
"Lah itu 'kan Mamah Bebi."
Arya benar-benar terkejut melihat siapa yang membongkar brankasnya. Dia menggelengkan kepala tak percaya. Ternyata tuyul cantik yang berani mengambil uangnya.
"Selama ini tuyulnya istri Papah sendiri," kekeh Iyan.
"Manusia selalu buruk sangka kepada makhluk seperti aku," bisik makhluk kerdil botak.
Prank!
Suara pecahan kaca terdengar. Arya melebarkan matanya ketika lima parfumnya yang ada di atas meja rias sudah pecah dan berserakan di bawah. Aleeya dan Aleena hanya dapat menunjukkan deretan giginya yang belum lengkap.
"Itu parfum mahal," lirihnya.
"Syukurin!"
Kata yang diucapkan oleh seseorang membuat semua orang yang berada di dalam kamar Arya menoleh. Putri tunggal Arya sudah berdiri di ambang pintu. Arya menatap nyalang ke arah Beeya.
"Dari pada beli parfum begituan mending buat disumbangin uangnya. Anak Sultan bukan, tapi gegayaan kayak anak Sultan," dengkus Beeya kesal.
Inilah yang tidak disukai oleh Beeya dan juga Beby. Arya memiliki hobi belanja barang mahal. Uang yang dia simpan di brankasnya adalah uang yang sengaja dia sisihkan untuk membeli barang branded, sedangkan istrinya malah tidak suka menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli barang yang hanya sekali pakai terus jadi pajangan, mubazir.
"Kakak Sa lapal," ucap Aleesa.
Beeya mengajak Aleesa dan kedua saudaranya untuk turun ke lantai bawah. Menikmati makanan yang sudah tersaji di meja makan. Namun, mereka lebih menikmati makanan itu di ruang televisi.
"Calon suami, mau nambah gak?" goda Beeya ke arah Iyan.
Iyan menatap kesal ke arah Beeya. Semakin hari tingkah Beeya semakin menyebalkan di mata Iyan. Apalagi jika sudah bertemu, selalu saja Beeya memanggilnya calon suami. Perbedaan umur saja pun sudah sangat mencolok. Berbeda lima tahun. Itu semua gara-gara kedua ayah mereka yang bercanda ingin menjodohkan mereka berdua.
Tengah asyik menikmati makanan. Beby terkejut dengan kehadiran si triplets dan juga Iyan.
"Mamah," panggil si triplets.
Beby memeluk ketiga anak Echa dan mencium gemas si kembar tiga ini yang sangat menggemaskan.
"Sama siapa ke sini?" tanya Beby.
"Wawa," jawab mereka.
Dahi Beby mengkerut mendengar jawaban dari si triplets. Tidak biasanya suaminya itu membawa ketiga bocah yang suaminya anggap nakal ini karena setiap kehadiran si triplets di rumah ini pasti membawa kekacauan dan kerugian untuk Arya.
Beby meninggalkan si triplets dan juga Iyan. Dia masuk ke dalam kamar. Dia menahan tawa ketika sang suami tengah mengumpulkan serpihan botol parfum kaca yang sudah berada di lantai.
"Pasti ulah si triplets," tebak Beby.
Arya yang fokus ke serpihan beling pun kini menoleh ke arah sang istri yang tengah tersenyum mengejek.
"Kenapa Mamah tega ambil uang Papah?" sergah Arya.
"Uang apa?" Beby masih berkilah, dia menyimpan tasnya di atas tempat tidur.
"Berlagak gak tahu lagi," sungutnya.
__ADS_1
"Emang gak tahu," balas Beby santai.
Arya mendengkus kesal melihat sikap istrinya ini. Jika, tidak cinta sudah dia tenggelamkan ke laut merah.
"Mah, Papah serius," tekannya.
Kini, Beby yang menatap tajam ke arah Arya. Nyali Arya ciut jika sudah mendapat tatapan seperti itu. Semakin hari istrinya menjelma seperti monster di matanya.
"Papah cuma nanya, buat apa uangnya?" Arya berkata sangat pelan dan lembut. Dia sudah merasakan aura-aura tidak bersahabat.
Beby tak menjawab, dia malah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Mah, jawab dulu buat apa uangnya," tanya Arya sambil mengetuk-ngetuk kamar mandi.
"Berisik, Pah! Mamah lagi konsentrasi," teriak Beby dari dalam kamar mandi.
Istrinya sekarang sangat menyebalkan sama seperti Echa. Mentang-mentang mereka berdua saudaraan.
Arya menuju lantai bawah, ketiga tuyul, Iyan dan juga Beeya sudah tidak ada di sana. Hati Arya berdegup sangat cepat. Perasaanya sudah sangat tidak enak.
Dia melihat ke halaman depan. Mereka tengah asyik bermain bola. Namun, ada yang aneh. Sepatu yang mereka gunakan terlihat sangat besar. Matanya melebar dengan sempurna. Arya berlari ke arah lemari kaca khusus sepatu dan sepatu yang baru saja dia beli sudah tidak ada.
Arya berlari ke arah halaman depan dan melihat Aleesa menendang bola dan sepatunya malah melayang. Bukanya diambil, mereka malah bermain lempar sepatu.
"Aleesa ... jangan!" teriaknya.
