
Echa yang menanggung semua biaya pemakaman Bu Parmi. Dia pergi sebentar untuk mengambil uang cash. Sesungguhnya dia tidak membawa uang cash cukup banyak. Dia juga sudah menghubungi suaminya memberitahukan kabar duka ini.
Setelah tiba lagi di kediaman Bu Parmi, jenazah sudah rapi dan siap disolatkan. Anggi masih memeluk tubuh ibunya dengan derai air mata.
"Anggi," panggil Echa.
Anggi berhambur memeluk tubuh Echa. Tak dia hiraukan bajunya yang masih kotor. Dia terus menangis. Hati Echa sakit mendengar rintihan tangis Anggi.
"Jangan menangis terus, Nggi. Ibu kamu sudah sembuh sekarang. Tidak merasakan sakit lagi," ujar Echa, seraya mengusap lembut rambut Anggi.
"Siapa yang akan menemani Anggi tidur? Siapa yang akan menyiapkan sarapan Anggi? Siapa juga yang akan menemani Anggi memulung botol plastik, jika ibu sudah tiada."
Ya Tuhan, Echa benar-benar tidak sanggup mendengar ucapan Anggi. Hatinya bagai ditusuk pisau yang sangat tajam. Dia teringat akan adiknya. Apa seperti ini keadaan psikis kedua adiknya ketika ditinggal oleh ibu mereka?
"Anggi ingin Ibu, Tante. Ingin ibu ...."
Di usia yang baru menginjak usia sepuluh tahun, Anggi harus ditinggal oleh kedua orang tuanya dan ke depannya harus hidup sebatang kara. Membayangkannya saja sangat sakit. Apalagi Anggi yang merasakannya.
Ambulance sudah tiba, itu menandakan bahwa jenazah sudah akan disolatkan kemudian dikebumikan. Bertepatan dengan Ambulance datang, Radit pun tiba di sana. Para ibu berteriak cukup histeris ketika melihat Radit datang dan menerobos kerumunan. Namun, hati mereka sakit ketika dengan mesranya Radit memeluk tubuh Echa. Kemudian, menggendong tubuh anak-anaknya.
"Maaf, aku datang terlambat." Echa menggeleng dengan raut sedih.
Jenazah Bu Parmi sudah dimasukkan ke dalam keranda dan digotong untuk dimasukkan ke dalam ambulance. Tidak baik pemakaman jenazah ditunda-tunda. Setelah disolatkan, mereka menuju tempat pemakaman umum yang sudah Echa tanggung semua biayanya.
Tangis dan jeritan Anggi mewarnai prosesi pemakaman Bu Parmi. Ketika jenazahnya dikeluarkan dari dalam keranda dan dimasukkan ke dalam kubur. Anggi terus berteriak histeris.
"Jangan masukkan Ibu ke dalam sana. Ibu masih hidup."
Iyan masih setia memeluk pinggang Echa dengan air mata yang terus menetes, sedangkan Anggi sudah ditahan oleh ibu-ibu yang ikut mengantar. Jika tidak, Anggi akan ikut masuk ke dalam liang lahat ibunya.
Adzan dan Iqamah berkumandang, tangis Iyan dan Anggi semakin pecah. Apalagi, ketika satu per satu papan menutupi jenazah ibunya yang sudah diciumkan ke arah kiblat.
"Ibu ... Anggi sama siap di sini. Anggi mohon, tolong kembali Ibu."
Para petugas pemakaman pun sudah mulai menimbun jenazah Bu Parmi dengan tanah. Anggi terus menangis sambil meronta-ronta.
"Ibu Anggi belum mati ... jangan ditimbun dengan tanah ...."
Radit memilih untuk menjauh. Bukan tanpa alasan, dia teringat akan cerita sang Papih tentang Rindra. Menangis histeris, menolak ibunya untuk dikubur. Hatinya sangat perih. Echa yang melihat perubahan suaminya hanya membiarkannya saja. Pemakaman memiliki cerita tersendiri untuk Radit.
Setelah semua rangkaian acaranya selesai, Anggi masih betah menangis sambil memeluk kayu nisan bernamakan ibunya.
"Kenapa ibu harus pergi? Harusnya ibu ajak Anggi untuk ikut sama ibu, jangan tinggalin Anggi sendirian di sini."
