Yang Terluka

Yang Terluka
Sedih Terdalam


__ADS_3

Masing-masing anak-anak Echa memiliki keistimewaan dan kekurangan. Echa tidak akan memaksa anak-anaknya untuk menjadi apa yang dia inginkan. Sebaliknya, dia membebaskan ketiga anaknya untuk memilih apa yang mereka suka. Usia mereka kini sudah menginjak dua tahun. Mereka semakin aktif dan apapun selalu ingin mereka coba. Termasuk trampolin yang ada di sebuah mall.


Echa dan Radit mengajak ketiga putrinya untuk menikmati akhir pekan hanya dengan berkeliling mall. Bukan tanpa alasan, Radit sedang banyak kerjaan dan tidak bisa mengajak mereka menghabiskan waktu di luar Kota untuk quality time .


"Aleesa, jangan ya. Nanti sesak lagi," cegah Echa.


"Tata Sa, dak atan atit Agi."


(Kakak Sa gak akan sakit lagi)


Radit merasa iba kepada Aleesa. Anak yang seharusnya bebas bermain ini dan itu, malah dikekang karena sebuah penyakit yang dia derita.


"Biarkan saja dulu, yang penting jangan lama-lama." Echa mengangguk.


Bibir Echa melengkung dengan sempurna melihat tingkah lucu ketiga anaknya. Akan tetapi, hatinya sakit ketika Aleesa hanya bisa melihat kedua saudaranya melompat-lompat. Dia juga ingin, tetapi dia merasakan sesak di dadanya setelah beberapa kali melompat.


"Kakak Sa, main yang lain aja, ya." Echa mencoba membujuk Aleesa. Untungnya Aleesa mau.


Echa mengajak Aleesa ke tempat mewarnai. Aleesa melihat-lihat gambar yang sudah selesai diwarnai oleh anak-anak yang lain.


"Bubu, Tata Sa mu itu," tunjuknya pada gambar kuda poni.


Echa mengambilkannya dengan senang hati dan mengajak Aleesa duduk di tempatnya.


"Terserah Kakak Sa mau warna apa," ujar Echa.


Kuda poni adalah boneka yang dimiliki oleh kakaknya. Jadi, Aleesa tidak perlu bingung untuk mewarnainya. Tangan kecilnya terus mengoleskan cat minyak ke dalam gambar. Polesan itu terlihat sangat rapi dan juga cantik. Aleesa sangat pandai menggradasi warna. Padahal Echa belum pernah mengajarkannya.


Aleesa asyik dengan lukisannya dan kedua anaknya yang lain asyik dengan permainan apapun yang mereka coba. Setelah lelah, Aleeya mengajak Radit untuk makan.


"Ajak Kakak Sa dan Bubu dulu, ya."


Mereka menghampiri Echa dan juga Aleesa. Mata Radit melebar dan hampir tidak percaya ketika melihat hasil mewarnai Aleesa yang sangat mirip dengan aslinya.


"Bagus sekali," puji Radit.


"Oneta tata Na," ucap Aleena.


(Boneka Kakak Na)


Senyum lebar terukir di wajah Aleesa. Setelah membawa hasil lukisannya mereka makan di tempat ketiga anaknya inginkan.


"Bubu, atit."


Hati Echa seperti disayat pisau tajam, jika Aleesa sudah mengeluh sakit. Echa segera memangku Aleesa dan mengusap lembut dada Aleesa. Setiap usapan dari tangannya selalu terucap doa. Sembuhkan lah putriku.


Aleena dan Aleeya mulai merasakan kesakitan yang sama. Jika, Aleesa merasa sakit seakan tubuh mereka membeku. Tak membolehkan melakukan apapun sebelum Aleesa kembali membaik.


"Makan, ya. Nanti keburu dingin."


Kedua anak Radit hanya menatap sekilas ke arah makanan mereka. kefokusan mereka tertuju pada Aleesa.


