Yang Terluka

Yang Terluka
Kepulangan Si Triplets


__ADS_3

Setelah tiga hari di rumah sakit. Hari ini Echa diperbolehkan pulang oleh dokter. Ketiga bayinya sudah terlebih dahulu dibawa pulang oleh Ayanda, Sheza serta Beby. Mereka lah yang sangat antusias mendengar kepulangan si triplets.


"Kenapa pake kursi roda, Ay?" tanya Echa ketika sang suami sudah mendorong kursi roda ke arahnya.


"Kamu belum boleh banyak bergerak dulu, Sayang." Radit membantu Echa untuk duduk di kursi roda. Kemudian, mendorongnya menuju luar rumah sakit. Di sana sudah ada Pak Mat yang sedang menunggu mereka.


Setelah masuk mobil, Echa membaringkan kepalanya di pundak sang suami. Sedangkan Radit terus menggenggam tangan sang istri. Tak mereka hiraukan Pak Mat yang berada di balik kemudi.


"Masih sakit?" tanya Radit. Radit masih sangat khawatir meskipun Gio sudah meminta obat yang paling bagus pasca operasi. Agar luka bekas operasi cepat kering.


"Gak terlalu." Radit mengecup puncak kepala sang istri. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Echa.


Ketika buah hati mereka lahir. Radit semakin sayang kepada istrinya. Tidak boleh sedikit pun istrinya mengeluh perihal ini dan itu. Ketika poetingnya lecet karena baru pertama menyusui. Radit langsung kalang kabut. Memanggil dokter untuk memeriksa kelereng kecil di atas bantalan favoritnya.


Echa hanya menggelengkan kepala karena tingkah suaminya. Padahal sang mamah sudah mengatakan hal itu wajar bagi ibu yang baru saja melahirkan. Mau itu anak pertama ataupun sudah sering melahirkan pasti akan terjadi hal seperti itu.


Tibanya di rumah, mereka berdua sudah disambut oleh keluarga yang amat menyayangi mereka.


"Kak, apa melahirkan itu sakit?" Pertanyaan polos yang keluar dari bibir Iyan.


"Tidak ada melahirkan yang tidak sakit, Iyan. Makanya, ketika nanti Iyan dewasa, Iyan memiliki istri harus sayang sama istri Iyan. Jangan pernah sakiti istri Iyan. Iyan mengerti?" Iyan mengangguk paham.


Radit sudah membantu Echa untuk duduk di sofa. Sedangkan tiga ibu-ibu sedang sibuk dengan tiga bayi lucu yang masih betah memejamkan mata mereka.


"Abang, teman-teman Iyan udah pada marah tau," bisiknya di telinga Radit.


Radit menoleh ke arah Iyan dengan menukikkan kedua alisnya. Meminta penjelasan lebih dari Iyan


"Teman-teman Iyan sibuk nutupin telinga anak-anak Abang, tapi tiga emak-emak itu masih saja berisik," jelasnya lagi.


Radit pun hanya terkekeh. Radit membayangkan bagaimana wajah teman Iyan yang tak kasat mata menghadapi ocehan ibu-ibu yang sangat amat berisik. Pasti telinganya sudah pengang dan wajah mereka sudah merah menahan marah.


"Mah, jangan digendong-gendong terus anak-anak Echa. Nanti bau tangan," imbuh Echa.


"Iya loh, Mih. Nanti seperti si Kaza pas waktu bayi," timpal Kano.

__ADS_1


Ketiga ibu-ibu itu pun akhirnya meletakkan ketiga bayi mungil itu di kasur mereka masing-masing. Echa terus memandang anak-anaknya dengan senyum yang tidak pernah pudar.


"Gak nyangka bisa punya anak banyak begini," kata Echa.


"Lu mah turunan kucing. Sekali hamil langsung banyak," sahut Arya.


"Ck, kapan sih Om bicara lemah lembut penuh cinta sama Echa," sungutnya.


"Orang mah kasih kado kek buat anak-anak Echa," sindirnya lagi.


"Eh Bangor, tuh lu liat goody bag yang bacaannya kremes. Itu baju bayi dari gua. Paham?" Arya berbicara sangat sengit. Sedangkan Echa hanya mencebikkan bibirnya.


