
Sakitnya Aleesa membuat hati Echa terus gelisah. Rasa takut menghantui hati dan pikirannya. Namun, sejauh ini dia tidak melihat reaksi apapun dari Aleesa. Hanya sesekali mengatakan sakit.
"Cepatlah sembuh, Bubu kangen keaktifan kalian," gumamnya.
Suaminya sudah tidur di sofa. Hanya Echa yang terjaga di depan brankar ketiga buah hatinya. Matanya seakan enggan untuk menutup. Masih setia menatap ketiga putrinya yang tengah terlelap.
"Bubu sayang kalian," ucapnya pelan.
Sedangkan di rumah, wajah Iyan sudah merah padam layaknya orang kesetanan.
"Iyan bilang apa? Jangan tunjukkan wajah menyeramkan kamu kepada Aleesa," bentaknya pada Dev.
"Kamu tahu, sekarang Aleesa sakit karena ketakutan. Jika, terjadi apa-apa dengan Aleesa ... Iyan akan mengijinkan Ayah untuk merobohkan pohon mangga itu." Semua teman Iyan menunduk dalam. Tak terkecuali Jojo. Baru kali ini Iyan marah besar kepada mereka.
Iyan keluar dari kamarnya dengan membanting pintu dengan sangat keras. Sedangkan Dev sudah terisak.
"Bukan salahmu, Dev. Ibu yakin, Aleesa memang memiliki riwayat sakit medis," ujarnya.
"Ayah ... antar Iyan ke rumah sakit," rengeknya kepada Rion di ruang kerja.
"Udah malam, Yan. Besok setelah pulang sekolah akan Ayah antar kamu ke sana. Ayah masih banyak kerjaan."
Iyan mendengus kesal dan dia meninggalkan sang ayah yang tengah berkutat dengan laptop miliknya. Bingung, Iyan harus menceritakan kepada siapa. Menelepon abangnya pun dia tidak ada jawaban. Tangannya sudah mengetik nama sang kakak, tetapi Iyan urungkan. dia takut mengganggu sang kakak.
"Yan, kasihan Dev. Jangan salahkan Dev terus," imbuh Jojo.
"Terus Iyan harus salahkan siapa? Salahkan Jojo? Salahkan Ibu? Atau salahkan Om Uwo? Jelas-jelas Dev yang menangis, sudah pasti wajahnya berubah menyeramkan dan membuat Aleesa terkejut," ucap Iyan dengan suara yang sedikit meninggi.
Jika, menyangkut keluarganya Iyan akan menjelma menjadi anak yang pemarah. Iyan sepeti pelindung untuk anggota keluarganya. Tidak ada yang boleh menyentuh keluarganya barang sedikit pun.
"Tenangkan dirimu, Yan. Aku yakin, Aleesa baik-baik saja," jelas Jojo.
Dada Iyan masih turun-naik dengan sangat cepat. Amarah masih menguasai dirinya. Beginilah marahnya Iyan. Dia bisa melakukan apapun jika sedang marah. Namun, Jojo masih bisa menahannya.
"Kita turuti ucapan Ayah. Sekarang, ibu akan melihat Aleesa ke sana."
Jojo menarik tangan Iyan untuk berbaring di atas tempat tidur. Tak lama, Iyan pun terlelap.
Di rumah sakit, semerbak harum melati sudah tercium di hidung Echa. Sentuhan lembut tangan seseorang membuatnya sedikit tersentak.
"Ibu," sapanya.
Seorang wanita dengan wajah lembut dan keibuan tersenyum ke arah Echa. Kemudian, dia menatap ke arah Aleesa.
"Maaf, Dev telah mengejutkan Aleesa," sesal Ibu.
"Dev?" Ibu pun mengangguk.
"Kemarin, ketika mereka sedang asyik bermain bersama kakek mereka. Dev sedikit merasa iri kepada Aleesa dan saudara-saudaranya. Dia ingin seperti Aleesa bermain bersama keluarganya." Echa masih terdiam mendengarkan dengan seksama.
"Kamu pasti sudah tahu bagaimana Dev jika sedang bersedih?" Echa mengangguk pelan.
"Aleesa melihat wajah Dev yang asli dan dia menangis histeris." Mata Echa melebar mendengar semuanya.
"Ja-jadi?" Ibu mengangguk.
