Yang Terluka

Yang Terluka
Kelakuan Si Triplets


__ADS_3

Kalfa terus menyunggingkan senyum ketika berada di dalam mobil arah pulang. Satria menatap putra angkatnya dengan senyum kecil.


"Kamu suka bermain dengan anak-anak kembar tiga itu?" tanya Satria.


"Yang kembar hanya dua, Pih. Satunya lagi gak mirip," jelas Kalfa.


Inilah yang Satria suka dari bocah berumur kurang dari empat tahun. Sangat jenius di matanya.


Ketiga anak Echa pulang dengan hati riang karena sang kakek memberikan mereka tiga gepok uang kertas berwarna biru.


"Tabungan Dedek banyak. Dedek bisa beli apa saja yang Dedek mau," celoteh Aleeya.


"Bubu, jalan-jalan yuk. Tabungan Kakak Sa sudah banyak," ujar Aleesa.


"Tunggu Baba gak sibuk ya, Nak." Echa berucap sangat lembut. Dia tidak ingin mengecewakan hati anak-anaknya.


Mereka pun mengangguk mengerti. Sebenarnya, mereka tidak menuntut liburan mahal dan mewah. Berlibur ke Ragunan saja pun pasti mereka suka. Namun, berbeda dengan kedua orang tua mereka. Echa dan Radit ingin memberikan liburan yang berkesan dan akan diingat oleh anak-anaknya hingga mereka dewasa nanti.


"Kalau Kakak Na, uangnya dipakai apa?" tanya Echa yang masih fokus pada jalanan.


"Kakak Na hanya memiliki sedikit uang, Bubu. Uang Kakak Na sudah Kakak Na belikan kepada pengamen, badut, anak-anak pemulung yang Kakak Na lihat."


Echa sangat bangga kepada Aleena. Anak yang tidak banyak menuntut orang tua, senang berbagi dan juga tidak tegaan. Dia lebih baik kelaparan dari pada melihat orang lain lapar. Dia juga tidak pernah banyak permintaan kepada kedua orang tuanya. Ketika dia ingin sesuatu, dia hanya bilang, "Bubu, boleh gak Kakak Na beli boneka balu? Uang jajan yang Bubu kasih selalu Kakak Na simpan. Ini cukup gak?"


Maka dari itu, Aleena menjadi cucu yang paling disayang oleh Addhitama. Apapun yang Aleena minta pasti akan Addhitama berikan, termasuk perusahaan mana saja yang akan Addhitama berikan kepada Aleena.


Mereka turun dari mobil sambil berteriak gembira. Namun, Echa menghentikan langkah Aleena.


"Bubu ingin bicara."


Echa menuntun Aleena untuk duduk di sofa, sedangkan Echa sendiri duduk di bawah.


"Bubu boleh tanya?" Aleena pun mengangguk sambil menatap ke arah sang ibu.


"Kakak Na kenapa mau berbagi milik Kakak Na kepada orang lain? Belum tentu orang lain mau memberikan miliknya kepada Kakak Na," tanya sang ibu. Echa tahu, anak sulungnya ini sangatlah pintar.


"Tidak apa-apa Bubu meleka pelit sama Kakak Na. Kakak Na membantu bukan ingin dibalas."


Mata Echa berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Aleena. Anak sekecil ini sudah sadar akan pentingnya berbagi tanpa pamrih.


"Mimo bilang, di setiap lejeki yang Kakak Na miliki ada hak olang lain. Makanya, Kakak Na tidak ingin mengambil lejeki Olang lain. Gak apa-apa lejeki Kakak Na sedikit yang penting belkah. Begitu Mimo bilang."


Lengkungan senyuman dengan bulir bening menetes membasahi pipi Echa. Tuhan telah mengirimkan anak-anak yang hebat dalam hidupnya.


"Kenapa Bubu nangis?" tanya Aleena yang kini mengusap lembut air mata sang ibu.


"Bubu bangga sama kamu, Nak."


"Kakak Na yang bahagia memiliki Bubu. Telima kasih Bubu, sudah melahilkan Kakak Na." Pelukan hangat Aleena berikan kepada Echa.


