeleng.
"Main dulu di sini, ya. Baba mau mandi." Mereka mengangguk setuju.
"Aku mandi dulu, ya." Radit mengecup kening Echa lagi.
Echa mengambilkan air minum untuk Radit dan membiarkan ketiga anaknya menonton film kartun kesukaan mereka.
"Ay, minum dulu." Radit yang baru mengendurkan dasinya tersenyum ke arah sang istri yang sudah menyodorkan air putih.
"Makasih, Sayang."
Echa membantu suami melepas satu per satu kancing kemeja Radit. Sedangkan Radit sudah merengkuh pinggang Echa dan mencuri ciuman di bibir merah Cherry miliknya.
"Capek gak?" Selalu pertanyaan itu yang Radit lontarkan.
"Maaf ya, tadi yang masak Mbak Ina. Aleesa sesak lagi." Radit tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri.
"Gak apa-apa, Sayang. Anak-anak adalah yang utama." Ucapan yang selalu Radit berikan kepada Echa.
"Aku mandi, ya. Tolong siapkan baju aku." Echa tersenyum dan menuju lemari. Sedangkan Radit sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Ketika Echa keluar kamar, ketiga putrinya sudah bercengkrama dengan sang engkong dan juga Iyan. Sedangkan Riana masih di kamar. Dia menjadi anak yang pendiam sekarang semenjak kepergian sang bunda.
Echa tersenyum bahagia, dia benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan dikaruniai tiga orang anak sekaligus. Sekarang, ketiga anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang sangat lucu. Tanpa Echa sadari, tangannya mengusap lembut perut ratanya.
"Mau hamil lagi?" bisik Radit.
Echa tersentak dan tersenyum ke arah sang suami. "Masih kecil-kecil." Radit pun tergelak dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aku tidak akan mengijinkan kamu hamil lagi. Cukup mereka bertiga," tukasnya.
Echa tak menghiraukan ucapan Radit. Dia memilih menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Menurutnya, anak adalah rezeki dari Tuhan. Sekeras apapun manusia menjaga, jika Tuhan mengatakan ada, manusia bisa apa?
Ketika semua orang duduk di meja makan, hanya Echa yang harus berdiam di ruang bermain bersama ketiga anaknya sambil menyuapi mereka. Meskipun lelah, Echa tidak pernah mengeluh. Akan dia simpan sendiri peluhnya dan dia hanya akan tersenyum kepada semua orang.
Jadwal makan Echa semakin kacau karena ketiga anaknya semakin aktif dan tidak bisa ditinggalkan bertigaan. Pasti akan ada saja drama yang mereka ciptakan. Terutama Aleeya si drama queen.
Suara tangis menggema ketik Echa baru saja meletakkan piring bekas ketiga anaknya di dapur. Semua orang berlarian dan menghampiri mereka bertiga.
Aleeya sudah menangis keras karena dia mengadu dipukul tongkat plastik oleh Aleena.
"Kakak Na kenapa pukul Dedek Ya?" Begitulah pertanyaan semua orang.
Aleena yang merasa ditekan, memilih untuk pergi tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Echa sudah menggeleng dan menghela napas kasar.
"Bubu," rengek Aleeya.
"Bubu tidak akan menggendong Dedek Ya." Ucapan Echa terdengar sangat keras.
Semua orang menatap bingung ke arah Echa. Dia bergeming, tidak mau meraih Aleeya dari gendongan Rion.
"Bubu tahu Kakak Na. Bubu tahu Kakak Sa dan Bubu tahu Dedek Ya."
Aleesa hanya memandangi ibunya yang tengah marah. Sedangkan Aleeya sudah menunduk dan tidak berani merengek lagi.
"Bubu tidak suka anak yang manja dan suka berbohong," pungkasnya.
__ADS_1
"Kakak Sa, ikut Bubu ke kamar." Aleesa mengangguk pelan dan meraih tangan ibunya. Sedangkan Aleeya sudah menangis lagi karena merasa diabaikan.
"Dit?" Radit mengangkat bahunya.
"Mungkin lagi ada drama. Lebih baik kita ke kamar mereka."
Di kamar ...
Aleena tengah bermain dengan boneka kecil kesayangannya seorang diri dengan wajah datar. Jika, sedang marah anak pertama dari Radit dan Echa akan berwajah datar sama seperti sang baba.
"Kakak Na," panggil Echa dan duduk di sampingnya bersama Aleesa.
"Tata Na yan atal."
(Kakak Na yang nakal.)
"Tata Na yan talah."
(Kakak Na yang Salah)
Mulut Aleena memang berucap, tetapi tak sedikit pun dia menoleh ke arah Echa ataupun Aleesa.
"Kakak Na," ucap lembut Echa dengan tangan yang mengusap lembut rambut Aleena.
