Yang Terluka

Yang Terluka
Terpisah Kembali


__ADS_3

Hari-hari Echa di Singapura berjalan dengan sempurna. Apalagi. Radit yang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dengan posesifnya, Radit menggenggam tangan Echa dan rona bahagia terpancar dari keduanya.


"Hai, Dit," sapa dokter muda cantik. Stella namanya.


Hanya seulas senyum yang Radit berikan dan tangannya semakin erat menggenggam tangan Echa. Dia takut, Echa akan kabur dari dirinya.


"Itu adikmu?" Pertanyaan yang membuat Echa tertohok.


"Bukan, ini pacarku," jawab Radit dengan begitu lantangnya.


"Pacar?" ulang Stella.


"Ya, sebentar lagi kami pun akan bertunangan."


"Apa?" Stella sungguh tak percaya mendengarnya. Dan Echa menatap jengah ke arah Stella.


"Budeg apa tuh kuping. Dibilang pacar masih upa apa aja," gerutu Echa. Radit tersenyum geli mendengar gerutuan Echa.


"Bhal, lapar," ucapnya manja kepada Radit.


Radit tersenyum dan mengusap lembut pipi Echa. "Mau makan apa?"


"Masakan Indonesia."


Stella yang tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh Radit dan


Echa hanya mengerutkan dahinya. Yang dia mengerti hanya Indonesia.


"Aku dan pacarku akan pergi. Permisi Stella," pamit Radit sopan.


"Hatiku terasa sakit," gumam Stella.


Bukan hanya Stella, banyak perawat yang terkulai lemas karena mendengar langsung pernyataan yang Radit berikan kepada mereka.


"Dia pacarku dan sebentar lagi kami akan tunangan."


Hari ini hari patah hati berjamaah di sebuah rumah sakit di Canberra. Wajah lesu dan tidak bergairah nampak sekali di wajah para perawat dan juga dokter wanita muda. Sang pangeran yang mereka dambakan tenyata sudah memiliki tambatan hati.


"Sungguh malang nasibku. Sudah menolak John dan berharap Radit mau denganku. Tapi, malah kecewa yang aku rasakan," lirih salah seorang perawat.


Radit dan Echa menyusuri jalan dan singgah di restoran Padang. Sungguh wajah Echa berbinar ketika melihat ayam bakar dan juga tunjang kesukaannya.


Tanpa basa-basi Echa segera memesan menu apa saja yang dia ingin makan. Tak memperdulikan Radit yang melihatnya dengan tatapan sedikit terkejut.


"Yang, aku gak punya duit loh. Ini mahal," canda Radit.


"Bodo amat, yang penting aku pengen makan. Lapar," tegasnya.

__ADS_1


Radit tersenyum bahagia ke arah Echa. Gadis apa adanya yang tidak menjaga image di hadapan semua orang. Termasuk Radit.


Dengan lahapnya Echa memakan semua pesanannya. Radit hanya terus menggeleng tidak percaya. Berbadan kecil tapi mampu makan begitu banyaknya makanan.


"Kamu gak makan?" tanya Echa dengan mulut yang penuh.


"Suapin." Echa berdecak kesal, tapi dia tetap menyuapi Radit dengan telaten. Karena dia tahu, mulut Radit tidak bisa terbuka lebar karena luka bekas kemarin masih terlihat jelas.


Romantisnya pasangan ini mengalahkan romantisnya pasangan Romi dan Juli. Radit merasa bersyukur, semenjak bersama Echa dia seakan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang wanita. Menggantikan kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari Mamihnya.


Pengobatan fisik dan psikis Echa dilewati dengan sangat lancar. Terlebih Radit yang selalu berusaha membuat Echa bahagia.


Sebenarnya tidak ada pengobatan khusus untuk kesembuhan psikis Echa. Cukup ditanya sedikit, Echa akan menceritakan semuanya secara gamblang. Dan tanpa Echa sadari, hatinya perlahan mulai plong. Beban dan kesedihan yang ada di hatinya perlahan hilang. Echa sendiri tidak tahu, ilmu apa yang dipakai Radit sehingga membuat dia mampu mengungkapkan semua yang dia rasakan dan selalu dia pendam sendirian.


Waktu dua Minggu teras begitu cepat berlalu. Esok, Echa akan kembali ke Indonesia, ada sedikit kesedihan yang terpancar dari kedua anak manusia ini.


"Apa kamu akan langsung bertemu dengan Ayahmu?" Dengan cepat Echa menggeleng.


"Aku memang merindukannya. Tapi, aku juga butuh waktu untuk bisa berbicara dengannya. Rasa sedihku atas perlakuan ibu sambungku berbekas, Bhal."