Setiap malam Echa selalu mengecek brangkas yang memang Radit berikan kepada mereka bertiga. Di sana mereka bisa menyimpan uang mereka masing-masing. Echa selalu melihat isi brankas tersebut dan hanya uang Aleena yang sedikit dibandingkan kedua adiknya. Echa juga sering mengecek CCTV rumahnya. Aleena senang menghabiskan waktu di halaman depan bersama Pak Mat. Ternyata, dia juga sering memberhentikan Abang gerobakan yang lewat di depan rumahnya. Membeli makanan tersebut dengan uang pecahan seratus ribuan, tetapi tidak pernah meminta kembalian. Makanan tersebut pun dia berikan kepada Pak Mat Karena Aleena tidak diperbolehkan makan sembarangan.


Keesokan paginya, mereka menikmati sarapan pagi. Ketiga anak Echa terus berceloteh membuat suasana ruang makan riuh.


"Bubu, Kakak Na boleh bawa bekal dua?" tanya Aleena.


"Untuk siapa?" tata Rion.


"Paling juga buat si kelapa," jawab Aleeya yang sedang memakan sereal.


"Kelapa?" ulang Rion.


"Bukan kelapa, tapi Kalfa Dedek," ralat Echa.


"Dedek susah bilangnya, Bubu. Yang gampang itu kelapa," jawab Aleeya.


"Suka-suka kamu aja lah, Dek. Belisik!" dengus Aleesa.


Aleesa paling tidak suka jika Aleeya menjelma menjadi anak yang bawel dan banyak bertanya. Terkadang mulut Aleeya dia bungkam dengan solatip hitam hingga Aleeya menangis. Aleesa tidak suka kebisingan, atau dia akan mengerahkan anak buah tak kasat mata yang dia miliki untuk meneror Aleeya.


"Engkong nanti malam mau main ke pasar malam. Kalian mau ikut?" Ketiga anak itu pun sangat antusias dan berteriak gembira.


"Engkong beli gula-gula ya," pinta Aleeya.


"Kakak Sa ingin masuk lumah hantu."


Semua orang menatap Aleesa dengan jengah. Anak kedua dari Echa ini senang sekali dengan hal-hal yang menyeramkan. Sama dengan Iyan.


"Kamu sama Om kecil aja masuknya. Nanti baru masuk Engkong udah jantungan," sungut sang kakek.


Pagi hari yang sangat menyenangkan yang jarang terjadi. Echa membuatkan bekal untuk ketiga anaknya. Tidak lupa, dia membuatkan bekal untuk Kalfa yang akan dibawa oleh Aleena.


"Makasih, Bubu." Aleena mengecup pipi Echa sebelum masuk ke mobil sang ayah.


Hari ini Radit yang mengantar ketiga anaknya. Echa akan melakukan zoom meeting dengan orang-orang kepercayaannya di luar negeri.


Tibanya di sekolah, ibu-ibu centil selalu mencari perhatian Radit. Di mata ibu-ibu, Radit adalah tipe ayah sempurna. Tampan, mapan dan juga penyayang. Buktinya hanya dia yang mau mengantar anak-anaknya ke sekolah.


"Kakak Na paling gak suka kalau diantelin Baba," sungutnya.


"Iya, Dedek juga gak suka. Pengen Dede silam mukanya," omel Aleeya.

__ADS_1


Radit hanya tertawa dan mengusap lembut rambut ketiga putrinya.


"Baba kerja dulu, ya. Jangan nakal dan jangan buat onar. Bubu akan benar-benar menghukum kalian jika terjadi hal seperti itu," tekan Radit.


Baru saja membalikkan tubuhnya, sang paman datang dengan membawa anak angkatnya.


"Oh, jadi Kalfa ini anak Om?" sergah Radit.


"Iya, anak Om sangat bahagia bermain dengan anak-anak kamu, Dit."


Radit pun tersenyum dan mengusap rambut bocah itu. Wajahnya sangat tampan dan juga senyumnya sangat manis.


"Salim sama ayah-ayahnya si kembar tiga." Kalfa pun menuruti perintah sang ayah angkat. Mencium tangan Radit dengan sangat sopan.


"Pih, Kal masuk dulu, ya." Satria pun mengangguk.


Kalfa masuk ke kelasnya sedangkan Radit dan Satria meninggalakan sekolah.


Mata Kalfa melebar ketika dia melihat Aleena didorong oleh Choki.


"Lasain!" cibir Choki.


Aleena bangun dari tersungkurnya. Dia melihat ada darah di kakinya. Namun, tak dia hiraukan.


"Kakak Na, dalahan kakinya," ucap Aleeya.


