Yang Terluka

Yang Terluka
Lapang Hati


__ADS_3

Kisah cinta ketiga anak Addhitama tidaklah mudah. Kisah cinta yang cukup terjal antara Radit dan Echa. Penyatuan cinta antara Rindra dan Nesha pun harus melalui jalan yang berliku. Dan Rifal, dia sedang menunggu cintanya. Akan berakhir sama dengan kakak dan adiknya. Atau malah sebaliknya? Miris seperti kisah masa lalu.


Addhitama selaku orang tua tunggal dari ketiga putranya merasa sudah sangat bahagia. Bagaimana tidak, ketiga anaknya serta dua menantunya bisa hidup akur. Masalah antara Rindra dan Echa sudah selesai dengan saling memaafkan. Serta kehadiran empat cucu yang membuat rumah Addhitama selalu riuh jika sedang berkumpul. Contohnya sekarang ini.


Rio sedang mengajak bercanda si triplets. Tawa bahagia keluar dari ketiga anak Radit dan Echa. Keempat cucunya merasa sangat bahagia. Bisa bermain bersama.


"Dit, tinggalin Aleena di sini, ya." Permintaan sang ayah dijawab decakan kesal oleh Radit.


"Itu anak Radit, Pih. Bukan boneka," sungutnya.


Semua orang pun tertawa melihat kekesalan Radit. Bagaimana tidak kesal, setelah berumur enam bulan ketiga anak Echa dan Radit tumbuh menjadi anak-anak yang sangat sehat. Pipi gembilnya serta warna kulitnya yang putih membuat semua orang suka. Sehingga ketiga anak Radit menjadi pusat rebutan oleh ketiga kakeknya.


"Dit, Aleesa tinggalin aja di rumah Papa."


"Dit, Aleeya Biar Ayah yang urus."


Permintaan dari ketiga kakek yang di luar akal sehat. Tidak ada orang tua yang akan memberikan anaknya kepada siapapun. Termasuk kepada kakek dan nenenknya. Semua orang tua akan berjuang keras untuk membiayai anak-anaknya. Tak apa kaki di kepala dan kepala di kaki, yang terpenting anak. Anak adalah harta yang paling berharga yang orang tua miliki. Apalagi Radit dan Echa adalah orang tua yang berkecukupan.


Dari segi pendidikan, Addhitama sudah memilihkan sekolah yang paling bagus untuk ketiga cucunya. Sama halnya dengan Rio. Addhitama tidak akan membeda-bedakan. Tabungan pendidikan untuk keempat cucunya sudah Addhitama persiapkan juga. Intinya, Addhitama ingin memberikan yang terbaik untuk para cucunya.


Kemunculan seseorang di malam penuh kehangatan, mendadak senyap seketika. Enam bulan menghilang, kini pria itu menginjakkan kaki di rumah sang kakak. Siapa lagi jika bukan Satria.


Laki-laki yang menjadi penyebab kehancuran rumah tangga Ayah Echa dengan ibu sambungnya. Laki-laki yang telah membeli keperawanan ibu sambung Echa ketika masih muda. Pandangan Satria tertuju pada tiga sosok bayi mungil yang sedang berada di atas karpet. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Teringat akan anaknya yang telah tiada.


"Devandra," lirihnya.


Addhitama segera bangkit dan memeluk tubuh Satria. Addhitama pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat dia cintai, yaitu istrinya. Tidak mudah melupakan dan tidak mudah untuk menjalani semuanya dengan normal.


"Devandra sudah tenang di sana." Addhitama menepuk pelan punggung Satria.


Echa menggendong salah satu dari ketiga putrinya. Menghampiri Satria dan juga Addhitama.


"Apa Om mau menggendong anak Echa?" tawaran tulus yang Echa berikan dengan senyum penuh ketulusan.


Semua orang tercengang, apalagi Nesha. Dia menatap ke arah Rindra yang menjawab dengan gedikan bahu.


Wanita luar biasa.


Begitulah batin Nesha. Apalagi, Echa tidak terlihat menyimpan marah dan juga dendam kepada Satria. Padahal, Satria telah merusak rumah tangga ayah dan ibu sambungnya.


"A-apa kamu serius?" Satria baru membuka suara setelah lama terkejut mendengar penawaran Echa.


"Tentu," jawab Echa dengan senyum yang tidak pernah luntur.


