Yang Terluka

Yang Terluka
Gara-Gara Kopi Hitam


__ADS_3

Aleeya yang berlari terlalu senang menyebut kedatangan mimo dan akinya harus terjatuh. Namun, ada seseorang yang menolongnya.


"Maac ...." Ucapannya terhenti ketika melihat ke arah sang penolong.


"Maafkan Engkong, Aleeya."


Manik mata mereka berdua bertemu. Tidak dipungkiri Aleeya pun merindukan Rion. Kecewanya hanya untuk sementara tidak untuk selamanya. Lama mereka terdiam, kemudiaan Aleeya memeluk tubuh Rion.


"Maafkan Engkong. Maafkan Engkong." Aleeya pun mengangguk.


Hati Aleeya dan Rion kini kembali bahagia. Mereka terus melengkungkan senyum kepada semua orang. Radit dan Echa yang melihatnya ikut tersenyum lega.


"Masih marah sama Ayah?" tanya Radit.


Echa tidak menjawab, tangannya melingkar di pinggang sang suami. Istrinya ini hanya marah sesaat.


Keesokan harinya Radit harus pulang ke rumah miliknya. Ketiga cucunya merengek ingin segera pulang karena sudah diiming-imingi sepeda cantik. Tibanya di rumah wajah riang gembira terpancar. Si triplets berlari menuju Rion. Memeluknya serta menciumnya. Apalagi melihat tiga sepeda yang berada di sana.


"Jangan terlalu dimanjain," omel Echa. Rion tidak menghiraukan ucapan dari Echa.


Sebenarnya Echa enggan pergi ke kantor. Namun, laporan dari Arya membuatnya pusing. Mau tidak mau dia harus ke kantor.


"Lesu amat, Yang," ucap Radit.


"Pengen libur lagi, tapi kerjaan banyak," keluhnya.


Pelukan hangat Radit membuat Echa merasa tenang. "Kerja dulu, weekend kita liburan ke puncak."


"Serius?" Radit mengangguk mantab.


Padahal Radit sangatlah sibuk, tetapi tidak ada salahnya jika dia memanjakan istri serta anaknya. Ketika keempat perempuan kesayangannya bahagia, Radit pun akan merasakan hal yang sama.


Echa keluar kamar, tetapi tidak mendapati ketiga anaknya di ruang televisi. Ketika dia keluar rumah, ketiga anaknya tengah asyik bermain dengan sepeda serta bunga-bunga yang mereka petik lalu dimasukkan ke dalam keranjang sepeda.


"Bubu berangkat, ya."


Mendengar suara sang ibu, ketiga kurcaci itu segera berlari dan memeluk tubuh Echa yang sudah berjongkok. Mereka menciumi pipi Echa bergantian. Kemudian mencium tangannya.


"Tatah," ucap mereka sambil melambaikan tangan.


Tak lama Radit pun datang. Mereka selalu bermanja dengan Radit, baru lah Radit terbebas dari ketiga anaknya. Selama perjalanan Echa terus memejamkan matanya. Guratan lelah terlihat jelas di wajahnya. Radit mengusap pelan kepala Echa. Mata Echa mulai terbuka, Radit hanya tersenyum melihatnya.


"Tidur lagi aja, kalau udah sampai nanti aku bangunin."


Ingin sekali Radit memohon kepada ayah mertuanya agar Echa dibiarkan di rumah saja. Akan tetapi, dia tidak boleh egois. Bagaimana pun toko itu adalah milik Echa. Ayahnya hanya menjalankan tugas Echa untuk sementara.


Setelah dibangunkan, Echa mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Baru lah dia turun dari mobil. Tak lupa. Echa pamit dan mencium tangan Radit.


Pekerjaan sudah sangat menumpuk. Baru kali ini Echa memesan kopi hitam dan pahit agar matanya bisa terjaga. Sedikit demi sedikit pekerjaan mulai selesai. Akan tetapi. perutnya mulai sakit dan perih. Echa tetap melanjutkan pekerjaannya sampai waktu istirahat tiba.

__ADS_1


Echa duduk di sofa dengan wajah pucat pasi. Tangannya terus memeluk perutnya seakan menahan sakit yang luar biasa. Tidak dia hiraukan panggilan demi panggilan yang terus masuk ke dalam ponselnya.


