Yang Terluka

Yang Terluka
Anggota Baru


__ADS_3

Berdamai dengan masa lalu membuat hidup Rion kembali berwarna dan menyenangkan. Apalagi ketiga cucunya yang selalu membuatnya tertawa lepas. Tak ada niatan sama sekali untuknya menikah lagi. Hidup dengan ketiga anaknya, satu menantu laknat (menurutnya) serta ketiga cucunya yang sudah mulai centil dan cerewet itu sudah cukup baginya.


Seperti sekarang ini, dia sedang membawa ketiga cucunya ke kantor. Mereka akan sangat antusias apalagi ada Arya di sana.


"Wawa, sini!" panggil Aleeya.


Arya menatap Aleeya dengan sangat malas. Apalagi dia mencium aroma-aroma menyebalkan dari ketiga tuyul milik Rion. Arya masih fokus pada laptopnya membuat Aleeya geram. Dia menghentakkan kakinya berjalan menuju Arya. Tangannya sudah di pinggang, kedua alisnya sudah menukik tajam.


"Dengel gak tadi Dedek bilang apa?" Aleeya mulai mengeluarkan taring.


"Dengar, Wawa gak budeg," ujarnya.


Aleeya semakin kesal dan tangan jahilnya mulai menekan tombol laptop secara acak membuat Arya mengerang kesal dan mengangkat tubuh cucu ketiga dari sahabatnya tersebut.


"Jangan nakal dong. Wawa nanti pulang malam," keluhnya.


Aleeya akan luluh jika Arya memasang wajah memelasnya. Tangan Aleeya pun mengusap rambut Arya yang sangat rapi.


"Wawa, boleh ya Dedek kuncil lambut Wawa. Dedek balu dikasih kuncilan balu dali Aunty Mamih. Mau ya?"


Aleeya sudah mengeluarkan puppy eyes-nya membuat Arya tak bisa menolak.


"Baiklah," jawab Arya pasrah.


Aleeya berdiri di atas kursi kebesaran Arya dan posisinya berada di belakang tubuh Arya. Tangan kecilnya sudah menarik-narik rambut Arya, mengikatnya kemudiaan menjepitnya. Arya tidak peduli yang penting anak tuyul yang paling super ini diam dan pekerjaannya beres.


Di lain kursi kedua anak Echa tengah menyuapi sang kakek dengan udara. Mereka tengah mengajak kakeknya bermain masak-masakan.


"Engkong, minum kopi dulu." Aleena sudah memberikan cangkir mainan kepada Rion untuk dia minum. Rion pun menurutinya saja dari pada ketiga bocah ini mengamuk.


"Besok-besok nih ruangan kayak play Grup," keluh Arya.


Rion hanya tertawa, dia tidak mempermasalahkan ketiga cucunya bermain di ruang kerjanya. Toh, masih sangat luas ruangannya. Hari-harinya ingin dia isi dengan keceriaan bersama ketiga cucunya yang sangat cantik dan pintar.


Sore hari, mereka kembali ke rumah. Sudah ada sang ibu yang menyambut mereka pulang. Ketiga anak-anak Echa pun berlari dan memeluk tubuh Echa.


"Senang gak?" Mereka pun mengangguk.


"Makasih ya, Yah." Echa memeluk tubuh Rion.


"Sama-sama. Kamu istirahat aja dulu, biar nanti mereka Ayah yang mandiin."


Namun, Echa menggeleng. Dia tidak ingin membuat ayahnya semakin kelelahan. Pasti mengurus ketiga anaknya setengah hari ini sangat menguras emosi.


"Udah enakan kok, Yah. Tadi udah dipijat sama Mbak Ina. Ayah mandi dulu, ya. Biar Echa siapkan teh hangat untuk Ayah."


Lengkungan senyum terukir indah di wajah Rion. Putrinya itu selalu menempatkan diri sebagai seorang istri jika dia pulang bekerja. Perhatian Echa membuat Rion merasa sangat beruntung.


Tak ada yang menduga malam ini Satria datang ke rumah Echa. Mata Echa dan Radit saling bertemu, mereka merasa bingung karena sang om tidak memberi tahu perihal kedatangannya.


Rion dan Satria pun saling tatap membuat dada Echa bergemuruh cepat. Echa takut jika sang ayah akan marah. Begitu juga dengan Iyan yang sudah menggenggam tangan kakaknya.


