Yang Terluka

Yang Terluka
Keterpurukan Iyan


__ADS_3

Setelah kejadian di rumah Tere, Echa sedikit percaya tentang hal tak kasat mata. Apalagi Tere seperti orang gila ketika malam itu. Akhirnya, Tere dibawa keluar negeri oleh papahnya untuk berobat di sana.


Sudah tiga malam ini, Echa selalu melihat Aleesa yang melambaikan tangan ke arah pohon mangga dari balik pintu kaca. Terkadang Aleesa tertawa sendiri juga. Rasa penasaran menghampiri Echa.


"Kakak Sa," panggil Echa.


Aleesa segera menoleh ke arah Echa dan tersenyum. Echa menghampirinya dan berjongkok di hadapan Aleesa.


"Lagi lihat apa?" Hanya seulas senyum yang Aleesa berikan.


"Apa ada Devandra di sana?" Lagi-lagi hanya senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaan Echa.


"Dia gak akan jawab, Kak." Iyan pun bersuara.


Kemudiaan, Echa menghampiri adik laki-lakinya itu. Duduk di samping Iyan yang masih fokus dengan gadget di tangannya.


"Aleesa sedang menyapa siapa?" tanya Echa dengan arah pandang kepada Aleesa yang terus melambaikan tangan.


"Itu Om Uwo penunggu pohon mangga. Dia senang sekali mengajak Aleesa main dan bercanda," jawab Iyan tanpa melepaskan pandangannya pada gadget.


"Om Uwo itu makhluk apaan?" Baru kali ini Echa penasaran dengan makhluk-makhluk tak kasat mata.


"Kayak king Khong gitu, Kak. Berbulu hitam lebat wajahnya serem." Bulu kuduk Echa mulai meremang. Ada ketakutan yang menyelimuti dirinya sekarang.


"Jangan takut, Om Uwo tahu batasan kok. Teman-teman Iyan gak akan pernah masuk ke dalam rumah kecuali Ibu yang mengijinkan," terangnya.


Ibu, Radit pernah berbicara tentang ibu. Siapa yang Iyan panggil dengan ibu itu?


"Kalau Kakak boleh tahu, ibu itu siapa? Abang pernah bilang seperti itu kepada Kakak," tuturnya.


Iyan meletakkan gadgetnya, dia menatap manik mata Echa dengan penuh cinta.


"Sosok yang lembut seperti Kakak," ucapnya seraya tersenyum.


"Maksudnya?"


"Ibu adalah penunggu pohon besar di rumah lama kita. Iyan kenal Ibu dari Jojo."


"Jojo? Siapa lagi?" Echa benar-benar dibuat pusing oleh Iyan.


"Jojo adalah teman Iyan. Dia selalu ikut Iyan ke mana pun Iyan pergi. Dia juga akan melindungi Iyan jika ada orang jahat. Dia juga lah yang menyelamatkan Iyan ketika Iyan panas tinggi di dalam gudang yang pengap," terangnya.


"Dari Jojo lah Iyan mengenal ibu. Sosok yang sangat lembut yang selalu memberikan kasih sayang yang tulus kepada Iyan meskipun Iyan tidak mendapat kasih sayang dari ibu kandung Iyan. Ibu selalu bersenandung dan mengusap lembut rambut Iyan bagai putranya sebelum tidur. Ibu selalu ada ketika Iyan merasa kesepian. Menemani Iyan bermain dan juga belajar," ungkapnya.


Hati Echa terasa sakit mendengar penuturan adik bungsunya ini. Kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya membuat Iyan harus mengalami hal seperti ini.


"Apa ibu ikut Iyan pindah ke sini?" Iyan menggeleng. "Ibu hanya datang ke sini ketika Iyan memanggilnya. Ibu masih di tempat lama karena Ibu juga memiliki banyak teman di sana. Ibu tidak ingin pindah dari rumah lamanya."