Siang ini, Radit merasa khawatir. Dia memutuskan untuk makan siang di kantor Echa. Sebelumnya dia mampir ke restoran untuk membeli makanan untuk makan siang. Tibanya di kantor Echa, semua mata wanita menatap kagum kepada Radit. Mereka tahu. siapa Radit. Tanpa banyak menyapa, Radit naik ke lantai dua. Di sana ada Kinanti. asisten Echa.


"Ibu ada?" Kinanti mengangguk sopan.


Di dalam ruangan Echa tidak nampak siapapun, terlihat sangat sepi. Namun, tas yang dibawa Echa terlihat ada di atas mejanya. Radit mulai mencari keberadaan Echa dan alangkah terkejutnya ketika dia mendapati sang istri tengah meringis dengan wajah yang sangat pucat.


"Sayang."


Wajah khawatir dan panik jadi satu. Radit segera mengambil air minum untuk sang istri. Mengelap keringat yang bercucuran di wajah Echa.


"Kita ke dokter, ya." Echa menggeleng.


"Tolong ambilkan obat mag di tas aku, Ay." Radit menuju meja, ketika dia melihat isi dari cangkir kopi yang sudah sisa setengahnya. Dia pun menggeleng dan menatap tajam. ke arah istrinya.


"Sejak kapan kamu minum kopi hitam?" hardik Radit.


Echa belum mau menimpali ucapan Radit. Dia lebih memilih untuk meminum obat mag yang Radit berikan. Echa menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan mata terpejam.


"Jawab pertanyaan aku, Yang," sentak Radit.


"Aku ngantuk berat, Ay. Makanya aku minta dibuatin kopi hitam yang pahit buat mataku bisa melek. Mata emang melek, tetapi perut malah sakit," jelasnya.


Radit tidak bisa marah jika menyangkut hal ini. Dia sendiri pun kasihan melihat istrinya yang siang harus kerja, malam bergadang jagain anak yang rewel. Besoknya harus bangun pagi dan kerja lagi. Wajar jika Echa seperti ini.


Radit mulai menyuapi istrinya yang masih sesekali meringis karena sakit di perutnya. Enggan rasanya bahu Radit untuk meninggalkan Echa. Dia memilih menemani sang istri bekerja. Echa fokus pada pekerjaannya dan Radit pun fokus pada laptop miliknya. Radit menyuruh asistennya untuk mengantarkan laptop miliknya ke kantor Echa. Agar semua pekerjaan bisa dia kerjakan di kantor Echa.


Untuk hari ini Arya ijin tidak masuk karena dia harus ke Singapura. Ayah mertuanya sedang sakit. Merkea terbang ke sana bersama Kano dan juga keluarga.


"Istirahat dulu, Yang. Jangan terlalu dipaksakan," ujar Radit.


Echa membaringkan tubuhnya di pangkuan sang suami. Dia membenamkan wajahnya di perut Radit.


Tangan Radit terus mengusap lembut rambut Echa hingga dengkuran halus pun terdengar. Ukiran senyum terlihat di wajah tampan Radit. Dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.


Terlalu nyaman, dua kata yang Echa rasakan. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tetapi Echa masih terlelap juga. Kaki Radit yang sudah kram tidak dia hiraukna. Terpenting, dia bisa memberikan kenyamanan kepada Echa.


Radit mencoba membuka laptop Echa. Dia mengerti kenapa dia harus nerlej keras hari ini. Banyak kekacauan yang terjadi.


"Ini mah harus datang ke tokonya satu per satu," ucap pelan Radit.


Jam lima sore Echa baru terbangun. Tubuhnya terasa ringan dan pukulan berat seketika terasa hilang.


"Nyenyak banget tidurnya." Radit mengecup kening Echa.


"Maaf, buat kamu pegal." Radit tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Kita pulang, yuk. Anak-anak pasti nungguin," ajak Radit.

__ADS_1


"Tapi ... kerjaan ku?"


"Minta tolong sama Ayah. Pasti Ayah lebih mengetahui perihal masalah ini."


