
Aska membawa pulang si triplets ke rumahnya. Di kediaman kakaknya pun tidak ada siapa-siapa hanya ada Mbak Ina. Echa berpesan supaya ketiga anaknya dititip ke Mbak Ina. Namun, Aska merasa kasihan. Biarlah ketiga anak tuyul ini tinggal dulu di kamarnya.
"Kalian di kamar Om dulu, ya. Di situ ada kertas dan juga crayon. Ada juga cat minyak. Coret-coret aja sesuka hati kalian." Ketiga anak itu pun mengangguk.
Namun, Aleesa menatap ke arah pojok kamar Aska. Dia melangkah menuju pojokan kamar dan kemudian tertawa.
"Matanya copot," ucap Aleesa seraya tertawa dan bertepuk tangan.
Aska yang sedang fokus ke laptopnya menatap heran ke arah Aleesa.
"Kakak Sa, kamu bicara sama siapa?" tanya Aska.
"Itu." Aleesa menunjuk ke arah pojokan kamar, sedangkan Aska tidak melihat apapun.
"Palingan juga setan, Om," ujar Aleeya yang sudah bermain miniatur super Hero milik Aska.
"Setan?" ulang Aska.
"Iya, teman Kakak Sa 'kan setan semua," terang Aleena yang sudah tengkurap dan menggambar hewan yang seperti si Patkai.
"Aleesa, sini," panggil Aska.
Aleesa menghampiri Om-nya tersebut. Dia menatap manik mata Aska dengan penuh tanya.
"Kamu bisa lihat hantu?" Aleesa menggeleng.
"Kakak Sa cuma bisa lihat setan," tukasnya.
Aska menghela napas kasar, hantu dan setan apa bedanya. Ketiga keponakannya ini terkadang menggemaskan terkadang juga menyebalkan.
"Memangnya di sana ada setan apa?" tunjuk Aska ke arah pojok kamarnya.
"Setan pelempuan yang bisa sulap. Bisa copotin matanya," ucap Aleesa seraya tertawa.
"Emang kamu gak takut?" Aleesa menggeleng.
"Kakak Sa punya Alloh. Kakak Sa gak boleh takut sama setan Cemen," jawabnya.
Aska mengusap lembut kepala Aleesa. Keponakannya satu ini benar-benar istimewa.
"Hei! Jangan main ke Kamal mandi," bentak Aleesa.
Aska terkejut tiba-tiba Aleesa berteriak. Dia melihat keponakannya sedang menarik-narik udara.
"Kamu tuh nakal." Aleesa menatap tajam ke arah hantu yang ada di pojokan kamar Aska. Hantu itu pun berteriak, mata Aleesa seolah memancarkan api yang dapat menghanguskan tubuhnya.
"Ampun," ucap si hantu.
"Sekalang kamu pindah ke pohon mangga yang ada di samping lumah aku. Bial kamu jadi setan yang baik."
Aska menganga ketika melihat keponakannya itu tengah berkacak pinggang sambil mengoceh. Dia mengulum bibirnya.
Apa ada setan takut sama anak kecil?
Aska tertawa di dalam hati. Dia masih belum percaya akan hal seperti itu. Dia membiarkan Aleesa dengan dunianya sendiri.
Mata Aska melebar ketika miniatur super Hero miliknya sudah dicoret-coret oleh Aleeya.
"Ya ampun, Aleeya!" seru Aska.
"Dedek bosan lihat supel man pakai celanadalam di luar. Makanya Dedek gambalin salung bial sopan." Aska tercengang mendengar ucapan Aleeya yang di luar nalarnya.
"Itu super man abis sunatan?"tanya Aska.
"Sunatan itu apa?" Aska salah bicara. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kali ini dia beralih pada keponakannya yang sangat pendiam. dibandingkan yang lain.
"Kakak Na gambar apa?"
Aleena menunjukkan gambarnya. Aska mengerutkan dahinya ketika melihat gambar yang Aleena buat.
"Boneka Mampang?"
Aleena mendengus kesal dan menatap tajam ke arah sang om.
"Ini si Choki-choki. Perutnya gendut, idungnya besal kayak si Piggy," kekeh Aleena.
Aska pun tertawa melihat ketiga keponakannya ini. Dia membiarkan keponakannya berimajinasi. Dia sendiri harus mengerjakan tugas kuliah yang sangat banyak.