"Anak kamu sudah memiliki kelainan pada jantung ketika pertama kali dia bertemu dengan Omanya. Namun, kamu dan keluarga kamu tidak pernah menyadari pertanda itu. Kedatangan salah seorang keluarga yang sudah tiada menandakan akan ada sebuah musibah yang akan menimpa kita. Apalagi, Omanya sampai membisikkan sesuatu di telinga Aleesa." Echa terhenyak mendengar penjelasan dari ibu.
"Pada hari inilah di mana penyakit Aleesa terbongkar karena Aleesa sangat terkejut melihat wajah Dev yang asli. Ibu harap, kamu tidak menyalahkan Dev. Dev sedang merasa ketakutan sekarang. Apalagi, Iyan yang terus memarahinya."
Echa menghembuskan napas kasar. Dia tidak mungkin menyalahkan makhluk tak kasat mata atas penyakit yang diderita Aleesa. Namun, dia juga berterima kasih kepada Dev. Berkat dia lah, Echa serta keluarga yang lain bisa mengetahui penyakit Aleesa.
"Sampaikan ucapan terima kasih Echa kepada, Dev. Berkat Dev, Echa dan suami bisa mengetahui penyakit yang sebenarnya diderita oleh Aleesa."
Ibu pun tersenyum mendengar ucapan dari Echa. Sejak pertama kali Ibu melihat Echa, dia sudah jatuh cinta. Sifat baik Echa sudah terlihat jelas. Itulah yang membuat ibu selalu menampakkan diri dengan wajah yang sangat cantik bak bidadari.
"Kamu memang anak baik," ujar ibu.
"Makasih, Bu."
Echa terbangun ketika Aleesa memanggilnya. "Astaghfirullah." Echa benar-benar takut.
"Bu, tata Sa Atut," ucapnya seraya menangis.
__ADS_1
"Ada Bubu di sini, Sayang. Jangan nangis, ya." Aleesa digendong oleh Echa dengan satu tangannya memegang infusan. Dia tidak mau membangunkan suaminya yang tengah terlelap.
Cukup lama Echa menimang-nimang Aleesa, akhirnya Aleesa terlelap juga. Dengan sangat hati-hati Echa meletakkan Aleesa di ranjang pesakitan.
"Anan tindalin Tata Sa," rancaunya.
(Jangan tinggalin Kakak Sa)
Echa memilih berbaring di brankar yang ditempati Aleesa dengan kedua tangannya memeluk tubuh putri keduanya. Lama kelamaan pun Echa terlelap. Radit yang merasakan ingin buang air segera bangun dari tidurnya. Langkahnya terhenti ketika dia melihat sang istri yang tengah meringkuk memeluk tubuh Aleesa. Hatinya sedih dan sakit. Dia melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Setelah selesai, dia memakaikan selimut ke tubuh istri dan anaknya.
"Baba akan melakukan apapun untuk kalian." Radit mengecup kening Echa dan Aleesa secara bergantian.
Sekarang, dia yang berjaga. Dia tidak tega melihat istrinya. Apalagi, kemarin Echa baru saja dipijat dan sekarang sudah harus mengalami hal seperti ini. Jika, dipaksakan akan berakibat buruk pada tubuhnya.
Pagi harinya, Echa terbangun dan mendapati Radit sudah bermain dengan Aleena dan juga Aleeya.
"Ay," panggil Echa.
"Bubu udah bangun?" tanya Radit. Dia menghampiri Echa dan mengecup keningnya.
"Kenapa gak bangunin aku?" bisiknya agar tidak membangunkan Aleesa.
"Kamu terlihat sangat lelah, Sayang. Aku gak tega banguninnya. Lagi pula Aleena dan Aleeya gak rewel juga kok. Sekarang, kamu cuci muka terus mandi. Tadi Mamah bawain baju ganti sama sarapan untuk kita semua. Katanya, hari ini Mamah ada urusan ke Bandung. Jadi, gak bisa nemenin kita di sini."
Echa pun membersihkan tubuhnya. Setelah itu berganti pakaian dan menemui suami dan ketiga anaknya.
"Kakak Sa udah bangun?" Aleesa tersenyum seraya mengangguk.
"Yuk Bubu lap dulu tubuh kalian, biar gak bau asem. Nanti pakai baju yang dibawakan Mimo. Mau?" Ketiga anaknya pun berseru dengan sangat gembira. Lengkungan senyum pun hadir di bibir Radit. Istrinya sudah bisa menerima kenyataan tentang sakitnya Aleesa.
"Baba, tolong ambilkan air dan handuk kecil."
"Siap Bubu."
