Yang Terluka

Yang Terluka
Sesak


__ADS_3

Keesokan harinya, Arya menjadi bulan-bulanan Echa. Rion semalam sudah puas mengejek Arya.


"Bapak sama anak sebelas dua belas," sungutnya.


Perut Echa sakit karena terus menertawakan sang om. Hingga sebuah panggilan telepon menghentikan tawanya.


"Iya, Ay.


"Besok kita jenguk bayi," katanya.


"Bayi siapa?"


"Bayi kolega aku, Sayang."


"Oh ya udah."


Sambungan telepon pun diakhiri. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, Echa harus segera pergi menjemput ketiga anaknya. Tibanya di sana, Echa melihat seorang nenek tua yang tengah duduk depan gerbang sekolah si triplets. Terlihat nenek itu membawa karung berisi rongsokan.


Walaupun mobil Echa sudah masuk ke parkiran sekolah, dia kembali ke pintu gerbang dengan langkah panjang.


"Nek," panggil Echa.


Nenek yang terlihat sudah sangat tua itu menoleh. Dia tersenyum ke arah Echa.


"Nenek udah makan?" tanya Echa. Nenek itu menggeleng.


Ponsel Echa berdering, dia dapat pesan dari wali murid si triplets bahwa kelasnya akan pulang lebih lambat. Echa tersenyum karena dia bisa berbincang lama dengan nenek.


"Nenek cari barang bekas?" tanya Echa lagi. Lagi-lagi nenek itu mengangguk.


Echa sedikit menaruh curiga kepada nenek ini karena sedari tadi tidak berbicara. Hanya mengangguk atau menggeleng.


"Bu, nenek itu tuna wicara," ucap security. Echa tercengang mendengar ucapan satpam tersebut.


"Nenek itu namanya Irah. Dia harus banting tulang karena dia hidup sebatang kara di rumahnya."

__ADS_1


Hati Echa tergerak untuk membantunya. Setelah ketiga anaknya keluar, Echa mengajak ketiga anaknya serta nenek Irah ke rumah makan. Untungnya ketiga anak Echa tidak pernah menolak kehadiran orang yang berpakaian tidak sama seperti mereka.


Semua makanan sudah Echa pesan. Echa membiarkan nenek itu memilih makanannya sendiri sebelum dirinya dan juga ketiga anaknya. Nenek itu nampak kebingungan. Echa dengan senang hati mengambilkan semua Luk ke dalam piring nenek. Namun, tangan nenek itu terangkat ke atas dada menandakan sudah cukup.


Hanya ikan, ayam, daging serta perkedel yang Echa ambilkan untuk nenek. Tangan nenek Irah sudah dikuncupkan dan digerakkan ke depan bibir. Echa mengangguk dengan senyum yang merekah. Bukan hanya Echa, ketiga anak Echa pun turut bahagia melihatnya.


Mereka hanya memandangnya tanpa mau menyentuh makanan tersebut. Seakan mereka memberikan semua makanannya untuk nenek tersebut.


"Kalian gak makan?" Dengan cepat mereka menggeleng.


"Bial semuanya buat nenek. Kakak Na ikhlas," ucap Aleena. Kedua adiknya juga menyetujui ucapan sang kakak.


Nenek Irah mengangkat tangan menunjukkan kedua ibu jarinya menandakan makanan itu terasa lezat.


Apa yang dikatakan oleh ketiga anaknya benar adanya. Semua makanan Echa bungkus untuk nenek Irah. Echa juga mengantar nenek Irah ke rumahnya.


Mata mereka berempat nanar ketika melihat rumah neneknya. Rumah yang sangat tak layak huni.


"Nenek tinggal di sini?" Lagi-lagi nenek tersebut mengangguk.


"Mbak, jangan lama-lama di dalam sana. Nanti, rumahnya roboh," ujar seorang wanita di luar sana.


Echa segera membawa nenek Irah ke luar. Baru saja dia keluar, rumah nenek Irah roboh. Air mata pun menetes di wajah nenek Irah.


"Sudah, Nek, yang penting nenek selamat," imbuh warga yang lain.


Echa menggali semua informasi tentang nenek Irah. Hatinya sakit mendengar keterangan para tetangga nenek Irah.


