Yang Terluka

Yang Terluka
Pengkhianat


__ADS_3

Setibanya di rumah, Echa disambut oleh sang Mamah. Pelukan hangat sang Mamah yang kini sangat dia butuhkan.


"Kamu kenapa Kak?" Echa hanya menggeleng.


Raut wajah pilu tak bisa dia sembunyikan dari sang mamah. Ayanda sangat melihat jelas raut kesedihan di wajah putrinya ini.


"Ada Radit di dalam." Mendengar nama Radit membuat ulu hatinya sakit. Apalagi dia melihat sendiri bagaimana Radit dengan seorang wanita yang pernah dia lihat. Namun, dia lupa di mana pertemuan mereka berlangsung saat itu.


"Echa ingin istirahat, Mah," tolaknya.


Ayanda pun mengerutkan dahinya heran, kenapa Echa seperti ini. Padahal dia dan Radit sudah lama tidak bertemu.


Echa masuk ke rumahnya dan tak menoleh kepada Radit sedikit pun yang sedang berada di halaman belakang, Begitu pun Radit yang tak menyadari kehadiran Echa. Karena dia sedang sibuk dengan benda pipihnya.


"Ada apa dengan kalian?" gumam Ayanda.


Echa mengunci kamarnya dari dalam, dia benar-benar ingin sendiri sekarang ini. Menikmati luka baru yang baru saja digoreskan oleh Radit.


"Aku kira kamu itu laki-laki baik, ternyata kamu hanya datang untuk membuatku jatuh cinta. Lalu, pergi dan bahagia bersama yang lain padahal di sini aku terluka."


Perlahan Echa memejamkan matanya, lelah dan sakit jadi satu. Akhirnya, dia menyerah dan memilih masuk ke alam mimpi. Berharap esok semuanya akan kembali seperti sedia kala.


Di lantai bawah, Radit beranjak dari duduknya. Dia pamit kepada Ayanda karena ada pasien kritis yang membutuhkan bantuannya.


Temui aku di cafe biasa.


Begitulah pesan yang Radit kirimkan kepada Echa. Radit tahu, Echa sudah kembali. Dia melihat serta mendengar percakapan antar Echa dan juga Ayanda. Echa masuk ke dalam rumah pun, dia tahu. Hanya saja, Radit tidak ingin membuat kegaduhan di rumah orang. Emosi Echa sedang tidak stabil.


Jam tujuh malam, Echa baru membuka matanya. Dia merentangkan kedua tangannya yang terasa pegal karena cukup lama dia tertidur.


"Echa sudah pulang?" tanya Gio yang baru saja pulang dari kantor.


"Sudah, tapi sepertinya ada yang gak beres dengan putri kita."


Teriakan gadis cantik membuat Gio dan Ayanda menoleh ke arah Echa. Tanpa aba-aba, Echa memeluk tubuh sang papa. Gio sangat yakin, Echa sedang ada masalah.


"Tak lama kamu tidur, Radit pamit pulang. Katanya ada pasien yang membutuhkan pertolongannya." Echa pun mengangguk pelan.


"Echa ke atas, Mah, Pah," pamitnya.


Di dalam kamarnya, Echa membuka pintu yang menghubungkan ke balkon kamarnya. Dia pandangi langit malam yang terlihat mendung, seperti hatinya yang sedang murung.

__ADS_1


Echa mengecek ponselnya, namun tak dia hiraukan pesan dan panggilan Radit. Dia belum siap untuk bertemu dengan Radit. Hatinya masih sakit dan perih. Keberadaannya dengan wanita itu masih singgah di kepala Echa.


"Kak," panggilan dari sang papa membuat Echa tersadar akan kesakitannya.


"Ada Rival yang ingin ketemu kamu," ucap Gio.


Echa hanya terdiam, dan dia sudah tau pasti kakak dari Radit itu ingin menjelaskan hubungan Radit dengan wanita itu.


"Temuilah, Kak."


Pada akhirnya, Echa menuruti permintaan Gio. Dia pun turun ke bawah menemui Rival. Rival tersenyum ke arah Echa, dibalas dengan senyum terpaksa olehnya.


"Kakak diutus Radit untuk kesini?" tanya Echa.


Rival hanya menyerahkan secarik surat kepada Echa. Echa hanya menatap surat itu tanpa mau mengambilnya.


