
Semakin hari anak-anak Echa semakin tumbuh dengan sangat sehat. Sekarang, mereka sudah memasuki usia tiga bulan. Sudah bisa diajak berbicara dan juga senang mengoceh layaknya burung.
Dari ketiga anaknya, hanya Aleeya yang terlihat cerewet. Dia selalu mengajak siapapun orang di depannya mengobrol.
"Kenapa cucu Engkong? Pengen digendong, ya. Nanti ya, Engkong mandi dulu." Begitulah ucapan Rion setelah dia pulang kerja.
Lelah dan pusing dalam menghadapi pekerjaan akan sirna ketika melihat ketiga cucunya sudah wangi dan menatapnya dengan ceria.
"Ayah, makan dulu," titah Echa yang sudah membawa tiga buah botol susu di tangannya.
"Nanti saja, Dek." Rion sedang asyik bermain-main dengan tiga cucu cantiknya.
Echa hanya menggeleng jika sudah mendengar jawaban seperti itu. Tidak dipungkiri, hatinya juga bahagia karena sang ayah sudah bisa melupakan istrinya yang meninggalkan tragis.
Bersamaan dengan kelahiran si kembar, ibu sambung dari Echa melahirkan anak berjenis kelamin laki-laki. Namun, ayah biologis anak yang ibu sambungnya kandung bukan anak dari Rion. Melainkan anak dari paman Radit.
Takdir Tuhan kita tidak pernah bisa menebak. Begitu juga bagaimana sang ajal menjemput kita nantinya. Seperti ibu sambung Echa, kisah kepergiannya layaknya sinetron azab. Benar-benar disiksa di dunia. Beliau meninggal dengan cara sangat tragis. Setelah anak kandungnya yang baru berusia dua minggu terlindas mobil dan meninggal di tempat. Hidup ini seperti tanam-tuai.
Duka masih menyelimuti hati kedua adiknya. Berbeda dengan Rion, yang mudah untuk move on dari sang istri yang sudah meninggal. Echa pun banyak mendengar jika sang ayah sudah menjadi buah bibir di area kompleknya. Dia dijuluki sang duren sawit. Duda keren sarang duit.
"Tadi, ada yang nanyain Ayah," ujar Echa sambil mengunyah buah.
"Siapa?"
"Katanya wanita yang sering senam aerobic di lapangan komplek depan," jawabnya.
"Gak tahu, yang senam aerobik banyak, Dek."
Echa hanya berdecak kesal dan sudah menatap nyalang ke arah sang ayah.
"Jangan bilang kalo Ayah ganjen. Goda-godain mereka," tuding Echa.
"Astaghfirullah, Dek. Selalu saja suudzon sama Ayah." Rion menggelengkan kepalanya dengan perasaan heran.
__ADS_1
"Wajar kalo Echa curiga. Ayah 'kan mantan buaya rawa. Awas aja kalo Echa lihat Ayah lenjeh. Echa akan pergi dari rumah ini dan memilih tinggal di Aussie."
"Tuh 'kan ngancem," keluh Rion.
Keluhan Rion mendapat tertawaan dari Aleeya yang sedari tadi mengoceh.
"Ayah udah tobat, Dek. Hati Ayah sudah mati. Ayah hanya menyayangi kalian bertiga serta cucu-cucu Ayah. Kalianlah harta paling berharga yang Ayah miliki," terang Rion sambil menatap wajah Echa.
"Pernikahan pertama, Ayah menyakiti hati mamah kamu. Di pernikahan kedua Ayahlah yang dikhianati oleh bunda kamu. Hanya satu kata trauma. Ayah masih trauma, Dek."
"Tanpa seorang pendamping hidup. Ayah yakin akan bisa bahagia bersama kalian." Echa tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Echa tidak ingin Ayah tersakiti lagi," tuturnya.
Rion tahu akan hal itu. Dia berniat untuk menutup hatinya untuk wanita manapun. Usianya sudah tidak muda lagi. Dia tidak ingin menelan kekecewaan lagi dan lagi. Meskipun tanpa seorang istri. Rion bahagia dengan anak dan cucunya yang selalu memberikan warna di dalam hidupnya.
Saking gemasnya terhadap ketiga cucunya. Rion menggendong tubuh si mungil Aleeya. Tawa terus merekah di wajah sang cucu yang sangat bahagia digendong oleh sang engkong.
