
Echa keluar dari apartment Radit dengan langkah panjang. Tak sengaja dia menabrak tubuh seseorang. Echa pun mendongakkan kepalanya. Addhitama sangat terkejut melihat Echa yang sudah bermandikan air mata. Tanpa kata, tanpa bicara Echa berlalu begitu saja. Sungguh sakit hatinya sekarang ini.
Ingin rasanya Radit mengejar Echa, namun tubuhnya lemah tak berdaya. Apalagi keadaan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Jangan pernah datang lagi menemui putri saya," tegas Gio.
Baru saja Gio dan Remon keluar dari apartment Radit, dia berpapasan dengan Addhitama. Addhitama semakin bingung dibuatnya.
"Ada apa?" tanya Addhitama.
"Om lihat sendiri saja bagaimana kelakuan anak Om," sahut Gio dan langsung berlalu meninggalkan Addhitama.
Mata Addhitama melebar dengan sempurna ketika melihat putra kebanggaannya sedang bersama dengan wanita di dalam apartment dengan keadaan yang sama-sama tak memakai sehelai benang pun.
Urat-urat kemarahan sudah terlihat jelas di wajah Addhitama. Tangannya sudah mengepal sangat keras.
Plak!
Tamparan sangat keras mendarat di pipi Radit hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah. Addhitama menarik tubuh Radit agar berdiri. Dan satu pukulan keras mengenai perutnya.
"Kenapa kamu mempermalukan Papih, Radit?" serunya.
"Kenapa dengan Radit, Pih?" tanyanya. Sepertinya Radit tidak mengingat apa-apa.
"Kamu kumpulkan nyawa dan ingatanmu dulu. Setelah itu, barulah kamu temui Papih," tegasnya.
Addhitama menatap seorang wanita yang tengah duduk di tempat tidur dengan mengenakan selimut.
"Keluar kamu sekarang!" usirnya.
****
Gio terus memeluk erat tubuh putrinya. Dia tahu, hati Echa pasti sakit. Apalagi isak tangis Echa yang terdengar sangat lirih di telinga Gio.
"Keluarkan semua sedih dan sakitmu. Biar hati kamu lega," ucap sang papa.
"Kenapa dia tega?"
Gio hanya menghela napas kasar. Dia hanya bisa mengusap rambut Echa seraya memberikan ketenangan.
"Kamu tau kan konsekuensinya LDR? Salah satunya seperti ini," imbuh Gio.
"Kamu setia, tapi di sini belum tentu Radit setia," lanjutnya lagi.
"Kenapa ketika Echa lagi sayang banget sama seseorang, mereka malah mengkhianati Echa? Apa Echa tidak pantas untuk dicintai? Apa Echa tidak pantas untuk bahagia?"
"Gak boleh bicara seperti itu, Sayang. Mereka yang bodoh karena telah menyia-nyiakan kamu," sahut Gio.
__ADS_1
Radit terus mengerang kesal, karena tak satu pun hal yang dia ingat. Dia berniat untuk menemui sang Papih di apartment miliknya. Ketika dia keluar dari unitnya, tak sengaja dia melihat Remon yang baru saja keluar dari unit yang tak jauh dari unit yang Radit tempati.
Radit membatalkan niatannya untuk bertemu dengan Addhitama. Dia lebih memilih untuk mangintai unit apartment yang ditinggali Gio.
Namun, pengintaiannya gagal karena Remon sudah memerintahkan beberapa orang untuk menjaga unit apartment yang dihuni Echa.
Radit pun melanjutkan niatannya menuju ke apartment sang Papih. Tiba di sana, wajah marah Addhitama nampak jelas sekali.
"Pih, Radit sama sekali gak ingat," ucap Radit. Tamparan keras kembali mendarat di pipi Radit.
"Tinggalkan cucu Genta dan bertanggung jawablah kepada wanita itu." Radit tersentak mendengar perintah Addhitama.
"Gak! Radit gak akan tinggalin Echa," tolaknya seraya menggelengkan kepalanya.
Addhitama memicingkan matanya ke arah Radit. Dia pun menatap ke arah Radit.
"Kamu kira Genta akan merestui hubungan cucunya dengan cowok brengsek seperti kamu?" bentak Addhitama.
Radit hanya menunduk dalam. Dia benar-benar tidak ingat apapun, Dia hanya ingat jika, dirinya tertidur.
"Papih kecewa sama kamu, Dit," lirihnya.
Sakit sekali hati Radit mendengar ucapan papihnya. Namun, dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Radit pun pamit dan meninggalkan apartment papihnya.
