
Kepekaan Echa membuat mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini dia tutup rapat-rapat. Keluh kesah, rasa sedihnya, pedihnya serta rasa sakit yang teramat dalam. Bukan hanya Rion yang menangis, Echa pun ikut menangis.
"Bagaimana perasaan seorang suami yang menyaksikan secara langsung istrinya tengah memanjakan pria lain? Bohong ... jika dia tidak terluka. Bohong ... jika dia tidak menangis. Itulah yang Ayah rasakan."
Kesakitan yang menjalar ke seluruh tubuh Rion. Kesakitan yang membawanya masuk ke dalam kehancuran untuk kesekian kalinya.
"Berpura-pura itu melelahkan dan sangat menyakitkan. Menyesakkan dada dan membuat Ayah nyaris seperti orang gila."
Echa memeluk erat tubuh ayahnya. Membiarkan ayahnya menangis di dalam pelukannya. Isak tangis terdengar seperti tusukan demi tusukan pisau tajam yang menikam hati Echa.
Lelah menangis, ayahnya pun terlelap. Echa membaringkan tubuh ayahnya di atas tempat tidur, sedangkan Arya memilih untuk pergi. Dia tidak sanggup mendengar lirihan tangis yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Echa sayang Ayah." Kecupan hangat mendarat di kening Rion sangat dalam.
Echa membersihkan wajahnya di wastafel kamar mandi sang ayah. Matanya sangat bengkak dan merah. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
Dia segera menghubungi suaminya di luar kamar sang ayah. Dia tidak mau mengganggu ayahnya yang sedang beristirahat.
"Kenapa Sayang."
"Sibuk, gak?" tanya Echa.
"Enggak. Emang kenapa?"
"Jemput anak-anak, ya. Terus bawa ke rumah Papih dulu."
Radit mendengar suara istrinya serak, seperti orang yang habis menangis.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Aku mau ke coffee shop."
Mendengar jawaban seperti itu sudah pasti Echa sedang tidak baik-baik saja.
"Ya udah, aku jemput anak-anak dan setelah itu aku temani kamu di coffee shop."
Ketika dirinya sedang tidak baik-baik saja, Echa akan pergi ke sebuah kedai kopi langganannya semenjak di bangku sekolah. Hanya sekedar menikmati secangkir es kopi yang akan membuat mood-nya kembali seperti semula.
"Mbak, Echa titip Ayah, ya. Jika, Ayah bertanya bilang Echa keluar sebentar." Mbak Ina mengangguk.
Mobil pun Echa kendarai menuju sebuah kedai kopi. Mochacinno ice menjadi minuman favoritnya. Dia lebih senang duduk di pojokan sambil menatap ke luar jendela.
Keadaan psikis ayahnya yang terguncang membuat hati Echa menangis kesakitan. Echa tak habis pikir, seorang pria seperti ayahnya bisa menyimpan aib ibu sambungnya bertahun-tahun lamanya. Hidup dengan duri dalam daging, dan yang membuat Echa sedih itu ketika ayahnya bilang, "Ayah tidak mau dua anak Ayah mengalami hal yang sama seperti kamu dan juga Ayah. Menjadi anak broken home itu tidak enak. Cukup sekali saja Ayah gagal, Ayah tidak ingin gagal lagi."
Sakit sekali hati Echa mendengarnya. Ketika dia berjuang ingin membahagiakan ayahnya, malah ada orang yang dengan sengaja menyakiti ayahnya.
Tes.
Air mata itu menetes lagi. Apa yang ayahnya katakan itu memang benar. Menjadi anak broken home sangat tidak enak. Dihina, dicibir, diejek sudah pasti akan diterima. Buktinya Echa, dia sudah kenyang dengan namanya hinaan, ejekan dan cibiran dari teman-temannya. Awalnya Echa marah, tetapi Echa mulai berdamai dengan semua rasa itu. Cukup menerimanya dengan lapang dada. Jadi anak broken home bukan menjadi akhir dari segalanya 'kan.
"Aku tidak meminta dilahirkan dari anak broken home. Hanya takdir yang terlalu kejam yang membuat aku menyandang status seperti itu. Apa ada yang salah dengan anak broken home?"
