
Hari ini Aleena tidak diijinkan berangkat ke sekolah karena harus beristirahat sejenak untuk memulihkan lukanya. Aleena sudah merengek meminta bantuan kepada ayah dan kakeknya. Akan tetapi, dua pria itu bergeming. Mereka pun tidak mengijinkan.
"Kakak Na baik-baik saja, Bu," ujar Aleena.
Tatapan tajam Echa berikan. Jika, ibunya sudah seperti ini semua anak-anak Echa pasti akan tertunduk dalam.
"Kakak Na, sayang gak sama Bubu? Apa Kakak Na mau buat Bubu menangis?" Aleena pun menggeleng dengan cepat.
Haram sekali bagi ketiga anak Echa untuk membuat ibu mereka menitikan air mata.
"Kakak Na, sayang Bubu." Aleena memeluk tubuh Echa
Radit hendak mengantakan dua putrinya untuk ke sekolah. Namun, mereka berdua menolak.
"Gak mau! Kalau Baba yang antel, ibu-ibu genit suka liatin Baba. Dedek gak suka," ujar Aleeya.
"Kakak Sa juga gak mau," pungkasnya.
Rion pun tertawa terbahak-bahak melihat ocehan kedua cucunya, sedangkan Echa sudah menatapnya dengan tajam.
"Mereka yang menatap aku, Sayang. Akunya juga ogah natap mereka," bela Radit.
"Benar begitu anak-anak?" Si triplets pun mengangguk.
Radit pun bisa bernapas lega. Setidaknya anak-anaknya tidak berbohong. Sudah menggenggam berlian kenapa harus mencari kerikil di luaran?
Akhirnya, Echa lah yang mengantar kedua anaknya. Radit bertugas menemani Aleena terlebih dahulu sebelum dia kembali ke rumah.
Tibanya di sekolah, Grace ibu dari Choki sudah menatap sendu ke arah Echa.
"Maafkan putra saya," ucap Grace.
"Maaf ya, Bu. Meminta maaflah kepada ketiga anak saya. Mereka lah yang menjadi korban akan kejahilan anak Ibu. Hanya saja anak-anak saya bukanlah anak yang kejam. Mereka menyimpan semuanya dan baru kali ini mereka mengatakan kepada kami. Saya hanya tidak ingin ada korban-korban lain dari kejahilan putra Anda. Asal Anda tahu, bukan saya yang melaporkan anak Anda. Akan tetapi, ayah mertua saya karena pemilik sekolah ini adalah teman dari ayah mertua saya."
Baru kali ini Echa berbicara panjang lebar. Biasanya dia akan mengabaikan. Namun, lama-lama dia juga geram. Akhirnya bom waktu itu pun meledak.
Ibu Grace tercengang mendengar penuturan dari Echa. Dia tidak mengetahui bahwa Addhitama adalah teman dari pemilik sekolah ini. Pantas saja, Choki langsung diberi peringatan terakhir oleh pihak sekolah. Jika, sekali lagi mencelakai murid lain Choki akan dikeluarkan dari sekolah.
Echa meninggalakan kedua anaknya dan dia juga melihat Kalfa sudah tersenyum ke arahnya.
"Tante, Aleena mana?" tanya Kalfa bingung. Hanya ada Aleeya dan Aleesa yang datang ke sekolah.
"Aleena sedang sakit, Sayang. Makanya hari ini dia tidak masuk sekolah. Tolong jaga Aleesa dan Aleeya, ya. Kamu 'kan laki-laki, kamu harus bisa melindungi perempuan."
Kalfa si anak cerdas pun mengangguk seraya tersenyum ke arah Echa.
"Tante, ini Kal bawa susu untuk Aleena. Kal titip, ya." Echa mengusap lembut rambut Kalfa. Echa melihat ada ketulusan yang anak ini miliki.
"Makasih ya."
"Sama-sama, Tante."
Setelah Echa pergi, giliran Aleeya dan Aleesa yang mendekat Kalfa.
"Kelapa, mana susu buat Dedek?" Jiwa pemalak Aleeya hadir jika menyangkut makanan.
Kalfa membuka tasnya dan mengambil dua kotak susu untuk Aleeya dan juga Aleesa.
"Papih yang beli itu untuk kalian," terang Kalfa.
"Makasih."
Dua anak manusia itu pun tersenyum kegirangan. Berarti mereka memiliki dua kotak susu untuk istirahat nanti karena sang ibu sudah memberi masing-masing satu kotak susu untuk mereka.