"Bohong Cha. Itu dari Kak Beby. Papanya Beeya bukan tipe laki-laki yang mau bermodal." Ucapan Beby membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.


"Sok-sokan, padahal mah numpang keren doang," ejek Rion.


Ketika senja datang, mereka semua bergegas pulang. Tinggallah Radit dan Echa beserta ketiga putrinya di kamar. Sedangkan Rion sedang sibuk di ruang kerjanya. Kedua adiknya sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


"Sayang, mau ke kamar mandi gak?" tanya Radit yang sudah segar sehabis mandi.


Radit terlebih dahulu mengantar sang istri ke kamar mandi. Untuk kamar mandi ini Radit sangatlah bawel. Dia menyuruh Mbak Ina untuk membersihkannya sehari dua kali. Bukan tanpa alasan, kondisi Echa belum pulih total. Mbak Ina pun dengan senang hati melakukannya. Dia juga tidak ingin Echa kenapa-kenapa.


Setelah Echa selesai membersihkan diri, dia duduk di sofa ditemani Radit. Menatap ke arah tiga boks bayi yang berada di samping tempat tidur mereka.


"Lebih baik sekarang kamu tidur. Biar nanti malam pas mereka bangun kamu gak ngantuk," ujar Radit sambil mengusap lembut rambut sang istri.


"Biar aku yang jaga mereka," lanjutnya lagi.


"Kamu kapan tidurnya?"


"Ketika kamu dan anak-anak terjaga." Echa merengut kesal. Sedangkan Radit tertawa puas.


"Bercanda, Sayang," ucapnya sambil mencubit pipi chubby Echa.


"Aku akan temani kamu. Aku udah janji sama diriku sendiri, kalo aku akan merawat anak-anak kita secara bersama. Bukan hanya tugas seorang ibu, tetapi seorang ayah pun wajib membantu untuk mengurus anak-anak."

__ADS_1


Echa menatap Radit dengan penuh cinta. Tanpa Echa sadari, dia mengecup bibir sang suami sangat dalam. Awalnya Radit terkejut, akhirnya dia juga menikmati permainan sang istri.


"Sebagai ucapan terima kasih aku," imbuh Echa sambil mengusap bibir Radit.


"Kamu membangkitkan gairahku, Sayang," bisik Radit. Dia hanya bisa menelusupkan kepalanya di dada Echa. Tangannya mulai jahil dan mengintip bantalan favoritnya.


"Boleh, ya," pinta Radit.


"Udah hak paten anak-anak, loh."


"Sedikit aja," tawar Radit.


Echa membiarkan suaminya memainkan bantalan kesukaannya. Mulutnya layaknya bayi yang sedang kehausan. Semenjak lahirnya tiga anaknya, hati Echa sering dilanda kesedihan yang mendalam. Apalagi ketika pertama kali dia memberikan ASI kepada anak-anaknya. Dia membayangkan bagaimana suaminya ketika lahir sudah kehilangan sang ibu tercinta. Jangankan mendapat ASI, digendong sang ibu pun tidak pernah dia rasakan.


Sekarang, ketika suaminya tak mau kalah dengan ketiga anaknya Echa akan bersikap biasa. Mungkin, ini keinginan Radit yang belum bisa terpenuhi selama ini.


Radit melepaskannya dan menutup bantalan kesukaannya agar tidak terlihat oleh orang lain.


"Kok udah?"


"Hanya ingin merasakan bagaimana rasanya asi dari seorang ibu yang baru saja melahirkan."


Sungguh hati Echa teriris mendengar ucapan suaminya. Apa yang dia pikirkan benar adanya.


"Ay," panggil lirih Echa.


Radit khawatir ketika melihat mata Echa sudah nanar.


"Kenapa, Yang? Apa yang aku lakukan tadi sakit?" Dengan cepat Echa menggeleng.


"Kamu pria hebat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika anak-anak kita lahir tanpa mendapat sentuhan dari ibunya. A-ku ...."


"Jangan lanjutkan lagi. Biarlah itu menjadi jalan takdirku. Yang paling penting, anak-anak kita harus mendapatkan kasih sayang yang lebih dari apa yang kita dapatkan dari orang tua kita."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2