Kalimat itulah yang Echa katakan kepada anak-anak yang terus mengejeknya. Memendam semuanya seorang diri. Tidak pernah mengadu kepada siapapun. Hanya kedua sahabatnya yang tahu.
Berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan keadaan itulah yang Echa lakukan. Apalagi dia dipertemukan dengan sosok yang sangat baik yang mampu membimbingnya ketika dia salah arah. Laki-laki itulah yang perlahan membuatnya menjadi manusia yang berlapang dada dan menutup kedua telinganya akan omongan orang lain.
Kecupan hangat di ujung kepala membuat Echa tersenyum. Siapa lagi jika bukan sosok suaminya yang selalu mengerti akan dirinya.
"Ada masalah apa?" Echa menoleh ke arah sang suami, kemudian menggelengkan kepala.
Radit berpindah tempat, dia menangkup wajah istrinya dan menghapus air mata yang sudah membasahi pipi putih istrinya.
"Setiap air mata yang menetes, pasti ada luka yang terbuka lagi."
Echa memeluk tubuh Radit dengan sangat erat. Dia menangis dalam pelukan sang suami. Jika, seperti ini Radit akan membiarkannya saja. Itulah cara supaya semua kesedihan dan kepiluan dikeluarkan semua.
Setelah cukup tenang, Radit menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah istri tercintanya. Tanpa perlu Radit tanya, Echa akan mengeluarkan semua unek-uneknya. Radit akan menjadi pendengar setia.
"Tidak semua orang bisa seperti kamu, Sayang. Ayah sedang menyesali perbuatannya terdahulu karena dia mendapatkan karma setimpal sekarang ini," terang Radit.
__ADS_1
"Kamu gak pernah tahu 'kan bagaimana sakitnya hati Mamah ketika Ayah selingkuh di depan matanya. Membuang kamu dan Mamah pada waktu itu." Echa menatap nektra serius itu.
"Ayah seperti sedang menikmati apa yang dia tanam di masa lalu. Ayah sedang merasakan bagaimana menjadi mamah. Ayah juga sedang menebus dosa yang telah ayah perbuat kepada mamah dengan cara seperti ini," terang Radit.
Wajah Echa yang sendu nampak terlihat jelas. Radit mengusap lembut pipi sang istri.
"Kamu jangan khawatir, lambat laun Ayah akan berdamai dengan masa lalunya. Memaafkan semuanya dan membuka lembaran baru pastinya. Untuk sekarang ini, yang ayah butuhkan adalah kita. Jangan pernah tinggalkan Ayah. Temani Ayah agar dia tidak merasa sendirian."
Senyum yang tersungging di bibir Radit mampu menular kepada Echa.
"Makasih Ay."
Radit hanya mengangguk dan mendaratkan kecupan hangat ke kening sang istri.
"Anak-anak gak mau ke rumah Papih. Mereka langsung aku antar ke rumah," ucap Radit sambil menyesap kopi miliknya. Mata Echa melebar mendengarnya.
"Kenapa kamu gak bilang?" sergah Echa.
"Kenapa memangnya? Di sana ada Om Arya dan juga Mbak Ina."
Echa dapat bernapas lega, dia juga tidak mungkin pulang dalam keadaan mata bengkak seperti ini.
"Jangan pulang sebelum mata bengkak kamu mulai hilang." Echa mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Radit.
Di kamar Rion, ketiga cucunya enggan sekali menyingkir dari tubuh sang kakek. Berkali-kali punggung tangan Aleeya menyentuh kening Rion. Aleena, memijat tangan kanan Rion dan Aleesa memijat tangan kirinya.
"Engkong jangan sakit lagi. Dedek janji, kalau Uncle datang lagi ke sini Dedek gak akan nginep di sana," ucapnya sendu.
"Kakak Sa juga akan temani Engkong."
Aleena malah memeluk tubuh Rion dengan eratnya. Bukti cinta ketiga orang cucu kepada kakek mereka. Lengkungan senyum terukir di wajah Arya. Dia merasa bahagia karena melihat ketiga cucu Rion sangat menyayanginya.
"Bhas, pekerjaan gimana?"
Dalam kondisi sakit, Rion masih memikirkan perihal pekerjaan.