Dut.
"Kok bau asem kayak poop kucing," gumamnya. Lagi-lagi Aleeya tertawa.
"Dek," panggil Rion.
Echa menghampiri sang ayah dengan secangkir kopi di tangannya.
"Ini anak kamu rada bau asem. Terus kentut gede banget lagi," terangnya.
Echa meletakkan cangkir kopi di atas nakas. Kemudian mengambil alih Aleeya. Echa pun tersenyum geli melihat isi dari popok Aleeya.
"Aleeya betah sama ayah," imbuhnya seraya tertawa.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Dia sudah mengeluarkan emas yang sangat berharga yang ada di dalam perutnya." Rion menganga tak percaya.
Echa membawa Aleeya ke kamarnya untuk membersihkan Aleeya. Ternyata Rion mengikuti Echa dari belakang.
"Kamu gak jijik?" Pertanyaan yang membuat Echa menoleh ke arah sang ayah.
"Kenapa harus jijik? Sudah kewajiban kita untuk mengurus mereka. Ketika Echa tua nanti gantian mereka lah yang akan mengurus Echa."
Sebuah jawaban yang membuat hati Rion terenyuh. Tidak ada yang salah dari perkataan Echa. Dia merasa bangga atas ucapan yang dilontarkan oleh putrinya.
"'Kan Ayah gak ngerawat kamu waktu kecil. Kenapa kamu mau ngerawat Ayah sekarang?" Suara Rion terdengar sangat berat.
Echa yang sedang mengelap bokong Aleeya dengan tisu basah pun menatap ayahnya dengan penuh cinta.
"Tidak ada anak yang tidak sayang dengan orang tua. Selagi Echa mampu, Echa akan merawat Ayah serta kedua adik Echa. Ini berlaku bukan hanya untuk ayah saja. Untuk Mamah dan juga si kembar."
"Itulah alasan Echa kenapa Echa harus bisa mandiri. Bekerja sambil kuliah. Menunda menikah untuk bekerja terlebih dahulu. Echa ingin memiliki tabungan masa depan untuk membiayai hidup kedua orang tua Echa. Tidak selamanya Ayah dan Mamah sehat 'kan. Meskipun Mamah sudah memiliki suami kaya raya. Echa masih memiliki kewajiban untuk merawat Mamah dan membahagiakan Mamah."
Perasaan Rion campur aduk mendengar ucapan Echa. Anaknya yang sangat luar biasa. Tidak pernah menyusahkan dan selalu membanggakan.
"Harta suami Echa memang sudah sepenuhnya milik Echa. Alangkalh ebih enak lagi Echa membahagiakan Ayah dan Mamah dengan uang hasil keringat Echa sendiri," jelasnya lagi.
"Ayah jangan punya pikiran macam-macam. Echa senang dan ikhlas bisa tinggal bersama Ayah di rumah ini. Lagi pula rumah Ayah yang dalam proses penjualan itu memiliki kenangan yang pahit. Echa tidak ingin Ayah tenggelam di dalamnya. Uang hasil jual rumah itu pun akan Echa serahkan kepada Ayah. Untuk tabungan hari tua Ayah."
Sungguh bahagia sekali hati Rion memiliki anak seperti Echa. Anak adalah harta yang paling berharga yang harus orang tua lindungi. Ketika renta dan senja hadir, anaklah yang akan merawat tubuh orang tuanya.
"Masih ada hak kamu di dalamnya, Dek," ujar Rion yang masih membahas masalah uang rumah yang nantinya dia dapatkan.
Echa hanya tersenyum, menatap sang ayah dengan tatapan teduh.
"Simpanlah uang itu untuk kebutuhan Ayah, Iyan serta Riana. Masa depan kedua adik Echa masih sangat panjang. Echa tidak butuh uang Ayah. Echa hanya butuh Ayah bahagia bersama Echa di sini. Bersama ketiga anak Echa serta suami Echa."
Tidak ada kata yang mampu Rion ucapkan kepada putri sulungnya. Kasih sayang yang dimiliki Echa sangatlah besar dan tulus untuk sang ayah serta mamahnya. Kini, saatnya Echa berbakti kepada kedua orangtuanya. Dengan cara membahagiakan mereka dengan kemampuan yang dia miliki.
__ADS_1
...****************...