Yang Terluka

Yang Terluka
Sad Boy


__ADS_3

Mendengar ucapan Sheza Rindra menyenggol lengan Rifal. Lirikan matanya mengisyaratkan sesuatu.


"Hati-hati loh Kak kalau ngomong, nanti dicatat sama malaikat loh," imbuh Radit.


"Gak apa-apa, Dit. Justru kakak pengen punya mantunya kayak kamu gitu. Ganteng, sayang sama istri dan yang terpenting tajir," canda Sheza.


Semua orang tertawa tidak halnya dengan Rifal. Tawa mereka semua seakan sedang mengejek dirinya.


"Maaf ya, Key. Lama," tutur Sandy yang baru saja datang.


Tanpa banyak bicara dia segera memeriksa kaki Keysha. Sendy fokus kepada luka di kaki Keysha. Sedangkan Rifal sedang fokus kepada tangan Keysha yang terus merangkul lengan Sendy seraya meringis.


"Cepetan halalin," bisik Rindra.


"Masih sakit, gak?" Keysha pun menggeleng.


"Makanya hati-hati," ucap lembut Sandy seraya mengusap lembut kepala Keysha.


"Hareudang ... hareudang ... hareudang ... panas panas," ejek Echa sambil berdendang.


Keysha menatap ke arah Rifal yang menunjukkan raut kecewanya. Terselip juga rasa sedih di wajahnya.

__ADS_1


"Pak Kano, sepertinya saya pamit pulang duluan. Tiba-tiba saya gak enak badan," imbuhnya.


Mata Keysha melebar mendengar ucapan Rifal. Dia menatap Rifal dengan mata yang nanar.


"Sayang sekali, Pak Rifal," ujar Kano. Hanya seulas senyum yang Rifal berikan.


"Saya permisi," pamitnya.


Tidak ada pandangan terakhir, tidak ada tatapan yang menyejukkan yang Rifal berikan. Hanya sebuah wajah yang datar, seperti manusia yang kehilangan arah.


"Kalau begitu, Echa juga pamit, ya. Si triplets sudah menguap terus." Alasan Echa memang benar, ketiga anaknya sudah terus-terusan menguap karena sudah waktunya mereka tidur.


Tibanya di rumah Addhitama yang berada di Singapura. Radit dan Rindra mencari keberadaan Rifal. Namun, mereka berdua tidak dapat menemukan Rifal. Ada kekhawatiran di antara kakak beradik ini. Rindra segera menghubungi Rifal. Akan tetapi, panggilan yang dia lakukan tidak pernah dijawab oleh Rindra.


Sekarang, Rifal berada di sebuah clib malam milik sahabatnya yang berada di Singapura. Dia hanya memesan lemon tea Dan duduk bersandar di sebuah sofa khusus.


Dasar sad boy.


Ucapan itu masih terngiang-ngiang di kepala Rifal. Nasibnya yang selalu miris jika mencintai seorang wanita. Selalu berakhir menyakitkan.


Ketika SMA, Rifal dekat dengan seroang siswi namanya Widi. Hampir semua warga sekolah mengira jika Widi dan Rifal pacaran. Hingga tercetus ide romantis di kepala Rifal. Rifal akan menyatakan cinta kepada Widi ketika pelajaran olahraga. Semuanya sudah dia setting di lapangan basket sekolah. Semua teman-teman sekelas Rifal sudah sangat antusias karena Rifal menyiapkan sesuatu yang sangat romantis.

__ADS_1


Rifal mengajak Widi ke lapangan basket dengan menutup mata Widi. Setelah sampai di lapangan, Rifal membuka tutup mata Widi itu. Terlihat tulisan Apakah kamu menjadi pacarku? Aku menyayangi kamu, Widi.


Widi tidak berkata apa-apa. Dia tercengang dengan mulut yang dia tutup.


"Aku butuh jawabanmu, Wid," ujar Rifal.


Widi mematung sejenak. Dia bingung harus jawab apa, tetapi semua teman-temannya meneriakkan terima.


"Apa kamu menjadi pacarku?" ulang Rifal yang kini sudah berlutut di hadapan Widi denah membawa setangkai bunga mawar.


"Terima ... terima ...."


Widi menyuruh Rifal untuk bangun. Dia menatap mata Rifal dengan air sedih.


"Maaf ... aku emang nyaman sama kamu. Aku bahagia dengan kamu. Namun, aku tidak memiliki perasaan apapun kepada kamu. Hanya sekedar sahabat. Gak lebih gak kurang. Sebenarnya ... aku sudah memiliki kekasih hati yang sekolah di luar Kota."


Bukan hanya Rifal yang kecewa, teman-teman yang membantu Rifal pun ikut merasa kecewa.


"Yah ... sad boy."


...****************...

__ADS_1


Sedikit dulu, ya. Insyaallah besok up lebih panjang lagi. Ini juga nyempetin nulis disela kesibukan dan rasa lelah yang melanda. Dukung terus ceritanya ya ...


__ADS_2