Aleesa mengambil tisu basah yang selalu ada di dalam tasnya.


"Sakit?" tanya Aleesa.


Aleena menggeleng dan mencoba untuk tersenyum. Padahal dia hanya pura-pura saja. Bohong jika tidak sakit.


"Aleena, kamu gak apa-apa?" tanya Kalfa.


"Tidak."


Aleena mencoba untuk berjalan meskipun kesakitan. Lukanya cukup dalam dan melebar karena terkena ubin yang sedikit rusak.


"Kalfa, ini buat kamu. Dari Bubu aku." Aleena memberikan bekal makanan kepada Kalfa.


"Makasih."


Raut khawatir Kalfa terlihat jelas. Sesekali dia melirik ke arah Aleena yang terlihat tidak bersemangat seperti biasanya.


Ketika istirahat tiba, terdengar ringisan kecil dari mulut Aleena. Dia melihat ke arah bawah, darahnya masih keluar.


Kakak Na harus kuat. Kakak Na gak boleh cengeng.


"Makasih." Kalfa hanya mengangguk.


"Kelapa, buat Dedek mana?" tanya Aleeya.


"Aku hanya bawa dua. Satu buat aku dan satu buat Aleena."


Dengusan kesal pun terdengar. Wajah Aleeya sudah ditekuk.


"Ini."


Aleena menyerahkan susu miliknya kepada sang adik.


"Minum saja," ucap Aleena.


Senyum pun melengkung di bibir Aleeya. Namun, rasa sedih bersarang di hati Kalfa. Padahal dia sudah berbohong kepada papihnya bahwa dia ingin dua kotak susu karena merasa tidak kenyang jika meminumnya satu. Pada kenyataannya susu yang satunya itu untuk Aleena. Ketika Aleena menerimanya hati Kalfa bahagia. Akan tetapi, ketika Aleena memberikannya kepada Aleeya hatinya mendadak perih.


Echa sudah menjemput ketiga anaknya. Dia tersenyum lebar ke arah si triplets. Namun, matanya memicing ketika dia melihat jalan Aleena tidak biasa.


"Kenapa dengan kaki kamu Kakak Na?" tanya Echa.


Echa melihat ke arah kaki Aleena dan dia terkejut. "Lukanya dalam ini, Sayang. Kita ke rumah sakit, ya. Takut infeksi."


Wajah panik Echa terlihat jelas. Dia menggendong Aleena dan menuntun kedua anaknya yang lain untuk masuk ke dalam mobil.


"Kenapa bisa seperti itu, Kakak Na?"


Bukan Aleena yang menjawab, tetapi Aleeya yang menjelaskan semuanya dengan bersungut-sungut.


"Nakal sekali anak itu," geram Echa.


Baru tiba di rumah sakit, dia berpapasan dengan Addhitama. Sontak urat-urat kemarahan muncul di wajahnya.


"Tangani cucuku!" Perintah Addhitama tidak bisa terbantahkan.


Setelah selesai ditangani, Aleena diperbolehkan untuk pulang.


"Saya beri obat pereda nyeri dan lukanya harap dibersihkan tiga kali sehari. Jangan terlalu banyak bergerak."


Echa mengangguk mendengar penjelasan dari dokter. Addhitama sudah menggendong tubuh Aleena masuk ke dalam mobil.


"Cepat sembuh ya, cucu Engkong. Nanti Engkong akan main ke rumah kalian." Aleena tersenyum dan mencium pipi Addhitama.


"Engkong, bawa maltabak ya," pinta Aleeya.

__ADS_1


"Sama bawa nasi goleng seafood. Kakak Sa mau itu."


Addhitama mengangguk dan mencium pipi gembil dua cucunya itu.


"Hati-hati ya, Cha."


"Iya, Pih." Echa mencium tangan Addhitama sebelum pergi.


Mobil Echa berhenti tepat di depan rumahnya. Aleena yang hendak berjalan dilarang oleh kedua adiknya. Echa kini menggendongnya menuju ruang bermain.


"Bubu, Kakak Na gak apa-apa," ujarnya.


"Kakak Na dengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi?" Aleena mengangguk pasrah.


"Belalti Kakak Na gak bisa ikut ke pasal malam?" tanya Aleeya.


"Iya. Dedek sama Kakak Sa aja, ya."


Sebelum mengangguk Aleeya maupun Aleesa memandang sendu ke arah kakaknya. Ketika Aleena tersenyum barulah mereka menganggukkan kepala.