Echa mengusap lembut kepala Iyan dengan hati yang sangat sakit.


"Belaian Kakak sama seperti belaian lembut tangan ibu. Suara lembut ibu mampu membuat Iyan tenang."


Sungguh sedih hati Echa mendengarnya. Dia memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat.


"Kakak jangan menangis. Iyan tidak apa-apa," ujar Iyan, seraya mengusap lembut air mata Echa.


"Ibu ada di samping Kakak." Mata Echa melebar mendengar ucapan dari Iyan.


"Wangi bunga melati menandakan ibu datang. Ibu datang untuk mengucapkan terima kasih kepada Kakak." Iyan mengulurkan tangannya pada Echa. Anggukan kecil menandakan bahwa Echa harus menyambut uluran tangannya. Ketika tangan Echa bertaut dengan tangan Iyan, mata Echa berkaca-kaca melihat sosok di sampingnya.


Sosok itu tidak menyeramkan. Dia memakai baju putih bersih, rambut digerai indah dengan mata yang teduh. Senyum yang terus terukir indah di wajah cantiknya.


"Makasih telah menjaga Iyan," ucap Echa yang tak kuasa menahan haru.


"Iyan adalah anak istimewa. Aku akan terus menjaga Iyan hingga dia benar-benar bisa mengurus dirinya sendiri. Iyan masih membutuhkanku. Kamu tidak keberatan 'kan jika aku menjaganya serta putri kamu yang cantik itu?" Suara yang lembut membuat siapapun yang mendengarnya merasa tenang.


"Aku tidak masalah yang terpenting kamu tidak menyakiti putriku." Sosok perempuan itu tertawa.


"Aku tidak akan pernah bisa menyakiti putrimu. Akan tetapi, putrimu bisa mencelakai makhluk seperti kami. Makanya, semua makhluk di rumah ini takut kepada putrimu. Mereka memilih pergi dari pada harus berurusan dengan putrimu," terangnya.


Echa pun tersenyum ke arah sosok perempuan itu dan mengucapkan banyak terima kasih. Tangan Iyan pun dia lepaskan karena energinya hampir habis. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala sofa.


"Ibu cantik, ya." Iyan hanya mengangguk.


Setelah pertemuannya dengan ibu, Echa mulai percaya akan sosok tak kasat mata yang melindungi Iyan. Ditambah ketiga anaknya seakan nyaman menghabiskan waktu siang mereka di bawah pohon mangga. Apalagi Aleesa yang seakan bahagia di sana. Tertawa dan berlarian seorang diri. Sedangkan Aleena dan Aleeya asyik dengan mainan masak-masakan.


"Emang belum pada capek?" Mereka bertiga menjawab belum dengan serempak.


Echa menatap ke atas pohon. Pohon yang katanya menjadi rumah untuk para sahabat Iyan.

__ADS_1


Apa benar di sini ada penghuninya?


Sebuah bunga mawar putih terjatuh di depan Echa. Terkejut sudah pasti. Dia sedang berada di bawah pohon mangga bukan di depan kebun bunga.


"Nga li Dev," ucap Aleesa.


(Bunga dari Dev)


"Dev?" Aleesa mengangguk pelan.


"Men tata Sa," imbuh Aleesa lagi


(Temen Kakak Sa)


"Apa Kakak Na dan Dedek Ya bisa lihat Dev?" Aleesa menggeleng.


"Apa Dev nakal?" Aleesa pun menggeleng lagi.


"Aik, Dev aik ya, Dev," oceh Aleesa, sambil melihat ke arah kanannya yang tidak ada siapa-siapa.


Mulai hari ini, Echa harus bisa mengerti keistimewaan Aleesa. Dia juga akan meminta sang suami untuk mengarahkan keistimewaan putri keduanya. Setelah mereka lelah bermain, mereka mengajak Echa masuk ke dalam. Tidak lupa Aleesa melambaikan tangan ke arah pohon mangga seolah berpamitan.