"Silahkan duduk, Om."


Kebetulan mereka tengah berbincang di ruang tamu sebelum Satria datang. Hanya aura ketegangan yang Satria dan Rion pancarkan.


"Om, mau minum apa?" tanya Echa.


"Tidak perlu repot-repot, Om hanya sebentar kok."


"Saya ingin bicara sama kamu, Rion," lanjut Satria.


Mata kedua anak Rion serta menantunya melebar. Mereka benar-benar takut sekarang ini. Radit sudah bersiop menjadi penengah, dia takut sewaktu-waktu mertuanya mengamuk.


"Saya mau minta maaf atas kesalahan saya. Saya sangat menyesal dan selalu dihantui rasa bersalah di setiap saat. Maafkan saya," sesalnya.


Rion masih bergeming, jika melihat Satria seperti membuka luka yang telah mengering. Namun, dia mulai menepisnya. Dia sudah berjanji akan berdamai dengan masa lalunya. Satria adalah bagian dari masa lalunya yang menyakitkan.


"Saya sudah memaafkan Anda. Saya tidak ingin menyimpan dendam kepada siapapun. Penyebab terjadinya perang dingin ini pun sudah tidak ada 'kan. Saya dan Anda serta almarhum putra Anda adalah korban dari seorang wanita. Jadi, tidak ada yang perlu disesalkan dan disalahkan lagi. Saya sudah ikhlas, Tuhan menginginkan saya untuk hidup bahagia bersama anak, menantu dan cucu-cucu saya."


Echa dan Iyan melengkungkan senyum kebahagiaan. Ayahnya sudah benar-benar melupakan dan tidak menyimpan sedikit pun dendam.


"Bolehkah sekarang kita berteman?" Satria mengulurkan tangannya kepada Rion dan Rion pun menjabat tangan Satria dengan senyum yang merekah.


"Echa bahagia banget, sudah tidak ada lagi rasa sakit dan sedih di hati Ayah." Pelukan hangat Echa berikan untuk sang ayah tercinta.


"Itu berkat kamu juga, Dek," balas Rion.


Ketiga anak Echa memperhatikan seorang anak yang tengah duduk di anak tangga teras rumah mereka. Tubuh anak itu terlihat kotor. Aleena ingin menghampirinya, tetap Aleeya dan Aleesa mencegahnya.


"Nanti dimalahin Bubu," larang Aleesa.

__ADS_1


Anak laki-laki itu tersenyum ke arah Aleena dan melambaikan tangan. Aleena yang memang berhati lembut, membalas lambaian tangan itu. Dia bergegas ke lemari pendingin untuk mengambil sesuatu. Ada satu kotak susu cokelat dan juga cemilan milik Aleena. Dia menghampiri anak laki-laki itu dan memberikan makanan dan minuman yang dia bawa.


"Kakak Na gak punya apa-apa. Hanya punya ini, dimakan ya," ucapnya seraya tersenyum manis ke arah anak tersebut.


Aleeya sudah menarik tangan ibunya untuk ikut mengintip dari balik pintu. Echa melihat Aleena yang tidak segan berbincang dengan anak yang tidak Echa kenali.


"Lihat apa? Om Satria mau pulang," ujar Radit.


Bukan hanya Radit yang menyunggingkan senyum, tetapi Rion dan Satria menatap bangga kepada Aleena.


"Dia anak jalanan yang baru saja Om bawa. Dia anak yatim piatu yang biasa mulung di jalanan," terang Satria.


Iyan teringat akan Anggi, anak dari wanita yang mirip sekali dengan bundanya. Namun, sepertinya Anggi sudah diadopsi oleh orang lain. Setiap Iyan pergi ke panti asuhan, pasti Anggi tidak ada.


"Om akan bawa pulang?" tanya Radit.


"Iya, kasihan. Usianya sama seperti anak-anak kalian dan juga almarhum Dev. Om akan menyuruh pengacara untuk mengurus berkas-berkas adopsi anak itu. Mungkin Tuhan mengirimkan dia untuk menggantikan Dev."


Hati mereka terenyuh mendengar ucapan Satria. Sorot mata Satria menandakan dia rindu akan putra satu-satunya.