Radit pulang ke apartmentnya, dan tidak sengaja dia melihat Gio yang tengah membawa Echa dalam gendongannya. Wajah Gio terlihat sangat panik.
"Pa, Echa ingin pulang. Echa ingin Mamah," pintanya.
Gio pun mengangguk pelan. Wajah putrinya sangat pucat dan terlihat jelas gurat kesedihan di wajahnya.
Keesokan harinya, Gio membawa Echa pulang. Yang putrinya butuhkan saat ini adalah kedua orangtuanya. Dekapan hangat sang mamah dan juga sang ayah yang menjadi penawar luka yang kembali menganga.
Radit yang sudah membawakan bunga dan juga cokelat kesukaan Echa mencari keberadaan Echa karena kamar yang dia tempati kosong.
Dia pun mananyakan kepada salah satu perawat, dan perawat itu mengatakan bahwa Echa sudah pulang. Bunga dan cokelat itu pun jatuh seketika, tanpa berpikir panjang Radit langsung memesan tiket kepulangannya ke Indonesia. Hari ini, dia berniat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelumnya Radit mencari tahu kepada teman-temannya kenapa dia bisa bersama Fani, si perawat ganjen. Dan ternyata benar dugaannya, Fani telah membuatnya mabuk hingga tak sadarkan diri.
Radit pun menghela napas kasar. Apa yang sudah Radit lakukan dengan Fani? Hingga ketika dia dibangunkan paksa oleh Gio tubuhnya tak berpakaian sama sekali.
Tibanya di Jakarta, Echa langsung memeluk tubuh Mamahnya. Hanya air mata yang menjadi ungkapan hati Echa terdalam. Selain mamahnya, dia juga ingin dipeluk sang ayah. Namun, Rion tidak bisa ke rumah Ayanda karena Riana sedang rewel.
"Mamah yakin, kamu kuat dan bisa menghadapi semuanya," ucap Ayanda.
"Sekarang gak usah punya pacar dulu. Fokus belajar, obati hati kamu yang terluka," lanjutnya. Echa pun semakin mengeratkan pelukannya.
Sudah seminggu ini Echa terlihat sendu, ketika pulang sekolah dia hanya ingin berdiam diri di kamar dengan ditemani sebuah gitar pemberian sang ayah.
__ADS_1
Ada rasa rindu yang dia rasakan untuk Rion. Echa merindukan pelukan ayahnya. Echa merindukan kecupan hangat sang ayah. Echa sangat merindukan momen bersama Rion. Tapi, dia dituntut untuk tidak egois. Banyak hal yang ingin Echa ceritakan kepada sang ayah, cinta pertama seorang Elthasya Afani.
Echa memangku gitar lalu memetik senar demi senar gitar hingga menghasilkan nada yang terdengar sedih di balkon kamarnya.
🎶
Hanya air mata
Dan sesal ku rasa
Di depanku kau bercinta
Kau ingkari janjimu
Tuk setia bersamaku
Kini kau bunuh hatiku
Ku tak ingin dengar ratapanmu
Dan tak kan lagi menyentuhmu
Pergi dan jangan kembali
Ku ingin sendiri
Perjalan panjang cinta kita
Sekejap kau hancurkan selamanya
Inikah takdir untukku?
Dicintai tuk disakiti
Lagu yang menjelaskan bagaimana isi hati Echa sekarang. Perlahan Echa mencoba untuk melupakan. Meskipun, sampai saat ini dia belum bisa melupakan sosok Radit yang pernah menyembuhkan luka lamanya. Tapi, sekarang dia yang membuka luka lama itu.
Echa juga merasa, setiap langkah yang dia pijaki Radit seperti mengikuti. Echa meletakkan gitarnya dan berdiri dengan tangan yang memegang pagar yang mengelilingi balkon. Dia menatap indahnya langit malam yang bertabur bintang dan bulan yang sangat terang. Setelah mereka sedang mengejek Echa.
Salah seorang pelayan mengetuk pintu kamar Echa. Dan dia memberitahukan jika ada teman Echa yang menunggu di bawah. Echa mengangguk pelan karena Echa sedang menunggu kedua sahabatnya yang akan menginap di rumahnya. Karena kedua orangtua Echa dan juga si kembar sedang menginap di villa.
Langkah Echa terhenti ketika melihat manik mata yang penuh dengan kesedihan dan luka yang sangat mendalam. Mata Echa pun berubah nanar. Hatinya sakit jika mengingat kejadian waktu itu.
"Maafkan aku," lirihnya serta bersujud di kaki Echa.
****
Komen yang banyak biar aku rajin UP.
__ADS_1