Seperti biasa mereka akan menaruh mainan kotornya di luar. Sedangkan mereka mengantri mencuci tangan dan kaki di keran air yang berada di samping halaman.


"Bu, aus," ujar Aleeya.


Ketiga anak Echa sudah di posisi tiduran menandakan mereka ingin tidur siang. Sebotol susu sudah ada di tangan mereka masing-masing. Mata sayu mereka sudah terlihat. Tanpa menunggu lama mata mereka terpejam. Echa mengecup kening ketiga anaknya secara bergantian. Hatinya damai ketika melihat anak-anaknya seperti ini. Echa adalah ibu yang sangat beruntung karena telah melahirkan seorang anak yang akan menjadi pelindung untuk keluarga kecilnya. Aleesa Addhitama, putri kedua dari Echa yang memiliki keistimewaan.


Malam hari, ketika anak-anak Echa sudah terlelap dan Radit masih bergelut di ruang kerjanya, Echa masuk ke dalam kamar Iyan. Ternyata adiknya itu sedang mengerjakan PR.


"Apa Kakak ganggu?" Iyan menoleh ke arah sang kakak dengan tersenyum gembira.


"Enggak, kok. Iyan kerjain PR dulu ya, Kak." Echa mengusap lembut kepala sang adik tercinta.


Jika, Echa melihat Iyan akan ada air mata yang menetes membasahi pipinya. Anak yang menyaksikan kepergian sang bunda dengan matanya sendiri. Anak yang tidak terlihat menangis ketika sang bunda pergi. Dia lah Rian Dwi Putra Juanda.


"Ada apa, Kak?" Suara Iyan membuat Echa segera menghapus ujung matanya yang sudah berair.


"Kakak boleh nanya sesuatu?"


"Tentang ibu?" sergah Iyan. Echa menggeleng.


"Iyan tidak pernah bertemu dengan Bunda. Iyan juga tidak tahu Bunda berada di mana. Kata Ibu, yang tahu keberadaan Bunda hanya Devandra."


"Apa kamu sudah menanyakan hal itu kepada Dev?" Iyan mengangguk. "Dev tidak akan pernah menjawab. Jika, pertanyaan itu Iyan lontarkan Dev akan menghilang."


Kening Echa mengkerut mendengar penuturan dari Iyan. "Apa Dev marah?"


"Kata Om Uwo, jika Dev sedih Dev akan pergi ke rumah ayahnya. Akan menangis bersama di sana." Hati Echa bagai ditusuk belati tajam. Sakit mendengar ucapan Iyan.


"Kakak tahu, jika Dev bersedih wajahnya akan berubah seperti dia meninggal." Mata Echa membola mendengar penjelasan dari Iyan.


"Makanya, dia tidak ingin menakuti Aleesa. Dia ingin terlihat tampan di depan Aleesa," terang Iyan.


Echa memang tidak melihat jelas bagaimana kondisi Dev ketika meninggal. Akan tetapi, dia mendengar dari Radit bahwa sebagian tubuh Dev hancur. Wajar sampai saat ini Satria masih bersedih akan kepergian Devandra.


"Iyan, kata Bang Radit ada dua anak kecil yang menjaga Aleesa. Apa benar?" Iyan mengangguk.


"Siapa anak itu?"


"Iyan tidak tahu. Kami semua tidak bisa melihat wajah anak-anak itu. Wajahnya hanya cahaya putih yang terang dengan jubah putih yang sangat bersih. Mereka selalu ada di samping Aleesa menjadi pelindung Aleesa. Kata ibu, penjaga Aleesa adalah anak Ambar."


"Anak Ambar?" ulang Echa.


"Ya, anak yang keguguran itu disebut anak Ambar. Anak Ambar jaminannya surga. Katanya ... anak Ambar juga bisa menolong orang tuanya ketika di akhirat nanti. Apa Kakak pernah keguguran?" Echa mengangguk.