Suara Anggi sudah serak dan terdengar sangat berat. Sedari kecil dia sudah tidak mengenal bapaknya. Ketika dia mulai beranjak remaja malah ditinggal oleh sang ibu tercinta. Orang yang selalu menjadi tempat bersandar untuk Anggi.
"Anggi, kita pulang, yuk. Udah mau hujan." Anggi menggeleng. Dia masih memeluk erat papan nisan ibundanya.
"Anggi mau tinggal di sini aja. Temani Ibu."
Kesedihan Anggi dirasakan oleh semua orang yang berada di sana. Ketika anak seusia Anggi harus mendapat kasih sayang yang ekstra dari orang tuanya, ini malah sebaliknya. Dia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.
"Anggi, pulang ke rumah Tante yuk. Anggi bisa tinggal di rumah Tante," bujuk Echa.
Anggi menggeleng, tangannya kini mengusap lembut papan nisan sang ibu.
"Anggi hanya ingin tinggal bersama ibu," jawabnya dengan mata yang kosong.
Seketika tubuhnya limbung dan tak sadarkan diri. Orang yang masih ada di sana berteriak histeris. Mereka takut, jika Anggi akan menyusul ibundanya.
Mereka segera membawa Anggi ke rumah sakit terdekat. Echa tidak ingin terjadi sesuatu kepada Anggi. Dokter segera memeriksa tubuh Anggi. Ternyata pingsannya Anggi karena dia belum makan. Ditambah terus menangis, membuat tubuhnya semakin lemah.
"Lakukan perawatan yang terbaik, dok," ujar Echa.
Para tetangga Bu Parmi yang ikut sangat terharu dengan kebaikan Echa. Tidak sedikit uang yang Echa keluarkan. Apalagi, sekarang dia harus membiayai perawatan Anggi.
"Makasih, Mbak. Sudah membantu tetangga kami. Kami saja yang tetangganya tidak bisa membantu apa-apa selain tenaga," ujar salah seorang ibu.
"Sama-sama, Bu. Sudah jadi kewajiban kita untuk saling membantu," imbuh Echa.
Radit datang seorang diri karena baru saja mengantarkan ketiga anaknya ke rumah. Di rumah sudah ada Riana dan juga Aska yang akan mengasuh mereka bertiga.
"Gimana?" tanya Radit.
__ADS_1
"Harus dirawat biar keadaannya stabil." Radit mengangguk. Dia pun duduk di samping istrinya.
"Siapa yang akan jaga Anggi di sini?" Radit mulai membuka suara.
"Biar saya saja, Pak. Saya malu sama Bapak dan Mbak-nya. Kalian saja yang bukan siapa-siapanya Bu Parmi dan juga Anggi rela membantu mereka, sedangkan kami tetangganya malah tidak bisa memberi. Setidaknya materi tidak bisa membantu, masih ada tenaganya yang bisa kami keluarkan," ujar si ibu pemilik warung.
Radit dan Echa tersenyum. Echa segera memesan makanan untuk nanti yang menjaga Anggi. Dia tidak ingin mereka yang sudah membantu merawat Anggi kelaparan.
Anggi sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Wajah pucatnya masih terlihat jelas.
"Anggi, Tante dan Om pulang dulu, ya. Anggi di sini sama Bu'de warung dulu. Tante gak bisa tinggalin anak-anak Tante," terang Echa.
"Anggi ingin ditemani Ibu."
Masih dengan kalimat yang sama. Tidak mudah bagi Anggi bisa melupakan tentang ibunya. Perlu waktu yang mungkin tidak sebentar juga.
"Ibu udah istirahat dengan tenang di alam keabadian. Ibu akan sedih jika Anggi sakit seperti ini. Meskipun, Anggi sudah tidak bisa melihat ibu, ibu masih bisa melihat Anggi dari surga sana."
Perkataan Echa sangat menyayat hati, mampu membuat air mata Anggi menetes kembali. Echa memeluk tubuh lemah Anggi.
"Jangan nangis terus, ya. Anggi harus sembuh. Biar ibu bahagia di sana."
Tidak ada jawaban dari Anggi. Echa melihat jam tangannya dan harus kembali ke rumah.
"Bu, saya titip Anggi, ya."
Di sepanjang perjalanan, Echa terus memikirkan perihal Anggi yang akan tinggal di mana ketika sudah keluar dari rumah sakit. Tidak masalah jika Echa harus menampungnya. Akan tetapi, Anggi pasti tidak akan mau.