"Radit kembali ke Ausi." Sontak surat yang Echa genggam pun terjatuh. Dia hanya tersenyum kecut.


"Aku hanya mengantarkan surat itu. Aku pamit," ucap Rival.


Tubuh Echa seperti tidak bisa menopang hatinya yang sakit. Dia pun terduduk dengan wajah yang sangat sulit diartikan.


Dia menatap surat yang berada di tangannya. Perlahan tangannya membuka surat tersebut.


Maaf, aku gak pamit dulu sama kamu. Karena aku tahu kamu sedang marah. Kepergian ku karena ada pasien yang membutuhkan pertolonganku. Aku yang bertanggungjawab atas kesembuhannya.


Maaf Sayang, aku tidak bilang jika setelah dari Jogja aku harus ke Malang menemui saudaraku di sana. Dan yang kamu lihat itu adalah memang pasienku. Aku disuruh Papih untuk membawanya keluar karena dia sedang mengalami trauma yang cukup dalam. Aku hanya menganggapnya adik tidak lebih dari itu.


Untuk chat dan panggilan yang tak pernah aku jawab, sebenarnya ponselku ketinggalan di rumah. Dan untungnya Kak Rival yang mengamankan ponselku.


Sebenarnya aku ingin memeluk kamu, tapi aku tahu emosimu sedang tidak stabil. Lebih baik, aku menulis surat ini. Karena aku yakin, pesan dan juga panggilan aku pun tak akan pernah kamu jawab.


Tunggu aku kembali, Sayang. Percayalah, aku masih menjaga hatiku hanya untuk kamu. Aku janji akan menghapus semua sedihmu itu ketika aku kembali.


I LOVE YOU❤️


Kali ini Echa bingung,harus percaya atau tidak dengan ucapan Radit yang dia tuliskan di surat ini.


"Jangan terlalu percaya, semua laki-laki itu sama," gumamnya.


Hari terus berganti, perlahan Echa terbiasa dengan ketidakhadiran Radit di sampingnya. Dia pun sudah terbiasa dengan ketiadaan kabar dari Radit. Echa ingin mencoba untuk melupakan Radit secara perlahan. Meskipun, tidak dia pungkiri dia masih merindukan Radit di sampingnya.

__ADS_1


"Lu gak apa-apa kan?" tanya Mima.


Echa menyunggingkan senyum manisnya. Membuat Doni yang tidak sengaja melihat senyum Echa pun terpana dibuatnya.


"Jangan senyum begitu, Cha. Senyum lu buat gua diabetes." Sorakan dari para siswa yang lain pun terdengar, membuat Echa malah tertawa melihat wajah bersemu Doni.


"The next Riza," cibir Sasa.


"Jangan samain gua sama Riza, gua mah tipe cowok setia," elaknya.


"Setiap tikungan ada," sahut Sasa.


"Sembarangan!" Doni menoyor kepala Sasa. Dibalas toyoran lagi oleh Mima.


"Udah, udah. Gua lapar nih. Ayo kita ke kantin."


Doni malah mengikuti ketiga perempuan itu membuat semua orang terheran-heran.


"Sejak kapan si Doni dekat sama Echa?" bisik para siswa.


Setibanya di kantin, Echa baru tersadar jika Doni sedari tadi mengikutinya dan juga Sasa dan Mima.


"Ngapain sih lu ngikutin gua?" tanya Echa.


"Sekali-kali makan bareng lu sama dua piaran lu gak apa-apa kali," imbuhnya.


Sasa dan Mima menoyor kepala Doni secara berbarengan. "Set dah, algojo lu parah banget nih. Lama-lama pala gua geger otak nih," keluh Doni.


"Lebay lu, baru diginiin doang juga," seru Sasa yang sudah menoyor kembali kepala Doni.


"Ya Allah Sa, mainnya jangan kepala bisa gak sih?"


"Gak," sahut Sasa dan Mima berbarengan.


Echa pun tertawa lepas melihat Doni yang dianiaya oleh kedua sahabatnya. Ada sorot mata yang penuh api cemburu menatap lekat ke arah meja yang sedang diduduki Echa beserta ketiga temannya.


"Pengkhianat," serunya.


***


Jangan ditimbun-timbun ya. UP langsung baca ya.

__ADS_1


Jangan lupa komen, like dan vote-nya ya ...


__ADS_2