
Meskipun bimbang melanda hatinya, Rion tetap mengutarakan apa yang dia pendam hampir sebulan ini.
"Aku mau bicara sama kalian semua," kata Rion.
Semua orang yang tengah sibuk mengunyah dan tertawa melihat tingkah si triplets, kini menatap ke arah Rion dengan serius.
"Ada apa? Kok keliatannya serius banget," ucap Arya.
Rion menghela napas berat sebelum berbicara. Dia menatap manik mata mantan istrinya. Sorot matanya seakan mengucapakan kata maaf.
"Aku mau resign." Sontak semua orang terkejut.
"Jangan bercanda," sentak Arya.
"Gak lucu, Mas," ucap Ayanda.
"Serius. Aku udah lelah bekerja. Aku ingin menikmati hari tuaku bersama anak dan cucu-cucuku," terangnya.
"Kalo lu resign, siapa yang akan mimpin toko lu?" tanya Gio.
"Gua gak mau," tolak Arya sebelum Rion berbicara.
"Echa," jawab Rion.
Semua orang tercengang mendengar ucapan Rion. Pasalnya, Echa sekarang ini sudah menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Dia juga tidak mungkin meninggalkan ketiga anaknya.
"Ayah, gak lucu," sentak Echa.
"Ayah serius. Kepemilikan toko sudah semuanya milik kamu. Ayah hanya menjalankan perintah dari kamu karena pemilik toko yang sebenarnya adalah kamu. Bukan Ayah."
Tubuh Echa lemas seketika. Dia tidak ingin meninggalkan ketiga anaknya. Di mana mereka sedang aktif dan lucu-lucunya.
"Jika, Echa bekerja. Siapa yang jagain tiga tuyul?" Semua orang memiliki pertanyaan yang sama dengan Arya.
"Gua, gua yang akan menjadi pengasuh untukmereka." Echa menggeleng, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Anak Echa ada tiga, Yah. Mengurus mereka butuh tenaga yang kuat. Echa gak mau Ayah kelelahan," tukasnya.
"Apa yang dikatakan Echa benar, Mas. Mengurus anak itu lebih susah dari apa yang dibayangkan," tutur Ayanda.
"Lu pikirin lagi deh. Jangan ngadi-ngadi," geram Arya.
"Keputusan gua udah bulat. Gua ingin menikmati masa tua gua bersama si triplets," kekehnya.
Echa menyandarkan tubuhnya di kepala sofa. Dipijatnya pangkal hidung yang terasa pusing. Dia tidak ingin bekerja. Dia tidak mampu jauh dari ketiga anaknya. Anak yang dia rawat dari masih berwarna merah, dan sekarang sudah bisa berjalan.
"Gak segampang itu, Yah," ujar Echa.
Semua orang setuju dengan ucapan Echa. Setidaknya Echa perlu berpikir, dan belum tentu juga Radit mengijinkannya.
"Echa punya suami, semuanya harus dirundingkan dulu," tambahnya lagi.
"Baiklah, Ayah kasih waktu kamu berpikir satu hari. Ayah ingin cepat pensiun. Bosan ketemu si Bhaskara mulu," candanya.
Radit mengusap lembut pundak sang istri. Menyadarkan kepala Echa di pundaknya. Tangan Echa pun mulai melingkar di perut Radit. Semua orang memandang iba kepada Echa. Namun, mereka juga tidak bisa memaksa Rion untuk tetap mengelola tokonya. Wajar juga jika dia ingin pensiun. Dari Musa hingga paruh baya hanya dihabiskan untuk mengembangkan toko.
Radit pun sedikit tidak mengijinkan istrinya untuk keluar rumah. Apalagi bekerja, keuangannya masih mampu membiayai kehidupan istri beserta anaknya hingga sepuluh tahun ke depan. Itu pun jika mereka hidup boros dan mewah.
"Biarkan istri Radit berpikir dulu. Waktu satu hari terlalu singkat. Memutuskan sesuatu itu harus dengan matang. Apalagi, yang menjadi masalah sekarang meninggalkan anak-anak. Pasti itu sangat sulit," tambahnya lagi.