"Tata Sa," panggil Aleeya.


Aleesa mencoba tersenyum di tengah rasa sesak yang menderanya.


"Tata Na Dak au mam tebelum Tata Sa mam," ujar Aleena.


Aleesa mencoba untuk bangkit dari posisinya meskipun dadanya masih terasa sesak. Demi kakak dan adiknya dia rela menahan sakit. Di usia sekecil itu sudah bisa menahan rasa sakitnya. Bagaimana jika Aleesa besar nanti?


"Kakak Sa, kalau masih sakit jangan dipaksa, Nak." Aleesa menggeleng.


Echa menatap ke arah Radit dengan raut sedih. Tangan Radit menggenggam tangan Echa dengan sangat erat. Seperti mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Setalah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Kondisi Aleesa sudah semakin kesakitan.


"Kakak Na, boleh ya Kakak Sa duduk bersama Bubu. Kakak Sa sedang--"


"Boyeh Bu."

__ADS_1


Senyuman manis tersungging dari bibir Echa. Anak pertamanya sungguh luar biasa.


Tibanya di rumah, Echa segera membawa tubuh Aleesa ke kamar. Mencari obat untuk Aleesa dan memberikannya.


"Tapan Tata Sa tembuh?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Aleeya.


(Kapan Kakak Sa sembuh)


"Doakan ya, Nak. Semoga Kakak Sa cepat sembuh."


Kedua anak Radit menjelma menjadi anak-anak yang pengertian. Tidak merasa cemburu ketika kedua orang tuanya lebih memperhatikan Aleesa. Mereka tahu, bahwa Aleesa sakit tidak seperti mereka yang sehat. Setelah ketiga anaknya terlelap, Radit membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah akan memejamkan matanya.


"Lusa aku harus terbang ke Singapura." Ucapan Radit mampu membuat mata Echa yang sudah terlelap terbuka kembali.


"Berapa hari?"


"Paling lama satu Minggu."


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Echa. Dia mulai mendudukkan diri dan bersandar di kepala ranjang.


"Apa tidak bisa dipersingkat lagi?" Pertanyaan yang penuh dengan kepiluan.


Radit memeluk tubuh istrinya dan mengecup ujung kepala Echa dengan penuh cinta.


"Jika, semua pekerjaanku sudah selesai . Aku akan segera pulang."


"Aku gak bisa jaga Aleesa sendiri," lirih Echa.


Hati Radit teriris mendengar ucapan Echa. Dia semakin erat memeluk tubuh istrinya.


"Kali ini gak bisa diwakilkan, Sayang." Echa masih bergeming, dia tidak menjawab apapun.


"Sayang." Echa mengurai pelukannya dan membaringkan tubuhnya membelakangi Radit.


Echa bukannya tidak ingin mengerti Radit. Akan tetapi, tanpa kehadiran Radit pasti akan membuat dia semakin kesusahan untuk menjaga Aleesa.


Radit menghela napas kasar, untuk sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat mengerti dengan apa yang Echa rasakan. Mengurus tiga anak sekaligus dengan salah satu dari anaknya ada yang sakit pastilah sangat sulit.


Keesokan paginya, Radit menghela napas kasar ketiga sang istri sudah tidak ada di tempat tidur ketika dia terbangun. Baju kerjanya pun sudah siap di atas tempat tidur. Radit mencuci wajahnya dan kemudian keluar kamar mencari keberadaan istrinya. Dia sedang berjemur dengan ketiga anaknya di depan taman bunga kecil. Terlihat jelas wajah tak semangat Echa untuk hari ini.


Radit kembali ke kamar karena harus segera mandi dan berangkat ke kantor. Pagi ini wajah Radit terlihat mendung karena sang mentari tidak menghiasi paginya. Ketika sarapan pun Echa tidak ada di sana. Sedang memandikan ketiga anaknya.


"Yah, besok hingga seminggu ke depan tolong jaga Echa dan anak-anak."