"Bubu tahu Kakak Na tidak akan memukul, jika Dedek Ya tidak mengganggu Kakak Na. Bukan begitu?" Aleena yang masih berwajah datar mulai menatap ke arah sang ibu.
"Kakak Na tidak akan marah kalau Dedek Ya diam. Benar?" Aleena mengangguk pelan. Senyum pun tersungging di bibir Echa
"Kakak Na sudah menjadi Kakak yang baik untuk Kakak Sa dan Dedek Ya. Kakak Na bukanlah orang yang pemarah kalau tidak diganggu. Bubu tahu Kakak Na, Bubu tahu Kakak Sa dan Bubu tahu Dedek Ya." Echa memeluk tubuh kedua putrinya.
"Jika, Kakak Na tidak melakukannya katakan tidak. Jangan hanya diam saja. Kakak Na boleh mengalah jika sedang bermain dengan adik-adik kakak Na, tetapi jangan pernah mengalah untuk kebenaran. Mengerti?" Aleena mengangguk.
Echa memeluk tubuh Aleena. Bukannya Echa membela Aleena, tetapi Aleeya memang salah. Dia tidak mau anak sulungnya menjadi anak yang terus mengalah dalam segala hal. Lelah dan sakit jika punya sifat seperti itu karena Echa sudah merasakannya. Dia ingin menjadi ibu yang dapat membangun karakter kuat dan mandiri untuk ketiga anaknya. Meskipun perempuan, harus tetap menegakkan kebenaran dan keadilan.
Dari pintu luar Radit mengangguk mengerti dengan permasalahan yang terjadi. Kini Radit mengusap rambut Aleeya.
"Kakak Na yang duluan atau Dedek Ya yang ganggu Kakak?" Meskipun Radit berkata lembut, di telinga Aleeya itu seperti kalimat yang penuh dengan kemarahan.
"Baba gak pernah ngajarin Dedek Ya nakal 'kan. Semua keinginan Dedek Ya selalu Baba turuti. Apa mau--"
"Dedek duyuan," potong Aleeya karena ketakutan.
Radit tersenyum dan mengambil tubuh Aleeya dari gendongan ayah mertuanya.
"Dedek Ya tahu 'kan Bubu sangat tidak suka jika anak-anaknya berbohong." Aleeya mengangguk.
"Terus, Bubu juga gak suka kalau anak-anaknya cengeng," tukas Radit.
Aleeya merangkul leher Radit dengan sangat erat. Membenamkan wajahnya di leher sang ayah.
"Minta maaf, ya. Gak boleh diulangi lagi," ujar Radit. Aleeya mengangguk.
Radit menurunkan tubuh Aleeya agar meminta maaf kepada ibu dan juga kakaknya. Aleeya masih mematung, terlihat wajah ketakutannya.
"Bubu tidak akan marah. Malah akan senang kalau Dedek Ya minta maaf kepada Bubu," imbuh Radit.
Mata Aleeya sudah menahan tangisnya, hidungnya sudah memerah dan langkahnya pendek menuju sang ibu dan juga kedua kakaknya. Sesekali dia menengok ke arah Radit dan Rion. Mereka berdua hanya menganggukkan kepala.
Satu meter lagi Aleeya sampai ke tempat Echa beserta Aleena dan Aleesa.
"Bu-bu." Suara Aleeya terdengar sangat bergetar. Isakan sudah terdengar, dadanya sudah turun naik.
Echa segera menoleh dan melihat putri bungsunya sudah meneteskan air mata.
"Map." Hanya kata itu yang mampu Aleeya katakan.
"De-dek--"
Echa segera memeluk tubuh Aleeya dan tangis Aleeya pun pecah.
"Map Bu. Dek talah. Map."
(Maaf Bu. Dedek salah. Maaf)
"Iya Nak, Bubu maafkan. Jangan diulangi lagi, ya. Kakak Na, Kakak Sa sayang kepada Dedek dan selalu mengalah kepada Dedek. Jadi, Dedek harus baik sama kakak-kakak."
Tak tega melihat adik bungsunya menangis, Aleena dan Aleesa memeluk tubuh Aleeya dengan sangat erat.
"Anan anis, Dek."
(Jangan nangis, Dek)
Usapan lembut pun Aleena dan Aleesa berikan di rambut dan punggung Aleeya.
Rion menatap ke arah Radit dan dibalas dengan seulas senyum.
"Ketiga anakmu memiliki daya tangkap yang hebat. Mampu mengerti apa yang kamu dan Echa katakan. Mereka juga sangat saling menyayangi satu sama lain. Ayah bangga pada mereka."
__ADS_1
Hati Radit benar-benar lega mendengar ucapan dari sang ayah mertua. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan hal yang aneh sama seperti Rion katakan.