Yang Terluka

Yang Terluka
Perpisahan


__ADS_3

Badai, angin, ombak yang kencang pasti pernah menimpa rumah tangga setiap orang. Sama halnya dengan rumah tangga Echa dan juga Radit. Ombak yang paling besar menghadang adalah ketika dia hampir menjadi pria bodoh. Pria yang tak tahu bahwa tidak selamanya wanita yang dianggap teman bicara menganggapnya juga teman. Malah, berharap lebih dari seorang teman.


Namun, ombak itu mampu Radit dan Echa lawan hingga mereka masih bertahan hingga sekarang ini. Radit yang selalu terbuka kepada sang istri. Apapun yang Radit lakukan pasti Echa tahu. Dia pun menjadi suami yang semakin hangat. Anak-anak mereka berdua tumbuh menjadi anak yang cantik dan juga pandai.


"Ba, Kakak Sa pulang sekolah mau main dulu, ya."


Radit yang tengah mengunyah makanan pun mulai menatap sang putri kedua. "Sama siapa?" tanya sang ayah.


"Yansen."


"Jangan malam-malam." Aleesa mengangguk dan melanjutkan sarapannya.


"Ba, Nanti Dedek mau kuliah di Bandung aja, ya." Bukan hanya Radit yang terkejut, Echa pun ikut terkejut.


"Katanya mau di Jakarta sama Kakak Sa," balas sang ibu.


"Enggak ah."


Radit menghela napas kasar. Dia menatap ke arah ketiga anaknya dengan serius.


"Di manapun kalian belajar, pesan Baba cuma dua. Belajar yang benar dan jaga diri kalian. Jangan sampai kalian membuat kami sebagai orang tua merasa gagal dalam mendidik kalian." Ketiga anak Radit pun mengangguk mengerti.


"Kakak Sa, Bubu harap kamu dan Yansen hanya berteman saja." Aleesa hanya bisa tersenyum perih.

__ADS_1


.


"Aku untuk kamu, kamu untuk aku. Namun, semua apa mungkin iman kita yang berbeda." Aleeya menyanyikan lagu yang dinyanyikan Marcell seraya meledek Aleesa yang tengah bergandengan tangan dengan Yansen.


"Berisik, Dek!" Aleeya dan Aleena hanya tertawa. Walaupun Aleesa dekat dengan Yansen, tetapi Yansen tidak mempermasalahkan jika kedua saudara Aleesa selalu mengintili mereka berdua di sekolah maupun di luar sekolah. Yansen mengerti bahwa saudara Aleesa ingin menjaga Aleesa.


.


Echa tengah bersandar di pundak sang suami setelah melakukan pelayaran menuju kenikmatan.


"Ay, gimana caranya bilang ke Aleesa? Aku gak tega." Radit mengecup ujung kepala Echa, dia tahu kekhawtiran Echa seperti apa tentang hubungan anaknya dengan Yansen.


Yansen anak yang baik. Namun, ada dinding besar yang seakan menghalangi mereka untuk bersatu. Berbeda keyakinan, itulah tembok tebal nan menjulang yang tidak bisa menyatukan mereka berdua.


"Baba mau bicara sama kalian." Ketiga anaknya pun terdiam. Kemudian, menatap sang ayah dengan tatapan lekat.


"Kalian sudah dewasa. Kalian juga berhak menentukan kebahagiaan kalian sendiri. Namun, Baba mengharapkan kalian bisa memilih pasangan yang memang seiman."


Deg.


Aleesa terdiam, dia tidak bisa berbicara apapun.


"Satu hal lagi, Baba tidak ingin kalian ribut karena masalah pria. Kalian sudah dewasa, pasti banyak yang menyukai kalian atau kalian menyukai seseorang. Baba berharap, kalian tidak menyukai orang yang sama. Baba tidak ingin kalian bertengkar hanya karena seorang laki-laki."

__ADS_1


Radit hanya tidak ingin kejadian seperti dirinya terulang pada anak-anaknya.


Luka yang pernah Radit dan Echa rasakan ketika kecil membuat mereka jauh lebih kuat menghadapi setiap permasalahan yang ada. Dua insan yang dipertemukan dengan tak sengaja, ternyata memiliki luka batin yang sama. Disatukan oleh cinta yang tulus, diuji oleh ombak yang besar dan kini menjadi satu kesatuan yang kokoh menjadi keluarga yang bahagia dengan tiga orang anak yang tumbuh dengan sangat luar biasa. Anak-anak yang memiliki karakter berbeda, tetapi selalu kompak dalam segala hal.


Echa dan Radit ditutup matanya oleh Aleesa. Kemudian, mereka berdua dibawa ke suatu ruangan.


"Ini ada apa sih?" tanya Echa.


"Ikut aja."


Penutup mata Radit dan Echa dibuka. Mereka berdua tersenyum bahagia ketika melihat kue ulang tahun yang bertuliskan happy anniversary.


Radit dan Echa tersenyum bahagia dan ketiga anaknya memeluk erat tubuh kedua orang tuanya yang sangat luar biasa itu.


"Love you, Baba. Love you, Bubu." Aleena sudah mencium pipi kedua orang tuanya yang masih terlihat cantik dan tampan.


"Till Jannah ya."


"Amin," sahut mereka semua.


Kebahagiaan menyelimuti hati mereka sekarang ini. Keluarga kecil yang sangat kompak dan ceria. Radit tetap menjadi yang paling tampan di antara mereka semua.


Radit dan Echa merasa sangat bahagia karena dia tidak menyangka sudah hampir seperempat abad mereka bersama dari masa pacaran hingga menikah. Sekarang, mereka sudah memiliki tiga anak gadis yang akan tumbuh menjadi dewasa dan memberikan cucu untuk mereka.

__ADS_1


Samali di sini cerita haru-biru, gelak tawa Radit dan Echa. Sampai bertemu di lain kesempatan lagi. Terima kasih semua ...


__ADS_2