"Beres itu mah, yang penting lu sembuh. Jangan pikirin kerjaan dulu," sahut Arya.
"Susu sehatnya juga gak punya," celetuk Arya.
Rion mendelik kesal ke arah Arya, dia tahu maksud dari kalimat tersebut. Kini, dia menatap Arya dengan tajam.
"Gua tahu gua duda. Gak punya sumber susu yang bervitamin dan menyehatkan otak. Puas!"
Kalimat itu yang sorot mata Rion katakan dan mampu membuat Arya tertawa terbahak-bahak.
"Wawa tawa sendiri kayak olang ...."
"Hush!" sentak Aleesa pada Aleeya.
"Gak boleh dilanjut, nanti Bubu malah," lanjut Aleesa.
Si triplets terus menemani sang kakek hingga mereka terlelap di kamar Rion. Bibir Rion melengkung dengan sempurna melihat ketiga cucunya yang sangat tulus menyayanginya.
"Makasih telah menjadi pelipur lara untuk Engkong.
Sebenarnya Arya tidak kembali ke kantor, dia menunggu Echa di lantai bawah. Dia tahu bukan hanya Rion yang sedang tidak baik-baik saja, Echa pun merasakan hal yang sama.
Terdengar suara mesin mobil di luar, Arya sangat yakin itu adalah mobil yang dibawa oleh Echa. Mata Echa melebar ketika melihat Arya duduk di ruang tamu. Dia mencoba untuk tersenyum kepada Arya. Namun, Arya malah merentangkan tangannya. Untuk ke sekian kalinya tangis Echa pecah.
"Makasih udah menyayangi Ayah lu dengan sangat tulus. Makasih udah memaafkan semua kesalahan ayah lu di masa lalu. Makasih," ucap Arya.
"Echa hanya tidak sanggup melihat Ayah menderita. Echa tidak ingin melihat Ayah terluka semakin dalam. Echa ingin Ayah kembali lagi seperti dulu," balasnya, dengan terisak.
Arya mengurai pelukannya, menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Echa.
"Ayah lu pasti kembali lagi kok. Ini hanya masalah waktu aja," ujar Arya.
"Jangan pernah menangis lagi. Dampingi ayah lu, kasih semangat kepadanya biar bisa bangkit dari keterpurukannya."
__ADS_1
Arya bagai ayah kedua untuk Echa. Dia lah orang yang selalu mengerti akan ayahnya. Meskipun, mulutnya berbisa, tetapi Arya adalah orang yang sangat baik bagi Echa.
"Om, tolong jaga Ayah ketika Ayah di kantor." Arya mengangguk. "Pasti," jawabnya.
"Kita berusaha memulihkan keadaan ayah lu." Echa memeluk tubuh Arya. Usia Echa memang sudah kepala tiga, tetapi dia tidak sungkan untuk memeluk tubuh Arya sebagai bentuk rasa sayangnya.
Perlahan Echa membantu ayahnya untuk melupakan segala kesakitan yang ayahnya miliki. Luka yang masih menganga pelan-pelan tertutup juga. Sakit hati yang memenuhi relung hati kini terkikis juga. Butuh waktu untuk melakukan hal itu.
Pagi ini, Rion datang ke kediaman Ayanda seorang diri. Ayanda tersentak ketika dia melihat Rion bersimpuh di hadapannya.
"Maafkan Mas, Dek," ucapan yang terdengar sangat lirih.
"Maaf untuk apa, Mas?" Ayanda mulai menyentuh pundak Rion dan membantu Rion untuk berdiri.
"Mas sudah menyakiti kamu dengan kejamnya," jawabnya.
Ayanda tersenyum dan mengusap lembut pundak Rion. Dia melihat sorot mata penuh ketulusan yang Rion berikan.
"Aku sudah melupakan semuanya, Mas. Itu berlangsung sudah sangat lama. Tidak dipungkiri, luka itu masih berbekas sampai sekarang juga."
Rion menunduk dalam mendengar ucapan dari Ayanda. Sebenarnya Rion sudah berkali-kali meminta maaf kepada Ayanda, tetapi baginya tetap saja itu tidak cukup. Sekarang, dia melakukannya lagi.
