
Gadis cantik bermata indah dan berkulit putih sudah duduk di atas motor matic berwarna pink miliknya. Namanya, Nesha Permata. Indah bukan? Akan tetapi, nasib hidupnya tidak seindah namanya. Tidak juga berharga seperti nama belakangnya.
Dia tersenyum ketika melihat para anak-anak sekolah berseragam putih abu-abu tertawa lepas seperti tidak memiliki beban. Motor yang mereka kendarai pun motor keluaran terbaru. Sepatu yang mereka gunakan merk ternama.
"Katanya masa putih abu-abu itu masa yang paling menyenangkan? Tetapi, berbeda denganku." Begitulah gumaman kecil yang Nesha keluarkan.
Dia terus melajukan motornya hingga dia berbelok ke sebuah kafe dan berhenti di depan kafe tersebut. Sapaan hangat dari teman-teman Nesha membuat Nesha tersenyum bahagia.
”Pagi, Sha."
Suara berat tersebut membuat Nesha menundukkan kepalanya dengan sopan. Dia adalah pemilik kafe tempat di mana Nesha bekerja. Nugro Nugroho namanya.
"Pagi juga, Mas."
Senyuman Nugro mampu membuat wanita yang melihatnya akan terpesona. Berbeda dengan Nesha yang menganggap itu biasa.
Nesha bekerja seperti biasanya. Membersihkan kafe sebelum jam operasional dibuka. Setelah itu membantu para koki di dapur. Apapun Nesha kerjakan.
Hari ini, kondisi kafe tidak terlalu ramai. Jadi, Nesha bisa sedikit bersantai. Dia duduk manis sambil memperhatikan para pengunjung yang datang dari arah kaca dapur.
Matanya tak berkedip ketika melihat seseorang berkemeja gelap duduk di meja dekat dengan kaca. Sungguh sangat sempurna pria itu di mata Nesha.
"Andai, punya pacar seperti itu," gumamnya pelan.
Tepukan di bahu Nesha membuat Nesha tersadar. Dia tersentak ternyata Nugro lah yang menepuk pundaknya.
"Antarkan cappuchino ke meja sana," tunjuknya ke arah pria yang Nesha kagumi.
"Ba-baik, Mas."
Setelah cappuchino yang barista kopi buatkan selesai. Nesha membawa pesanan Nugro ke arah pria itu. Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat cepat ketika langkahnya semakin mendekat.
"Silahkan di minum, Mas."
Pria yang sedang fokus ke layar segiempat pun menoleh. Mata mereka berdua terkunci. Seperti saling mengagumi satu sama lain.
"Sudah jadi Bos mah lupa sama kawan lama."
Ucapan Nugro membuat tatapan mereka terputus. Nesha buru-buru kembali ke dapur. Namun, tangannya dicekal oleh Nugro.
__ADS_1
"Buatkan saya jus alpukat, tetapi saya ingin kamu yang buatkannya untuk saya." Nesha mengangguk dengan senyum kecil.
Senyum tipis tersungging di bibir Rindra. Menatap Nugro seraya menggelengkan kepala.
"Kayak bocah!" ejek Rindra.
Gelak tawa antara dua pria itu terdengar. Saling mengejek satu sama lain dan bercerita hal-hal yang remeh. Namun, mampu membuat mereka bahagia.
"Mas, ini jusnya." Kehadiran Nesha membuat Rindra yang tengah tertawa menatap ke arah Nesha kembali.
Sungguh sempurna kecantikannya.
Rindra masih menatap Nesha yang semakin menjauh darinya. Banyak pertanyaan di benaknya tentang gadis yang sangat cantik itu. Apalagi, hubungannya dengan Nugro terlihat sangat dekat.
"Lihatin apa, lo?" sergah Nugro.
Nugro ikut menatap ke arah pandangan Rindra. "Jangan macam-macam. Dia masih polos," ancam Nugro. Dia tahu apa yang dipikirkan Rindra.
"Suudzon aja lo!" sergahnya.
Berangkat pagi hari dan pulang malam hari. Itulah rutinitas kegiatan Nesha setiap hari. Tidak pernah mengeluh meskipun peluh membasahi tubuhnya.
Senyum Nesha mengembang ketika melihat ke arah seorang wanita yang sudah menyambutnya dengan senyuman menghangatkan.
"Selamat malam, Ibu." .