Rion dan Radit terkejut ketika mendengar Aleena terluka. Wajah-wajah kegeraman nampak terlihat jelas.


"Harus dilaporin tuh," ujar Rion.


"Sepertinya Papih sudah bertindak duluan," kata Echa.


"Baguslah. Yang punya sekolah itu 'kan teman Papih," terang Radit.


"Pokoknya kalau besok gak ada tindakan dari sekolah, Biar Ayah yang laporin," ujar Rion.


Dia akan berada di garda terdepan untuk melindungi ketiga cucunya.


Sesuai dengan janji Rion, dia membawa dua cucunya untuk ke pasar malam. Iyan pun ikut bersama mereka. Kedua cucunya sangat berantusias. Dia menaiki semua wahana yang ada.


Semua makanan pun sudah mereka beli dan terakhir Aleesa merengek untuk masuk ke dalam wahana rumah hantu. Rion menyerah, dia menyerahkannya kepada Iyan.


Dua anak manusia itu masuk tanpa didampingi orang dewasa. Secara tak kasat mata ada Om Uwo dan ibu yang menjaga mereka.


"Gak ada selem-selemnya," ucap Aleesa yang terlihat datar ketika melihat hantu yang tengah menakutinya.


"Tuh, balu lucu," tunjuk Aleesa pada sosok yang terbungkus kain kafan dengan wajah hitam dan bermata merah.


Aleesa dan Iyan pun terkekeh melihat ke arah hantu pocong yang berada di pojokan. Ketika orang lain berteriak ketakutan, wajah mereka nampak datar.


"Gimana? Takut gak?" tanya Rion yang tengah asyik memakan kacang rebus.


"Ah, gak asyik," jawab Iyan.


Rion menggelengkan kepala mendengar jawaban dari Iyan. Dua anak ini sangatlah berbeda.


"Kalian gak bawa teman baru lagi 'kan?" Iyan dan Aleesa hanya tersenyum.


"Kakak Sa bawa Om poci muka hitam. Akan Kakak Sa suluh jaga di depan lumah," kelakarnya.


"Ya Tuhan." Rion mengerang kesal sedangkan Aleesa tertawa.


Di kediaman Echa, Aleena tengah dimanja oleh kedua orang tuanya serta sang kakek. Akan tetapi, Aleena menolak.


"Kakak Na baik-baik aja. Kakak Na gak sakit," ucapnya.


"Kakak Na kenapa gak balas perbuatan si Choki-choki?" tanya Rifal, sang paman.


"Untuk apa? Kakak Na gak mau jadi Olang jahat," tukasnya.


Rifal sangat bangga terhadap keponakannya yang satu ini. Dia mencubit gemas pipi Aleena.


"Anak kalian ini terlalu lembut dan baik hatinya," imbuh Addhitama.


Echa dan Radit hanya tersenyum. Apa yang dikatakan papihnya memang benar. Wajah Aleena yang kalem dan juga tutur katanya yang lembut membuat semua orang sangat menyayanginya.


"Opa!" panggil kedua anak Echa yang lainnya. Mereka membawa jinjingan makanan yang sangat banyak.


Di meja pun sudah ada martabak pesanan Aleena dan nasi goreng pesanan Aleesa.


Mereka berbincang dan tertawa bersama. Apalagi ketiga anak Echa yang terus rebutan makanan membuat suasana semakin ramai.


"Pocong yang kamu bawa pengen kacang rebus tuh," ucap Iyan.


Semua orang seketika terdiam mendengar ucapan Iyan. Mereka menatap ke arah Aleesa.


"Gimana Om poci makannya? Tangannya juga diiket begitu udah kayak lontong."


Ucapan Aleesa mampu membuat semua orang yang tengah merasa ketakutan malah tertawa.


"Om poci kelual gih. Kakak Sa gak suka lihat wajah gosong Om poci yang kayak pantat panci penggolengan emak-emak onlen," usirnya.


Aleesa bangkit dari duduknya dan menggerakkan tangannya seperti sedang memanggil ayam.


"Kur ...."


Lagi-lagi mereka pun tertawa. Di mata mereka Aleesa sedang memanggil angin, tetapi di penglihatan Aleesa dan Iyan memang ada sosok pocong yang tengah melompat-lompat mengikuti Aleesa.

__ADS_1


"Lali kek Om Poci. Lama banget sih."


__ADS_2