
Radit menatap manik mata Echa sangat dalam. "Bhul sebenarnya aku ...."
Pesanan mereka pun sudah tiba. Radit tidak melanjutkan ucapannya. Dia akan mengatakannya nanti. Setelah selesai makan, ponsel Radit berdering.
"Radit lagi di luar."
"Iya, Radit pulang sekarang."
Echa mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang dibicarakan Radit di telepon.
"Aku antar kamu pulang, ya. Aku ditunggu Papih soalnya." Echa pun mengangguk.
Tidak ada obrolan disepanjang jalan. Radit hanya menggenggam tangan Echa dan Echa pun memeluk pinggang Radit.
Setelah mengantarkan Echa, Radit langsung pulang ke rumahnya dan menghadap sang Papih. Sudah ada Rindra di sana.
Radit menatap Rindra dan Papihnya dengan tatapan sulit diartikan. Papihnya menyerahkan tiket pesawat kepada Radit. Tubuh Radit menegang dan seolah dia tidak punya kekuatan untuk mengambil tiket pesawatnya.
"Besok sore keberangkatan kamu ke London." Bak disambar petir di siang bolong mendengar ucapan sang Papih.
Radit pun tersenyum tipis dan meraih tiket yang Papihnya berikan. "Kenapa kalian tidak membunuhku saja ketika aku lahir?" teriak Radit.
Plak!
Tamparan keras dari Rindra mendarat di pipi Radit. Sedangkan Addhitama hanya diam dan memejamkan mata.
"Jaga bicara kamu, Raditya," pekik Rindra.
"Sejak kapan aku tidak menjaga bicaraku? Sejak kapan aku tidak menuruti semua keinginan kalian? Sejak kapan kalian bisa mengerti keinginan aku?" sentaknya.
"Selama ini aku selalu mengalah, tapi tetap saja aku yang salah. Apa tidak boleh aku memilih jalanku sendiri? Apa tidak boleh aku bahagia bersama gadis yang aku sayangi? Apa tidak boleh semua itu terjadi padaku?"
Hati Addhitama sangat sakit mendengar ucapan Radit yang berasal dari hatinya terdalam.
"Aku tahu, ini semua rencana Abang. Abang menyukai kekasihku, Abang mau merebut Echa dariku dengan Abang memisahkan aku dan juga Echa," ucapnya.
"Apa belum cukup semua kebahagiaan aku Abang renggut? Apa belum cukup Abang menyiksaku?"
__ADS_1
Tangan Rindra sudah terangkat ke atas, pekikan Addhitama membuat tangan Rindra kembali menurun.
"Tampar aku, sakiti aku terus sampai kalian puas. Sampai kalian bahagia," katanya.
"Radit," pekik Addhitama.
"Kenapa? Papih mau bela Abang. Papih mau mengikuti apa saja yang Abang katakan. Aku juga punya hati Pih, aku berhak bahagia. Belum cukupkah penderitaan ku selama ini?"
Addhitama ingin memeluk tubuh Radit namun, Radit beringsut mundur. "Jika kalian tidak mengharapkan ku, jangan pernah mengharapkan ku kembali ke rumah ini." Radit pun pergi meninggalkan rumah ini dengan kesedihanku dan kesakitan yang dia rasakan.
Dia masih mampu menguasai dirinya. Semarah-marahnya Radit hanya seperti ini. Dia lebih baik menenangkan hatinya, dan sendiri di tempat yang sunyi.
Radit melajukan motornya menuju pemakaman umum. Sekarang sudah jam sepuluh malam, namun tidak ada ketakutan di hati Radit. Dia hanya ingin berkeluh kesah. Dia hanya ingin mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.
Langkah Radit terhenti di sebuah pusara yang bernama Vivi Elviana. Dia duduk di pinggir makam tersebut dan mengusap nisan dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan.
"Mamih, kenapa Abang tak hentinya menyakiti hati Radit? Apa belum cukup Abang menyalahkan Radit akan kepergian Mamih?" Isakan tangis pun keluar dari mulut Radit.
"Kenapa Abang selalu ingin mengambil apa yang telah Radit miliki? Kenapa Mih?"
"Sakit Mih hati Radit, sedih Mih Radit. Hidup Radit seperti anak yang tidak diinginkan. Sekarang, mereka seakan ingin membuang Radit ke belahan dunia lain."
