Yang Terluka

Yang Terluka
Istri dan Ibu Yang Baik


__ADS_3

Jodoh adalah rahasia Tuhan. Ketika sang ayah dengan lantangnya menjatuhkan talak, hati Echa sakit mendengarnya. Dia sangat sedih melihat ayahnya harus kembali sendiri dengan dua orang anak yang harus ayahnya bawa. Lelah dan kesabarannya sudah habis. Itulah alasan kenapa sang ayah menceraikan ibu sambungnya.


Riana yang awalnya membenci Echa. Kini malu sendiri dengan apa yang sudah dilihatnya. Sang ibu ternyata mengkhianati ayahnya. Sebagai seorang anak pasti ada rasa sakit, sedih serta kecewa. Apalagi, yang menjadi selingkuhan sang bunda adalah paman dari Radit yang tak lain adalah kakak iparnya.


Echa tetaplah Echa, si wanita lembut penuh dengan kasih. Dia mampu menerima Riana serta Iyan dengan tangan terbuka. Rasa sayangnya lebih besar dibanding rasa bencinya.


Awalnya, Echa melarang sang ayah untuk bercerai. Namun, mendengar cerita sang ayah yang sangat menyakitkan membuat Echa iba kepada sang ayah. Pada akhirnya, Echa akan mendukung semua keputusan sang ayah.


"Apa Ayah baik-baik saja?" Pertanyaan yang Echa berikan ketika ayahnya bertamu ke apartment Echa.


"Sudah cukup dulu Ayah terluka karena perceraian dengan Mamah. Echa tidak ingin melihat Ayah bersedih lagi," imbuhnya.


"Ayah baik-baik, saja."


Sebuah jawaban yang pasti mengandung dusta belaka. Tidak ada sebuah perpisahan yang menyenangkan. Pastinya akan menimbulkan luka yang mendalam. Apalagi ini bukan kali pertama ayahnya gagal dalam berumah tangga.


Echa hanya bisa memeluk ayahnya dengan sangat erat. Menuangkan kesedihan yang bukan hanya ayahnya rasakan. Melainkan dirinya juga.


"Jangan pernah merasa sendiri. Ada Echa yang akan selalu menemani Ayah. Jangan sungkan bercerita kepada Echa karena Echa berhak tahu atas kondisi Ayah."


Hati Rion terenyuh mendengarnya. Dia benar-benar bangga kepada putri sulungnya ini. Ketika Rion sedang tidak baik-baik saja, Echa menjelma menjadi seorang sahabat yang akan mendengarkan keluh kesah yang Rion rasakan.


"Makasih, tidak pergi dari Ayah. Meskipun dulu Ayah telah membuat kamu kecewa."


Tidak ada jawaban dari Echa, dia hanya mengeratkan pelukannya. TIdak bisa digambarkan betapa sayangnya Echa terhadap ayahnya. Masa kecil tanpa seorang ayah, tidak membuat Echa membenci ayahnya. Justru, dia sangat menyayangi ayahnya sama seperti dia menyayangi sang mamah.


"Jangan terlalu memikirkan Ayah. Ayah tidak mau terjadi apa-apa dengan cucu-cucu Ayah."


Riana hanya mematung di tempatnya ketika melihat pemandangan ayah dan kakaknya. Apakah sekarang ini dia harus iri kepada sang kakak? Di mana dia melihat bahwa kakaknya mampu membuat ayahnya melupakan sejenak kesedihannya.


"Maafkan Ri, Kakak," gumam Riana.


Ketika malam tiba, Radit akan selalu menjadi pendengar yang baik untuk istrinya. Dia akan mendukung penuh semua keputusan Echa. Dia pun tidak akan melarang sang istri untuk melakukannya sesuatu untuk ayahnya.


"Secepatnya aku akan mencari rumah untuk kita. Apartment ini tidak membuat kamu bebas. Aku pun khawatir jika meninggalkan kamu sendirian. Apalagi kita berada di lantai atas."


"Apa aku boleh bawa Ayah serta kedua adikku?" Ragu Echa berucap.

__ADS_1


"Kenapa harus bertanya seperti itu? Ayah kamu adalah ayah aku juga. Kedua adik kamu adalah adik aku juga," jawab Radit dengan sangat tulus.


Echa menatap nanar ke arah Radit. Kecupan hangat yang Radit berikan.


"Makasih, Ay."


