Yang Terluka

Yang Terluka
Masa Lalu


__ADS_3

Hari terus berganti. Si triplets tidak melupakan rencana mereka. Jum'at sore mereka mengajak sang om yang tengah bersiap untuk touring malam ini ke rumah Kalfa untuk dikenalkan dengan Kak Jing-jing.


"Ayo, Om," ajak Aleena.


"Sebentar saja, ya. Soalnya Om harus pergi sama Om Upin Ipin nanti malam."


Ketiga keponakannya mengangguk dengan senyum yang merekah. Mereka menuju kediaman Satria. Tibanya di sana, hanya ada security yang berjaga di pintu gerbang depan.


"Cari siapa ya, Mas?" tanya pihak keamanan rumah Satria.


"Kalfa ada?" tanya Aska.


"Tuan dan juga Den Kalfa baru saja pergi. Mereka sedang ke luar Kota."


Wajah si triplets nampak kecewa. Misinya gagal sekarang.


"Kalian dengar 'kan?"


"Pulang aja, Om," ucap pelan Aleeya.


Aska memutuskan pergi dari kediaman Satria. Melihat keponakannya yang bersedih Aska membawa mereka ke tempat es krim favorit mereka. Biarkanlah uangnya terbuang percuma karena mentraktir ketiga keponakannya yang selera makan mereka kelas atas.


"Kita makan es krim dulu, baru kita pulang." Mereka pun bersorak gembira.


Ketiga keponakan Aska segera keluar dari dalam mobil dengan sangat bersemangat. Aska melengkungkan senyum ketika melihat ketiga keponakannya terlihat bahagia. Mereka memilih es krim yang mereka mau. Aska hanya mengikuti mereka saja. Tagihan yang tak sedikit pun tak Aska hiraukan.


Melihat keponakannya tersenyum bahagia membuat Aska bahagia tiada terkira. Setelah selesai menikmati es krim, Aska mengaja ketiga keponakannya untuk pulang karena Ken dan Bian sudah menunggunya di rumah.


Aska mengantarkan mereka ke rumah sang kakak. Namun, di depan rumah Echa ada sebuah motor matic yang terparkir. Dahi Aska mengkerut, tidak seperti biasanya tamu keluarga kakaknya memakai motor. Biasanya mobil mewah yang terparkir di sini.


Aska tidak mempedulikannya, dia menuntun ketiga keponakannya untuk masuk ke dalam rumah. Mata si triplets memicing ketika melihat ada seorang wanita berhijab di rumahnya. Mereka tahu siapa wanita itu. Akan tetapi, tidak biasa saja wanita ini datang ke rumah mereka. Ada rasa curiga yang menyelimuti hati mereka.


"Loh, katanya ke rumah Kalfa?" kata Echa yang sedikit heran karena ketiga anaknya sudah kembali lagi ke rumah.


"Kelapanya gak ada," jawab Aleeya.


"Kak, Adek pulang dulu, ya. Mau pergi touring ke Bandung soalnya, sambil cek kafe di Bandung," tuturnya.


"Hati-hati ya, Dek. Nanti Kakak kirim uang jajan untuk kamu di sana."


Begitulah Echa, jika mendengar adiknya akan bepergian, dia pasti akan memberikan atau mentransfer uang ke nomor rekening adik-adiknya. Meskipun, adiknya tidak akan pernah kekurangan uang Echa akan tetap memberi mereka uang jajan.


"Gak usah, Kak," tolak Aska. Bagaimanapun dia masih punya sangkutan hutang kepada sang kakak ipar.


"Jangan menolak, Dek. Kakak tahu pasti kamu habis jajanin ketiga anak Kakak 'kan. Anggap saja, Kakak mengganti uang yang mereka gunakan untuk jajan."


Jika, Echa sudah berbicara seperti itu tandanya tidak boleh ada penolakan. Aska hanya tersenyum dan mengiyakan ucapan sang kakak.


Setelah kepergian Aska, Aleesa menatap tajam ke arah ibu panti yang tengah berbincang dengan ibunya.


Aleesa bisa membaca gerak-gerik ibu itu. Dia seperti tengah menunggu seseorang.


"Om kecil udah pulang," tanya Aleesa.