Satu jam berlalu, ketiga keponakan Aska sudah merengek dan berguling-guling di atas kasur empuk milik Aska.
"Ayo, Om. Dedek lapal," ucap Aleeya.
"Kakak Sa juga, Om."
"Sebentar lagi, ya."
Ketiga keponakan Aska pun menurut saja, meskipun mulut mereka tampak terus mengoceh kesal.
"Oke, sudah selesai."
"Gak mood!" pekik mereka bertiga.
Aska pun tertawa, merajuknya si triplets sangat menggemaskan.
"Kita pulang aja," ajak Aleesa yang sudah menggendong tasnya.
"Jangan ngambek, dong. Sekarang kita ke mall. Kita beli cake cokelat kesukaan kalian," bujuk Aska.
"Benelan?" Aska pun mengangguk. Ketiga keponakannya pun bersorak gembira.
Ketika mereka sudah berada di tengah jalan, ponsel Aska berdering. Dia menepikan mobilnya terlebih dahulu. Kemudian, menjawab teleponnya.
"Iya, Pak."
....
"Kenapa dadakan?"
__ADS_1
....
"Baiklah, Pak. Saya ke sana sekarang."
"Ada apa, Om?" tanya Aleena ketika Aska sudah memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Om harus ke kampus dulu. Kalian tinggal di rumah sama Mbak Ina aja, ya." Ketiga keponakannya menggeleng dengan kompak. Aska juga tidak tega sebenarnya. Mau tidak mau dia membawa ketiga keponakannya ke kampus.
"Kalian jangan nakal, ya." Si triplets pun mengangguk patuh.
"Ada Om Upin Ipin gak?" Aska menggeleng. Ken dan Juno bukan panitia acara yang akan diadakan di kampusnya.
Tibanya di kampus, Aska menuntun ketiga keponakannya dengan sangat erat. Kaki mereka masih terluka, Aska takut mereka masih kesakitan.
"Om, ini sekolah Om?" tanya Aleeya, dengan mata yang berkeliling ke segala penjuru.
"Iya, nanti kalau kalian udah gede kalian pasti akan sekolah di tempat yang seperti ini," terang Aska.
Semua mata menatap takjub ke arah Aska. Desas desus bahwa Aska sudah memiliki anak ternyata benar adanya.
"Jadi, benar yang dikatain mantan lu itu? Lu udah punya anak?" cibir salah seorang perempuan yang sepertinya mantan dari Aska.
"Kalau iya kenapa? Lu mau jadi pelakor?" balas Aska.
Aska melanjutkan langkahnya menuju tempat rapat. Ketika dia masuk, semua orang terkejut dengan anak balita yang Aska bawa.
"Itu siapa, Ka?" tanya dosen.
"Anak-anak saya, Pak."
Inilah cara satu-satunya agar semua wanita ilfeel kepadanya. Bukan tanpa alasan, Aska sudah lelah dengan yang namanya dikejar-kejar wanita. Dia ingin hidup dengan tenang. Tanpa adanya wanita.
"Kalian duduk di sini, ya. Di dalam tas kalian 'kan ada banyak makanan. Makan itu dulu, ya."
"Iya, Ayah."
Tanpa harus diberi kode ataupun apapun, si triplets akan berakting kembali. Mereka sangat mengerti akan Om-nya yang satu ini.
Satu jam berlalu, Aska belum selesai juga. Ketiga keponakannya sudah menguap berulang-ulang. Mereka pun terlelap di lantai dengan berbantalkan tas yang mereka bawa.
"Ya ampun, anak-anak kamu baik-baik banget. Gak rewel," puji panitia yang lain.
Aska bukan merasa bangga, dia merasa bersalah karena dirinya ketiga keponakannya harus seperti ini.
"Kalau begitu, saya duluan ya, Pak."
Baru saja Aska hendak mengangkat si triplets, mata mereka terbuka.
"Sudah selesai?" tanya Aleena sambil menguap.
"Dedek lapal, Om. Pengen makan bakso," ucapnya.
"Pakai jus aplukat."
Aska pun tertawa, kemudian mengangguk menuruti kemauan ketiga keponakannya ini. Semua orang yang berada di ruang rapat tersenyum hangat melihat perlakuan Aska yang di luar ekspektasi mereka.