Sesampainya di rumah. mereka diberondong pertanyaan oleh Rion dan ketiga anak mereka. Namun, Echa segera memberikan laptopnya kepada sang ayah.


"Tolong bantu Echa, Yah. Ijinkan Echa istirahat untuk malam ini."


Rion mengerutkan dahinya, dia membuka laptop kerja Echa. Dia pun mulai menggelengkan kepala. Rion cek satu per satu denganku telitu. Jalan satu-satunya mendatangi toko-toko ini satu per satu.


Benar apa yang dikatakan Echa. Tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Dia segera membersihkan tubuhnya kemudian memaki handuk kimono dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Lelahnya sekarang ini naik menjadi tiga kali lipat. Menjaga anak, melayani kebutuhan biologis sang suami setiap malam yang tak cukup jika hanya sekali atau dua kali kemudian bekerja. Tenaganya benar-benar terkuras akan tiga hal di atas.


Radit menggelengkan kepala ketika melihat istrinya sudah terlelap dengan damainya. Dia menyelimuti tubuh Echa. Kemudian bergegas mandi. Malam ini, Radit yang haru menjaga si triplets. Dari makan malam hingga dia tertidur.


Seperti malam ini, ketiga anaknya merengek ingin memakan nasi pakai sosis. Tubuh lelahnya pun tak dia hiraukan, dia membuatkan keinginan si triplets. Belum lagi jus buah yang mereka inginkan. Malam ini, selera mereka berbeda-beda membuat Radit sedikit kewalahan.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam. Radit menggiring ketiga anaknya untuk masuk ke dalam kamar. Mencucinya gan serta kaki mereka terlebih dahulu. Baru lah Radit membacakan dongeng untuk mereka. Akhirnya, tiga kurcaci itu terlelap. Radit membentangkan tangannya karena terlalu lelah.


"Sekarang aku merasakan bagaimana mengurus anak."


Malam hari, ketika Radit asyik masuk ke dalam mimpi. Ketiga anaknya menangis karena kehausan. Mau tidak mau Radit membuatkan susu untuk mereka bertiga dengan mata yang sulit untuk terbuka.


Keesokan paginya, Radit hari bangun sebelum istrinya terbangun. Echa terlalu kelelahan, makanya tidur nyenyak sekali. Dia membuatkan roti bakar untuk Echa dan ketiga anaknya. Suara sang mertua cukup mengagetkannya.


"Echa belum bangun?" Radit menggeleng.


"Mungkin dia kelelahan, Yah. Radit gak tega banguninnya." Rion mengangguk mengerti.


"Baru saja Ayah mau mengajak Echa mengunjungi toko di sekitaran Jabodetabek," ujarnya.


"Kalau begitu, Ayah aja yang berangkat sendiri. Echa Jang disuruh kecapean dulu. Gantian hari ini kamu yang ngasih ketiga anak kamu," jelas Rion.


Hari ini Radit benar-benar menjalankan peran sebagai ibu. Mulai dari memandikan ketiga anaknya. Kejar-kejaran dengan Aleeya karena tidak memakai baju. Serta kamar bagai lautan bedak karena ulah ketiga anaknya.


"Lama-lama Baba darah tinggi ini," keluhnya.


Menjadi seorang ibu rumah tangga itu nyatanya tidak mudah. Bekerja dua puluh empat jam tanpa digaji. Ketika anak-anak tertidur, jangankan istirahat kerjaan yang lain pun sudah menanti.


Jam sepuluh pagi, anak-anaknya sudah tertidur pulas. Radit menghampiri istrinya yang masih berada di posisi tiduran.


"Mau ke rumah sakit?" Echa menggeleng.


Radit memeluk tubuh Echa dengan sangat erat. Dia mengucapakan terima kasih berulang-ulang kali membuat Rion sedikit kebingungan.


"Kenapa Ay?" tanya Echa.


"Makasih telah mampu merawat ketiga anak kita. Makasih telah mampu membagi waktu untukku, anak-anak dan pekerjaanmu. Ternyata jadi seorang ibu rumah tangga itu sangatlah melelahkan.


"Sudah kodrat semua wanita seperti itu, Ay," jawabnya..

__ADS_1


__ADS_2