"Udah, ada di kamar. Lagi ngerjain tugas prakarya." jawab Echa.


Aleena dan juga Aleeya memilih untuk masuk ke kamar. Tidak dengan Aleesa yang masih duduk di samping sang ibu.


Obrolan yang ibu panti bahas tidak terlalu penting. Malah membuat Aleesa menguap.


Setengah jam berlalu, deru mesin mobil terdengar di depan kediamannya. Aleesa segera berlari menuju arah pintu luar.


"Jangan lari Kakak Sa," teriak Echa. Namun, bocah aktif itu tidak menghiraukan ucapan sang ibu.


"Engkong!"


Panggilan dari Aleesa membuat Rion yang baru saja menutup pintu mobil tersenyum ke arahnya. Aleesa berlari kecil dan dia juga berhati-hati menuruni anak tangga.


"Cucu Engkong dari mana? Cantik sekali," ujar Rion.


"Main, tapi pas ke lumahnya olangnya gak ada," adu Aleesa.


Rion tertawa dan menggendong cucunya keduanya. Tak hentinya diya menciumi pipi gembul sang cucu. Terdengar helaan napas kasar ketika dia melihat ada motor di depan rumahnya.


"Kakak Sa gak suka sama yang bawa motol itu."


Aleesa akan berkata jujur akan apa yang tidak dia suka. Begitu juga dengan kedua saudaranya.

__ADS_1


"Engkong gak suka juga 'kan?" sergah Aleesa.


Rion merasa bahwa cucu keduanya ini memiliki feeling yang sangat kuat. perihal apapun.


"Engkong cuma sayang sama kalian." Aleesa pun tertawa dan mencium pipi sang kakek tak hentinya sehingga Rion tergelak.


Rion menggendong Aleesa ke dalam rumahnya. Senyuman hangat dia dapatkan dari ibu panti yang tak lain adalah ibu Vina.


"Selamat malam, Pak," sapa ibu Vina.


Rion hanya tersenyum kecil. Echa segera menyambut ayahnya. Meraih Aleesa dari gendongannya.


"Ayah mau teh hangat?" tanya Echa.


"Teh hijau aja," imbuhnya. Echa mengangguk pelan. "Ayah ke kamar dulu, ya." Hanya seulas senyum yang Echa berikan.


Echa meminta ijin kepada Bu Vina untuk membuatkan teh untuk ayahnya terlebih dahulu, sedangkan Aleesa menemani Bu Vina di ruang tamu.


"Anak cantik, kamu mau punya nenek gak?" tanya Bu Vina.


Mata Aleesa melebar mendengar kata Nenek. Bu Vina malah tersenyum ke arah Aleesa.


"Enggak, nenek aku cuma satu, yaitu Mimo," tukasnya.


Wajah Aleesa pun menunjukkan ketidak sukaan yang luar biasa akan Bu Vina. Kedatangan bu Vina seakan ada maksud yang lain.


Sebenarnya Echa ingin menyuruh pulang Bu Vina, tetapi dia tidak enak hati. Sedari tadi Echa merasa jenuh karena Bu Vina sedari tadi tidak hentinya membahas hal yang tidak penting.


Makan malam pun, Echa terpaksa mengajak Bu Vina menikmati makan bersama. Wajahnya nampak sumringah, tetapi tak lama di harus menelan pil kecewa. Rion tidak ikut makan malam bersama mereka.


"Kenapa Pak Rion tidak ikut makan malam bersama?" tanya Bu Vina.


"Ayah belum lapar katanya," ujar Echa.


Padahal, Rion tidak ingin bertemu dengan Bu vina. Dia tidak ingin menyakiti hati wanita lagi. Dia amat tahu maksud kedatangan bu Vina. Apalagi sore tadi dia mendapat pesan dari bu Vina. Ketika ditanya dapat dari siapa nomornya, bu Vina menjawab dari Iyan. Rion hanya menghela napas kasar.


Setelah makan malam, akhirnya Bu Vina pamit pulang. Echa merasa lega dan Rion pun keluar dari kamar.


"Kalau dia ke sini lagi jangan diterima ya, Dek," ujar Rion.