Aska tak menghiraukan orang-orang yang menatapnya penuh selidik. Dia benar-benar tidak peduli.
Aska melajukan mobil ke sebuah kedai bakso tempat langganannya. Ketiga keponakan Aska terlihat gembira.
"Mas, baksonya empat jus alpukatnya empat, ya."
Aska membawa si triplets duduk di meja yang kosong. Mereka terlihat sangat bahagia. Apalagi tersedia kerupuk di sana. Masing-masing dari mereka mengambil kerupuk dari kalengnya. Membubuhi kecap di atas kerupuk tersebut dan memakannya dengan nikmat.
"Ya ampun, kenapa kalian suka banget sama kerupuk sih?" Aska mengelap bibir dan pipi ketiga keponakannya yang belepotan dengan kecap.
"Ini, Mas."
Pelayan warung bakso itu menyerahkan empat mangkuk bakso dan juga jus alpukat.
"Kalian bisa makannya?" Mereka mengangguk kompak.
"Om, potongin," pinta Aleeya, dengan senang hati dia memotong kecil-kecil bakso Aleeya.
"Enak gak?" Mereka pun mengangguk.
"Om, setelah ini beli cake cokelat, ya."
Aska menggeleng tidak percaya. Perut keponakannya ini terbuat dari apa? Bakso aja belum habis sudah meminta cake cokelat.
Mereka menikmati bakso dengan sangat lahap. Apalagi si triplets yang suka sekali menyeburkan kerupuk ke kuah bakso.
"Om, jus Dedek habis."
"Mau nambah lagi?" Bukan hanya Aleeya yang mengangguk. Aleena dan Aleesa pun ikut mengangguk.
"Ya ampun, kecil-kecil rakus juga kalian," ucap Aska.
Setelah kenyang mereka sendawa berbarengan membuat Aska melebarkan matanya.
"Ayo Om, kita ke mall. Beli cake cokelat."
Aleeya sudah mengajak Aska berdiri. Begitu juga kedua kakak dari Aleeya.
"Om bayar dulu, ya."
Aska menuntun ketiga keponakannya ke kasir.
"Totalnya dua ratus lima belas ribu, Mas."
Aska terperangah mendengar total bakso yang harus dia bayar.
"Traktir cewek gak gini-gini amat," gumam Aska.
Untung saja di dompetnya ada uang dua ratus lima puluh ribu. Setelah membayar Aska pun menghembuskan napas kasar.
"Ya Allah, ngenes amat di dompet gua cuma ada uang tiga puluh lima rebu," lirihnya.
Sebelum menjalankan mobilnya dia laporan terlebih dahulu kepada sang kakak.
__ADS_1
"Baru habis segitu. Kalau ajak mereka makan di luar sediain aja y
uang di dompet satu juta. Dijamin gak ada yang tersisa."
Di belakang pesan sang kakak pun dibubuhi emoticon tertawa mengejek.
"Kudu gesek dulu ini, mah," ujar Aska.
Tibanya di mall, Aska mengajak ketiga keponakannya untuk ke ATM dulu. Uang tunai yang yang ada di dompet Aska sudah tak tersisa.
"Beli cake-nya jangan banyak-banyak, ya. Nanti dimarahin Bubu."
Si triplets seolah tidak menghiraukan ucapan Aska. Mereka sibuk memilih kue ini dan itu. Aska sedang sibuk dengan ponselnya hingga tarikan di ujung baju Aska menyadarkan Aska.
"Totalnya lima ratus dua puluh tiga lima ratus rupiah."
Aska berdecak kesal ketika mendengar ucapan dari kasir. Akhirnya dia mengeluarkan uang yang ada di dompetnya. Ternyata belanjaan ketiga keponakannya ini sangatlah banyak.
"Om, mau waffle ice cream." Aleena sudah menarik tangan Aska ke tempat penjual waffle.
"Bangkrut dah gua bangkrut," keluh Aska.
Senyuman khas ketiga keponakannya mampu membuat kemarahan Aska menguap. Meskipun dia harus mengeluarkan uang kembali hampir dua ratus ribu.
Aska memotret ketiga keponakannya yang tengah menikmati waffle.
"Hampir satu juta."
Itulah pesan yang Aska kirimkan kepada sang kakak.
"Sabar ya, Dek. Hidup ini penuh ujian."