Hari ini jadwal Echa kontrol ke dokter kandungan. Tidak sengaja dia bertemu dengan adik dari ayahnya Radit. Sekesal apapun Echa, dia masih bersikap sopan kepada Satria begitu juga dengan Radit.


"Apa kamu marah sama, Om?"


"Ini masalah Om dengan ayah Echa. Echa tidak punya hak marah kepada Om," imbuhnya seraya tersenyum.


"Makasih," ucap tulus Satria dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu sangat beruntung memiliki istri seperti Echa, Dit. Berhati lapang dan juga lembut," ujarnya lagi dengan suara yang berat.


"Itulah alasan Radit mampu menunggu Echa lebih dari lima tahun. Echa memang wanita yang berbeda dan pastinya mampu menjadi istri dan ibu yang baik," tutur Radit.


"Ajak istrimu ke kantin dulu. Amanda akan datang ke sini. Om tahu, Echa tidak ingin bertemu dengan Amanda." Radit menuruti ucapan Satria. Echa pun mengikuti langkah suaminya.


Tibanya di kantin, Radit terus mengusap lembut perut Echa. dengan tangan yang satunya merangkul pundak Echa.


"Apa ada alasan untuk aku tidak kecewa? Menyakiti ayahku sama dengan menyakiti aku," imbuh Echa.


"Kamu sangat tahu, betapa sayangnya aku terhadap ayahku. Laki-laki yang menjadi cinta pertama untukku." Radit tersenyum dan mengecup ujung kepala sang istri.


"Ya udah, tapi kecewanya jangan lama-lama, ya," imbuh Radit. "Karena itu tidak baik untuk kamu dan anak-anak kita," lanjutnya lagi.


Ponsel Radit berdering, dia mendapat pesan dari Satria. Jika, dia sudah menuju jalan pulang dan meninggalkan rumah sakit.


Di ruang pemeriksaan, Radit lah yang banyak bicara. Menanyakan perihal ini dan itu. Dokter kandungan pun tersenyum bangga ke arah Radit.


"Jika, terlalu stres pasti akan berdampak pada janin. Saya harap, jangan buat istri Bapak stres. Ketiga anak yang berada di dalam kandungan ini sangatlah sehat. Pastinya Bapak juga menginginkan mereka lahir semuanya dengan sehat." Radit mengangguk.


"Buatlah istri Bapak selalu bahagia," tambah dokter.


Radit mengecup kening sang istri di hadapan dokter dan perawat. Tidak Radit pedulikan di mana mereka berada. Itu bentuk cinta Radit terhadap Echa.

__ADS_1


"Apa kalian tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?" Dengan cepat sepasang suami-istri ini menggeleng.


Dokter pun tertawa. "Anak-anak kalian pun sepertinya tidak ingin. memberitahukannya," imbuh dokter.


"Biarlah jadi kejutan, dok," balas Echa.


"Kalian pasangan muda yang luar biasa."


Radit dan Echa pulang dengan hati yang sangat bahagia. Apalagi melihat janin mereka yang tumbuh dengan sehat. Sekarang sudah berwujud layaknya bayi. Senyum terus terukir di wajah Echa.


"Kita ke rumah Papih, dulu." Echa pun mengangguk.


Di rumah Addhitama, mereka berdua disambut oleh Rio anak dari kakak pertama Radit.


"Aunty," panggilnya.


Rion berhambur memeluk tubuh Echa dan mencium perut buncit Echa.


"Dedek, ini Kakak Iyo," ucapnya sambil mengusap perut Echa.


"Gerak, Aunty." Rio sedikit berteriak ketika merasakan pergerakan di dalam perut Echa.


"Rio, Aunty ajak duduk dulu dong." Addhitama sudah menghampiri Radit dan Echa yang dicegat oleh sang cucu pertama.


"Maaf."


Ketika Rio meminta maaf, Echa dan Radit akan tertawa. Wajah Rio yang menunjukkan penyesalan malah terlihat lucu di mata om dan tantenya.


"Rio tidak salah." Echa mengusap lembut rambut sang keponakan.


"Ayo kita genggam tangan Aunty." Dengan ceria Rio menggenggam tangan Echa sebelah kiri dan Radit menggenggam tangan Echa di sebelah kanan.


Addhitama tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya serta cucunya yang terlihat sangat saling menyayangi.


"Andai Echa mampu menerima ayah dari Rio," gumamnya.


...****************...

__ADS_1


Happy reading ....


__ADS_2