Yang Terluka

Yang Terluka
Kolam Ikan


__ADS_3

Echa berkacak pinggang ketika sang ayah baru tiba di rumah. Rion mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Kenapa Ayah ngasih makan si triplets cuma pakai telur, kecap dan kerupuk?" sergahnya.


"Oh itu," jawab santai. Rion melenggangkan kakinya menuju ke arah ketiga cucunya yang sangat lahap makan hanya dengan menu seperti Rion buatkan tadi siang.


"Lihat, anak-anak kalian aja malah menikmati," ujarnya santai.


"Tapi, itu gak ada vitaminnya, Ayah," balas Echa tak mau kalah.


"Kata siapa, telur mengandung protein. Belajar lagi gih biar pinter," sungut Rion.


Berniat untuk mendinginkan otak malah disambut oleh kuliah tujuh menit dari sang putri.


"Kamu aja yang makan cuma pake kecap doang masih sehat sampai sekarang," celetuk Rion.


Mimik wajah Echa terlihat sendu mendengar ucapan sang ayah. Rion tidam berniat untuk mengungkit masa lalu anaknya yang menyedihkan. Dia hanya ingin memberikan pengertian kepada Echa agar tidak terlalu melarang anaknya memakan ini dan itu.


"Maaf, Ayah tidak bermaksud ..."


"Justru Echa tidak mau hal yang pernah Echa alami terulang kepada anak-anak Echa," sambung Echa.


Rion memeluk tubuh putrinya dengan terus mengucapkan kata maaf. Melihat ketiga putrinya makan dengan nasi dan kecap teringat akan dirinya ketika kecil. Hanya ada rasa manis dan asin dari kecap tanpa ada lauk pelengkapnya.


"Bubu, au agi," pinta Aleeya.


Piring kecil sudah Aleeya sodorkan kepada Echa.


"Au agi, Bu," pinta Aleesa.


"Tata Na uda," ujar Aleena.


Hati Echa teriris mendengar permintaan ketiga anaknya. Sama persis seperti dirinya yang ketika sangat lapar pada waktu itu.


"Bubu," panggil ketiga anaknya.


Echa mengatur napasnya terlebih dahulu, Dia tidak ingin terlihat cengeng di depan ketiga anaknya.


"Pakai sayur dan ikan salmon, ya."


"Nyonyonyo."


"Telul," kata Aleeya.


"Tetap," ucap Aleesa.


"Pupuk," tambah Aleena.


Radit menghampiri sang istri dan mengusap lembut pundak Echa.


"Biarkan saja, mumpung anak-anak mau makan. Tambahi parutan wortel biar ada sayurnya meskipun hanya sedikit," tutur Radit.


"Biar aku bantu." Echa mengangguk setuju. Dia meninggalkan anak-anaknya yang sedang asyik menonton acara televisi kesukaan mereka di meja khusus mereka makan.


"Yang Ayah katakan itu benar. Mungkin mereka bosan dengan makanan enak. Gak ada salahnya kita mengajarkan kepada mereka bagaimana makan makanan yang biasa. Supaya mereka juga bisa merasakan makanan yang biasa orang-orang pada umumnya makan," terang Radit.


"Tidak selamanya mereka berteman dengan anak-anak yang bergelimang harta. Pasti mereka juga akan bertemu dengan anak-anak yang kurang beruntung. Di sini juga kita bisa mengajarkan kepada mereka bahwa kita harus selalu mensyukuri apa yang bisa kita makan hari ini." Echa tersenyum ke arah sang suami. Apa yang dikatakan oleh Radit ada benarnya juga.


"Nanti juga mereka bosan sendiri. Minta ganti menu lagi," seloroh Radit.


Setelah selesai menyiapkan makanan yang diminta oleh ketiga anaknya, Echa memberikan piring berisi telur, kecap dan kerupuk kepada anak-anaknya. Baru kali ini dia melihat ketiga anaknya makan dengan sangat lahap. Meskipun, matanya tertuju pada televisi besar di depan mereka.


"Enak?" tanya Echa. Mereka bertiga kompak mengangguk. Tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi.


"Baba boleh minta?" Dengan cepat mereka bertiga menggeleng.


Radit dan Echa tertawa melihat kelakuan ketiga buah hatinya. Sehari tidak bertemu dengan mereka rasanya rindu sekali.


"Kakak!" teriak Iyan.


Teriakan Iyan membuat Echa dan Radit berlari. Iyan sedang mematung di samping kolam yang sudah tidak airnya,


"Ada apa?" tanya Echa sedikit khawatir,


"Ini kenapa kolam kering begini?" tanya Iyan.


Echa dan Radit menggeleng, Mereka benar-benar tidak tahu. Iyan merasakan ada yang berbisik di telinganya. Dia pun menghembuskan nafasnya.