Ya Tuhan, terbuat dari apa hati anak ini.


"Menantuku memang sangat baik. Selain parasnya yang cantik, dia juga memiliki hati yang begitu lapang. Tidak salah Radit memilihnya untuk menjadi pendampingnya hingga tua nanti." Radit tersenyum mendengar ucapan Addhitama. Tangannya mulai merangkul pundak Echa. Kemudian, dia mencium kening Echa sangat dalam.


"Bukan hanya aku yang menganggap kamu spesial. Semua orang pin setuju dengan anggapanku." Echa pun tersenyum dengan tangan yang melingkar di pinggang Radit.


"Jika, anakku masih hidup. Pasti sama dengan anak kalian," ucap Satria, seraya menatap ke arah Echa dan Radit.


"Tanggal lahirnya pun sama seperti anak kalian," tambahnya lagi.


Ketika Echa melahirkan, di Surabaya Amanda (ibu sambung Echa) melahirkan anak ketiganya hasil penanaman benih dari Satria. Nahasnya, bayi tidak berdosa itu meninggal tepat di usia dua minggu. Di mana bayi malang tersebut baru keluar dari ruangan PICU dan akan dibawa pulang Satria. Namun, Amanda merebut paksa hingga akhirnya bayi itu terlepas dari gendongannya dan terjatuh ke badan jalan. Nyawanya tidak tertolong karena terlindas minibus yang melintas.


Sakit, sudah pasti Satria rasakan. Bibirnya mampu mengatakan ikhlas. Akan tetapi, hatinya pasti merasa kosong. Separuh nyawanya telah pergi dan tidak akan pernah kembali.


"Jika, Om rindu dengan anak Om. Om bisa melihat ketiga anak Echa. Menggendongnya serta menciumnya. Anggap saja, ketiga anak Echa ini adalah Devandra," imbuh Echa.


"Bagaimana dengan Ayahmu? Dia sudah pasti sangat membenci, Om." Echa hanya tersenyum.


"Hati Ayah memang masih sakit. Namun, Ayah bukanlah pria kejam. Ayah akan mengerti bahwa kehilangan itu sangat menyakitkan. Apalagi, kehilangan buah hati untuk selama-lamanya."


Echa mendekat ke arah Satria. Mengusap lembut pundak Satria dengan begitu lembut.


"Pintu rumah Echa selalu terbuka untuk Om. Om masih keluarga Echa. Om berhak melihat ketiga cucu Om."


Hati Satria terenyuh mendengar ucapan Echa. Matanya berkaca-kaca. Dia adalah pria kejam yang menyakiti pria tidak berdosa. Akibatnya, kedua adik Echa kini menjadi anak piatu. Kepergian Amanda bukanlah salah Satria. Itu bentuk karma yang Tuhan tunjukkan di depan mata. Tak selamanya, karma itu datang terlambat. Bisa cepat seperti memakan cabai. Rencana Tuhan tidak pernah bisa manusia tebak. Penuh rahasia yang tidak mampu dijangkau oleh nalar manusia.


"Makasih, Cha. Makasih, kamu sudah tidak membenci Om."

__ADS_1


"Untuk apa Echa membenci, Om. Tidak ada gunanya untuk Echa. Ayah jadi duda lagi memang takdirnya seperti itu. Pasti ada rencana indah yang telah Tuhan persiapkan untuk kebahagiaan Ayah kelak. Akan ada pelangi setelah hujan datang."


"Kamu sangat beruntung Radit. Sangat beruntung," ucapnya pada Radit.


Wajah Satria nampak bahagia sekali bisa bercengkrama dan bermain bersama Rio dan ketiga anak Radit. Senyumnya tidak pernah pudar. Di usia yang sudah tidak muda. Dia masih sendiri. Tidak ada anak serta istri karena terlalu mengharapkan seseorang yang ternyata tidak sebaik yang dia pikir. Malah menghancurkan hidupnya dengan membunuh anak yang tidak berdosa. Anak yang seharusnya menjadi pelipur lara bagi dirinya. Menjadi penerus dari perusahaan yang dia miliki. Namun, semua itu hanya sebatas keinginan yang tidak akan pernah tercapai.


"Fal, apa kamu mau seperti Om Satria? Melajang sampai tua?" Rindra berbisik pada Rifal.


