
Besok adalah hari bahagia Evha dan Radit. Namun, menjadi hari yang menyedihkan untuk kedua orang tua Echa. Bagaimana tidak, mereka harus rela melepas anak tunggal mereka dibawa oleh suaminya ke negeri orang.
"Om, Tante, setelah menikah. Radit akan membawa Echa ke Ausi. Radit tidak bisa meninggalkan pekerjaan Radit di sana. Radit masih terikat kontrak."
Ayanda memeluk foto putri tercinta dengan hati yang sedih. Rasanya belum sanggup melepaskan Echa. Echa tetaplah putri kecilnya.
Usapan di pundak Ayanda membuat Ayanda menatap ke arah tangan yang sudah berada di atas pundaknya.
"Seorang istri harus mengikuti ke manapun suaminya pergi. Echa hanya ke Ausi. Kita masih bisa sering jenguk Echa di sana," tutur Gio.
"Waktu terlalu cepat bergulir, Echa kecil kita sudah dewasa. Kurang dari 24 jam dia akan menjadi seorang istri. Menyerahkan kehormatannya kepada seorang pria pilihannya." Gio memeluk tubuh Ayanda dari belakang. Memberikan kehangatan dan juga ketenangan.
"Sebagai orang tua, kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Echa. Untuk rumah tangga yang akan Echa jalani." Ayanda mengangguk pelan.
Sedangkan Rion dan Arya sedang berada di ruang kerja Rion. Wajah sedih Rion sangat terlihat jelas. Arya sangat tahu apa yang sedang Rion rasakan.
"Lu harus mengakui kalo lu udah tua," canda Arya. Rion menatap Arya dengan tatapan datar.
"Setelah Echa nikah pasti dia punya anak 'kan. Lu akan disebut Kakek sama anak-anak si Bangor," jelas Arya,
"Terlalu cepat Echa tumbuh," sahut Rion dengan wajah pilu.
"Gua belum bisa memberikan kasih sayang yang berlimpah kepada dia. Sebentar lagi, dia sudah akan menjadi milik pria yang dipilihnya. Dia pun akan dibawa pergi ke negeri orang oleh suaminya. Di mana gua akan jarang sekali bertemu dengan dia."
"Gua merasa gagal menjadi seorang Ayah.Gua adalah ayah yang buruk untuk Echa. Ketika gua harus melindungi anak gua, gua malah membuangnya. Apa gua masih pantas dipanggil Ayah?" Arya mengusap lembut punggung sahabatnya ini. Hanya satu yang membuat Rion menjadi pria lemah, yaitu putri sulungnya.
"Lu adalah ayah yang terbaik untuk Echa dan juga Riana. Sekarang, yang penting lu udah sadar dengan kebodohan yang telah lu lakukan kepada Echa dan mantan istri lu.
Pagi pun sudah tiba, kesibukan terlihat jelas di rumah Ayanda. Make up artis sudah didatangkan untuk merias wajah sang calon pengantin perempuan beserta keluarga mereka. Dua jam sudah wajah Echa dipoles. Semua orang takjub dengan hasil riasan yang dikenakan Echa.
"Sungguh cantik sekali," puji Beby.
"Dasarnya memang sudah cantik. Jadi, mau dirias dengan tema nude atau terang pun akan terlihat cantik," balas si make up artis.
Echa hanya menyunggingkan senyum. Apalagi para wanita sudah merangsek masuk ke kamar Echa dan terus memujinya.
Rombongan keluarga Radit pun sudah datang. Mereka sudah disambut oleh para orang tua Echa. Radit berada di antara Rifal dan juga Addhitama. Jangan ditanya ke mana anak pertama Addhitama? Inilah permintaan Echa kepada pihak keluarga Radit. Dia tidak ingin bertemu dengan Rindra. Permintaan itu pun dikabulkan. Mengingat hubungan Radit dan Rindra pun belum membaik. Apalagi Echa, sudah pasti dia masih mengingat kejadian lima tahun lalu.