Mereka berdua bekerja sama dalam hal ini. Radit yang memegang dan mengatur selang infus anaknya yang sedang digantikan baju oleh Echa.
"Sudah semua," ujar Echa.
"Tata Na inin puding buah."
"Tata Sa inin puding totlat."
"Suruh Mbak aja yang bikin, ya. Apa Bubu yang pulang dulu ke rumah?" Ketiga anaknya menggeleng.
"Anan uang," larang mereka.
"Ba, gimana dong?" tanya Echa bingung.
"Aku akan minta bantuan Mbak Nesha aja. Mbak Nesha tahu kesukaan mereka." Echa mengangguk setuju.
"Nanti, Kak Iyo dan aunty Mamih yang akan mengantarkannya ke sini. Kalian mau?"
"Mau!" teriak si triplets.
Echa dan Radit menghabiskan waktu mereka bermain bersama. Hingga dokter tiba dan memeriksa mereka semua.
"Kondisinya semakin membaik," ujar dokter.
"Bagaimana dengan Aleesa?"
"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Sudah normal semua, yang terpenting jangan kaget berlebihan."
Radit dan Echa mengangguk mengerti. Dokter memberikan obat lagi untuk ketiga anaknya. Awal mula si triplets tidak mau meminumnya. Mereka selalu bilang obatnya pahit.
"Kalau gak minum, nanti gak Bubu ajak lihat pinguin, lumba-lumba dan juga gajah."
"Inguin? Umba-umba?"
Radit menyerahkan ponsel pintarnya memperlihatkan pinguin dan atraksi lumba-lumba kepada mereka bertiga. Mereka melihat dengan serius.
"Au iyat itu, Ba." Aleeya mulai merengek.
"Tata Na, uda."
__ADS_1
"Tata Sa, uda."
"Oke, tetapi kalian harus sembuh dulu. Nanti kita ke sana dan melihat semua hewan yang ada di sini. Mau?" Mereka bertiga manggut-manggut.
"Minum obatnya dulu, ya." Kini Echa memberikan obat kepada Aleena, Radit segera memberi minum Aleena yang kepahitan. Selanjutnya kepada Aleesa obat yang berbeda dari kedua saudaranya, yang terakhir Aleeya.
"Anak pintar," puji Radit.
"Sekarang bobo, ya. Nanti ketika kalian bangun tidur makanan kesukaan kalian sudah datang."
Ketiga anak Echa dan Radit menjelma menjadi anak yang sangat penurut. Membuat Radit dan Echa semakin bersyukur memiliki mereka.
Ketika mereka semua terlelap, Radit mengajak istrinya untuk duduk di sofa. Menatap wajah lelah Echa yang nampak sangat jelas.
"Maaf ya, harusnya kamu istirahat. Malah harus jaga anak-anak." Echa tersenyum dan mengusap lembut pipi sang suami.
"Gak apa-apa, Ay. Udah kewajiban aku," ujarnya.
Echa meletakkan kepalanya di bahu sang suami dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Semalam aku bertemu dengan ibu." Radit tersentak mendengarnya. Echa melanjutkan ceritanya. Menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Kenapa Aleesa bisa sakit. Hanya hembusan napas kasar yang kuat dari mulut Radit.
"Semuanya sudah takdir Tuhan, yang penting kita harus selalu ikhtiar dan juga berdoa untuk kesembuhan Aleesa. Apapun akan aku lakukan untuk kesembuhan Aleesa dan juga kebahagiaan kalian. Baba sayang kalian." Echa semakin mengeratkan pelukannya dan Radit sudah mengecup ujung kepala sang istri.
Pintu kamar terbuka dan ternyata Rifal lah yang datang. Dengusan kesal terlontar dari bibir tipisnya.
"Gak malu sama anak lu pada," sentak Rifal.
Bukannya mendengarkan ucapan dari bujang lapuk, Echa semakin menjadi. Begitu juga Radit.
"Adik gak ada akhlak lu!" sungutnya.
"Mau ngapain ke sini? Tidak menerima curhatan," ketus Echa.
"PD gilla lu. Siapa yang mau curhat. Gua ke sini disuruh papih buat ngasih ini." Rifal memberikan satu buah black card kepada Radit.
"Buat apaan?"
"Buat biaya perawatan Aleesa. Kata Papih, bawa ke mana saja asal Aleesa sembuh. Tadinya mau Papih sendiri yang ke sini. Berhubung Papih harus terbang ke Balikpapan makanya Papih nyuruh gua ke sini," terang Rifal.