Niat hati malam ini hendak buka puasa, malah dihadapkan dengan masalah kembali. Echa sedari tadi tak beranjak dari tempatnya. Dia masih menatap lekat ketiga buah hatinya.
"Bubu gak sanggup jika harus pisah sama kalian. Dibawa ke rumah Aunty Mamih saja Bubu langsung kangen kalian," desahnya.
Radit membuka pintu penghubung kamarnya. Dia menghampiri sang istri dan menariknya pelan ke dalam dekapan hangat.
"Sekarang kita istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran. Besok kita akan ke dokter kandungan," ujar Radit.
Echa hanya bisa menuruti semua ucapan Radit. Radit terus mendekap tubuh istrinya hingga dia terlelap. Ini adalah pilihan yang sulit bagi Echa. Jika, dia ingin egois dia akan melarang Echa. Akan tetapi, dia juga sadar, semua toko A&R bakery adalah milik istrinya. Suatu saat pasti Echa akan mengelola toko tersebut.
Apakah sekarang sudah saatnya?
Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Radit. Bukan hanya Echa yang bimbang. Dia pun sekarang dilanda kebimbangan.
Mentari sudah menampakkan dirinya. Namun, ada seorang wanita yang masih nyaman dalam balutan selimut. Gorden pun sengaja masih Radit tutup. Agar sang istri tidak terganggu akan bias matahari.
Memandang wajah Echa ketika terlelap membawa kedamaian tersendiri di hati Radit. Tubuh Echa mulai menggeliat. Matanya sudah mulai mencoba terbuka.
"Morning." Kecupan hangat mendarat di kening Echa. Disambut dengan senyuman manis yang Echa berikan.
"Kenapa gak bangunin? Anak-anak ...."
__ADS_1
Radit menarik tangan Echa dan mendekap hangat tubuhnya. "Mereka sedang bersama Ayah," ujar Radit.
Tangan Echa kini mulai melingkar di pinggang Radit. Membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang sudah harum.
"Aku sudah janjian sama dokter kandungan. Jam sembilan kita sudah harus ada di sana." Echa tidak menjawab. Tangannya terus memeluk erat pinggang Radit.
Echa keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kimono. Membuka lemari sambil memilah-milah baju.
"Ay, mau pakai baju couple-an gak?" tanya Echa sedikit berteriak.
"Boleh," jawab Radit yang masih sibuk dengan laptopnya.
Hari ini Echa hanya menggunakan kaos putih dengan celana jeans berwarna navy. Dia sudah duduk di hadapan cermin. Memoleskan pelembab yang harganya membuat jiwa misquenn meronta-ronta. Setelah dirasa pelembab itu menyerap ke dalam kulit. Dia mengambil bedak tabur yang harganya juga tidak main-main. Baru tangannya membuka bedak tabur, suara Radit membuatnya berdecak kesal. "Jangan cantik-cantik."
Radit menghampiri istrinya dan meletakkan bedak yang sudah Echa genggam.
"Segini juga udah cantik banget," telisik Radit.
"Ay, hanya pakai bedak tabur dan lipstik. Dandanan keseharian aku di rumah," terang Echa.
"Tetep aja, Yang. Itu akan membuat kamu terlihat semakin cantik di hadapan semua pria," balas Radit.
"Lalu, aku harus tanpa make up ketika jalan sama suami aku sendiri. Nanti apa kata orang? Istri pengusaha muda Raditya Addhitama buluk dan dekil." Radit hanya menghela napas kasar. Kemudian, dia memeperbolehkan istrinya untuk bersolek.
Mereka berdua keluar kamar dengan pakaian senada membuat Mbak Ina takjub melihat mereka.
"Mau ke mana, Neng?" tanya Mbak Ina.
"Periksa ke dokter kandungan dulu, Mbak. Biasa kontrol rutin tiap bulan," jawabnya.
Radit sudah bersama ketiga putrinya. Mereka bertiga memeluk erat tubuh Radit seakan tahu Babanya ini akan pergi.
"Itut," rengek Aleeya.
"Itut, Baba," ucap Aleesa.
"Tidak boleh anak-anak baba. Di rumah sakit banyak virus. Nanti kalian terkena virus dan sakit. Apa kalian mau seperti Bang Iyo? Tangannya dimasukkan jarum."