Echa menuruti perintah ayahnya. Dia tahu ayahnya merasa tidak nyaman dengan kehadiran Bu Vina. Apalagi Aleesa yang sudah menolak sedari awal.


"Neneknya Kakak Sa hanya Mimo," lanjutnya lagi.


Rion tersenyum dan mengusap lembut rambut Aleesa. "Tidak akan ada nenek untuk Aleesa. Hanya Mimo nenek Aleesa," ujarnya.


Aleesa tertawa bahagia dan memeluk tubuh Rion. Kasih sayang cucunya pun sudah sangat cukup untuknya.


Di lain tempat, ketiga laki-laki jomblo tengah touring bersama dengan menggunakan dua motor. Mereka terus melajukan motor mereka. Sesekali mereka beristirahat di tempat yang menenangkan seraya menyeruput kopi.


Tengah malam, mereka baru tiba di Bandung. Itupun di kafe mereka. Mereka sudah terbiasa tidur di ruko yang menjadi kafe mereka.


"Untung lancar jaya," ucap Ken yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Bian dan Aska pun sudah menggelar kasur lantai untuk mereka berdua tempati. Ketiga pria ini bukanlah anak orang biasa, tetapi mereka sok-sokan ingin menjadi orang biasa.


Pagi menjelang, kafe mereka sudah banyak pengunjung. Apalagi kafe mereka terus dipromosikan oleh para pengunjung melalui akun media sosial media.


Kesibukan mereka membuat mereka lupa akan waktu. Senja sudah datang, menandakan siang telah usai. Aska duduk di belakang kafe dengan bersandar di kursi plastik seraya mendongak ke langit.


"Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini," gumamnya.


Dia memejamkan mata, mencoba mengingat bayang wajah perempuan yang tidak bisa hilang dari ingatannya.


"Gua mah nyariin lu," ujar Ken. Bian Kun ikut bergabung dengan kedua sahabatnya.


"Pengamen yang biasa manggung di sini gak datang, sedangkan pengunjung lagi banyak-banyaknya. Ada yang kurang kalau tidak diiringi dengan musik," terang Bian.


"Nanti gua yang nyanyi." Ken dan Bian pun tersenyum.


Aska berganti kostum, untungnya dia membawa baju ganti lebih dari satu. Setelah semuanya dirasa sempurna, dia turun ke lantai bawah dan menuju mini panggung yang sudah tersedia.


Aksa meraih gitar yang sudah tersedia di sana. Petikan gitar membuat suasana mendadak hening. Sangat enak didengar.


🎶


Derai tetesan air mata

__ADS_1


Kurasa kini kering sudah


Meratapi masa laluku


Yang tak berpihak kepadaku


Kini engkau ada di mana


Ku tak tahu apa kabarmu


Mungkinkah nanti ku temui


Dirimu yang aku cintai


Di sebuah meja, seseorang yang tengah menyuapi anak laki-laki merasa bahwa lagu itu mewakili hatinya saat ini.


🎶


Ku tulis kisah cerita kita


Begitu indah masa laluku


Dia menangis di pelukanku


Lalu berkata pertahankan aku


Di mana kini masa laluku


Apakah engkau mendengar laguku


Yang telah tersaji hanya untukmu


Sebagai pelengkapan cerita hidupku


Sebuah lagu yang membuat Aska menarik napas kasar. Lagu ini menggambarkan isi hatinya. Pandangannya kini beralih kepada pengunjung yang sedang mengambil video dirinya tengah bernyanyi. Namun, matanya menangkap salah satu perempuan yang dia cari selama ini tengah berdiri. Tanpa berpikir panjang, Aska menghentikan nyanyiannya dan mengejar perempuan itu. Sontak semua orang terkejut.


Ketika dia sampai pintu keluar, sebuah mobil telah membawa perempuan yang dia cintai pergi.


Di dalam mobil, perempuan itu menatap ke arah luar jendela. Pikirannya memutar kenangan beberapa tahun ke belakang.


"Bang As," gumamnya.


Ada perasaan bersalah yang tengah bersarang di hatinya saat ini. Kepergiannya tanpa sebuah kata pamit pasti akan membuat laki-laki yang dia anggap lebih dari sekedar teman.


