
Hari ini Echa benar-benar panik. Bagaimana tidak, sang ayah tiba-tiba pingsan di kamar. Echa benar-benar ketakutan. Apalagi, dia hanya sendiri di rumah.
"Ayah, sarapan dulu," panggilnya.
Ketika dia melongok ke kamar, ayahnya masih terbaring di atas tempat tidur. Echa yang tengah menggendong Aleeya yang belum mau tidur pun menghampiri ayahnya.
Membangunkan ayahnya yang tengah tertidur. Cukup lama Echa menepuk pundak sang ayah. Hingga ayahnya perlahan membuka mata. Wajahnya nampak pucat sekali.
"Ayah sakit?" Echa segera duduk di samping tempat tidur. Menempelkan punggung tangannya ke dahi sang ayah.
"Semalam kehujanan di Bogor. Parkirannya lumayan jauh, di mobil gak ada payung."
Echa hanya menghela napas kasar. Ayahnya semalam pulang hampir subuh. Makanya, dia memilih untuk tidak berangkat ke kantor. Ada Arya di sana yang menggantikannya untuk hari ini.
"Ya udah, Echa ambilin makanan dulu, ya." Rion melarang sang putri. Dia turun dari tempat tidur diikuti oleh Echa dari belakang. Baru lima langkah, tiba-tiba pandangannya kabur dan dia pun pingsan begitu saja.
"Ayah!"
Suara tangis anak-anaknya serta Isak tangis Echa terdengar. Echa masih meletakkan minyak angin di depan hidung sang ayah. Agar ayahnya terbangun. Suhu tubuh Rion meninggi membuat Echa merasa benar-benar ketakutan.
Anaknya dia letakkan di atas karpet di kamar Rion. Dia membiarkan ketiga anaknya menangis. Pikirannya sedang terpaku pada sang ayah.
Mata Rion mulai mengerjap, Echa segera memeluk tubuh sangat ayah. "Jangan tinggalin Echa. Echa belum siap kehilangan Ayah."
Sebuah kalimat yang membuat Rion terenyuh. Hatinya bergetar mendengar penuturan sang putri. Namun, suara tangis ketiga cucunya membuatnya mengurai pelukan.
"Kasihan anak-anak kamu," imbuh Rion.
Echa segera mencium anak-anaknya satu per satu. Mengucapakan kata maaf kepada ketiga putrinya.
Radit datang berbarengan dengan Arya. Rion hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Ada apa ini?"
"Kita ke dokter, Yah." Ingin Rion menolaknya, tetapi tatapan tajam Echa membuatnya mengurungkan niat.
"Baiklah," jawabnya lesu.
Echa sedikit merasa lega ketika melihat ketiga anaknya asyik bermain dengan Arya. Jadi, dia bisa mengantar ayahnya ke rumah sakit.
"Titip ketiga anak Echa. Sebentar lagi Mamah datang ke sini. Mamah lagi di jalan. Susu mereka minta aja ke Mbak Ina. Jangan lupa jam dua belas siang suapin. MPASI-nya minta juga ke Mbak Ina."
Banyak sekali yang Echa ucapkan membuat Arya pusing mendengarnya. Dia lebih memilih mengajak bercanda ketiga bayi perempuan di depannya.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak melihat Arya yang tengah mengajaknya berbicara. Apalagi Aleeya yang tertawa sangat keras.
Namun, wajah Aleena tiba-tiba berubah. Mukanya merah seperti orang yang tengah mengedan mengeluarkan harta yang berharganya.
Arya segera menutup hidungnya. Sungguh anak yang tidak memilik sopan santun. Poop disembarang tempat seperti kucing.
Bukan hanya Aleena yang sedang mengeluarkan harta karunnya. Kedua adiknya pun ikut-ikutan Aleena. Sungguh membuat Arya melebarkan matanya tak percaya. Dia menepuk jidatnya cukup keras dan menjungkalkan diri ke karpet empuk.