"Kamu mau pelihara ikan lagi?" tanya Radit, "Biar Abang yang beliin ikannya," tambahnya lagi. Dengan cepat Iyan menggeleng.


"Lebih baik ditutup aja, Kak. Membawa aura tidak baik," ucapnya ala Roy Kiyoshi.


Echa tertawa dan mengacak-acak rambut Iyan dengan gemasnya. Kemudian, meninggalkan Iyan yang masih berdiri di pinggir kolam.


"Apa maksud kamu?" Radit penasran dengan apa yang Iyan katakan.

__ADS_1


"Salah satu ikan koi itu diisi sama makhluk tak kasat mata. Dia menginginkan Aleesa," jelas Iyan.


"Aleesa?" Iyan mengangguk.


"Semenjak Aleesa berusia tiga bulan, dia sudah mengincar Aleesa. Namun, dia tidak menembus benteng yang teman-teman Iyan buat. Serta Ibu yang selalu menjaga Aleesa."


"Aleesa adalah anak yang kan membawa keberuntungan juga kebahagiaan untuk keluarga Abang. Tanpa adanya Aleesa, pertahanan rumah tangga Abang dan Kakak akan runtuh. Dia sengaja mengincar Aleesa agar rumah tangga Abang hancur," terang Iyan.


"Apa ada orang yang berniat jahat?" Iyan mengangguk.


"Orang di masa lalu Abang. Perempuan dan Kakak juga kenal orangnya," tukasnya.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Radit. Dia menatap bke arah Iyan.


"Apa yang harus Abang lakukan?" tanya Radit, Penjelasan Iyan membuatnya sedikit khawatir.


"Cukup tutup kolam ini. Jangan khawatir terhadap Aleesa. Dia memiliki benteng pertahanan yang kuat yang tidak akan mampu dimasuki oleh hal jahat. Aleesa lebih istimewa dari pada Iyan."


Setelah penjelasan dari Iyan, tanpa menunggu lama Radit menyuruh tukang untuk menutup kolam. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan keluarganya. Bukan dia mempercayai ucapan Iyan. Akan tetapi, dia harus waspada. Tidak ada salahnya jika berjaga-jaga.


"Gimana keputusannya?" tanya Rion ketika mereka berkumpul di meja makan.


"Echa akan nyoba satu hari dulu. Kalau anak-anak terurus dengan benar, Echa mau lanjut ke kantor. Dengan syarat, jam kerja Echa hanya sampai jam empat sore," tuturnya.


"Oke, gak masalah," jawab Rion.


"Tapi, kalo anak Echa gak terawat, jangan salahkan Echa jika Echa gak mau ke kantor lagi." Rion menghela napas kasar.


"Anak-anak kalian Ayah rawat dengan baik 'kan. Kalau masalah makanan, yang penting makanan itu hasil olahan sendiri. Bukan beli di luar yang tidak terjamin kebersihannya," ungkap Rion.


"Harus ada sayur dalam makanan si triplets. Gimana caranya Ayah harus bisa berkreasi untuk membuat makanan khusus si triplets," tantang Echa.


"Kamu emaknya kenapa urusan makan anak-anak kamu diserahin ke Ayah." Rion benar-benar bingung dengan pemikiran anaknya ini.


"Ayah Echa tersayang, anak-anak Echa itu biasa makan makanan dadakan. Ketika waktunya mereka makan jadi masih anget," jelas Echa.


"Dih, ribet banget," gerutu Rion.


"Oke, Echa gak mau berangkat kalau begitu."


Radit hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan yang terjadi antara istri dan ayah mertuanya. Ini hanyalah akal-akalan Echa saja agar Rion tidak mau mengurus ketiga anaknya. Namun, jawaban Rion membuat Echa kecewa.


Ketiga anak Echa sedang asyik berjemur bersama Pak Mat sambil memetik bunga. Bukannya memetik, tetapi merusak. Namun, Radit dan Echa tidak mempermasalahkannya. Tanaman yang rusak tinggal ganti lagi yang baru.


Echa kembali ke kamarnya dan berganti pakaian. Terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulutnya.


"Gak ada salahnya kita memberikan kesempatan kepada Ayah. Sudah waktunya Ayah istirahat," ujar Radit.


"Aku tahu, tapi anak-anak gimana?" Kekhawatiran seorang ibu terlihat jelas di wajah Echa.


"Aku yakin, anak-anak akan dijaga dan dirawat dengan baik oleh Ayah. Buktinya, kemarin mereka makannya lahap walau hanya dengan telur. Setidaknya, Ayah mengajarkan hal yang tidak kita ajarkan kepada anak-anak. Akan tetapi. harus digaris bawahi ajaran yang baik bukan ajaran yang buruk." Echa mengangguk mengerti.