Nampak jelas wajah Radit yang sedikit pucat. Ada rasa nervous pada hatinya. Ada ketakutan juga yang menghampirinya. Terlebih, Rion sudah memberi peringatan kepada Radit. Jika, pengucapan ijab kabul tidak berhasil dalam satu kali percobaan. Rion akan membatalkan pernikahan. Sungguh menjadi tekanan. padahal, itu hanya sebatas gurauan.
"Tampan sekali calon menantu, Papa," ujar Gio yang menepuk pundak Radit. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.
Ayanda menatap nanar ke arah Radit. Kemudian dia memeluknya dengan menitikan air mata. Di sinilah Radit merasakan dekapan hangat nan tulus yang Ayanda berikan. Dia memejamkan matanya sejenak, membayangkan jika yang mendekap hangat tubuhnya saat ini adalah Mamihnya.
Radit sudah duduk di kursi yang sudah dipersiapkan. Penghulu pun sudah datang. Tamu undangan pun sudah hadir. Semua keluarga Echa sangat lengkap. Genta yang dalam kondisi kurang sehat pun menyempatkan hadir. Dia Ingin menyaksikan cucu kesayangannya menikah dengan seorang laki-laki yang sangat Genta kenali. Malah, Genta sudah menganggap Radit seperti putranya sendiri.
Tak lama, Echa datang dengan digandeng oleh Mima dan Sasa. Senyumnya terus merekah dan kecantikan yang Echa pancarkan sangat luar biasa. Mampu membuat semua orang terpana. Tak terkecuali Radit yang semakin terpesona akan kecantikan perempuan yang memakai kebaya putih modern dan elegan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Kayaknya langsung tancap gas, nih," bisik Rifal di telinga Radit.
__ADS_1
Sungguh pengganggu, tatapan Radit pun harus terputus karena ucapan mesoem kakaknya. Dia pun mendelik kesal ke arah Rifal yang disambut kekehan kecil.
Echa sudah duduk di antara kedua orang tuanya. Sebelum acara akad nikah, mempelai wanita harus meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua mereka. Echa sudah memegang microphone. Sekarang, Echa berdiri diikuti oleh kedua orang tuanya. Echa menatap dalam ke arah Rion dan Ayanda.
"Ayah, Mamah yang Echa hormati dan sayangi. Echa meminta maaf yang sebesar-besarnya jika selama hidup Echa sampai dewasa ini banyak melakukan kekhilafan dan juga kesalahan. Baik perilaku maupun perkataan yang menyakitkan yang tidak sengaja Echa lontarkan kepada Ayah dan Mamah."
Echa menjeda ucapannya seraya menarik napas dalam. Hatinya sudah sangat sesak. Ayanda sudah menyeka air matanya. Begitu juga Rion yang hanya terdiam seribu bahasa.
"Pada kesempatan yang baik ini, Echa memohon restu kepada Ayah dan Mamah untuk dinikahkan dengan laki-laki pilihan Echa. Laki-laki yang Echa cintai dan sayangi. Dia bernama Raditya Addhitama bin Addhitama. Echa memohon pada Ayah, untuk menikahkan Echa dengan tulus dan ikhlas."
"Echa juga meminta doa dan restu kepada Ayah dan Mamah. Semoga perjalan rumah tangga Echa nanti senantiasa rukun, damai dan selalu diselimuti dengan cinta. Sakinah, mawaddah dan warahmah. Serta selalu diberikan keberkahan oleh Allah."
Air mata Echa sudah menetes. Meminta izin untuk dinikahkan membuat dadanya teramat sesak.
"Echa, Ayah dan Mamah memaafkan segala kesalahan serta kekhilafanmu. Semoga hidupmu nanti akan selalu rukun, damai serta penuh keberkahan." Kini, Rion yang berbicara.
"Echa, di saat yang baik dan berbahagia ini. Insha Allah Ayah akan menikahkanmu dengan calon suami pilihan kamu bernama Raditya Addhitama bin Addhitama dengan mas kawin berupa emas seberat 100 gram. Semoga ridho dan berkah Allah SWT selalu menyertai kita semua." Rion menghela napas kasar. Sungguh sulit mengatakan semua ini.