Echa, anak lu ngerjain gua.
Lima menit berselang kamar Rion beraroma bunga Raflesia Arnoldi. Sampai Arya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
"Nih anak makan apaan sih? Apa jangan-jangan tiga anak ini pemakan bangkaii," umpatnya kesal.
sebelum menghampiri si triplets, Arya mencari-cari masker di laci kamar Rion. Dia menghela napas lega ketika menemukan apa yang dia cari. Segera dia pakai untuk menghampiri si triplets. Aroma harta Karun di triplets sangatlah luar biasa.
Ketika dia sampai di hadapan si triplets. Alangkah terkejutnya dia melihat ketiga tuyul piaraan Echa malah terlelap. Tubuh Arya terkulai lemah.
"Ini bagaimana gantiin popoknya?" Bingung yang Arya rasakan.
Dia memilih menemui Mbak Ina menanyakan perihal kelakuan si triplets.
"Emang ketiga anak Neng Echa selalu banyak kejutan, Pak. Mereka hanya berpura-pura tidur," jelas Mbak Ina.
"Apa?"
Arya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mbak Ina. Mana mungkin anak bayi berusia enam bulan bisa membohongi semua orang.
Dia menuju kamar Rion kembali. Arya mencoba mengintip dan membuka sedikit pintu. Matanya melebar ketika melihat ketiga anak Echa malah sedang asik bermain. Guling ke kanan, guling ke kiri. Tertawa dan mengoceh.
Ya Tuhan ....
Apa yang dikatakan oleh Mbak Ina benar adanya. Dia mematung di depan pintu sambil memperhatikan ketiga anak Echa. Seketika dia terdiam, otaknya sedang berpikir sesuatu.
"Gimana bentuk harta Karun mereka itu?" gumam Arya. Mereka kembali melakukan aksi. Pura-pura tidur lagi.
"Aku tidak akan tertipu lagi para tuyul," geramnya.
Perlahan dia membuat popok Aleena. Segera Arya menutup hidungnya. Dia membersihkannya dengan tisu basah. Kemudian, dia bawa Aleena menuju kamar mandi. Membersihkan bokong Aleena dengan air yang mengalir.
Bukannya menangis, Aleena malah tertawa terbahak-bahak membuat Arya tercengang.
"Ini air dingin loh," ucapnya pada Aleena. Putri pertama Echa terus tertawa seakan bahagia. Setelah selesai, dia kembali memakaikan Aleena popok yang sudah disediakan oleh Mbak Ina.
Mbak Ina membantu Arya untuk membawa si triplets ke meja khusus mereka makan. Dengan lahapnya mereka menerima suapan demi suapan yang Arya berikan. Membuat Arya tersenyum bahagia.
Tidak sampai lima belas menit, makanan itu habis tak tersisa. Namun, ketiga anak itu malah menangis membuat Arya kebingungan. Mbak Ina datang membawa tiga botol susu dan diserahkan kepada Arya.
"Setelah makan, mereka akan Mimi susu," imbuh Mbak Ina.
Benar yang dikatakan oleh Mbak Ina. Malah Aleesa sudah menggeleng-gelengkan kepala bahwa dia ingin rebahan. Ketika dipindahkan benar saja, Aleesa terlelap dengan damainya. Diikuti oleh Aleena dan juga Aleeya.
Arya ikut merebahkan tubuhnya. Mengurus tiga anak tuyul sungguh melelahkan. Namun, senyumnya tersungging ketika melihat anak-anak Echa yang sangat cantik jelita. Ingin rasanya dia membawa kabur salah satu dari mereka. Meskipun menyebalkan, tetapi anak-anak itu mampu memberikan kehangatan.
Setelah pulang dari rumah sakit dan dinyatakan tidak perlu dirawat. Echa segera melihat keadaan ketiga putrinya. Senyumnya mengembang ketika Arya memeluk tubuh si triplets dengan ikut berbaring di karpet.