Echa tiba di rumah, dia melihat Radit tengah mengusap lembut kepala Aleena dan Aleena tengah berbaring di paha Radit sambil menonton televisi.
"Kakak Na, Baba kerja dulu, ya." Mendengar suara sang ibu, Aleena bangkit dari posisi rebahannya.
Radit mengecup kening Aleena dan kini berdiri mengecup kening Echa.
"Baba berangkat dulu, ya." Aleena mengangguk.
"Mau nitip apa?" tanya Radit.
"Boleh beli kelupuk ikan yang di kedai mpek-mpek? Kakak Na ingin itu," ucapnya hati-hati.
__ADS_1
"Tentu saja boleh dong," Radit mengecup gemas pipi Aleena. Jiwa tidak enak hati yang Aleena miliki sangat terlihat.
"Ay, sekalian beli mpek-mpek ya."
"Iya, Bubu Sayang." Radit mencubit gemas pipi Echa.
Merasa bosan karena hanya berbaring dan menonton televisi, Aleena berjalan ke arah ibunya yang berada di dapur. Dia membuka lemari pendingin. Matanya memicing ketika melihat ada susu kotak yabg berbeda dari yang biasa dia minum.
"Bubu, ini susu siapa?" tanya Aleena, sambil memperlihatkan susu di tangannya.
"Itu dari Kalfa. Bubu lupa tadi," jawab Echa.
Senyum kecil terukir di wajah Aleena. "Boleh Kakak Na minum?" Echa pun tertawa.
"Tentu boleh, Sayang."
Aleena pun mengambil susu kotak tersebut dengan puding buah buatan Mbak Ina. Dia membawanya ke ruang bermain. Jika membuat puding, Echa ataupun Mbak Ina selalu membuat di dalam cup ukuran dua ratus lima puluh mili untuk sekali makan si triplets.
"Kalfa sering ngasih makanan?" tanya Echa, sambil membawa keripik pisang untuk diletakkan di meja.
"Kemalin ngasih susu, tapi Dedek mau. Kakak Na kasih ke Dedek jadinya."
Senyum merekah di bibir Echa. Inilah yang Echa suka dari Aleena. Dia tidak akan mementingkan dirinya sendiri. Dia akan berbagi kepada adiknya.
Untungnya jam sepuluh Aleena sudah tertidur pulas setelah meminum obat. Echa akan menjemput dua anaknya yang lain. Tak lama menunggu, kedua anak Echa pun berlari ke arah sang ibu dan memeluknya.
"Pulang Bu, kasihan Kakak Na sendilian," ujar Aleesa.
Namanya juga anak kembar, jika salah satu di antara mereka tidak ada. Pasti akan ada yang hilang dari tubuh mereka. Begitu juga dengan si triplets. Sedari tadi Aleesa dan Aleeya nampak lesu tidak bersemangat. Hal itu dikarenakan tidak ada kakak mereka. Seolah tulang rusuk mereka ada yang patah satu.
Baru saja Kalfa akan menghampiri Echa juga Aleesa dan Aleeya, sang Papih sudah datang menjemputnya.
"Papih, Aleena sakit. Boleh jenguk dia gak?" tanya Kalfa.
"Boleh, tapi tidak sekarang, ya. Setelah pekerjaan Papih selesai," jawab Satria sambil mengusap lembut rambut lebat putra angkatnya itu.
Tibanya di rumah, Aleeya dan Aleesa bergegas membuka sepatu mereka. Meletakkannya di rak sepatu khusus sepatu mereka. Langkah kaki mereka menuju kamar karena mereka tahu sang kakak sedang tertidur.
"Nak, cuci kaki dan tangan dulu. Setelah itu ganti baju," ucap Echa.
Mereka berdua menuruti apa yang dikatakan oleh ibunya. Echa sudah menyiapkan baju untuk mereka berdua.
Namun, Aleesa teringat sesuatu. Di berlari keluar kamar dan menuju pintu depan. Untungnya Mbak Ina melihat Aleesa yang akan membuka pintu.
"Mau ke mana Neng?" tanya Mbak Ina.
"Liat Om Poci," jawab Aleesa.
Mbak Ina mengikutinya dari belakang. Dia melihat Aleesa yang celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
"Di mana dia?" gumam Aleesa.