"Tapi ... kakaknya si triplets cuma satu," jelas Echa.


Iyan tersenyum lalu, mengusap lembut tangan sang kakak. Namun, ada sebuah bayangan yang memperlihatkan Kakaknya sedang dikelilingi orang-orang berpakaian hijau dan semua orang yang berada di luar tampak marah. Iyan segera melepaskan genggamannya dan merahasiakannya.


Semoga bukan pertanda buruk.


"Kamu kenapa, Yan?" Iyan tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Maaf ya, kalau Kakak banyak tanya," sesal Echa.


"Tidak apa, Kak. Iyan malah senang karena bukan hanya Abang yang percaya akan kelebihan Iyan."


Echa memeluk erat tubuh sang adik. Mengusap lembut punggung Iyan dan berjanji dalam hatinya untuk menyayangi Iyan seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


Setelah Echa keluar dari kamar Iyan. Jojo duduk di samping Iyan dengan senyum hangatnya.


"Kakakmu baik," ujarnya.


"Aku tahu."


Iyan terdiam sejenak, kemudian menatap tajam ke arah Jojo.


"Jo, ketika aku memegang tangan Kak Echa. Terlihat Kak Echa sedang dikelilingi dokter. Keluargaku yang lain terlihat sangat marah. Itu apa artinya, Jo? Kakakku tidak akan kenapa-kenapa 'kan?" Jojo hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.


"Jo, jawab pertanyaan aku?" palsa Iyan.


"Kamu itu anak istimewa. Banyak yang kamu miliki selain bisa melihat makhluk seperti aku," terang Jojo.


"Maksudnya?"


"Nanti kamu akan mengerti sendiri apa maksudku." Jojo pun menghilang membuat Iyan mendengus kesal.


Iyan masih terduduk di samping tempat tidur. Dia melihat ke arah nakas. Di mana ada foto keluarganya berempat. Minus sang kakak pertama.


"Iyan ingin bertemu Bunda," lirihnya.


Iyan memeluk foto tersebut, tak terasa bulir bening menetes begitu saja membasahi wajahnya.


Bagaimana pun perlakuan Amanda terhadap Iyan dulu, tak mampu membuat Iyan membenci wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Dia masih ingat akan keinginannya yang sangat sederhana, yaitu ingin dipeluk bunda. Sungguh malang nasib Iyan. Belum merasakan hal itu, sang ibu telah pergi untuk selama-lamanya.


Apa kamu tidak sedih?


Pertanyaan dari semua orang kepadanya, ketika sang ibu ditimbun dengan tanah.


"Bukannya Iyan gak sedih. Iyan hanya tidak ingin melihat Ayah dan Kak Ri semakin sedih," gumamnya.


Iyan bangkit dari duduknya dan meletakkan bokongnya di kursi meja belajar. Selembar kertas kosong dan juga pena sudah ada di hadapan Iyan.


Bunda ...


Tidak bisakah Bunda menunjukkan arwah Bunda di hadapan Iyan? Iyan ingin melihat Bunda. Iyan rindu Bunda.


*Ketika Iyan bisa melihat makhluk tak kasat mata. Kenapa Iyan tak bisa melihat dan bertemu Bunda? Kenapa hanya Dev yang mampu melihat Bunda? Kenapa Bunda?


Iyan sudah jadi anak penurut, gak pernah ke luar rumah. Iyan gak pernah membantah ucapan Kakak dan Ayah, tapi kenapa Bunda gak datang juga? Apa Bunda masih benci Iyan? Apa salah Iyan Bunda*?


Ketika Iyan rindu bunda, Iyan hanya bisa memandang foto kita berempat. Hanya itu yang Iyan miliki. Iyan tidak memiliki kenangan banyak bersama Bunda. Bunda selalu menghabiskan waktu bersama Kak Ri. Sedangkan bersama Iyan ... ?