"Tadinya nenek Irah tinggal bersama anaknya. Namun, belum lama ini anak nenek Irah meninggal karena terkena genting yang runtuh. Anak nenek Irah juga tidak bisa melihat."


Sesak hati Echa mendengarnya. Berasa di fase kekurangan pernah dia alami. Jadi, dia bisa merasakan apa yang dirasakan nenek Irah.


"Beliau tidak memiliki sanak saudara juga di sini. Kadang untuk makan juga kami saling gotong royong," jelas tetangganya lagi.


Ketiga anak Echa hanya diam, mereka menatap sedih ke arah nenek Irah yang sudah menangis. Tangan lembut Aleena mengusap air mata yang sudah membasahi wajah keriputnya.

__ADS_1


"Jangan nangis, Nek."


Kalimat menenangkan yang keluar


dari mulut anak berusia tiga tahun. Aleena menatap ibunya. Dia menarik tangan Echa agar mensejajarkan diri dengannya.


"Uang Kakak Na masih ada di lumah. Pakai aja buat Nenek," bisiknya.


Hati Echa mencelos mendengarnya. Aleena memang anak yang jiwa berbaginya sangat tinggi. Echa tersenyum dan mengusap lembut kepala Aleena.


Echa sedikit berbincang dengan tetangga nenek Irah. Dia memutusakan untuk membawa nenek Irah. Semua biaya di sana akan Echa yang tanggung. Tetangga nenek Irah pun sangat berterima kasih kepada Echa.


"Hati Mbak bagai malaikat," ujar salah seorang tetangganya.


Dipuji seperti itu tidak membuat Echa melambung tinggi. Malah dia sedih, dia membantu bukan karena ingin dipuji. Memang rasa kemanusiaannya yang tinggi.


Echa dan ketiga anaknya serta nenek Irah pergi ke panti jompo. Sebelumnya Echa sudah menghubungi pihak panti. Nenek Irah masih nampak sedih, rumah yang dia tinggali malah hancur seperti itu.


Aleesa yang duduk di samping nenek Irah memicingkan mata. Dia melihat sosok perempuan dengan mata indah tersenyum kepadanya. Sedari tadi juga perempuan itu ada di samping Nenek Irah.


"Makasih, kamu telah bantu ibu saya," tuturnya.


Aleesa masih termenung, dia tidak menjawab ucapan dari perempuan itu. Dia masih ingat perkataan tetangga nenek Irah yang mengatakan bahwa anak nenek Irah itu tidak bisa melihat.


Perempuan yang Aleesa lihat itu terus berada di samping nenek Irah. Ketika mereka sampai di panti jompo, perempuan itu tersenyum. Tangannya melambai menandakan perpisahan.


"Makasih, cantik. Katakan kepada ibu kamu terima kasih yang sedalam-dalamnya karena mau membantu ibu saya."


Aleena masih mencerna apa yang dilihatnya. Semasa hidup tidak bisa melihat, apa ketika meninggal bisa melihat? Itulah yang ada di kepala Aleesa.


Mereka berempat masuk ke dalam panti jompo. Namun, langkah Aleesa terhenti ketika dia melihat sosok wanita cantik dengan wajah yang bersinar. Namun, Aleesa abaikan. Dia tidak mau ketinggalan ibunya.


Echa berbicara maksud dan tujuannya kepada pengelola panti. Dia juga menanyakan biaya bulanan atau tahunan yang harus dia bayarkan. Ketika semuanya sudah dirincikan, Echa segera membayar untuk biaya satu tahun nenek Irah di sana. Nominal yang dibutuhkan tidak sedikit, tetapi Echa tidak akan mempermasalahkannya.


Ketika kamu ikhlas menolong, uang koin yang kamu keluarkan akan Tuhan ganti berlipat-lipat ganda. Jangan takut miskin untuk membantu sesama. Sesungguhnya kekayaan itu ada di depan mata.

__ADS_1


Nasihat itu yang selalu Echa tanamkan. Faktanya memang benar, setiap dia membantu orang beberapa hari kemudian Tuhan pasti menggantinya berlipat-lipat ganda. Dari situlah Echa kecanduan untuk membantu orang lain. Bukan untuk mengharapkan balasan, tetapi hatinya yang terus menggerakkan ke jalan kebaikan. Dia percaya, ketika dia baik kepada orang lain. Maka, akan ada juga orang yang baik kepadanya.


__ADS_2