Rion yang baru saja mau menyuapkan makanannya ke dalam mulut harus dia letakkan lagi.


"Kamu mau ke mana?"


"Radit harus ke Singapura. Ada pekerjaan di sana."


"Apa itu yang membuat Echa diam sedari tadi?"


Hanya helaan napas kasar yang terdengar. Rion menatap iba kepada sang menantu.


"Echa sangat membutuhkan kamu," ujar Rion.


"Radit tahu, tetapi ini gak bisa diwakilkan, Yah."


Dilema, itulah yang sedang Radit rasakan. Tatapannya tertuju pada ketiga anaknya yang sudah berlari ke arah meja makan.


"Bubu ke mana, Nak?" tanya Radit.


"Tamal."


Radit bangkit dari duduknya dan menuju kamar. Dia ingin meminta pengertian kepada istrinya.


"Sayang."


Echa yang baru saja selesai mandi hanya menoleh sekilas. Kemudian melanjutkan kegiatannya yang tengah memakai baju.

__ADS_1


Radit memeluk istrinya dari belakang. Namun, dengan cepat Echa lepaskan.


"Sayang, aku harus bagaimana?" keluh Radit.


Echa tidak menjawab, dia sudah menaruh handuk basah dan ingin keluar dari kamar. Namun, Radit mampu menghadangnya.


"Katakan padaku, Sayang. Apa yang harus aku lakukan?"


"Aku rapuh."


Tubuh Echa pun luruh ke lantai. Tangisnya pecah.


Echa POV.


Telingaku seketika mendadak tuli mendengar ucapan dari salah seorang dokter yang menangani ketiga putriku ketika mereka demam. Salah satu dari anakku mengalami penyakit yang hampir merenggut nyawaku sewaktu kecil. Aritmia, penyakit yang pernah aku derita sejak aku bayi.


Dokter terus berbicara, tetapi pandangan ku tertuju pada salah satu anak yang ada di brankar rumah sakit. Aleesa Addhitama, dialah yang menderita penyakit yang sama denganku.


"Kenapa kamu harus menderita seperti Bubu?"


Itulah yang aku gumamkan di dalam hati. Jangan ditanya bagaimana perasaanku. Hancur, sakit dan sedih jadi satu. Ingin rasanya aku menggantikan posisi Aleesa. Namun, aku sadar aku masih memiliki Aleena dan Aleeya yang masih membutuhkan aku.


"Sayang, ikhlaskan lah. Ini sudah suratan takdir."


Kalimat itulah yang terlontar dari mulut suamiku. Bohong, jika dia tidak merasakan hal yang sama. Hanya saja, dia lebih pandai menyimpan semuanya. Menutup rasa sedihnya dengan tawa hambar yang selalu dia tunjukkan.


Hari pertama ketika ketiga anakku sakit, tubuhku seperti mati rasa. Tidak ada yang bisa aku rasakan selain sesak di dada. Setiap aku memandang Aleesa, tubuhku bagai ditusuk belati yang runcing. Apalagi ketika dia mengatakan, "Bubu, atit."


Air mataku meluncur begitu saja ketika mendengar ucapan itu. Hatiku sangat sakit sekali. Aku hanya bisa mengusap lembut dada Aleesa dengan hati yang terus berdoa supaya Tuhan mengangkat penyakit Aleesa.


Kata ikhlas memang terlontar dari bibirku. Pada nyatanya, aku belum bisa ikhlas menerima sakitnya Aleesa. Aku belum siap jika harus melihat Aleesa seperti ku dulu. Sungguh aku tidak siap.


Tidak akan pernah ada seorang ibu yang rela melihat putrinya divonis sakit oleh dokter. Begitu juga aku. Aku rapuh, aku lemah jika menyangkut ketiga anakku.


Tanpa siapapun tahu, setiap malam setelah suami dan ketiga anakku terlelap. Aku menangis seorang diri di dalam kamar mandi. Meluapkan rasa lelah serta sedih yang menjalar di hati.