Radit mengusap lembut kepala Echa. "Kalo kamu sudah siap, segera peluklah Ayahmu. Karena itu obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan setiap sedihmu." Echa pun mengangguk pelan.


"Aku yakin, bukan hanya kamu yang sedih atas masalah ini. Ayahmu pun pasti sangat sedih dan merasa bersalah."


"Biarlah Bhal, agar Ayah paham jika aku juga anaknya. Masih membutuhkan kasih sayangnya, pelukan hangatnya." Radit menarik tangan Echa ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala Echa seolah memberikan ketenangan kepada kekasihnya.


"Aku akan sangat merindukanmu."


"Aku juga, Bhal." Kini Echa melingkarkan tangannya di pinggang Radit.


"Kenapa waktu begitu cepat berlalu? Padahal aku masih ingin bersama kamu di sini," keluh Radit.


"Kita masih bisa tetap berhubungan kan, Bhal. Masih bisa telepon dan juga video call." Radit mengangguk pelan.


"Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini? Aku ingin memelukmu," pinta Radit.


"Tanyalah pada Kakek."


Radit pun segera bertanya kepada Genta tentang permintaannya. Dan Genta mengizinkan asalkan pintu kamar dibuka lebar.


Radit tidak menutup pintu kamar Echa. Dan benar Radit hanya memeluk tubuh Echa dengan sangat eratnya. Seakan esok dia tidak akan pernah bisa melihat Echa lagi. Hingga pagi menjelang pun tangan Radit masih melingkar di pinggang Echa.


Genta berada di depan pintu kamar Echa hanya tersenyum bahagia. Dan Genta selalu berharap jika mereka ini tidak akan terpisah lagi.


Pagi harinya, Radit terus memeluk pinggang Echa dan mengikuti ke manapun Echa pergi. Kecuali, ke kamar mandi. Echa sedang membereskan barang-barangnya dan dimasukkan ke koper kecil miliknya. Dan dengan manjanya Radit memeluk Echa dari belakang.


"Jangan pergi." Dua kata itu yang selalu dilontarkan oleh Radit.

__ADS_1


Echa hanya mengusap lembut pipi Radit, jika Radit merengek seperti anak kecil.


"Cha, udah siap?" Suara Genta menggema di dalam kamar Echa.


"Sudah."


Genta hanya menggeleng melihat tingkah Radit yang tidak biasanya. "Bucin banget, sih," ejek Genta.


"Kek, tidak bisakah Echa ...."


"Tidak! Dia harus sekolah," potong Genta.


Radit memberengutkan wajahnya dan membuat Echa tertawa.


"Kakek tunggu di bawah." Echa mengangguk patuh.


Setelah Kakeknya pergi, Echa membawa tubuh Radit untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Sedangkan Echa berdiri di depannya.


"Bhal Sayang." Panggilan Echa mampu membuat Radit mendongakkan kepalanya menatap Echa.


"Aku pulang untuk sekolah. Kamu juga kan bisa datang ke Indonesia untuk menemuiku dan melepas rindu dengan ku. Jangan sedih, aku akan selalu menjaga hatiku untuk kamu."


Radit memeluk pinggang Echa dan membenamkan wajahnya di perut Echa.


"Tapi, kamu juga harus janji. Tetap jaga hatimu hanya untuk aku. Sekali lagi kamu berbuat bodoh, aku akan meninggalkanmu untuk selamanya," ancam Echa.


"Aku pasti akan menjaga hatiku, Sayang. Pasti," sahutnya.


Echa menangkup wajah Radit lalu mengecup kening sangat dalam. Hingga Radit memejamkan matanya. Merasakan kelembutan bibir Echa menyapu keningnya.


"Aku juga akan merindukan kamu, Bhal. Aku tunggu kamu di Jakarta."


Radit menggenggam tangan Echa menuju lantai bawah. Dan terus menggenggam tangan Echa hingga mereka tiba di Bandara.


"Bhal, aku pergi, ya. Jaga kesehatan. Dan jangan nakal."


Radit memeluk erat tubuh Echa dan Echa pun membalasnya tak kalah erat.


"Kabari aku jika sudah sampai." Echa mengangguk pelan.


"Makasih sudah menyembuhkan lukaku. Makasih sudah menghilangkan sedikit demi sedikit kesedihanku." Hanya senyuman manis yang Radit berikan.


"Aku pergi, ya." Lambaian tangan dari keduanya menandakan mereka harus terpisah jarak kembali. Dan Radit bertekad ingin segera menyelesaikan semua tugasnya di sini dan akan menyusul Echa ke Jakarta.


...----------------...


Semoga ikutan baper ..

__ADS_1


kalo ada notif up langsung baca ya jangan ditimbun-timbun.


__ADS_2