"Kenapa?" Radit selalu tahu apa yang tengah dipikirkan istrinya.
"Bagaimana dengan Anggi?"
Echa adalah wanita berhati lembut. dia tidak akan pernah membiarkan orang lain bersedih.
"Besok aku akan menyuruh orang untuk ke rumah Anggi. Siapa tahu ada catatan tangan almarhum Bu Parmi sebagai titik terang untuk masa depan Anggi."
Echa merasa sedikit lega sekarang. Dia juga masih ingat Bu Parmi mengatakan bahwa Anggi akan dititipkan di panti asuhan. Panti asuhan mana Echa tidak tahu.
Tibanya di rumah, tatapan Rion membuat Echa mengangguk pelan.
"Biarkan dia sendiri dulu," ujar Radit.
Riana mengangguk pelan, kemudian Radit membawa Echa untuk masuk ke kamar. Setelah membersihkan tubuh, Echa kembali ke lantai bawah di mana ketiga anaknya sudah mandi dan wangi. Sudah asyik menari-nari.
Echa mendudukkan dirinya di sofa,
di sampingnya ada sang ayah.
"Iyan pasti sangat sedih," ucap Rion.
Echa hanya mengangguk. Dia juga kasihan kepada adiknya. Baru bahagia sebentar kini sudah bersedih lagi.
"Apa ketika ditinggal bunda, Iyan seperti ini?" Rion menggeleng.
"Ayah baru melihat Iyan seperti ini."
Hembusan napas keluar dari mulut Echa. Dia menatap manik mata sang ayah.
"Coba Ayah ke kamar Iyan. Peluk hangat tubuhnya agar dia tidak merasa sendiri. Masih ada Ayah yang sangat menyayanginya."
Rion menuruti perintah dari Echa. Dia ke kamar Iyan. Dilihatnya Iyan masih termenung di depan jendela kamar.
"Iyan."
Panggilan sang ayah membuat Iyan menoleh. Matanya yang sembab dan bengkak menghiasi wajahnya.
"Iyan tidak apa-apa. Hanya sedikit sedih saja."
Hati Rion teriris mendengarnya. Rion mendekat dan memeluk tubuh putra satu-satunya.
"Jangan pernah bersembunyi dalam kata baik-baik saja, Yan. Jika, kamu sedih katakan sedih. Masih ada Ayah, Kakak, Abang, dan juga Kak Ri yang akan berada di samping kamu."
Tangis Iyan pun pecah di dalam dekapan sang ayah. Isak tangis yang sangat lirih terdengar.
__ADS_1
"Kenapa orang yang mirip bunda harus pergi? Iyan baru saja merasakan sentuhan hangat tangannya, Ayah."
Lirih menyayat hati, itulah yang Rion dengar dan rasakan. Putranya tengah melepas kerinduan, tetapi Tuhan berkehendak lain. Dia ditakdirkan harus terus merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya.
"Iyan hanya ingin merasakan kasih sayang yang tidak Iyan dapatkan dari Bunda," terangnya, dengan masih terisak.
Rion mengurai pelukannya. Menatap nektra sendu putranya.
"Kamu masih beruntung karena masih bisa melihat bagaimana wajah Bunda. Bisa mendengar suara Bunda. Lihatlah Bang Radit ...."
Rion menjeda ucapannya sejenak. Dia menarik napas panjang sebelum berucap lagi.
"Dari lahir ... Abang tidak pernah mengetahui wajah ibunya. Mendapatkan kasih sayang ibunya pun tidak. Kamu memang malang, tetapi nasib Abang lebih malang."
Isakan Iyan terhenti ketika mendengar ayahnya berucap. Dia mendengarkan dengan seksama.
"Abang kamu hanya dilahirkan oleh ibunya. Ketika dia lahir, ibunya meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Jangan merasa lebih malang, Yan. Di sekitaran kamu masih banyak yang bernasib lebih buruk dari kamu. Salah satunya Bang Radit."
Iyan terdiam sejenak, dia mencerna ucapan sang ayah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia ada di posisi Radit.
"Tuhan memberikan cobaan ini supaya kamu menjadi laki-laki kuat dan bisa menghargai sosok seorang ibu. Baik buruknya seorang ibu, dia tetap wanita yang melahirkan kita. Coba kamu lihat Anggi sekarang, setelah ibunya tiada dia tidak memiliki siapa-siapa. Sedangkan kamu? Masih ada Kakak yang telah menjadi ibu pengganti untuk kamu. Harusnya kamu bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangi kamu, walaupun kamu tidak dapat merasakan sentuhan hangat dari ibu kandung kamu."