"Kenapa gak Om aja masuk?" tanya Echa.


"Dia gak mau, katanya tubuhnya kotor. Di mobil aja dia duduk di bawah," kekeh Satria.


"Semoga bisa menjadi teman si triplets ya, Om."


Keesokan paginya, ketiga anak Echa sudah siap dengan pakaian yang senada. Sepatu putih dan tas ransel baru pemberian dari aki mereka yang baru saja pulang dari Australia. Outfit anak-anak Echa ke sekolah ini sangatlah mahal. Bisa membeli satu buah motor baru. Maklum, cucu trio sultan.


"Nak, hari ini ke rumah opa, ya. Opa ingin bertemu kalian katanya," jelas Echa sambil mengemudi.


"Yeay! Dikasih uang pasti sama Opa," ucap Aleeya bahagia.


Echa pun tergelak, jika menyebut nama opa yang ada dipikiran mereka adalah uang karena Opanya selalu memberikan mereka uang untuk ditabung. Seperti biasa, Echa hanya mengantarkan mereka hingga ke depan kelas. Echa mendidik anak-anaknya untuk mandiri.


Namun, langkah mereka dihadang oleh anak laki-laki bertubuh gempal.


"Minggil Choki-choki," geram Aleeya.


Jika, melihat wajah Choki taring Aleeya akan keluar. Seperti menyimpan dendam kesumat untuk Choki.


"Enggak! Aku mau di sini," balas Choki.


"Minggil Patkai!" ucap Aleena.


Aleena adalah anak yang jarang berbicara dan juga baik. Namun, marahnya Aleena membuat semua temannya takut.


"Iya iya aku minggil," balas Choki, sambil mengusap telinganya yang terasa panas dan hidungnya yang sudah merah.


"Aku bilangin ...."


Tangan Aleena sudah mengepal keras di depan wajah Choki. Nyali Choki pun menciut. Akhirnya mereka bisa masuk ke kelas. Aleesa menarik tangan Aleena dan menunjuk ke arah anak laki-laki yang tak jauh dari mereka.


"Itu!" Jari telunjuk Aleesa sudah menunjuk ke arah anak laki-laki yang semalam ada di depan rumah mereka.


Anak laki-laki itu pun tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Aleena.


"Pagi anak-anak!" sapa Ibu guru.


"Pagi Miss."


"Hari ini kelas kita kedatangan teman baru." Guru tersebut menuntun anak laki-laki yang semalam Aleena beri makanan dan minuman.


"Kenalkan nama kamu, Nak."


"Hai! Na-nama a-ku ... K-Kalfa."


"Klapa?" bisik Aleeya kepada Aleesa. Mereka berdua pun terkekeh bersama sambil menutup mulut mereka.


Setelah perkenalan dengan Kalfa, mereka pun melanjutkan kegiatan belajar mereka. Ketika istirahat tiba, ternyata Kalfa tidak membawa bekal. Dia hanya melihat ke arah teman-temannya yang yang tengah memakan bekal yang orang tua mereka siapkan.


"Jangan lihat-lihat! Aku gak mau bagi kamu," sergah Choki.


Kalfa hanya tersenyum tak menjawab ucapan Choki. Dia sudah terbiasa kelaparan dan hanya menelan ludah ketika melihat orang lain makan. Namun, seseorang memberikan potongan makanan kepadanya.


"Ini buat kamu."


Kalfa pun menoleh ke arah sampingnya. Aleena sudah tersenyum manis sambil memberikan potongan roti bakar yang dia bawa.


"Ti-tidak usah. Aku gak lapar," ucapnya.


"Gak apa-apa, Kakak Na masih ada kok."

__ADS_1


Aleena memang senang berbagi, dia tidak akan menolak jika harus membagi apa yang dia punya kepada orang lain. Selagi orang itu dia anggap baik.


Akhirnya, Kalfa pun bisa menikmati roti bakar yang sangat lezat. Dia tidak pernah memakan makanan seenak ini.


"Ma-makasih," ucap Kalfa.


"Sama-sama."


Aleesa dan Aleeya hanya menggeleng melihat sikap kakak mereka itu.


"Dedek gak akan kenyang kalau halus makan sepotong loti," oceh Aleeya.


"Kakak Sa juga gak akan kenyang," balasnya.