"Sehari sampai seminggu ke depan pasti terasa berat karena belum terbiasa. Nanti juga kamu akan terbiasa. Anak-anak juga pasti akan terbiasa. Lagi pula, jika anak-anak kangen sama bubunya pasti akan dibawa oleh Ayah ke kantor." Echa masih mendengarkan ucapan dari Radit.


"Kalau seminggu anak-anak merasa nyaman dengan Ayah. Aku akan mencarikan satu baby sitter tambahan untuk bantuin Ayah jagain si triplets. Menjaga satu balita aja sulit, apalagi tiga." Kali ini Echa setuju dengan ucapan sang suami. Dia juga tidak boleh egois. Lambat laun kantor akan dipegang olehnya karena semakin hari usia ayahnya semakin menua.


Echa sudah rapih dengan pakaian kerja. Radit sangat kagum terhadap istrinya ini. Meskipun sudah memiliki buntut, tetapi aura kegadisannya masih terlihat.


Radit memeluk istrinya dari belakang. Membuat rangsangan kecil hingga alunan nada yang terdengar sangat menggoda di telinga Radit terdengar. Menyusuri leher jenjang nan putih milik Echa dan meninggalkan tanda cinta di sana. Sehingga membuat Echa melebarkan matanya.


"Ay," rengeknya.


Radit membalikkan tubuhnya. Tersenyum ke arah leher sang istri yang terdapat bercak merah.


"Sebagai tanda bahwa kamu itu sudah ada yang punya," ucapnya.


Echa menggeleng tak percaya dengan kelakuan sang suami. Namun, dia tidak mempermasalahkannya juga. Tanda ini pun tak terlalu terlihat.


"Kamu juga harus aku kasih tanda juga dong." Bukannya menolak, Radit malah menyodorkan lehernya ke arah sang istri.


"Buatlah tanda sesuka hatimu," balas Radit.


Echa hanya terdiam mendengar ucapan sang suami. Melihat leher suaminya yang sangat mulus membuat Echa enggan merusaknya.


Eh, tapi ....


Akhirnya Echa memutusakan untuk membuat tanda cinta di leher bagian atas sang suami. Dia sangat yakin, masih banyak wanita di luaran sana yang mengincar suaminya.


"Biar pada melotot mata para cewek yang memandang kagum kamu," sungut Echa. Radit tertawa dan mencium kening sang istri sangat dalam.


"Gak boleh bawa mobil sendiri. Biar aku yang antar-jemput kamu." Echa mengangguk patuh.


Keluar dari kamar tatapan tajam dari sang ayah terlihat. Apalagi kedua sejoli ini seolah sedang pamer maha karya mereka masing-masing.


"Masih sempet aja," geram sang ayah.

__ADS_1


"Gelora anaj muda, Yah," kekeh Radit.


Echa tidak menghiraukan perdebatan antara dua pria itu. Dia menghampiri ketiga anaknya yang tengah asyik berdendang mengikuti lagu anak-anak.


"Anak-anak Bubu," panggil Echa.


Ketiga anaknya menatap Echa dari bawah hingga atas. Tidak biasanya sang ibu berpakaian rapih. Sedangkan pagi ini, ibunya sangat rapih, cantik dan harum.


"Au nana? Itut," oceh Aleeya.


"Bubu mau kerja. Hari ini dan seterusnya kalian bersama Engkong, ya. Bubu kerja dari pagi sampai sore. Setelah pulang kerja, Bubu baru bisa main sama kalian," terangnya.


"Enja taya Baba," tanya Aleena.


"Iya, biar kita bisa liburan naik pesawat terbang. Bermain air di pantai. Kalian mau?"


"Yeay! Au Bu, au," teriak ketiga balita tersebut.


Echa berharapnya ketiga anaknya ini sulit untuk ditinggalkan. Ternyata dugaannya salah. Hanya diiming-imingi pesawat terbang dan juga pantai dengan cepatnya mereka gembira.


"Minta uang jajan," ucap Rion sambil menengadahkan tangannya.


"Apaan? Anak-anak Echa belum bisa jajan," tolaknya.


"Kata siapa? Buktinya kemarin, Ayah kudu transfer satu juta ke si Bhaskara. Anak-anak kalian doyan belanja dan ngemil," jelas Rion.


"Suruh siapa dibawa ke minimarket. Salah Om Arya lah." Lagi-lagi Echa tak mau kalah. Ini harapannya terakhir, semoga ayahnya berubah pikiran. Dari pada memberi jajan si triplets satu juta, mending kerja. Iya 'kan.


"Ya udah. Gak apa-apa, anak kalian akan Ayah kurung aja di rumah. Akan Ayah buatin cemilan yang sehat dan bergizi." Lagi-lagi Echa harus kecewa. Ayahnya tetap pada pendiriannya.