Echa sudah duduk berdampingan dengan Radit. Rion didamping petugas pernikahan mulai menjabat tangan Radit. Tangan Radit terasa sangat dingin.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Raditya Addhitama bin Addhitama dengan putri saya yang bernama Elthasya Afani binti Rion Juanda dengan mas kawin berupa, emas seberat 100 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Elthasya Afani binti Rion Juanda dengan mas kawin tersebut, tunai," jawab Radit dengan satu tarikan napas.
Mas kawin yang Radit berikan sebesar 10M. Namun, keluarga sudah sepakat untuk tidak menyebutkannya.
Ketika kata sah diseruka, semua orang yang berada di sana mengucapkan syukur yang tiada terkira. Kelegaan menyelimuti hati Echa dan juga Radit. Setelah penandatanganan berkas dan penyematan cincin pernikahan yang berbeda dengan cincin pertunangan. Echa mencium tangan Radit dengan penuh cinta. Setelah itu, Radit mengecup kening Echa sangat dalam.
"Ayah ...."
Belum sempat berbicara apapun, Echa sudah menangis tersedu. Begitu juga Rion yang tidak bisa membendung rasa haru.
"Jadi, istri yang baik, Dek. Ikuti semua perintah suami kamu. Sekarang, kamu bukan tanggung jawab Ayah dan Mamah lagi. Kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu." Rion berkata dengan suara yang bergetar. Sedangkan Echa sudah mengangguk pelan. Kemudian memeluk tubuh ayahnya.
Echa berlanjut bersimpuh di depan sang mamah. Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Echa, Ayanda sudah memeluk tubuh putrinya.
"Mamah yakin kamu bisa menjadi istri yang baik. Mamah selalu berdoa agar rumah tangga kamu langgeung hingga maut yang memisahkan kalian. Karena Mamah tidak ingin kamu merasakan yang namanya perceraian." Echa mengangguk samar dengan air mata yang terus berlinang. Memeluk erat tubuh Ayanda dengan sangat eratnya.
Echa sudah beralih dari mamahnya ke ayah mertuanya. Dia bersimpuh di hadapan Addhitama.
"Papih, tolong sayangi Echa seperti Papih menyayangi Kak Radit. Jika, Echa salah tolong tegur Echa. Ajari Echa untuk jadi istri yang baik. Karena Echa tahu, Papih adalah ibu dan ayah yang sangat luar biasa untuk Kak Radit." Addhitama tak kuasa menahan harunya. Dia mengusap lembut punggung sang menantu. Kemudian dia menarik pundak Echa. Menatap manik mata Echa sangat dalam.
"Papih sudah menganggap kamu seperti anak Papih sendiri," terangnya dengan seulas senyum penuh ketulusan.
Giliran Radit yang bersimpuh di hadapan Rion. "Ayah, tolong tuntun Radit untuk menjadi suami yang baik untuk putri Ayah." Rion menepuk punggung Radit dengan lembut. "Ayah bukan suami yang sempurna. Ayah harap, kamu bisa lebih baik dari Ayah. Pesan Ayah, jangan pernah sakiti Echa." Radit pun mengangguk patuh.
"Mamah." Baru satu kata Ayanda sudah memeluk tubuh menantunya.
"Kamu sudah Mamah anggap seperti anak Mamah sendiri. Mamah yakin, kamu bisa menjaga putri Mamah. Bahagiakan putri Mamah karena dia adalah permata berharga bagi Mamah." Haru yang Radit rasakan. Dia pun mengangguk mantap.
__ADS_1
Terakhir, dia sungkem di hadapan papihnya. Papihnya tersenyum bahagia bisa menyaksikan putra bungsunya menikah.
"Jaga istri kamu, bahagiakan dia. Istimewakan dia dan jangan pernah sia-siakan dia. Jadilah suami yang luar bias untuknya."
Acara haru biru pun sudah selesai. Kini saatnya acara bersua foto bagi semua keluarga.
"Wih, yang akan belah duren dong, ya," ledek Arya ke arah Echa dan Radit yang baru selesai berfoto.
Wajah Echa mengeluarkan semburat merah. Sedangkan Radit hanya tersenyum. "Doakan saja, Om. Semoga langsung gol," sahut Radit.