Aleesa menyusurihalaman belakang yang menembus ke halaman samping. Matanya memicing ketika melihat ada sesuatu yang berwarna putih di dahan pohon tempat teman-teman tak kasat matanya tinggal. Aleena mengambil batu lalu melemparnya ke arah dahan tersebut.
Mata Aleesa sudah menatapnya tajam, sedangkan benda putih tersebut mulai turun dari dahan dengan cara melompat. Aleesa sudah berkacak pinggang. Sedangkan lontong putih berwajah hitam itu menunduk dalam. Seperti sedang dimarahi ibunya.
"Kenapa malah di atas pohon itu? Kakak Sa udah bilang, jaga di depan lumah Kakak Sa," omel Aleesa.
Bulu kuduk Mbak Ina mulai meremang. Namun, dia tidak ingin mencela ucapan dari Aleesa. Takut jika teman-teman Aleesa mengamuk. Pekerja rumah Echa sudah tahu keistimewaan yang dimiliki oleh Iyan dan juga Aleesa. Makanya mereka tidak heran lagi jika sudah begini.
"Di sana panas. Nanti Om Poci gosong," jawab si lontong putih.
"Eleh, Om emang udah hitam. Ngapain takut hitam?" Om Uwo dan Dev yang berada di atas pohon itu pun tertawa terbahak-bahak. Jika, Aleesa sudah marah kepada kaum tak tak kasat mata. Mereka akan menunduk dalam. Aleesa akan menjelma menjadi ibu tiri.
"Jaga lagi di sana!" titah Aleesa dengan sangat tegas.
Lontong putih itu pun meloncat-loncat untuk menuju halaman depan. Keleletan si lontong putih membuat Aleesa geram. Dia menarik kain putih si lontong, hingga dia tersungkur. Ketika dia terjatuh Aleesa menarik jambul yang ada di atas kepalanya. Menariknya bagai gedebog pisang. Bagi orang awam, Aleesa tengah menarik udara atau bermain-main. Namun, bagi orang yang dapat melihat makhluk astral Aleesa tengah menarik pocong di siang bolong.
"Kakak Sa, makan dulu, Nak."
Teriakan sang ibu membuat Aleesa melepaskan tarikan itu. Dia berlari ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti. Dia menatap tajam ke arah si lontong putih.
"Jaga di sini!"
Si lontong putih itu pun mengangguk cepat. Dia mencoba untuk berdiri meskipun sulit sekali. Diperkerjakan bagai satpam rumah dua puluh empat jam nonstop hanya dibayar dengan kacang rebus.
__ADS_1
Di meja makan sudah ada Aleeya dan dan sang ibu. Sebelumnya Aleesa mencuci tangan terlebih dahulu. Baru lah dia bergabung bersama ibu dan adiknya.
"Abis dari mana?" tanya Echa.
"Abis cali Om Poci."
Echa menggeleng mendengar ucapan dari Aleesa.
"Lebih baik pelihara kucing atau kelinci, Kakak Sa. Dari pada pelihara hantu," imbuh Echa.
Anak kedua Echa itu menggeleng dengan cepat. Menandakan dia tidak mau ada hewan di rumahnya. lebih baik memelihara hantu dari pada memelihara kucing ataupun kelinci.
Aleesa merasakan ada sesuatu yang berlari di belakanganya. Namun, dia masih menyembunyikan gelagatnya. Dia tidak ingin menakuti adik dan ibunya. Setelah selesai makan, dia beranjak dari kursi dan mencari sesuatu yang melintas tadi di belakangnya.
Dia mencari ke segala ruangan. Namun, tidak ada. Ketika dia melewati kamarnya terdengar suara berisik yang hanya dapat telinganya tangkap. Ketika dia mengintip ternyata ada yang sedang membuka berangkas miliknya dan juga Aleeya.
Aleesa berjalan pelan menuju brankas tersebut. Dia tidak ingin mengganggu kakaknya yang tengah tertidur. Tangannya mulai menjewer telinga makhluk kerdil, pendek dan memiliki telinga panjang. Makhluk kerdil itu melihat mata Aleesa mengeluarkan kobaran api yang sangat menyala.
"Ampun ...."
Aleesa mengambilnya dan kemudian membawanya ke halaman samping. Makhluk kerdil itu menangis.
"Saya disuruh," ucapnya.
Aleesa hendak menarik popok yang digunakan oleh makhluk kerdil tersebut. Namun, makhluk itu melarangnya.
