
Kita sudahi kisah Aska karena dia memiliki cerita tersendiri. Kini fokus kembali kepada kisah si triplets dan juga keluarganya.
Walaupun Rion sudah berterus terang perihal rasa tidak sukanya kepada ibu Vina, tetapi ibu Vina tak pantang menyerah. Dia malah mendekati Iyan sekarang.
Feeling Iyan lebih tajam dari orang sekelilingnya. Awalnya Iyan yang bahagia dengan kedatangan bu Vina kini malah sebaliknya. Apalagi, Bu Vina selalu menanyakan perihal ayahnya.
"Maaf, Bu. Iyan dan kedua kakak Iyan sudah bersepakat untuk tidak menerima orang baru dalam keluarga Iyan. Kami sudah bahagia meskipun tanpa seorang ibu. Ada Kakak yang menjadi ibu untuk Iyan dan juga Kak Ri," jelasnya.
Bu Vina terdiam mendengar ucapan Iyan. Anak di hadapannya seolah tahu tentang perasaannya.
"Iyan, ibu hanya ...."
"Dari sorot mata Bu Vina saja Iyan sudah mengerti apa maunya ibu. Iyan memberitahunya terlebih dahulu agar nantinya ibu tidak kecewa karena ditolak ayah," potongnya.
"Kalau begitu, Iyan permisi."
Iyan sudah tidak ingin menerima kandidat ibu untuknya. Baginya hanya Amanda ibunya. Ada juga kakaknya yang akan selalu menjadi tempat sandaran untuknya.
Sore ini, Iyan duduk termenung di bawah pohon mangga ditemani angin sepoi-sepoi.
"Kenapa?" tanya Jojo.
Iyan tidak menjawab, dia memejamkan matanya dan hatinya terus memanggil ibu. Tante kunkun yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
Wangi semerbak melati menusuk hidung Iyan. Bibirnya melengkung tipis. Dia merasakan halusnya tangan sang ibu.
"Ada apa? Sudah lama kamu tak memanggil Ibu," ujarnya. Iyan tersenyum.
Tanpa Iyan memberi tahu, ibu tahu apa yang tengah dirasakan oleh Iyan.
"Apa kamu takut? Jika, ayah kamu akan lebih mencintai ibu tiri kamu?" tanya ibu to the point.
"Iyan hanya tidak ingin seperti Kakak. Sudah cukup Kakak yang merasakannya. Iyan tidak ingin," jawabnya.
Ibu merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketika ayahnya menikah lagi maka ayahnya akan fokus pada istri barunya. Apalagi, jika sudah memiliki anak. Sudah pasti kasih sayangnya akan tercurah pada anak itu.
Sudah cukup Echa saja yang merasakan menjadi anak yang serba kekurangan kasih sayang. Difitnah oleh ibu sambungnya dan juga adiknya.
Ibu mengerti apa yang dipikirkan oleh Iyan. Lagi pula dia juga melihat ayah dari Iyan tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan wanita lagi. Seperti memiliki trauma.
Malam hari, ketika Iyan sedang asyik bermain PS dengan Radit, Mbak Ina mengatakan bahwa ada Bu Vina di luar. Iyan pun mendengkus kesal.
__ADS_1
"Abang, tolong bilang ya. Ayah gak ada," tutur Iyan.
"Emang Ayah gak ada 'kan." Radit tidak mengerti dengan ucapan sang adik ipar.
"Nanti Bu Vina malah nungguin ayah," jelas Iyan.
Raut wajah Iyan sudah sangat memelas membuat Radit tidak tega. Dia menganggukkan kepala dari pada dia mengganggu sang istri yang tengah dipijat oleh tukang pijat langganannya. Begitu juga dengan si triplets yang ikut dipijat di kamar mereka.
Radit menghampiri Bu Vina. Seulas senyum dia berikan kepada Radit.
"Selamat malam, Pak Radit." Radit mengangguk pelan.
"Maaf Bu, istri saya sedang istirahat. Dia sedang dipijat tidak ada ya g boleh mengganggunya," tukas Radit.
"Bukan Pak Radit, saya ingin bertemu dengan Pak Rion."
Iya yang mendengar ucapan bu Vina melebarkan matanya. Hanya helaan napas kasar yang dia keluarkan.
"Benar-benar," gumamnya.