Echa semakin geram mendengar ucapan suaminya yang kini sudah tertular perkataan dari Arya. Echa mendelik kesal dan berniat meninggalkan Radit. Namun, tangannya mampu diraih oleh Radit.
"Jangan marah, Sayang," ucap Radit sambil menarik tangan Echa hingga masuk ke dalam pelukannya. Dengan tak tahu malunya Radit memberikan kecupan lembut di kening Echa di hadapan Arya.
"Kampret emang kalian," geram Arya dan meninggalkan pasangan suami-istri yang baru saja sah.
Echa dan Radit hanya terkekeh melihat wajah tidak suka dari Arya. Radit terus memandang kagum ke arah istrinya. Senyumnya tidak pernah pudar.
"Akhirnya, kita sah juga," ucap Radit. Echa hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang tak kalah bahagia.
Mereka bergabung bersama keluarga mereka yang tengah menyantap hidangan yang sudah disediakan. Tangan pengantin baru ini seolah ada lem perekatnya. Tidak mau saling melepaskan. Setelah puas berbincang, tubuh Echa sudah mulai lelah. Apalagi dengan riasan tebal di wajahnya membuatnya sangat tidak nyaman.
"Mah, Echa ke kamar, ya. Echa capek." Ayanda tersenyum ke arah putrinya lalu mengangguk.
"Bilang aja pengen cepet-cepet digolin." Pukulan mendarat sempurna di lengan Arya. Siapa lagi jika bukan Rion pelakunya.
"Echa tidak nyaman dengan riasan dan baju yang dikenakannya, Om," bela Radit.
"Ya udah, kalian ke kamar istirahat. Sore nanti kita ke hotel. Resepsi akan lebih menyita tenaga kalian." Echa dan Radit pun meninggalkan mereka semua dan menuju kamar mereka.
"Lelah banget, ya, Yang?" tanya Radit sambil mengusap lembut kepala Echa yang tengah duduk di tepian tempat tidur.
Echa memeluk perut suaminya yang memang sudah dalam posisi berdiri di hadapannya.
"Kok manja banget, sih," ujar Radit yang kini sudah duduk di samping Echa.
"Manja sama suami sendiri boleh 'kan." Radit tersenyum lalu memberikan kecupan di seluruh wajah Echa.
Tak terkecuali bibir sang istri yang sudah dia kecup sangat dalam. Echa mulai terbuai. Namun, Radit dan Echa harus menahan gairahnya. Karena masih ada resepsi pernikahan yang masih harus mereka jalankan.
Setelah puas berciuman, Echa memilih untuk membersihkan wajahnya serta tubuhnya. Begitu juga Radit. Echa sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Di mana Radit sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
Radit meletakkan ponselnya, ikut berbaring di samping sang istri dan menarik istrinya ke dalam dekapannya. Radit mencium kening Echa karena mereka dalam kondisi sedang berhadap-hadapan dalam kondisi tiduran.
"Makasih, Sayang. Makasih sudah mau menjadi pendamping hidupku. Menjadi ibu untuk anak-anakku kelak. Makasih sudah mau menerima segala kekurangan yang aku miliki. Selalu mendampingiku selama lebih dari lima tahun ini. Maaf, jika aku bukan laki-laki yang sempurna." Echa semakin. mengeratkan pelukannya di pinggang Radit. Menatap manik mata Radit dengan sangat dalam dan penuh dengan cinta.
"Aku menyayangi kamu, Bhal. Tidak ada alasan untuk tidak menemani kamu dan tidak menerima kekurangan kamu. Aku pun bukan perempuan yang sempurna. Bukan perempuan cantik seperti perempuan lainnya. Aku pun memiliki kekurangan sama seperti kamu. Aku menerima lamaran kamu karena aku ingin kita sama-sama menyempurnakan kekurangan satu sama lain di antara kita." Radit sangat bahagia mendengar ucapan dari Echa.
Pagutan bibir pun terjadi kembali. Kini sudah mulai semakin panas.
__ADS_1
...****************...
Up langsung baca, ya. Jangan ditimbun-timbun.