Yang Terluka

Yang Terluka
Tiup Lilin


__ADS_3

Aska pulang ke rumah ketika malam tiba. Namun, suasana rumah mendadak horor. Sang ayah sudah menatapanya dengan tajam.


"Berasa uji nyali," kelakarnya.


"Kamu apain Christina?" Mulut Aska menganga ketika mendengar hardikan sang ayah. Dia pun mendengkus kesal.


"Tanya sama cucu-cucu kesayangan Daddy," jawab Aska santai. Kini, malah merebahkan tubuhnya di pangkuan sang ibu.


"Maksudnya apa, Dek?" tanya Ayanda lembut.


"Aleena gak suka sama Christina. Dia yang nyuruh Christina naik angkot."


Ayanda tergelak mendengar ucapan Aska. Cucu pertamanya benar-benar luar biasa.


"Kenapa kamu ikutin?" hardik Gio.


"Kayak Daddy gak tahu aja gimana Aleena. Sekalinya marah susah untuk dibujuk. Perlu waktu berjam-jam buat baikan sama dia. Pacar-pacaran Adek aja cuma dikasih rayuan gombal langsung luluh. Lah ntu bocah?"


Lagi-lagi Ayanda tertawa, Gio pun paling takut jika Aleena marah. Sulit untuk berbaikan dan sangat keras kepala sekali.


Gio pun tidak melanjutkan perktaannya, biarkanlah itu urusan putranya dan Christina. Jika, dilihat-lihat Aska tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Christina. Christinanya saja yang terlalu terbawa perasaan.


Di kediaman Echa, dia tengah memandangi ketiga anaknya dengan senyum yang mengembang. Radit sudah memeluknya dari belakang.


"Gak kerasa udah tiga tahun mereka." Radit tersenyum dan mengecup pipi sang istri.


"Ya, mereka masih lengkap. Itulah yang membuat aku bahagia."


Echa sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Dia tidak akan pernah bisa membayangkan jika salah satu dari anaknya tiada. Hidupnya akan hancur dan tidak akan sebahagia sekarang.


Di lain tempat, Iyan masih asyik duduk sendirian di bawah pohon mangga yang gelap. Seperti ada yang tengah Iyan pikirkan. Anggi masih memenuhi kepalanya.


"Kenapa?" Jojo, Dev dan Om Uwo sudah duduk di samping Iyan.


"Anggi."


Jojo hanya mengusap lembut pundak Iyan. Sahabatnya ini masih saja memikirkan Anggi.


"Apa kamu tidak bisa melihat masa depan kamu?" tanya Om Uwo. Iyan pun menggeleng.


"Aku yakin, Anggi pasti diurus oleh orang tua yang tepat," jelas Jojo.


"Semoga saja."


"Iyan!"


Sang ayah sudah memanggil, bertanda Iyan harus masuk ke dalam kamarnya. Dia pun berlari dan meninggalakan teman-temannya. Tak lupa dia menggoda om dan anteu poci yang masih betah diam-diaman.


Ketika dia berlari di dalam rumah. Tak sengaja Iyan menabrak tubuh Echa. Iyan pegang tangan kakaknya dan pikirannya terkoneksi pada satu kejadian. Darah, tangisan, orang-orang berbaju hijau, tanda tangan, terpuruk. Itulah yang Iyan lihat.

__ADS_1


"Akan terjadi apa dengan Kak Echa?" Batinnya terus bertanya.


"Kenapa, Yan?" Iyan segera menggeleng dan tersenyum hambar. Dia berharap semoga tidak terjadi sesuatu apapun terhadap kakaknya.


Minggu pun datang, si triplets sangat bahagia karena di rumah Mimo dan aki mereka akan diadakan pesta. Di mana Om dan Uncle mereka berulang tahun. Namun, Uncle mereka tidak bisa pulang. Jadi, acara ini hanya untuk Aska.


"Bubu, tahu gak. Semalam Kakak Sa mimpi ... Bubu gendong Dedek bayi lucu. Tapi ...." Ucapan Aleesa menggantung. Echa, Radit, Ayanda dan juga Aska mengerutkan dahi mereka ketika Aleesa berhenti berbicara.


"Kok gak dilanjutin," ujar Ayanda.


"Kakak Sa nangis," lirihnya.


"Kenapa nangis, Sayang? Kan Bubu gendong bayi," imbuh Echa.


"I-iya, tapi ... ada Olang putih yang ambil Dedek bayi itu Dali tangan Bubu. Bubu juga nangis, Baba juga nangis."


Empat orang dewasa itu saling melirik. Namun, Radit mengusap lembut kepala Aleesa.


"Itu hanya bunga tidur, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan."


Aleesa pun mengangguk, dia merangkulkan lengannya dileher sang ayah.


"Kakak Sa ingin punya adik lagi, ya."


Radit pun tergelak dan mencium pipi gembil putrinya yang sangat menggemaskan. Dua anak Radit yang lainnya tengah merecoki koki khusus untuk membuat kue ulang tahun Aska. Mereka malah bermain dengan krim yang sudah koki itu persiapkan. Namun, para koki itu tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, mereka dibayar mahal untuk mengerjakan semua ini.