"Nyonyonyo," jawab mereka bertiga.
Ingatan mereka akan tangan Rio yang ditusuk jarum infus masih melekat. Apalagi, Rio menangis keras karena kesakitan.
"Au, ton. Au," jawab Aleeya bersemangat.
"Pagi anak-anak Bubu," sapa Echa.
Ketiga kurcaci itu segera berhambur memeluk tubuh Echa. Mencium pipi Echa secara bergantian.
"Udah pada cantik. Udah mandi?" Dengan cepat mereka mengangguk.
"Udah makan?" Lagi-lagi mereka mengangguk.
"Anak-anak pintar," puji Echa.
"Sekarang, Bubu boleh pergi 'kan sama Baba?" tanya Echa.
Ketiga anak Echa tidak menjawab. Mereka malah berlari ke arah Radit. Membisikkan sesuatu di telinga sang ayah. Radit tersenyum dan membentuk ibu jari dan telunjuknya menjadi huruf O. Anak-anak Radit pun berteriak gembira.
Echa menatap penuh tanda tanya ke arah Radit. Hanya seulas senyum yang Radit berikan.
"Ya udah, jangan nakal ya. Baba dan Bubu pergi dulu. Sun dulu," ucap Radit.
Tiga makhluk cantik jelita itu mencium pipi Radit bergantian. Kemudian mencium pipi Echa juga.
"Bye, Baba."
"Bye, Bubu."
Echa dan Radit pun pergi. Mobil melaju ke arah rumah sakit. Namun, Echa meminta berhenti di pinggir jalan. Di mana ada pedagang bubur ayam di sana.
"Lapar?" Echa mengangguk pelan.
Radit tertawa dan mengusap lembut kepala sang istri. "Baiklah, cari parkiran dulu, ya."
Makan di pinggir jalan mengingatkan akan masa putih abu-abu. Di mana mereka berdua sering menghabiskan malam minggu dengan makan di pinggiran jalan seperti ini.
"Sudah lama banget kayaknya kita gak makan begini," ucap Echa.
Radit pun tersenyum, dia pun merasakan hal yang sama. Tinggal di luar negeri tidak ada makanan pinggir jalan seperti ini. Mereka lebih menikmati waktu bersama di rumah.
"Gak pake daun bawang dan kacang 'kan." Echa tertawa, suaminya ini masih ingat akan bubur yang sering dia pesan.
__ADS_1
"Kok aku kesel ya," imbuh Echa sambil mengaduk-aduk buburnya.
"Kenapa?" tanya Radit yang kini menatap ke arah Echa yang tengah menatapnya arah seberang mejanya.
"Tuh mata cewek berasa pengen aku colok pake tusuk sate," geram Echa.
Radit tersenyum dan meraih mangkuk yang ada di depan Echa. Radit menyendokkan bubur dan kemudian. menyuapkannya kepada Echa.
"Lebih baik mulutnya dipakai buat makan dari pada ngedumel terus," kekeh Radit. Bibir Echa maju tujuh centi mendengar ucapan Radit.
Semenjak kejadian di tukang bubur ayam, mood Echa benar-benar berantakan.
"Udah dong, Yang. Jelek tau merengut terus." Radit menggenggam tangan Echa denah tangan kirinya. Tangan kanannya tetap berada di kemudi. Sesekali Radit mencium punggung sang istri. Sudah satu tahun mereka tidak bisa berduaan seperti ini.
Tiba di rumah sakit, wajah Echa masih saja ditekuk. Ketika pintu mobil Radit buka, tangannya terulur ke arah Echa. Masih disambut oleh sang istri meski dengan wajah tak enak dipandang.
"Udah dong marahnya," pinta Radit yang kini menarik Echa ke dalam pelukannya. Kemudian, dia mencium kening Echa sangat dalam. Tak dia pedulikan mereka sedang berada di parkiran rumah sakit.
Ternyata mereka harus menunggu dulu karena pasien yang cukup banyak. Apalagi keperluan Radit hanya untuk kontrol.
"Lama," keluh Echa yang kini meletakkan kepalanya di pundak sang suami.
"Sabar, ya. Setelah ini kita jalan berdua mengenang masa pacaran," balas Radit seraya mengecup ujung kepala Echa.