Decakan kesal yang menjadi jawaban dari Rifal. Sudah lebih dari seminggu ini, Rindra menjelma menjadi manusia yang sangat menyebalkan bagi Rifal. Ingin rasanya dia mencekik leher Rindra. Namun, Rifal masih takut akan yang namanya dosa.


"Berisik lah!" dengus Rifal.


"Wow, good night Beb." Tidak sengaja Rindra membaca pesan yang baru saja Rifal kirimkan kepada seseorang. Sayangnya, Rindra tidak melihat siapa nama kontaknya.


"Papih, si bujang lapuk udah punya pacar," teriak Rindra seperti anak kecil.


Rifal segera membungkam mulut Rindra dengan bantal yang berada di atas sofa. Memiting kepala Rindra agar diam dan jangan berisik.


"Mbak, boleh gak sih aku bunuh suami Mbak ini?" geram Rifal.


"Jangan Om!" teriak Rio sambil berlari ke arah Rifal.


"Ka-lo Papih mati, I-Iyo gak akan punya ayah lagi. Hua ...."


Rio pun menangis membuat Rifal kebingungan sendiri. Sedangkan Nesha hanya tertawa. Membiarkan Rifal meyelesaikan masalahnya dengan Rio.


"Iyo masih bisa punya ayah," jawab Rifal, seraya memberi pengertian kepada Rio.


"Siapa?" tanya Rion yang masih terisak.


"Laki-laki yang lebih tampan dari papih Rio. Terus ... punya pesawat pribadi. Jadi, Iyo gak perlu lama-lama nunggu pesawat untuk terbang. Isi pesawat itu cuma Iyo, Mamih Iyo dan juga Papih baru Iyo. Serta pilot sama pramugari. Apa Iyo mau?" Dengan cepat Rio mengangguk.


Semua orang semakin tertawa. Sedangkan wajah Rindra sudah merah padam wajahnya.


"Adik laknat!" geram Rindra yang mencoba melepaskan diri dari piringan Rifal.


"Rio senang kalo papih mati?" sergahnya pada Rio.


Semua orang pun terbahak melihat tingkah Rion dan dua pria dewasa yang kini saling serang.


"Ayo, Om. Kalahkan Papih. Biar Iyo punya papih baru." Rio sangat bersemangat melihat Rifal dan Rindra yang tengah beradu.


"Untungnya anak-anak Echa perempuan semua. Gak kebayang kalo mereka laki-laki. Bisa adu jotos setiap hari," ujar Echa kepada Nesha.


"Pusing, Cha. Kayak punya dia anak kalo lagi saling serang. Apalagi, papihnya Rio senang banget godain Rio kalo Rio lagi manja sama Mbak. Sebelum Rio nangis, belum berhenti," terang Nesha.


"Rio dan Abang dekat banget kayaknya," tebak Echa.


"Banget, Rio lebih dekat sama papihnya. Mungkin karena anak cowok kali, ya." Echa mengangguk paham.


"Yang, bantu aku buat bawa Aleena dan Aleeya. Mereka udah tertidur," ucap Radit.


"Tumben, Aleeya udah tidur," gumam Echa sambil melangkahkan kakinya mengahampiri Radit.


Echa mengernyitkan dahi ketika melihat Aleesa yang masih segar. Biasanya, Aleesa lah yang peloor (nempel molor). Aleesa memandang Satria dengan terus tertawa. Padahal Satria tidak menggodanya.


"Yang, kenapa bengong? Bawa Aleeya." Echa pun mengangguk pelan. Menggendong Aleeya dengan sangat hati-hati agar putri ketiganya ini tidak terbangun.


Setelah meletakkan Aleena dan Aleeya. Radit memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Kenapa, Ay?" tanya Echa. Tangan Echa sudah mengusap lembut pipi sang suami yang sudah terletak di pundaknya.


"Besok ke makam Mamih, mau?" Echa tersenyum dan membalikkan tubuhnya tanpa mengurai pelukannya.


"Ajak anak-anak juga, ya." Radit tersenyum mendengar jawaban dari Echa. Sebenarnya, Radit takut jika Echa akan menolak ajakannya. Ternyata ketakutannya salah.


"Kamu seriusan?"


"Kapan aku gak pernah serius?" balas Echa.


Radit memeluk tubuh Echa sangat erat. Mengecup kening Echa sangat dalam.