Penyelamat Aska datang, siapa lagi jika bukan Beeya.


"Ya ampun, pacar impianku ... tampan sekali." Sebuah kegilaan yang Beeya ucapkan, apalagi Beeya sudah mencium pipi Askara.


"Potongan kue pertama untuk Bee, ya." Ucapannya sangat manja dan tangannya pun sudah merangkul manja lengan Aska. Balasan dari Aska hanya senyum bahagia dan usapan lembut di kepala Beeya.


Wajah Christina mulai cemburu, baru saja dia ingin menghampiri Aska Si triplets sudah datang dengan gaun cantiknya dan memeluk tubuh Beeya.


"Kakak ... kangen." Mereka sudah masuk ke dalam pelukan Beeya.


"Kakak juga kangen. Kapan-kapan main ya ke rumah Kakak." Mereka pun mengangguk cepat.


Christina benar-benar merasa diabaikan. Sama sekali Aska tak melihat ke arahnya.


"Bee, Papah kamu gak ikut?" tanya Gio.


Beeya menghampiri ayah dari Aska dan mencium tangannya. Segila-gilanya Beeya, dia masih tahu akan tata Krama.


"Papah lagi masuk angin, Dad. Mau istirahat katanya," jawab Beeya.


"Masih jaman masuk angin?" kelakar Gio. Beeya pun tertawa. Di mata Christina yang tidak tahu apa-apa, Beeya seperti kekasih Askara. Sungguh hatinya panas. Apalagi, Beeya yang selalu menempel kepada Aska.


"Kak, foto bareng yuk," ajak Beeya.

__ADS_1


Setelah berfoto dengan Aska, Beeya memilih duduk di sofa. Dia sibuk dengan ponsel di tangannya. Membuka sosial media miliknya dan tangannya mengetikkan sesuatu di sana.


"Pacar impian." Caption dari foto dirinya dan juga Aska yang dia posting di insta story miliknya.


Acara pun dimulai, seharusnya ada dua orang di sini yang akan tiup lilin. Akan tetapi, Aksa tidak bisa dapat hadir karena kesibukannya kuliah dan juga kerja di perusahaan sang kakek yang berada di LN. Namun, Aksa hadir di hadapan mereka semua melalui sambungan video.


Jika, sudah melihat Aksa, hati Ayanda akan bersedih. Sudah hampir tiga tahun Aksa di LN hanya beberapa kali dia bisa bertemu dengan putra pertamanya.


"Bang, apa kamu tidak rindu dengan Mommy?" Semua orang terdiam mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Ayanda. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Setiap saat, setiap detik Abang selalu rindu Mommy. Akan tetapi, Abang ini laki-laki, tanggung jawab Abang sangat besar, Mom. Ketika kuliah Abang selesai. Abang janji akan kembali bersama Mommy. Miss you so much."


Gio mengusap lembut pundak sang istri. Bukan hanya istrinya yang merindukan putra pertamanya, Gio juga merasakan hal yang sama.


"Dad, biarkan Abang mandiri di Negeri orang. Abang seorang pria, nantinya akan menjadi kepala keluarga dan akan bertanggung jawab atas istri Abang."


Ada sebuah kebanggan di hati Gio ketika Aksa berkata seperti itu. Dia akui kedua anaknya memang anak yang mandiri. Sudah memikirkan masa depan meskipun mereka masih menuntut ilmu. Acara tiup lilin pun dimulai. Semua orang sangat berbahagia. Setelah acara selesai mereka menikmati makan malam nikmat. Disela makan malam, Christo ayah dari Christina membuka suara.


"Gi, saya berniat untuk menjodohkan Aska dengan Christina."


Suasana berubah hening. Aska sudah membeku, Gio dan Ayanda malah sangat terkejut.


"Menjodohkan itu apa?" Hanya Aleena yang mampu membuka suara.


"Menjodohkan itu Om kamu menikah dengan putri Kakek, Christina," terang Christo sambil menunjuk ke arah Christina.


Bukan hanya Aleena yang melebarkan mata, Aleeya dan Aleesa mendadak terdiam


Di rumah yang berbeda, seorang yang seperti orang eskimo mendengkus kesal mendengar klakson motor di depan rumahnya. Dia terus mengumpat kesal karena bukan hanya klakson motor, ketukan pintu pun terdengar sangat nyaring.


Mata pria itu melebar ketika melihat gerombolan anak laki-laki seusia putrinya.


"Beeyanya ada, Om?" tanya mereka kompak.


"Kalian siapa?" tanya Arya bingung.


"Pacarnya Beeya," jawab kompak sepuluh anak laki-laki tersebut.


Mata Arya melebar mendengar ucapan anak-anak ini.


"Apa maksudnya?" tanya Arya lagi.


"Kami adalah pacar Beeya, pacar pertama sampai sepuluh," terang anak laki-laki yang cukup tampan.


"Kedatangan kami ke sini untuk protes kepada Beeya. Dia janji hanya akan memiliki pacar sepuluh, tapi dia malah nambah lagi satu," terang anak laki-laki bermata sipit.


Arya hanya dapat menganga tak percaya. Anaknya yang menyebalkan itu ternyata seorang pemain laki-laki.


"Beeya!" teriaknya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2