Nesha mengusap lembut figura berukuran sedang yang di dalamnya terdapat foto mendiang ibunya.
"Senyum ibu selalu sama, menghangatkan dan menenangkan. Sha sayang Ibu."
Dikecupnya figura itu, tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipi Nesha.
"Sudah empat tahun ya, Bu. Anak yang selalu mengadu lelah dan capek kini sedikit-sedikit menjadi anak yang kuat. Meskipun, hati Sha tak sekuat baja. Masih sering rapuh dan menangis sendiri. Apalagi, jika Sha sedang merindukan pelukan hangat Ibu."
Nesha meluapkan semua isi hatinya. Anak malang yang dibuang bagai sampah oleh ayah kandungnya sendiri. Dibiarkan terlantar dan harus berjuang menghidupi dirinya sendiri dikerasnya kehidupan ibukota.
"Doakan Sha terus ya, Bu. Supaya Sha kuat menghadapi semua ini."
Nesha menghapus air matanya. Memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, kakinya melangkah menuju dapur, di sana hanya ada dua butir telur, satu bungkus mie dan beras kurang dari satu liter. Dia menatap ke arah kalendar. Sekarang baru tanggal dua puluh. Sedangkan dia menerima gaji tanggal tiga puluh.
__ADS_1
"Harus menghemat," gumamnya.
Nesha masih sangat ingat, uang yang ada di dompetnya sisa seratus ribu. Itu pun untuk uang bensin. Malam ini, dia harus bisa menahan lapar.. Biarlah meminum air putih yang banyak untuk mengganjal perutnya yang kelaparan.
"Ibu jangan sedih, Sha sudah terbiasa seperti ini kok."
Bibir Nesha mampu tersenyum, tetapi hatinya menangis keras. Merindukan sosok ibu di sampingnya. Pelukan hangat seorang ibu yang menenangkan. Namun, saat ini dia bisa merasakan itu hanya di dalam mimpi.
Nesha membaringkan tubuhnya di kasur yang sangat tipis. Dia menatap ke langit-langit kamar dengan mata yang nanar.
"Andai--"
Nesha tidak melanjutkan ucapannya. Terlalu sakit, jika harus berandai-andai terus. Nesha memilih memejamkan matanya dengan diiringi suara cacing di dalam perutnya yang tengah berdemo.
Di samping Nesha berbaring. Ada sebuah buku catatan yang terbuka. Tulisan tangan yang indah menghiasi lembar putih buku itu.
Ibu ...
Sha, lelah. Sha ingin hidup seperti dulu. Sha ingin menyusul ibu.
Hari ini, Sha kelaparan Ibu. Uang yang ayah beri sudah habis untuk menyewa kontrakan ini. Hanya tersisa uang dua ribu, Sha belikan roti untuk mengganjal perut Sha yang kelaparan. Itu pun Sha bagi dua, Bu. Dua sisakan untuk malam ini, biar Sha bisa tidur nyenyak.
Maaf ya, Bu.
Sha selalu mengeluh. Mungkin, Sha belum terbiasa. Jika, sudah terbiasa pasti Sha tidak akan terus mengadu kepada ibu.
Doakan Sha ya, Bu.
Supaya Sha bisa menghadapi kehidupan yang sulit ini. Sha sayang ibu. Semoga, nanti kita bisa bertemu lagi, Bu.
Tulisan tangan dari seorang anak SMA yang telah ditinggal ibunya. Hidup sebatang kara di ibukota. Padahal, dia adalah anak orang kaya. Namun, dia dibuang bagai sampah oleh ayah kandungnya sendiri karena keserakahan yang membutakan mata.
Untung saja dia memiliki teman yang bernama Cella. Ketulusan Cella berteman dengannya membuat Nesha merasa tidak sendirian. Cella lah yang meminta pekerjaan kepada Nugro untuk Nesha, supaya Nesha bisa membiayai sekolahnya dan juga hidupnya. Bukannya Cella tidak mau membantu, Nesha lah yang tidak ingin merepotkan Cella.
Nesha teringat akan ucapan sang ayah sebelum membuangnya.
Kamu itu anak pembawa sial! Siapapun orang yang dekat dengan kamu pasti akan merasakan kesialan yang beruntun.
Dari situlah, Nesha mulai membatasi diri berteman dengan anak-anak orang kaya. Hanya Cella yang menjadi temannya karena hanya Cella yang tidak merasa sial berada dekat dengannya.
__ADS_1