"Banyak yang menyayangi anak kamu." Echa pun mengangguk.
Hari libur tiba, Arya dan Beby meminta ijin kepada Echa dan Radit untuk membawa ketiga putri mereka jalan-jalan. Setelah negosiasi alot, akhirnya kedua orang tua si triplets menyetujuinya.
"Pingin deh punya adik," celetuk Beeya ketika duduk dengan si triplets.
Wajah Beby terlihat sendu. Sedangkan Arya sudah menatap garang ke arah Beeya.
"Sorry, Mah."
Beby hanya menyunggingkan senyum. Mobil berhenti di kediaman Antonio Bhaskara. Sang Nyonya Bhaskara menyambut hangat kedatangan putra durhakanya.
__ADS_1
"Masih ingat jalan ke rumah orang tua?" Selalu kalimat itu yang dikumandangkan oleh ibunda tersayang Arya.
Kemarahan Nyonya Bhaskara hilang ketika melihat tiga bayi cantik nan menggemaskan.
"Anak-anak siapa ini?" tanyanya.
"Anak ...."
"Arina!" teriak Nyonya Bhaskara membuat Arya berdecak kesal.
Arina yang segera keluar berteriak histeris ketika melihat boneka cantik di hadapannya.
"Gua yakin bukan maha karya lu," tuding Arina.
"Ya emang bukan? Mukanya juga gak ada mirip-miripnya," jawab Arya bersungut-sungut.
"Ngapain pada di luar? Bukan masuk ke dalam," ujar Beeya yang tengah membawa puding cokelat kesukaannya serta susu cokelat dalam ukuran satu liter.
"Beeya, itu punya Bu'de," ucap Arina.
"Minta dikit," jawabnya santai dan berlalu begitu saja.
"Itu mah bukan dikit, tapi setengah dari puding Bu'de. Susu itu ...."
"Beli lagi di minimarket, gak usah pelit sama ponakan sendiri," terang Arya.
"Dasar bapak sama anak menyebalkan."
Nyonya Bhaskara dan Beby tertawa mendengar perdebatan antara Arya dan juga Arina. Sudah lama rumah ini sepi seperti tak berpenghuni.
Arina sangat suka dengan si triplets. Seluruh bagian wajah mereka Arina ciumi tanpa ampun. Membuat mereka geli dan tertawa.
Setelah puas bermain, memberikan MPASI serta susu. Ketiga anak Echa pun terlelap. Arya dan sang istri bergabung bersama sang Mamih, Sedangkan Beeya sudah tertidur akibat kekenyangan menghabiskan makanan sang Bu'de.
"Mbak, gua mau jual janda bolong, noh." Arya membuka percakapan karena Arina dan Nyonya Bhaskara sedang asyik menonton sinetron ikan tenggelam.
"Di mana-mana janda emang bolong, Bhaskara," sahut Arina.
"Mbak, gua serius," ucapnya serius.
"Gua lebih serius, gua pengennya janda rapet." Arya berdecak kesal mendengar ucapan Arina.
"Minta gua potong tuh lidah," sungut Arya.
"Mih, aku mau jual janda bolong. Murah loh Mih harganya," tawar Arya pada sang Mamih.
"Kenapa dijual? Butuh uang buat beli sepatu bermerk?"
Bukan hanya Arya yang terkejut, Beby pun terkejut mendengar ucapan dari Nyonya Bhaskara.
"Benar Pah yang dikatakan oleh Mamih?" Wajah panik Arya terlihat jelas.
"E-enggak kok," elaknya.
"Cemen lu! Takut istri," ejek Arina
__ADS_1
Ingin Arya membalas ucapan Arina, tetapi sang istri sudah memelototinya tanpa ampun.
"Nih Beb, Arya itu senang memakai barang branded melebihi wanita. Apapun akan Arya lakukan untuk memenuhi keinginannya."