"Saya tidak mengambil apa-apa dari rumah ini. Brankas satu lagi susan untuk dibuka seperti ada yang menjaganya. Apalagi brankas kamar di samping kamar itu. Ada cahaya putih yang menjaganya. Sungguh susah untuk saya tembus."
Brankas yang makhluk kerdil itu maksud adalah brankas Aleena dan juga brankas kedua orang tua si triplets. Mereka adalah orang yang senang berbagi, maka dari itu makhluk kerdil itu tidak bisa menembusnya apalagi mengambil isi dari dalam brankas tersebut.
Makhluk kerdil itu sangat ketakutan. Melihat mata Aleesa pun dia tidak sanggup. Tubuhnya bergetar.
"Jangan pernah datang ke sini lagi. Nanti aku bakal kamu," ancamnya. Makhluk kerdil itupun pun mengangguk mengerti.
Pulang sekolah, Iyan datang kembali ke panti asuhan di mana Anggi dititipkan. Lagi-lagi Iyan harus menelan pil kecewa karena ternyata Anggi sudah tidak ada lagi di sana.
"Anggi tidak bersekolah di sini. Dia sedang disekolahkan di Kota Surabaya oleh orang tua angkatnya," ujar Bu Vina.
Iyan pulang dengan tangan hampa lagi. Dia terus menyusuri jalan dengan langkah pelan menuju rumahnya. Ketika senja hendak datang ke permukaan, Iyan baru tiba di rumahnya. Namun, dikejutkan dengan sosok lontong putih bermuka pink.
"Itu muka kenapa?" tanya Iyan seraya terkekeh.
Si lontong putih hanya diam dengan wajah yang merengut kesal.
"Pasti kerjaan si Aleesa," gumam Iyan.
Iyan berlari ke dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika melihat kakaknya berkacak pinggang di depan Aleesa yang tengah tertunduk.
"Pasti nakal lagi 'kan? Itu muka si Om Poci kenapa jadi pink semua?" sergah Iyan.
Echa menyerahkan lebih dari sepuluh masker berwarna pink yang sudah terbuka. Iyan tertawa dibuatnya.
"Kamu maskerin wajah Om Poci pakai masker Bubuk?" Aleesa mengangguk.
"Biar apa?" tanya Iyan penasaran.
"Bial putih mukanya. Gak gosong kayak begitu," tuturnya.
Iyan semakin tergelak mendengar penuturan dari keponakannya ini.
"Mau kamu pakein masker satu mobil pick up pun, muka Om Poci gak akan pernah bisa berubah jadi putih. Emang dasarnya mukanya hitam," jelas Iyan.
"Kamu dengar Om kecil bilang apa?" Echa benar-benar sudah emosi kali ini.
"Itu masker buat manusia, bukan buat hantu. Mengerti?" Aleesa pun mengangguk.
Echa lebih baik pergi dari pada kepalanya harus pusing lagi. Beberapa menit yang lalu, baru saja Aleeya membuatnya harus mengkonsumsi obat pusing.
Aleeya sedang asyik menonton film kartun bocah kembar yang tak memiliki rambut buatan negeri Jiran, Malaysia. Gara-gara melihat Mei Mei diberi ikan ****** berwarna pink oelh Atuk Dalang, Aleeya malah meminta ikan ****** yang berwarna pink kepadanya. Setengah gila Echa mencari ke semua toko ikan hias, dan akhirnya menemukan ikan yang diinginkan oleh Aleeya. Namun, harganya membuat Echa syok jantung, lima juta rupiah untuk ikan kecil yang tak lebih dari jari kelingkingnya.
Wajah riang gembira Aleeya tunjukkan. Echa mengambilkan akuarium kecil yang sudah diisi air untuk menyimpan ikan tersebut. Sepuluh menit ditinggalkan, warna air di akuarium kecil itu sudah berubah warna menjadi warna hijau.
"Kan di sana ailnya walna bilu. Dedek gak suka walna bilu. Makanya Dedek ganti walnanya sama walna hijau," terangnya.
Ingin sekali Echa membenturkan kepalanya ke dinding. Apalagi dia melihat ada botol sirup rasa melon di samping akuarium tersebut. Sudah pasti sirup yang ada di lemari pendingin, Aleeya ambil dan dia tuangkan ke dalam akuarium. Kini tersisa seperempat botol lagi.
__ADS_1
Belum juga Echa membuka suara kembali, ikan yang susah payah dia cari akhirnya mati.
"Aleeya!"