Bunda selalu bilang, Iyan anak laki-laki. Iyan gak boleh manja. Harus bisa mandiri jangan cengeng. Iyan udah melakukan itu Bunda, Iyan mohon tolonv tunjukkan arwah Bunda ...


(Tetesan air mata membasahi kertas itu)


Iyan selalu iri ketika Bunda hadir di mimpi Kak Ri. Kenapa Bunda masih pilih kasih? Iyan juga anak Bunda. Iyan sayang Bunda. Iyan tidak pernah membenci Bunda meskipun Bunda selalu membeda-bedakan Iyan.


Tangan kecil itu tidak sanggup lagi menulis. Dia menangis sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja. Hingga air matanya membasahi kertas tersebut.


"Iyan kangen Bunda," lirihnya.


Ada waktunya Iyan akan rapuh seperti ini. Namun, kerapuhan Iyan tidak diketahui oleh keluarganya. Hanya Jojo dan ibu yang tahu. Mereka akan membiarkan Iyan seperti ini. Menangis sendiri hingga dia terlelap. Ketika Iyan menangis, Dev akan menghilang. Itu bertanda Dev juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Iyan.


Echa dan Radit yang tengah terlelap dikejutkan dengan lemparan bunga melati di tubuh mereka. Aroma melati sangat menusuk hidung mereka berdua. Bulu kuduk mulai meremang dan Echa menggenggam kuat tangan Radit.


"Ibu? Kenapa Ibu mengganggu kami?" Radit berucap dengan pelan.


Tiba-tiba pintu kamar Radit terbuka sendiri membuat Echa semakin ketakutan. Di lantai berserakan bunga melati seperti jejak. Radit mengajak Echa untuk bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Benar saja, melati itu bagai jalan yang harus mereka berdua itu ikuti. Melati itu berhenti di depan kamar Iyan. Radit melihat ke arah Echa dan dijawab anggukan olehnya.


Mereka berdua tidak melihat Iyan di atas tempat tidur. Namun, mata mereka melebar ketika melihat Iyan tengah tertidur dalam keadaan duduk dengan berbantalkan meja belajar. Echa yang hendak membangunkan Iyan dilarang oleh Radit. Radit memindahkan tubuh Iyan dengan sangat hati-hati ke atas tempat tidur.


Terjatuhnya tempat pulpen di atas meja belajar membuat Echa sedikit terkejut. Dia mencoba merapihkan dan dia melihat sebuah kertas yang basah dengan tulisan tangan yang Echa kenali.


Kata demi kata Echa baca. Dadanya teramat sesak. Air matanya luruh tak tertahan. Curahan hati adik tercintanya yang tidak diketahui siapapun. Radit yang kembali ke arah Echa kaget melihat sang istri tengah menangis.


"Kenapa?" Echa memperlihatkan sebuah kertas kepada Radit. Tidak bisa berkata-kata itulah yang Radit rasakan.


Sebuah buku jatuh dari tempatnya dan menampilkan tulisan TUGAS.


Buatlah cerita tentang ibu kalian.


Bunda adalah wanita yang luar biasa. Sudah melahirkan ku ke dunia ini. Sudah merawatku dengan penuh kasih sayang. Meskipun aku tidak merasakan belaian hangat tangannya, tetapi aku tahu Bunda juga sayang sama aku. Sekarang, bunda sudah tidak bersamaku lagi. Bunda sudah berada di surga sana dengan adikku. Aku sayang bunda. Tunggu aku di surga Bunda.


Buku terlepas dari tangan Echa karena dia tak kuat membacanya. Dia menumpahkan rasa sedihnya dalam pelukan Radit. Radit menatap sendu ke arah Iyan yang terlelap dengan jejak air mata yang masih terlihat.


"Aku gak tahu kalau Iyan seterpuruk ini," ucap Echa.

__ADS_1


__ADS_2