__ADS_1


"Makasih, Sayang."


Echa merasa ada yang aneh dari diri Aleesa. Anak yang biasanya gampang tertidur kini malah begadang dengan terus tertawa. Seperti sedang ada orang yang mengajaknya bercanda.


"Ay, kok ini anak tumben matanya segar banget, ya," keluh Echa yang terus menguap.


"Kalo kamu ngantuk, kamu tidur aja. Biar aku yang jagain Aleesa," balas Radit seraya mengusap lembut rambut Echa.


"Beneran, Ay?"


"Iya. Kalo nanti Aleesa ingin mimi nanti aku bangunin kamu." Terpaksa Echa tidur di karpet di samping Aleesa yang sedang tertawa tak henti.


Bukan hanya Echa yang merasa aneh. Radit pun merasakan hal yang sama. Radit melihat ke arah dinding. Di sana ada jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Iyan sudah tidur belum, ya," gumam Radit.


Radit mencoba mengetes ke nomor ponsel Iyan. Tak lama, Iyan membalasnya.


Ada apa, Bang.


Tanpa menunggu lagi, Radit menghubungi Iyan melalui sambungan video.


"Kenapa Bang?"


"Kamu lihat Aleesa." Radit mengarahkan ponselnya ke arah Aleesa.


"Itu ada adik Iyan, Bang."


"Adik?" ulang Radit. Iyan mengangguk di seberang layar ponsel.


"Iya, anak Bunda sama Om Satria."


"Devandra?" Iyan mengangguk lagi.


"Bagaimana dengan Aleesa?" tanya Radit khawatir.


"Tolong arahkan ponsel Abang ke telinga Aleesa." Radit pun menurutinya. Ternyata, Iyan hanya membaca ayat kursi, surat Al Falaq dan surat an nas.


Aleesa pun mulai menguap. Radit segera mengusap lembut rambut Aleesa yang menjadi kelemahan Aleesa. Hanya butuh waktu lima menit, Aleesa pun tertidur.


Setelah meletakkan Aleesa di bisa bersama kedua saudaranya. Radit berbincang kembali bersama Iyan.


"Devandra sedang berbicara bersama Aleesa. Dia merasa memiliki punya teman."


"Apa itu akan bahaya?"


"Tidak. Devandra bisa menjadi pelindung sekaligus teman untuk Aleesa. Seperti Jojo sahabat Iyan yang pernah Iyan ceritakan kepada Abang."


Tempat ternyaman untuk Iyan bercerita adalah Radit. Dia bisa mengungkapkan semuanya tanpa terkecuali. Hanya Radit yang mengerti akan kelebihan yang Iyan miliki.


"Sekarang Devandra ada di mana?"


"Di depan boks bayi si triplets. Dia akan menjadi pelindung untuk ketiga anak Abang."


Radit menghela napas kasar. Kemudian. Radit bertanya kembali.


"Kalo besok si triplets dibawa ke makam Omanya, aman gak?"


"Jangan khawatir, mereka memiliki baby sitter tak kasat mata. Menjaga si triplets dengan sangat baik. Ditambah ada Devandra yang akan menjadi bodyguard mereka bertiga.


Akhirnya, Radit merasa tenang dan lega mengenai anak-anaknya. Dia sedikit ragu untuk membawa si triplets ke rumah terakhir sang Mamih. Namun, Mamihnya selalu hadir di mimpinya. Menagih ucapan Radit yang katanya akan membawa ketiga anaknya ke makam. Sampai pada saat ini, itu semua belum terwujud karena kesibukan Radit.


"Dit, Mana cucu-cucu Mamih? Mamih ingin bertemu."


Hanya kalimat itu yang selalu Mamihnya katakan. Setelah lebih dari lima kali bermimpi seperti itu, Radit memberanikan diri berbicara kepada sang istri. Radit kira Echa sulit untuk menyetujuinya. Ternyata salah, dengan cepat Echa mengabulkan keinginannya.


Apa kamu juga bermimpi yang sama seperti aku?


Radit mengusap lembut rambut sang istri. Kemudian, mengecup keningnya sangat dalam.


"Besok kita akan bertemu dengan Mamih. Memperkenalkan si triplets pada sosok yang tidak pernah bisa dia temui sampai kapanpun."

__ADS_1


__ADS_2