"Aku terpaksa," lanjutnya pelan.


Bulir bening menetes begitu saja di ujung matanya.


Di kafe, Ken dan Bian berlari menghampiri Aska. Mereka berdua menepuk pundak Aska.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Masa lalu gua," lirihnya.


Bian menghela napas kasar. Ken menatap Bian dan mengangguk pelan. Mereka membawa Aska untuk kembali ke dalam dan menenangkan perasaanya.


Terkadang kedua sahabat dari Aksa ini bingung dengan sikap Aska.


"Si Aska normal gak sih?" tanya Ken kepada Juno.


"Entahlah."


Bukan menghampiri dua temannya itu. Dia duduk di depan Ken dan Juno..


"Aska adalah orang yang tertutup aslinya. Dia tidak mudah bercerita perihal apapun kepada orang lain. Meskipun, sahabatnya sendiri. Dia sangat menjaga yang namanya privasi."


Ken dan Juno merasakan hal itu. Ada ranah di mana mereka tidak boleh tahu. Ada juga bagian di mana mereka harus tahu. Aska seperti memberikan benteng yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri.


"Dia itu buka orang yang banyak bicara. Aska akan bicara jika bukti sudah di tangan. Dia akan mempublikasikan sesuatu jika dai sudah meraihnya. Dia bukan tong kosong nyaring bunyinya," terang Bian lagi.


Perihal orang yang dia sukai Aksa snagat menutup rapat semuanya. Bukan tanpa alasan, sudah banyak kejadian teman makan teman. Dia tidak mau seperti itu. Jika, itupun terjadi kepadanya dia lebih memilih untuk mundur dari pada mempertaruhkan persahabatannya.


Banyak hal yang Ken dan Juno tidak tahu. Aska seakan membatasi dirinya untuk mengatakan siapa dirinya dan bagaimana hatinya. Cukup dia dan keluarganya yang tahu karena dua tidak perlu membenarkan apapun yang menurut orang lain salah.


Dia juga bersahabat dengan orang yang mau menerima segala kekurangannya bukan hanya menerima kelebihannya. Ken dan Juno serta Bian adalah orang yang tidak peduli akan statusnya. Dia anak orang kaya, sudah pasti yang dekat dengannya hanya ingin membenarkannya. Berbeda dengan Juno, Ken dan Bian yang mengenal Aska sebagai orang biasa. Ketika Akan merasa mereka itu tulus bersahabat dengannya, akhirnya dia memperlihatkan siapa dia sesungguhnya. Ketiga sahabatnya itu malah semakin sungkan kepada Aska bukan malah memanfaatkan. Itulah yang Aska cari, sahabat di kala senang itu banyak. Sahabat di kala susah itu yang sangat susah. Hanya mereka bertiga yang selalu ada untuk Aska. Dari hal remeh pun mereka akan siap membantu. Aska kehabisan bensin, ban motornya kempes, tidak bawa uang cash. Merekalah yang g siap membantu Aska. meskipun umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya. Itulah yang dinamakan sahabat.


Sama halnya dengan Ken yang meminta bantuan Aska tengah malam karena ibunya mendadak pingsan. Tanpa berpikir panjang Aska datang ke rumah Ken dan Mambawa ibu Ken ke rumah sakit. Aska pulalah yang menanggung semua biaya rumah sakit ibunya dari Ken. Ken benar-benar menangis dan sangat berterimakasih kepada Aska.

__ADS_1


Aska selalu memberikan bantuan yang tak terhingga kepada ketiga sahabatnya ini. Di kala mereka tidak sanggup membayar uang kuliah Aska akan merogoh koceknya untuk mereka. Itulah yang bisa Aska lakukan.


Apalagi ketika Bian mengalami musibah. Rumah Bian terbakar tak ada barang yang tersisa. Aska meminta kepada ayahnya untuk membelikan Bian rumah sederhana serta kendaraan untuk Bian kuliah. Ayah Aska pun sangat baik dan mau membantu Bian dengan tulus. Itulah persahabatan mereka, meskipun Aska tidak terlalu terbuka, tetapi dari sangat care tehadap para sahabatnya. Begitu juga sahabatnya yang tak kalah care kepada Aska.


__ADS_2