"Dari luka itulah aku menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dari luka itulah aku mengerti akan ketulusan dan dari luka itulah kita malah semakin dekat," ujar Ayanda yang sudah menggenggam yang Rion.
"Percayalah Mas, luka ku sudah sembuh. Aku sudah tidak apa-apa. Semua kenangan tentang kita pun sudah aku tutup rapat dan tak ingin aku buka kembali. Aku ingin hidup di masa sekarang dan masa depan. Bukan untuk mengenang masa lalu."
Sorot mata teduh Ayanda berikan kepada Rion. Senyum hangat pun Ayanda ukirkan.
"Hukum tanam tuai pasti berlaku, tetapi bukan untuk diratapi. Harusnya kita memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku tahu, Mas adalah orang baik. Aku tahu, Mas sudah berubah dan aku melihat sekarang ini Mas menjadi ayah yang hebat untuk ketiga anak Mas yang sangat luar biasa. Aku bangga sama, Mas."
Bulir bening pun menetes begitu saja di mata Rion mendengar penuturan yang benar-benar menyejukkan hatinya. Sifat baik yang Echa miliki menurun dari Ayanda yang memang sudah memiliki hati yang lembut.
"Kok sekarang Mas cengeng sih," ejek Ayanda seraya tertawa. Tangannya mengambil tisu dan mengusap lembut air mata yang telah jatuh membasahi pipi Rion.
"Jangan pernah tenggelam dalam rasa bersalah. Manusia adalah tempat salah dan dosa. Mas, memang sudah pernah memiliki kesalahan kepadaku. Demi Allah, aku sudah memaafkan semuanya, Mas. Aku sudah tidak ingin mengingat sedih dan lukaku lagi. Tujuanku hidup adalah ingin bahagia bersama anak-anakku. Aku harap, Mas pun begitu."
Lengkungan senyum pun terukir di wajah Rion. Apa yang dikatakan oleh Ayanda benar adanya. Apalagi dia memiliki ketiga cucu yang sangat lucu dan anak-anak yang sangat luar biasa. Bukankah dia sangat beruntung?
"Kita sudah tua, Mas. Sudah waktunya kita menikmati hidup. Kita memiliki cucu-cucu yang sangat menggemaskan. Lebih baik menciptakan kenangan yang indah bersama ketiga cucu kita karena waktu bersama mereka tidak bisa terulang lagi 'kan."
Rion merasa sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Orang-orang yang selalu mendukungnya.
Setelah puas berbincang, Rion kembali ke rumahnya dan disambut hangat oleh ketiga cucunya yang tengah memakan es krim di cup besar.
"Nanti dimarahin Bubu loh," sergah Rion.
"Ini hadiah dali Bubu," jawab Aleeya.
Rion mendekat ke arah ketiga cucunya dan membuka mulutnya. Si triplets pun menyuapkan es krim ke mulut Rion dengan senang hati.
"Enak?" tanya Aleesa.
Rion pun mengangguk, kemudian dia bangkit dan menuju dapur. Mengambil sesuatu dari meja makan.
"Lihat! Engkong bawa apa?"
Suara Rion membuat ketiga cucunya menoleh. Mereka memicingkan matanya dan saling menatap.
"Untuk apa lotinya?" tanya Aleena.
Rion membuka roti tawarnya kemudian meminjam sendok yang dipakai si triplets untuk mengambil es krim. Kemudian diletakkan di atas roti. Ketiga cucunya mengerutkan dahi mereka.
"Enak loh, cobain deh."
Rion menyuapi roti berisi es krim tersebut kepada si triplets. Mata mereka pun berbinar menandakan mereka sangat suka.
Aleeya berlari ke arah dapur. Membuka lemari pendingin dan mengambil susu kental manis yang cokelat.
"Pakai ini lebih enak," gumamnya.
__ADS_1
Mereka sangat menikmati sore hari ini. Melakukan hal sederhana, tetapi banyak canda tawa bersama ketiga cucu kesayangan Rion. Apalagi keisengan yang mereka lakukan membuat Rion terus saja terbahak.
Lebih baik menikmati waktu yang tersisa, dari pada tenggelam dalam masa lalu yang menyiksa. ~Rion Juanda~