"Maaf Bu, ayah mertua saya juga belum pulang. Masih ada pertemuan penting dan kemungkinan pulang malam," terang Radit.
Bu Vina tetap bersikukuh ingin menunggu Rion. Radit tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik, dia menghindari Bu Vina dan menemani sang istri yang tengah asyik dipijat.
"Abaikan saja, Ay. Aku lelah." Suara Echa terdengar sangat lemah.
"Mbak, istri saya tidak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Radit.
"Tidak, Mas. Hanya kelelahan saja. Banyak urat yang meringkel," jawab si tukang pijat.
Radit mengusap lembut rambut sang istri. Echa merasa disayangi sepenuh hati.
Di lain kamar, ketiga anak Echa sudah mendengkur ketika punggung dan kaki mereka dipijat oleh teraphist khusus anak. Sungguh kenyamanan yang mereka rasakan. Tiga therapist yang bertugas pun tertawa melihat tingkah lucu ketiga anak itu.
"Anak-anak super aktif," imbuh salah seorang therapist.
"Iya, urat-urat meraka juga pada tegang," balas therapist yang lain.
Sedangkan di ruang televisi, Iya. masih memantau gerak-gerik Bu Vina. Dia hanya ditemani secangkir teh yang Mbak Ina letakkan di atas meja. Iyan terus merapalkan doa semoga ayahnya pulang tengah malam.
Setengah jam berlalu, deru suara mesin mobil terdengar. Iyan mendengkus kesal. Iyan yang sedari tadi mengintip, memicingkan matanya ketika melihat ayahnya tidak sendiri. Senyumnya merekah ketika dia datang bersama sang mommy. Ada kelegaan di hati Iyan.
__ADS_1
Namun, berbeda dengan Iyan. Bu Vina menatap kesal ke arah wanita yang Rion gandeng. Langkah wanita itu terhenti ketika melihat BunVuna yang sudah menatapnya dengan sanagt tak bersahabat.
"Loh kok berhenti, Dek. Ayo!" Rion mengulurkan tangannya ke arah Ayanda. Disambut hangat oleh mantan istrinya tersebut.
"Mommy!" panggil Iyan.
Ayanda segera merentangkan tangannya dan memeluk tubuh Iyan.
"Ayah jemput mommy di Bandara?" tanya Iyan.
"Iya."
Ayanda bagai ibunda untuk Iyan. Kelembutannya membuat Iyan nyaman.
"Tampan sekali anak terakhir Mommy," ujar Ayanda.
Dada Bu Vina semakin bergemuruh mendengar perkataan Iyan dan juga wanita yang Iyan panggil mommy."
Iyan mengajak Ayanda untuk menjauh dari tempat itu. Diikuti oleh oleh Rion yang tak mengeluarkan kata sedikit pun.
Namun, wanita itu bukannya pergi malah menatap nyalang ke arah Ayanda. Penampilannya pun lebih cantik Ayanda dibandingkan Bu Vina.
Dia masih setia menunggu Rion. Dia sangat yakin bahwa Rion akan turun dan menemuinya lagi. Ingin rasanya Mbak Ina mengusir tamu itu, tetapi dia takut lancang. Mbak Ina memebiarkannya saja.
"Sampai mana batas kesabarannya," gumam Mbak Ina .
Dari arah luar terdengar sifat benda terjatuh. Bu Vina segera berlari keluar ternyata motor kesayangannya sudah tergeletak begitu saja. Mbak Ina segera mengunci pintu rumah Rion dan mematikan semua lampu. Dia terkikik geli.
"Pasti ulah duo poci itu," gumam Mbak Ina.
Lontong putih yang sengaja menyerudukkan diri mengeluh kesakitan. Dia tersungkur ke depan hingga wajahnya mencium aspal. Anteu poci malah tertawa terbahak-bahak.
Bu Vina mendengkus kesal.ketika melihat lampu sudah dimatikan semua.
"Kenapa pada gak suka sama aku sih? Apa kurangnya aku sama perempuan tadi?"
"Kurang ngaca diri lu!" jawab om poci.
"Si Mamih Mah bibit unggul, lu mah bebek sawah," sungutnya kesal.
Wajah Om poci malah terkena kanlpot motor Bu Vina yang menghitam.
__ADS_1
"Udah gosong makin gosong deh." Anteu poci terbahak-bahak melihat o
wajah Om poci seperti arang.