Echa dan Radit pun pamit pergi ke kantor. Sedangkan ketiga anak Echa masih asyik duduk manis dengan buah anggur di tangan mereka. Rion tersenyum bahagia melihat ketiganya.


Mumpung ketiga cucunya sedang anteng, Rion melihat lemari pendingin. Tidak ada apa-apa di sana. Rion berniat membuat puding cokelat untuk mereka. Pasti ketiga cucunya suka. Setengah jam fokus dengan kegiatannya di dapur. Ketika dia kembali ke ruang main, si triplets sudah tidak ada. Panik sudah pasti, Rion mencari ke sana ke mari. Namun, mereka tidak ada. Mencari ke depan di tempat mereka bermain pun nihil. Ke kamar mereka juga tidak ada. Rion mengerang frustasi.


"Ke mana kalian?" erangnya.


"Engkong bisa dibunuh sama Bubu kalian kalau kalian sampai hilang."


Ponsel Rion bergetar menandakan Echa menghubunginya. "Tuh 'kan titisan mak lampir nelpon," gumamnya.


"Bukan telepon tapi video call. Harus gimana ini?" Rion terus mondar-mandir tak menghiraukan panggilan dari putrinya. Kepanikan tengah melanda hatinya.


Sedangkan ketiga cucunya sedang asyik bermain di balik pohon besar di halaman samping. Mereka sedang bermain ranting dan cacing di sana.


"Hihihi." Penunggu pohon itu tertawa. Dia adalah salah satu teman Iyan, yang biasa Iyan sebut Om Uwo. Tubuhnya berbulu hitam dan badannya tinggi besar.


"Kenapa Om jahil?" Pertanyaan itu datang dari Devandra. Anak dari Satria dan Amanda yang selalu mengikuti ketiga anak Echa.


"Kemarin pas dia bersihin kolam ikan jahat itu, Om yang lagi tidur malah disiram pakai air kolam. Mana bau amis." Devandra pun tertawa mendengar ucapan Om Uwo.


"Mungkin kakeknya trio Al gak sengaja Om," tutur Devandra.


"Kasihan tahu, wajahnya sangat panik begitu," tambah Devandra lagi menunjuk ke arah Rion yang tengah mondar-mandir.


"Biarkan saja, Om hanya bermain-main sebentar. Lagi pula Om tidak jahat kepada ketiga anak ini 'kan," ucapnya.


"Kalau Om jahat, siap-siap Om diusir sama Kak Iyan. Diomelin Ibu selama empat puluh hari empat puluh malam," kelakar Devandra.


"Sstt! Cicik," ucap Aleesa kepada Devandra dan Om Uwo.


Aleena dan Aleeya saling bertatapan. Kemudian, mereka mengangkat bahu mereka masing-masing.


Wajah Rion sudah pucat pasi. Dia meminta Pak Mat untuk mencari si triplets. Sedangkan Mbak Ina sedang berbelanja ke pasar.


"Cari sekeliling halaman rumah, saya cari di dalam." Pak Mat mengangguk.


Baru saja dia masuk ke halaman samping, Pak Mat sudah melihat keberadaan anak-anak kesayangan semua orang.


"Itu si triplets lagi anteng main. Kenapa Pak Rion nyariin sampai ke depan?" Pak Mat menggaruk kepalanya karena kebingungan.


Pak Mat menghampiri si triplets dan membawa mereka ke dalam rumah. "Pak Rion, si triplets ketemu," teriak Pak Mat.


Rion yang mendengar suara Pak Mat segera berlari. Dia berhambur memeluk tubuh ketiga cucunya.


"Kalian dari mana saja?" Wajah penuh kekhawatiran nampak sekali.


"Mereka ada di bawah pohon itu," tunjuknya pada pohon mangga yang cukup tinggi.


"Saya udah cari mereka ke sana, tetapi tidak ada," balas Rion.


"Tapi, saya nemuin mereka di sana," timpal Pak Mat.


"Kalian main di sana?" tunjuknya pada pohon mangga. Ketiga cucunya mengangguk.


Rion hanya terdiam, berkali-kali dia mencari ketiga cucunya ke sana tetap tidak ada. Akan tetapi, Pak Mat dan ketiga cucunya mengatakan bahwa mereka memang ada di sana.

__ADS_1


Gak logis.


Om Uwo dan Devandra tertawa dari arah pohon mangga. Begitulah cara Om Uwo menutup mata Rion. Padahal sedari tadi Rion mengelilingi ketiga cucunya. Dalam penglihatannya tidak ada siapa-siapa di sana. Sapaan Aleeya pun tak dia balas.


__ADS_2