"Gak usah, Kak. Uang Echa dan Kak Radit masih cukup untuk membiayai perawatan Aleesa. Echa tidak ingin merepotkan siapapun. Nanti, ketika Echa memerlukan bantuan pasti Echa akan bilang ke Papih kok." Echa merasa sudah banyak sekali merepotkan sang mertua.
"Cha, lu tahu gimana sifat Papih. Dia tidak menerima penolakan. Lu simpan aja kartu ini. Kalau lu mau balikin, balikin sendiri ke Papih. Gua cuma hanya menjalankan amanah." Echa menatap ke arah suaminya, sebuah anggukan menjadi kode. Echa pun menerima kartu itu.
"Ketika Papih pulang, Echa akan kembalikan," tegasnya.
"Terserah lu."
Rifal berdiri dan menatap sendu ke arah tiga keponakan kesayangannya. Tangan mereka dibalut perban yang di dalamnya ada jarum infus.
"Mereka gak rewel?" tanya Rifal.
"Awal-awal aja, katanya tangannya sakit. Kalau Aleesa dadanya yang sakit." Sedih meskipun hanya mendengar penjelasan itu. Rifal memang bukan orang tua dari si triplets. Akan tetapi, dia bisa merasakan kesedihan Radit dan Echa. Mereka mampu terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Di lubuk hati mereka paling dalam, mereka pasti menangis sangat keras.
"Kalian yang sabar, ya." Radit dan Echa mengangguk. Terlihat jelas senyum mereka itu senyum penuh kepalsuan.
"Kalian orang tua yang hebat. Gua salut sama kalian. Maafin gua, karena kemarin udah maksa kalian untuk terbang ke Singapura. Jika, berakhir seperti ini gua gak akan pernah meminta kalian untuk ikut ke sana."
"Ini bukan salah siapa-siapa, Kak. Ini sudah takdir. Aleesa mengalami Aritmia karena Echa pun seusia Aleesa mengalami penyakit yang sama." Rifal baru tahu jika adik iparnya ini memiliki riwayat penyakit yang cukup mematikan.
"Wajar, jika salah satu dari ketiga anak Radit akan mengalami hal yang sama." Rifal mengerti.
"Lu perempuan hebat. Gua salut sama lu." Echa tersenyum dan memeluk tubuh sang kakak.
"Jaga keponakan gua. Jadilah ibu yang hebat untuk mereka. Gua tahu lu pasti rapuh, lu sedih dan lu sakit dengan kenyataan yang ada. Namun, gua yakin Tuhan sudah menyiapkan rencana yang indah untuk keluarga kecil lu. Lu harus bisa melalui semuanya. Lu gak sendiri, ada gua dan keluarga dari suami lu yang akan selalu berada di samping lu demi kesembuhan anak-anak lu. Jangan pernah sungkan meminta bantuan kepada gua. Selagi gua bisa membantu akan gua bantu."
Echa terharu mendengar ucapan yang sangat tulus yang keluar dari mulut Rifal. Rifal memang sudah menganggap Echa seperti adiknya sendiri karena dia sangat menginginkan memiliki adik perempuan. Tuhan menjabah doanya dengan memiliki adik ipar seperti Echa yang tak kalah gesreknya dengan dia. Namun, Rifal baru mengetahui bahwa kegesrekan yang Echa miliki hanya sebagai topeng untuk menutupi sakit yang dia derita.
"Lu juga bisa sembuh, pasti anak lu bisa sembuh juga. Jangan pernah menyerah dan lakukan yang terbaik untuk Aleesa. Dia adalah berlian langka milik kita semua. Gua percaya, lu bisa mendampingi Aleesa hingga dia dinyatakan sembuh oleh dokter. Tetap kuat, dan percaya mukjizat itu pasti ada. Usaha dan berdoa juga jangan pernah putus. Hasilnya, barulah kita serahkan kepada yang di atas."
Baru kali ini Echa mendapat ucapan yang sangat menyentuh hati dan sanubari dari seorang Rifal Addhitama. Semua anak Addhitama memang memiliki karakter kuat. Meskipun, sifatnya berbeda-beda. Echa juga tahu, Rifal adalah pria baik dan tulus. Dia sangat bersyukur memiliki kakak ipar seperti Rifal.
"Iya Kak. Echa harus berusaha kuat." Suara Echa terdengar sangat berat menahan haru dan juga bahagia. Benar kata Radit, dia tidak sendiri. Ada banyak orang yang menyayanginya Aleesa dan dirinya.
__ADS_1