"Tuhan, aku sungguh tak sanggup."


Hanya kalimat itu yang selalu aku ucapkan setiap malam. Lelahku ketika melihat anak-anakku senang tidak masalah. Akan tetapi, aku melihat jelas Aleesa yang kesakitan membuat hati aku teriris.


"Atit tetali, Bu."


Ya Tuhan ... aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat dan kuat. Itulah penyemangat untuk diriku sendiri. Ada kalanya aku ingin menyerah karena aku sudah benar-benar lemah. Namun, suamiku selalu mendukungku. Selalu memberikan arahan yang baik agar aku bisa menghadapi semuanya.


Lelah dan sedihku berkurang, jika suamiku datang. Dia selalu memberikan energi yang positif kepada ku. Melihat senyum tulus darinya pun membuat hati aku merasa tenang. Beban yang aku pikul terasa hilang. Apalagi dia menjelma menjadi suami siaga.


Bisikan cinta dan sentuhan lembut tangannya membuat aku merasa nyaman. Terlindungi jika bersamanya. Sama halnya dengan anak-anakku yang akan terus menempel di tubuh Raditya.


"Jangan bersedih, sayang. Aku akan selalu ada untuk kamu. Kita merawat mereka bersama-sama."


Ucapan yang membuat aku membuka lebar mataku serta hatiku. Aku yang hanya baru diberi cobaan seperti ini sudah banyak mengeluh. Bagaimana dengan orang-orang yang diberi cobaan lebih dariku?


Aku bersyukur memiliki partner hidup seperti Raditya Addhitama. Laki-laki yang sangat sempurna di mata ku dan selalu mengerti aku luar dan dalam.


Kabar buruk tengah datang menghampiriku. Suamiku mengatakan bahwa esok dia akan pergi Singapura karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sana. Rasa percaya diriku mulai hilang. Ketakutanku mulai datang. Aleesa, itukah yang membuat aku gamang.


Belum lama ini, penyakit Aleesa sering kambuh. Aku sangat takut jika harus menghadapi sakitnya Aleesa seorang diri. Melihat dia merasakan sesak pun tubuhku sudah gemetar hebat. Apalagi ini, suamiku mengatakan bahwa dia akan pergi selama seminggu ke depan. Apa aku sanggup?


Aku bukannya egois, aku hanya pesimis. Rasa takut mendominasi hatiku sekarang. Apalagi melihat Aleesa yang sedang meringis kesakitan. Aku tahu, keluargaku bahu membahu membantuku. Akan tetapi, aku lebih nyaman dan tenang jika suamiku sendiri yang ada di sampingku.


PoV End.


Radit memeluk tubuh Echa yang sudah luruh. Dia tidak tega melihat Echa seperti ini. Apalagi ini pertama kali untuknya melihat Echa sangat rapuh.


"Sayang, aku hanya sebentar. Jika, Papih atau Abang dan Kakak ada aku juga tidak akan berangkat," terangnya.


"Aku janji akan secepatnya kembali. Aku juga tidak ingin meninggalkan kalian. Apalagi meninggalkan kamu seorang diri untuk mengurus ketiga anak kita."


Kali ini Radit baru menyadar bahwa istrinya tidak benar-benar kuat menghadapi kenyataan yang ada. Aktingnya terlalu sempurna sehingga dia tidak bisa mengetahui kebohongan yang sedang Echa lakukan. Apalagi wajahnya yang penuh dengan gurat kelelahan.

__ADS_1


"Aku akan meminta Mamah untuk tinggal di rumah ini. Tidur bersama kamu dan juga ketiga anak kita. Agar Mamah bisa membantu kamu merawat si triplets," ungkapnya.


Apapun akan Radit lakukan untuk istri dan anaknya. Sedih terdalam ketika mengetahui Aleesa yang menderita Aritmia.


__ADS_2