Yang Terluka

Yang Terluka
Doa Yang Terkabul


__ADS_3

Akhirnya, Addhitama menuruti permintaan Radit. Dia mencabut laporan terhadap putra sulungnya. Membuat Rindra menatap papihnya bingung.


"Ini semua atas permintaan Radit. Radit tidak ingin kamu dipenjara karena akan merusak reputasi keluarga serta menjatuhkan nama dan saham perusahaan," tegasnya.


"Jika, ingin berterimakasih. Datangilah adikmu yang hampir kamu bunuh. Dialah manusia berhati malaikat yang selalu mengorbankan dirinya untuk keluarga."


"Minta maaflah yang tulus. Jika, kamu masih bertindak bodoh lagi. Papih sendiri yang akan membunuh kamu," ancamnya.


Addhitama meninggalkan Rindra seorang diri. Ternyata sudah ada Rival di sana. Rival menghampiri abangnya seraya menepuk bahunya.


"Akhiri dendam salah alamat yang Abang punya. Iri terhadap Radit hal yang salah. Malah, Radit yang iri sama Abang."


"Sadarlah Bang. Radit adik kita, dia juga perlu bahagia. Dua puluh tahun hidup tanpa merasakan sentuhan Mamih, tapi dia tetap bertahan demi Papih. Dia tidak ingin melihat Papih menangis setiap malam karena telah merasa gagal mendidik anak-anaknya."


"Harusnya kita lebih menyayangi Radit. Menggantikan peran Mamih yang tak sedikitpun memberikan kasih sayangnya kepada adik kita itu," pungkas Rival.


Rindra tertunduk dalam mendengar ucapan Rival. Semua yang diucapkan Rival benar adanya. Tidak seharusnya dia menyimpan dendam terhadap Radit. Anak yang tidak tahu apa-apa dan tidak minta dilahirkan ke dunia ini.


Rindra beranjak dari duduknya dan dia menyuruh sopir melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Sedangkan Echa dan Radit sedang tertawa bersama. Wajah bahagia Echa terlihat jelas membuat Radit lega.


"Apa kamu sudah memaafkan Ayahmu?" tanya Radit.


"Dari awal aku tidak marah kepadanya. Aku hanya kecewa. Padahal, permintaanku sederhana. Tapi, seakan permintaan aku itu permintaan yang sulit direalisasikan."


"Tapi, melihat hubunganmu dan juga Papihmu. Membuatku merasa sangat bersyukur. Setidaknya Ayahku itu tidak pernah sekalipun bermain tangan kepadaku. Apalagi berkata kasar," ucapnya dengan lengkungan senyum.


"Jangan pernah merasa diri kamu paling terpuruk. Di luar sana, masih banyak yang hidupnya lebih terpuruk dari kamu. Bersyukurlah, kamu dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu. Orangtua kandungmu masih lengkap, ditambah Papamu juga memiliki kasih sayang yang luar biasa terhadapmu," ujar Radit.


Echa tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu, dia raih tangan Radit dan ditatapnya manik mata Radit.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Echa dengan mata yang sudah nanar.


"Aku akan baik-baik saja, jika selalu bersama kamu." Radit menarik tangan Echa dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menyimpan dendam kepada siapapun. Perlakuan mereka terhadapku tidak harus aku balas. Karena itu hanya akan merusak akal jernihku."


"Lebih baik memaafkan mereka, dan mengikhlaskan apa yang telah mereka lakukan kepadaku. Aku ingin hidup damai tidak ingin bertikai," jelasnya.


Echa mempererat pelukannya. Dia merasa sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan laki-laki yang sangat baik dan berhati lapang seperti Radit.


Kemesraannya terganggu karena kehadiran seseorang. Seseorang yang tak kalah kacau dari Radit. Bentuk wajahnya pun sudah seperti pelangi.


Radit segera melepaska pelukannya dan menyuruh Echa untuk mundur dan memeluknya dari belakang.


"Mau apa Abang ke sini?" tanya Radit tajam.


Tangan Radit memegang erat lingkaran tangan Echa di perutnya. Rindra perlahan mendekati Radit dan pelukan Echa semakin erat menandakan dia ketakutan.


"Aku ...."


"Mau apa kamu Rindra?" pekikan suara Papihnya nyaring terdengar. Semenjak Rival memberitahukan Rindra pergi tanpa pamit, Addhitama segera datang ke rumah sakit tempat Radit dirawat.


"Aku minta maaf, maaf atas kesalahanku selama ini kepada kamu," sesalnya.


"Jika, kamu tidak hadir ke dunia ini. Pasti Mamih masih berada denganku dan juga Rival serta Papih. Begitulah pikirku, dulu."