Dua anak yang memang sangat rakus dan tidak ingin berbagi dengan apa yang mereka miliki, berbeda dengan Aleena.


Echa sudah menjemput ketiga anaknya dan menuju kediaman sang ayah mertua. Di sana juga sudah ada Rio.


"Opa!"


Anak-anak Echa sudah berlari untuk memeluk sang kakek. Tidak dipungkiri mereka pun rindu kepada kakeknya ini. Kesibukan Addhitama yang menyebabkan mereka jarang bertemu.


"Cucu-cucu Opa makin cantik," puji Addhitama.


"Sudah lama, Mbak?" tanya Echa kepada Nesha yang tengah di dapur.


"Baru saja sampai. Rio ingin puding cokelat makanya ke dapur." Echa mengusap lembut rambut keponakan tampannya ini.


"Boneka cantik sedang bersama Opa, ke sana gih." Rio menggeleng. Dia masih fokus pada gadgetnya.


"Iyo, main ponsel terus juga gak baik untuk mata loh. Iyo mau pakai kaca mata tebal karena matanya mulai tidak bisa melihat dengan jelas." Rio terdiam mendengar ucapan sang Tante.


"Lebih baik Iyo bermain bersama tiga boneka cantik. Simpan dulu ponselnya, nanti boleh main lagi. Oke?" Rio pun mengangguk dan memberikan ponselnya kepada Nesha.


"Kalau Mbak yang bilang pasti gak denger, tapi kalau kamu pasti nurut," keluh Nesha.


"Namanya juga anak-anak, Mbak."


Ternyata bukan hanya si triplets dan juga Rio yang datang ke rumah Addhitama. Ada anggota baru dari keluarga Addhitama, Satria membawa anak angkatnya.


Nesha melebarkan matanya karena dia tidak tahu menahu tentang anak yang dibawa Satria. Namun, setelah dijelaskan Nesha pun mengerti dan Addhitama tidak keberatan jika Satria mengadopsi Kalfa.


"Eh, ada di kelapa," kata Aleeya yang baru saja mengambil susu kotak.


"Kalfa, bukan kelapa," ujar Kalfa.


"Susah, Dedek panggilnya kelapa aja ya." Anak Echa yang satu ini memang semaunya.


Kalfa pun mengangguk dengan terpaksa karena melihat kode mata dari semua orang.


"Hai!" sapa Kalfa ketika melihat Aleena.


Semua orang tersenyum ketika melihat senyum Kalfa yang sangat menenangkan.


"Kalfa sudah kenal mereka?" tanya Satria.


Anggukan lah yang menjadi jawaban. dari Kalfa.


"Kalfa bisa bedain mereka?" tanya Addhitma, yang kini personel trio tuy sudah lengkap.


Kalfa mendekat ke arah anak-anak Echa yang berdiri sejajar.


"Ini Kakak Na," tunjuknya pada Aleena.


"Ini Kakak Sa," tunjuknya pada Aleesa.


"Dan ini Dedek," tunjuknya pada Aleeya.


Semua orang bertepuk tangan gembira karena Kalfa benar-benar bisa membedakan ketiga anak kembar itu.


"Kok kamu hafal?" tanya Echa sambil mengusap lembut rambut Kalfa.


"Kakak Na wajahnya beda. Dedek cerewet dan Kakak Sa matanya serem." Semua orang pun tergelak mendengar penjelasan dari Kalfa.


"Dedek gak celewet, ya. Cuma bawel," ralatnya.


"Apa bedanya, Sayang?" Nesha benar-benar gemas kepada Aleeya.


"Kalau celewet suka malah-malah dan teliak-teliak kayak Bubu. Sampai kuping Dedek pengang dengalnya. Sebental-sebental 'tliplets'. Ih, pokoknya belisik," tenaga Aleeya.


Echa mendengus kesal mendengar ocehan anak ketiganya ini. Padahal yang membuat Echa berteriak itu adalah kelakuan Aleeya yang super duper menjengkelkan. Ada saja kenakalannya. Dari sepatu heels yang dipakai untuk menumbuk daun. Tas yang Aleeya ambil untuk tempat pasir dan banyak lagi tingkah Aleeya yang membuat Echa harus mengkonsumsi obat pusing setiap malam.

__ADS_1


__ADS_2