
Radit menggendong tubuh Echa menuju kamar. Tubuh Echa terlihat lemah. Berkali-kali Radit menawarkan makan selalu Echa tolak. Perut Echa benar-benar sedang tidak bersahabat. lAir putih pun dia keluarkan lagi.
"Kenapa separah ini ngidamnya, Yang?" tanya Radit,ketika Echa baru keluar dari kamar mandi. Echa hanya menggeleng.
Semalaman ini Radit tidak dapat tidur nyenyak. Tidak mungkin Radit akan membiarkan Echa muntah-muntah terus seorang diri. Melihat wajah Echa pias seperti ini pun membuat hati Radit sakit.
"Besok kita periksa, ya. Aku takut kamu dan calon anak kit kenapa-kenapa. Karena tidak ada asupan makanan yang masuk dalam perut kamu."
Radit memeluk tubuh istrinya kemudian mengecupnya dengan sangat dalam. Radit benar-benar kasihan melihat istrinya seperti ini. Jika, dia tahu ngidam Echa akan seperti ini sudah pasti dia memilih untuk menunda kehamilan Echa.
Setelah Echa terlelap, Radit mengusap lembut perut Echa. "Jangan nakal, Nak. Kasihan Bubu," imbuhnya.
Pagi harinya, Echa masih mual dan muntah. Tubuhnya sudah sangat lemah hingga Radit memutuskan untuk menghubungi sang papih yang kebetulan sedang berada di Canberra. Ketima Echa baru saja terlelap setelah tiga kali muntah-muntah, Addhitama ltiba di rumah Radit.
Ketukan pintu membuat Radit terpaksa harus meninggalkan istrinya. Bi Iroh mengatakan bahwa ada Addhitama di bawah. Radit menyuruh Bi Iroh untuk membawa Addhitama ke kamarnya.
Addhitama tersenyum bahagia ke arah Radit. Sejurus kemudian, wajah sendunya muncul. Melihat kondisi Echa seperti itu membuat Addhitama teringat akan sosok mendiang istrinya yang mengalami hal yang sama seperti Echa.l
"Ini gimana, Pih?" Ucapan Radit terdengar sangat sedih.
"Echa seperti Mamih kamu ketika mengandung kamu. Apa yang masuk ke dalam perut mamih kamu pasti akan dikeluarkan kembali. Termasuk air putih." Radit menghela napas berat dan menatap nanar ke arah sang istri.
Addhitama menepuk pelan pundak Radit. Memberikan ketenangan kepada putra bungsunya.
"Periksa kondisi kandungannya dulu. Kemudian, mintalah perawatan kepada dokter kandungan. Jika, tidak ada asupan nutrisi ke tubuh akan mempengaruhi perkembangan janin," terang Addhitama.
Addhitama menatap lekat ke arah Echa. Semakin ke sini Echa semakin mirip dengan mendiang ibu kandung Radit. Apa ini sebuah kebetulan atau memang sudah ketentuan Tuhan?
"Apa ini jawaban dari kepergian Mamih? Mamih hadir pada sosok Echa dan membuat putra kita nyaman dan sangat mencintainya."
Bibir Addhitama pun melengkung dengan sempurna. Dia merasa bersyukur memiliki menantu seperti Echa yang mau menerima kekurangan Radit. Echa pun mampu menjadi istri serta ibu untuk Radit. Memberikan kasih sayang yang tidak pernah Radit dapatkan dari ibu kandungnya dung sedari lahir.
"Papih akan tinggal di sini sampai tiga hari ke depan. Papih ingin memantau kondisi menantu Papih," ujar Addhitama.
Setelah Echa bangun, Radit tersenyum ke arah sang istri dan tak lupa mencium keningnya.
"Kamu gak kerja?" Radit menggeleng.
"Aku ingin temani istriku di rumah," ucapnya seraya tersenyum sambil mengusap perut Echa.
"Kalo ada yang kamu mau langsung bilang, ya." Echa hanya mengangguk.