Ruangan hening sesaat setelah Rindra menghentikan ucapannya.


"Semakin kamu tumbuh menjadi dewasa, aku merasa kamu adalah saingan terberat ku. Dari segi akademik, pergaulan, kamu lebih unggul dariku. Dari situlah aku mulai takut. Aku takut, semua harta Papih akan jatuh ke tangan kamu," ungkapnya.


"Sungguh dangkal pikiranmu, Bang," cibir Radit.


"Dari awal aku selalu bilang, aku tidak minta dilahirkan dari rahim Mamih. Kepergian Mamih membuat Abang terpukul. Lalu, bagaimana denganku? Dari lahir ke dunia hingga usia ku 20 tahun. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang Mamih. Foto bersama Mamih pun aku gak punya. Aku iri, Bang, sama kalian. Iri," lirihnya.


"Ketika hari ibu, pernah aku disuruh bikin kata-kata untuk mengungkapkan rasa sayang anak terhadap ibunya. Abang tau, apa yang aku tulis?"


"Aku hanya menulis aku tidak tahu rasanya disayang oleh ibu. Dan aku pun terkena hukuman oleh guruku."


"Dari situlah, ketika hari ibu datang. Sedih bercampur marah yang aku rasakan. Aku merasa Tuhan tidak adil kepadaku. Jika, Mamih harus pergi. Kenapa aku harus terlahir? Kenapa tidak aku saja yang pergi? Atau kenapa aku dan Mamih saja yang tidak pergi berdua? Agar kalian tidak terbebani akan diriku," terang Radit dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucap yang terlontar dari Radit. Rindra serta Addhitama tak kuasa menahan air mata mereka. Tekanan batin yang selama ini Radit rasakan. Tapi, Radit seolah diam. Dan tidak mengungkapkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepada keluarganya.


"Maafkan Abang, Dit," lirih Rindra.


"Sudahlah Bang, itu hanya segelintir masa lalu aku yang penuh dengan kesedihan. Semenjak aku memiliki Echa, hidup aku lebih berwarna dan lebih hidup. Itulah, alasannya kenapa aku tidak akan pernah melepaskannya dan tidak akan memberikannya kepada Abang."


"Dari Echa, aku mengenal kasih sayang tulus seorang wanita kepadaku. Usapan lembut tangannya seperti usapan lembut tangan Mamih yang hanya bisa aku rasakan di dalam mimpi. Dan hanya Echa yang mampu menerima segala kekuranganku. Ketika, keluargaku sendiri tidak menerimaku. Dia dengan tangan terbuka menerimaku dan mengajakku masuk ke dalam keluarganya yang penuh cinta."


Echa meletakkan dagunya di pundak Radit dengan pelukan yang semakin erat.


"Aku sudah memaafkanmu, Bang. Meskipun, semua kesalahanmu masih aku ingat sangat jelas. Tapi, dari awal emang aku tidak ingin menyimpan dendam."


"Aku harap, maafmu itu tulus dan dibarengi dengan perubahan sikapmu."


"Dan tolong, tanggung jawablah atas Fani. Anak itu memerlukan sosok seorang Ayah. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab. Jangan jadi pecundang, hanya ingin enaknya saja," sindir Radit.


"Dan untuk masalah harta Papih. Aku sungguh tidak menginginkannya. Aku akan mencari sendiri harta untukku. Aku tidak mau menjadi penikmat harta orangtua," tukasnya.


"Satu lagi, tolong jangan menampakkan diri di hadapanku atau Echa untuk beberapa waktu ini. Biarkan Echa menghilangkan rasa takut dan bencinya terhadapmu." Rindra pun mengangguk.


"Aku akan menuruti semua permintaan kamu, Dit. Dan makasih, sudah menyuruh Papih mencabut laporannya," ujar Rindra.


"Seburuk-buruknya Abang, Abang tetaplah Kakakku. Anak kandung Papih, harusnya kita membahagiakan Papih bukan malah membuat Papih sedih," sahutnya.


"Sebelum aku pergi, boleh aku memeluk mu?" Radit mengangguk pelan.


Ketika Echa sudah melepaskan pelukannya, Rindra segera memeluk tubuh Radit.


"Maafkan Abang, Dit."


Ada kehangatan yang menjalar di tubuh dan hati Radit. Selama dia hidup, belum pernah Rindra memeluk dirinya. Bahagia yang kini Radit rasakan. Addhitama pun, tak kuasa menahan harunya. Doa yang selalu dia panjatkan. Meminta kepada Tuhan agar hati Rindra terketuk untuk menerima Radit. Dan kini doa itu terkabul.


Terimakasih Tuhan.


...----------------...

__ADS_1


Semoga terhibur ...


__ADS_2