Iyan memeluk tubuh ayahnya lagi. Baru kali ini, ayahnya berbicara panjang lebar seperti ini. Rion membawa Iyan ke tempat tidur. Mereka duduk di tepian tempat tidur dengan bercerita masa kecil Iyan.
Tak terasa mata Iyan mengantuk dan dia pun terlelap dengan damainya. Rion menaikkan selimut ke tubuh Iyan. Mengecup kening Iyan sangat dalam.
"Ayah yakin, kamu akan menjadi anak yang kuat. Laki-laki yang bisa menjaga kedua kakak perempuan kamu setelah Ayah tiada."
Sedari tadi Echa menunggu Rion di depan kamar Iyan. Setelah Rion keluar, Echa menghadang ayahnya.
"Dia sudah tidur. Kamu jangan khawatir. Lebih baik kamu istirahat. Pasti kamu lelah." Echa mengangguk tanpa membalas ucapan sang ayah. Pelukan hangat dia berikan untuk ayahnya.
"Makasih, Ayah. Makasih untuk semuanya."
Rion tersenyum, Echa adalah anak yang tidak pernah malu mengutarakan isi hatinya kepadanya.
Masuknya Echa ke kamar, dia melihat suaminya masih berdiri menghadap ke arah jendela kamar. Seperti ada yang sedang dia pikirkan.
"Ay."
Pelukan dari belakang Echa berikan untuk Radit. Bibir Radit melengkung ketika sang istri meletakkan kepalanya di punggungnya. Dia membalikkan tubuhnya tanpa melepas pelukan.
"Jangan sedih."
Dua kata yang Echa ucapkan. Dia tahu, Radit tengah merindukan sosok ibundanya.
"Enggak, Sayang. Yuk kita tidur," ujarnya.
Mereka berdua terlelap dengan saling memeluk satu sama lain. Di salah satu ruang perawatan rumah sakit, mata Anggi enggan terpejam. Bayang-bayang ibunya masih berputar di kepalanya.
"Ini hanya mimpi 'kan, Bu. Ibu masih hidup," lirihnya.
Air mata Anggi tak bisa berhenti menetes. Setelah dia sembuh, dia bingung harus tinggal bersama siapa dan di mana. Bagaimana dengan makannya?
Seorang dokter datang dan hendak memeriksa Anggi, sedangkan si ibu penjaga warung baru saja tiba. Dia keluar rumah sakit untuk membelikan Anggi nasi goreng. Setahunya, Anggi sangat suka dengan nasi goreng.
Dokter tersenyum ke arah Anggi yang masih mengeluarkan air mata.
"Dok, suntik mati Anggi saja. Anggi ingin ikut Ibu."
Dokter yang sedang memeriksa kondisi Anggi pun tersentak. Dia menatap ke arah perawat yang ikut bersamanya.
"Ibunya baru saja meninggal, dok. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi," terang ibu si pemilik warung.
Tak terasa bulir bening menetes dari manik mata sang dokter. Hatinya tersayat-sayat mendengar kenyataan akan pasien di depannya ini.
"Jika, Anggi meninggal. Apa Anggi yakin akan bisa bertemu dengan ibu Anggi?" tanya dokter dengan senyum perih.
"Walaupun Anggi gak ketemu ibu, setidaknya Anggi sudah tidak merasa sedih dan bingung lagi."
"Anggi juga tidak ingin merepotkan orang lain. Om dan Tante baik itu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk Anggi dan ibu. Anggi gak bisa membayarnya. Lebih baik, Anggi ikut ibu saja, Om dokter."
"Tidak, Anggi. Tugas Om dokter adalah menyembuhkan semua pasien. Om dokter yakin, Anggi akan sembuh dan sehat kembali," terangnya.
__ADS_1
Anggi menggeleng, dia menggenggam tangan dokter. "Anggi mohon, Om ... suntik mati Anggi sekarang juga."
Semua orang yang berada di dalam ruang perawatan tertunduk dalam. Hidup sebatang kara pasti akan sangat sulit, tetapi menyuntik mati pun tidak bisa dokter manapun lakukan. Apakah di luaran sana masih ada orang yang baik hati yang akan merawat Anggi?