Pesan balasan yang Echa balasan kepada Aska dan mampu membuat Aska mendengus kesal.
"Om mau?" tawar Aleena.
"Suapin dong," pinta Aska.
Aleena pun menyuapi Aska waffle miliknya.
"Enak 'kan?" tanya Aleena. Aska mengangguk.
Keponakannya adalah kelemahan bagi Aska. Dia terus menggerutu, tetapi hatinya merasa bahagia bisa menuruti semua kemauan keponakannya ini.
Setelah waffle habis, mereka pun mengajak Aska untuk pulang. Baru saja mobil berjalan beberapa meter, ketiga keponakannya sudah mendengkur halus.
"Ya ampun kalian ini," gumam Aska yang terlihat gemas kepada ketiga keponakannya.
Ketika tiba di rumahnya, Aska melihat ada mobil sang kakak ipar sudah terparkir di sana.
"Bantuin woiy!" seru Aska kepada Radit.
Aska dan Radit membawa si triplets yang sudah terlelap dengan damainya. Di rumah Gio sudah ada kamar untuk mereka bertiga.
Radit mendudukkan diri ruang televisi diikuti oleh Aska. Tangan Aska menengadah ke arah Radit.
"Apaan?"
"Gantiin uang Adek satu juta," ujarnya.
"Pelit amat sama keponakan," cibir Radit yang kini malah menghidupkan televisi.
Aska berdecak kesal mendengar cibiran Radit. Saking kesalnya, Aska meninggalkan Radit begitu saja.
"Udah kayak anak perawan aja," gumam Radit.
Sesaat kemudian, Radit mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi m-banking.
Di kamar Aska, dia yang sedang merebahkan tubuhnya menatap ke arah ponsel ketika ada suara notifikasi yang masuk ke ponselnya. Mata Aska melebar ketika melihat transferan dari Raditya Addhitama dengan nominal yang fantastis.
Aska segera turun ke lantai bawah di mana sang kakak ipar berada.
"Bang," panggil Aska.
"Hem."
"Ini apaan?" Aska menunjukkan layar ponselnya ke arah Radit.
"Buat ganti jajan si triplets," jawab Radit santai.
"Ini nol-nya kebanyakan, Bang. Mereka cuma habis satu juta bukan seratus juta," imbuhnya.
Radit menatap intens ke arah adik iparnya yang masih berdiri. Dia menepuk sofa yang sedang dia duduki. Menyuruh Aska untuk duduk bersamanya.
"Kamu sedang butuh modal 'kan?" Aska sedikit terkejut mendengar ucapan dari Radit.
"Dari mana Abang tahu?" batinnya.
"Pakailah uang itu untuk membuka kafe baru kamu di Jakarta. Abang tahu, modal kamu sudah menipis 'kan. Meminta ke Papah pun kamu pasti gak mau."
Aska tertunduk dalam. Radit mengusap pundak Aska.
"Abang salut sama kamu. Membuka usaha itu tidaklah mudah. Di mana kita akan kekurangan modal. Di mana usaha kita akan mengalami penurunan pasti itu akan terjadi."
"Terimalah uang itu. Abang gak memberikannya secara percuma, tetapi hanya meminjamkannya." Radit tersenyum ke arah sang adik ipar. Dia sangat tahu bagaimana watak dari adik iparnya yang satu ini. Tidak mau menyusahkan orang lain, meskipun itu keluarganya sendiri.
"Bagaimana Adek gantinya, Bang? Pasti butuh waktu yang cukup lama," ujar Aska.
"Santai saja. Pokoknya kamu bangun kafe cabang di Jakarta. Jika, kamu kekurangan uang Abang siap membantu."
Aska merasa tidak enak hati kepada sang kakak ipar. Aska akui Radit adalah pria yang sangat baik.
"Kamu boleh sungkan kepada Papah, tapi jangan pernah sungkan sama Abang dan juga Kakak. Kami akan selalu ada untuk membantu kamu."
"Makasih, Bang." Aska memeluk tubuh Radit.
"Janji ya, harus bisa membuat kafe cabang di berbagai daerah di Indonesia." Aska mengangguk mantap.
Beginilah harusnya sesama saudara. Tidak pernah perhitungan dalam bentuk apapun. Membantu tanpa harus diminta dan selalu ada ketika saudara lain membutuhkan.
__ADS_1