Air mata Radit pun menetes begitu derasnya. Hanya tempat inilah yang menjadi tempat untuk Radit menenangkan diri. Menumpahkan segala kesakitan dan juga kesedihan yang Radit rasakan.
"Mamih, ingin sekali Radit merasakan pelukan hangat tangan Mamih. Agar hati Radit tenang," lirihnya.
Dibalik pohon besar, ada air mata yang ikut mengalir. Dadanya sesak, hatinya sakit mendengar curahan hati adik kandungnya. Rival memegang dadanya yang teramat perih.
Malam ini, Radit memilih untuk tidak pulang. Dia lebih memilih tidur di pusara Mamihnya. Memeluk nisan Mamihnya seperti memeluk tubuh Mamihnya.
Rival kembali lagi ke makam ketika Radit tak kunjung pulang. Sekarang sudah jam 2 pagi. Rival tidak sendiri, ada Addhitama yang ikut bersamanya.
"Papih lihat, setiap Radit bertengkar dengan Papih atau Abang dia selalu datang ke makam Mamih. Memeluk nisan Mamih seolah dia memeluk tubuh Mamih," lirih Rival.
"Papih tidak tahu, bagaimana sedihnya dan sakitnya hati Radit dengan keputusan sepihak yang Papih ambil. Papih tidak tahu bagaimana perasaan Radit yang sebenarnya."
"Sudah sangat lama aku menyimpan rahasia ini kepada Papih. Tapi, setelah mendengar perdebatan Papih, Abang dan juga Radit tadi membuat aku ingin menyampaikan apa yang tidak Papih tahu."
__ADS_1
Rival pun mulai terisak. "Inilah sisi rapuh dan lemahnya Radit. Inilah tempat di mana Radit menenangkan diri dan kembali menjadi baik-baik saja. Di sinilah Radit mengadu kepada Mamih. Di sinilah Radit melepas rindu kepada Mamih."
Air mata Addhitama pun menetes apalagi pandangnya tak berhenti pada sosok anak laki-laki yang sudah tertidur dan memeluk nisan tak jauh darinya.
"Radit itu lebih malang dari Abang dan aku, Pih. Radit ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, Radit ingin merasakan pelukan hangat seorang ibu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan."
"Cobalah mengerti keinginan Radit, selama ini Radit tidak banyak menuntut dan selalu mengalah kepada semuanya."
"Radit mencoba menjadi anak yang ramah, meskipun dunia luar tidak seramah sikapnya kepada orang lain. Radit mencoba melawan semuanya, Radit mencoba menjadi anak laki-laki yang mandiri."
"Buka hati Papih, bukan hanya Abang yang harus Papih perhatikan dan utamakan. Lihatlah bocah kecil itu, bocah yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu dan kakak pertamanya."
"Pandanglah wajahnya, betapa banyak luka yang wajahnya tunjukkan. Betapa sedihnya ketika wajah terlelap."
Addhitama melangkah mendekati Radit. Dia berjongkok di hadapan Radit yang sudah terlelap dengan memeluk nisan sang Mamih.
Bekas air mata sangat terlihat jelas di wajah Radit. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Mamih, peluk Radit. Jangan tinggalin Radit. Radit ingin ikut Mamih."
Air mata Addhitama pun meluncur deras mendengar putranya mengigau seperti itu. Sakit dan perih menembus ulu hatinya. Dia telah salah mengartikan kesembuhan Radit.
Kesembuhan Radit ternyata masih menyisakan luka di hati kecilnya. Masih menyisakan pedih dan perih yang mungkin akan sulit hilang.
"Maafkan Papih, Dit. Maafkan Papih," ujarnya.
Rival mengusap pundak Papihnya yang sedang menunduk dalam dan menangis. Kepergian Mamihnya bukan hanya melukai Rindra, tapi juga melukai semua putra Addhitama dan Addhitama sendiri. Selama hampir 21 tahun Addhitama berusaha menjadi sosok ayah dan ibu untuk ketiga putranya. Ternyata dia melupakan sesuatu, ada Radit yang sama sekali tidak mendapatkan sentuhan hangat tangan seorang ibu. Ada kerinduan yang mendalam yang Radit pendam seorang diri.
***
Kalian nangis gak bacanya? Idungku Ampe mampet nulis part ini.
Untuk kisah ini SLOW UP dulu ya ...
Aku lagi ngejar Bang Duda dulu sama mau namatin karyaku yang satu lagi.
Semoga kalian gak bosen baca ceritaku
__ADS_1