Kemesraan Radit dan Echa sedari tadi mengundang keirian pada pasangan suami-istri yang lain.
"Kalian pengantin baru? Mau program hamil, ya." Tiba-tiba seorang ibu mendekat ke arah mereka. Membuat Echa menegakkan duduknya tanpa melepaskan genggaman tangan Radit
"Kamu sudah lama menikah," jawab Echa sopan.
"Pasti mau program kehamilan. Belum ngisi-ngisi." Mode sok tahu ibu itu keluar. Membuat Echa mulai meringis tak karuhan.
"Kami sudah memiliki anak kembar tiga yang sekarang baru menginjak satu tahun." Ibu itu pun tercengang mendengar ucapan Echa.
Sudah melahirkan, tetapi badannya masih singset. Sungguh luar biasa.
Begitulah ucapnya di dalam batin. Nama Echa pun dipanggil. Dia pamit terlebih dahulu kepada sang ibu agar tidak dicap sombong.
"Kamu gak risih dengan ibu-ibu yang tadi?" tanya Radit.
"Mereka iri karena aku masih tetap cantik meskipun sudah memiliki anak tiga. Ditambah suami yang tampan dan kaya raya." Radit pun tertawa mendengar ocehan Echa.
Mereka konsultasi dengan dokter kandungan pilihan Radit perihal alat kontrasepsi. Belum lagi, Radit menanyakan gaya apa yang tidak akan menyakiti perut istrinya pasca operasi ketukan melakukan olahraga enak-enak.
Setelah konsultasi selesai, Radit segera ke apotek untuk membeli alat kontrasepsi yang akan digunakan oleh sang istri. Banyak alat kontrasepsi yang ditawarkan dengan efek samping masing-masing. Akan tetapi, Radit memilih pil KB karena dirasa lebih aman. Pil KB yang Radit beli pun bukan yang sembarang. Fungsinya bukan hanya untuk mencegah kehamilan, tetapi bisa untuk kulit wajah karena mengandung collagen.
Setelah selesai berkonsultasi, Radit menepati janjinya. Mereka berkeliling tempat yang pernah mereka kunjungi ketika berpacaran. Salah satunya tempat jajan. Radit dan Echa terus tertawa dengan tangan yang saling menggenggam. Bagi orang awam, mereka akan mengira bahwa Radit dan Echa adalah sepasang kekasih. Bukan sepasang suami-istri.
Seperti biasa, Echa akan kalap jika sudah datang ke tempat jajan ini. Semua makanan yang dia rindukan ada di sini. Tanpa melihat harga dia langsung memesan. Tentu saja Radit yang bayar.
"Mang, nanti antar ke situ, ya," tunjuk Echa ke arah meja yang tak jauh dari stand bakso bakar.
"Udah lama gak minum es kopi loh. Semenjak hamil selalu minum jus buah," ujarnya ketika mantapkan sedotan ke dalam tutup gelas es kopi.
"Sekarang kamu boleh makan dan minum apa aja," balas Radit.
Kebersamaan mereka terganggu ketika seseorang datang menyapa Echa.
"Rezal." Echa sedikit terkejut ketika melihat Rezal sudah ada di sampingnya.
"Boleh gabung?" Echa menatap ke arah Radit, tetapi wajah Radit masih datar.
"Maaf, aku dan suami harus segera pulang. Ini hanya menunggu makanan yang telah kami pesan."
Echa bangkit dari duduknya, mengajak suaminya untuk pergi dari sana. Echa sudah mengerti bahwa suaminya sudah tidak nyaman. Dari pada harus bertengkar lebih baik mengalah. Echa menghampiri satu per satu stand makanan yang dua pesan agar dibungkus saja.
"Jangan marah," ucap Echa sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Kalau aku marah tandanya apa?"
"Cinta," jawab Echa.
"Itu tahu," sungut Radit.
Echa pun terkekeh, dia mencubit pelan pipi sang suami. "Kalau cemburu makin tampan deh."
"Love you so much, Baba," bisiknya sebagai kaki yang berjinjit.
...****************...
Radit selalu saja bersikap manis dan romantis. Lebih romantis Radit atau Aksa?
__ADS_1