Namun, Aleesa malah sengaja. Dia melempar ke atas dan sepatunya tersangkut di atas pohon.
"Sepatu gua," lirihnya.
Pintu gerbang terbuka, Beeya bersorak riang karena Oma dan bu'denya datang. Si triplets hanya bengong memandangi mobil yang berhenti.
Arina tidak mau memeluk Beeya dia malah memeluk tubuh ketiga anak Echa.
"Masih ingat anteu?" tanya Arina.
"Masih," jawabnya riang gembira.
Beby menyapa mamah mertua serta kakak iparnya. Dia mengajak mereka untuk masuk ke dalam. Nyonya Bhaskara merasa terganggu dengan adanya tangga yang bersandar di pohon mangga. Kakinya menendang tangga tersebut sehingga tangga itu terjatuh. Barulah dia masuk ke rumah putranya.
Semua orang yang berada di dalam rumah sangat asyik berbincang ditambah di luar sedang hujan. Mereka melupakan seseorang yang berada di atas pohon.
Tingkah si triplets yang membuat Nyonya Bhaskara, Arina serta Beby tergelak bersama. Lucu, menggemaskan dan juga centil membuat semua orang suka kepadanya. Beeya dan Iyan malah asyik bermain PS.
"Mamah, mau buah andul," pinta Aleeya.
"Mau anggur?" Aleeya mengangguk.
Beby dengan senang hati mengambilkan buah anggur untuk mereka bertiga. Bukan hanya Aleeya yang menyukai anggur. Aleesa dan Aleena juga sangat suka dengan buah anggur. Melihat mereka memakan buah dengan lahap membuat ketiga wanita dewasa itu tertawa.
"Mbak, kenapa gak nikah aja sama Pak Rion? Dia 'kan duda, Mbak Janda. cocok tuh," ujar Beby.
"yang dikatakan Beby benar tuh Rin, dia juga pengusaha kaya raya. Sahabat si Bhaskara juga," timpal Nyonya Anthony.
__ADS_1
"Ck, ngapain sibuk ngurusin aku sih?" sungut Arina.
"Ya kalo aja kami kesepian," goda mamahnya.
Arina menggeleng tak percaya debagn ucapan sang ibu.
"Arin nikah sama si duda itu yang ada Arin stres. Anaknya aja selalu bikin Arin emosi jiwa ditambah ini kurcaci tiga ... yang ada Asin mendoakan ubanan," sahut Arina bersungut-sungut.
Beby dan mertuanya tertawa terbahak-bahak mendengar Omelan Arina .
Iyan ke rumah Beeya tidak bersama Jojo. Jojo menolaknya karena dia tidak suka dengan ibu-ibu PKK yang ada di pohon mangga rumah Iyan dulu. Mereka terlalu sibuk mengurusi hidup orang. Setiap malam kerjaan mereka hanya mengghibah makhluk lain.
"Jojo, ikut yuk." Jojo menggeleng dengan cepat.
"Malas. Kamu saja, kalau gak ajak Dev."
Dev pun menggeleng dan bersembunyi di belakang tubuh Om Uwo.
"Ibu-ibunya bar-bar. Tidak suka tidak suka, " ucapnya sambil menggelengkan kepala. Iyan malah tertawa terbahak+bahak melihat tingkah kedua temannya ini.
Iyan bukan orang Pemaksa. Dia menghargai setiap keputusan teman-temannya..
Si makhluk kerdil berwajah jelek Yang Iyan minta ikut sudah mendekat ke arah Iyan. Dia habis dari luar melihat hujan. Dia naik ke atas sandaran sofa dan berbisik di telinga Iyan.
"Om itu masih ada di atas pohon. Lagi kedinginan seperti anak burung. Om itu 'kan gak bisa manjat." Mata Iyan melebar.
Dia sedikit terkejut mendengar penuturan si botak. Mata Iyan menatapnya tajam dan so botak mengangguk yakin..
"Yeay! Menang," teriak Beeya.
"Kak, Papah kamu ...."
Beeya pun tersadar, dia menatap ke arah Iyan dan Iyan pun mengangguk. Mereka berdua berlari ke arah tiga orang dewasa.
"Kenapa lari-larian?" sergah Nyonya Bhaskara.
"Papah ...." Beeya menggantung ucapannya. Dahi Beby mengkerut begitu juga dengan Arina.
"Kenapa sama Papah kamu?" tanya sang Oma.
"Di atas pohon gak bisa turun," jawab Beeya.
"Bukannya tadi pakai tangga naiknya," balas Beby.
"Tangga yang ada di pohon mangga itu tadi Mamih tendang," ujar Nyonya Bhaskara tanpa rasa bersalah.
Bukannya segera keluar membantu Arya. Mereka malah tertawa terbahak-bahak.
"Apa perlu kita menghubungi pemadam kebakaran?" kelakar Arina. Suara riuh tawa pun kembali menggema.
"Biarin ajalah, palingan juga dia mengkerut kedinginan," ujar Nyonya Bhaskara.
Di atas pohon, Arya memeluk sepatunya yang berhasil dia selamatkan.
__ADS_1
"Woi manusia ... kalian gak ingat sama gua apa?" teriak Arya. Dia sudah sangat kedinginan.