Ketika Echa sudah terlihat segar, Radit membawa Echa ke dokter kandungan. Naasnya, mereka mendapat nomor antrian yang cukup besar. Mereka harus menunggu. Echa hanya dapat membari kepalanya di atas pundak sang suami.
"Mual?" Echa mengangguk.
"Jangan nakal dong, Nak. Bubunya lemas ini," ucap Radit sambil mengusap perut Echa. Senyum pun terukir di bibir Echa.
Sentuhan dan ucapan Radit membuat rasa mual itu hilang. Asal tangan Radit berada di atas perut Echa.
"Tangannya jangan dilepas, mualnya tiba-tiba ilang." Radit mengangguk.
Dua jam mereka menunggu. Akhirnya, giliran Echa masuk dan bertemu dokter kandungan. Setelah dicek semuanya, dokter mengatakan semuanya bagus. Ketika Radit menjelaskan tentang mual muntah yang Echa rasakan dokter menyetujui untuk memberikan perawatan terhadap Echa.
Radit meminta agar Echa dirawat di rumah saja. Biar dia bisa menemaninya sambil bekerja di rumah. Dokter Lucy pun menyanggupi.
Radit dan Echa kembali pulang ke rumah. Dengan telaten Radit menyuapi Echa, setelah makanan atau minuman masuk ke dalam perut Echa pasti akan llllldikeluarkan kembali. Perutnya benar-benar menolak.
"Jangan dipaksa, Dit. Kasihan nanti Echanya lemas," kata Addhitama yang baru saja datang.
Echa tersenyum ke arah Addhitama dan merentangkan tangannya kepada sang Papih mertua. Addhitama memeluk tubuh lemah menantunya.
"Selamat, ya. Jaga cucu Papih baik-baik," ucap lembut Addhitama kepada Echa.
"Ada yang mau kamu makan?" tanya Addhitama.
"Ingin jus jeruk masam." Radit segera melarang karena tidak baik untuk kesehatan Echa. Apalagi, sudah dua hari ini perut Echa tidak terisi apapun. Echa mengerucutkan bibirnya membuat Addhitama tergelak.
"Benar kata suamimu, Cha. Kasihan dedek bayinya." Echa pun hanya bisa menuruti ucapan papih mertuanya.
Malam tiba, dokter Lucy datang dengan segala peralatan ke rumah Radit. Setelah memeriksa kondisi Echa, dia menancapkan jarum infus di punggung tangan Echa. Cairan infusan berfungsi sebagai pengganti cairan untuk tubuh Echa.
__ADS_1
Mual muntah masih sering Echa rasakan. Namun, dengan batas wajar. Radit pun setiap hari memaksa istrinya untuk tetap makan meskipun hanya dua atau tiga suap. Tak lupa, Radit akan memberikan buah-buahan kepada istrinya. Sungguh Radit luar biasa. Bisa membagi antara pekerjaan dan juga merawat istri.
Dua bulan sudah, jarum infus menempel di tangan Echa. Para orang tua Echa pun tidak ada yang tahu tentang kondisi Echa sebenarnya. Ketika melakukan sambungan telepon atau video call, Echa selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Echa juga selalu mengambil posisi yang tidak memperlihatkan selang infus di tangannya. Hari in dokter Lucy membuka jarum infus tersebut. Wajah Echa pun sudah nampak segar. Meskipun kondisi tubuhnya semakin kurus.
"Masih pusing?" tanya Radit ketika dokter Lucy sudah pergi.
"Sedikit." Radit tersenyum dan memeluk tubuh sang istri.
"Ay, mau makan mie goreng." Radit tersenyum karena dia merasakan menjadi suami sesungguhnya. Merasa direpotkan oleh istrinya yang tengah hamil muda.
"Baiklah, aku buatkan, ya." Echa mengangguk dan tersenyum ke arah sang suami.
Radit turun ke bawah untuk membuatkan makanan yang diinginkan Echa. Namun, dirinya sedikit tersentak ketika ada sepasang lengan yang melingkar di pinggangnya.
"Sayang," seru Radit sambil tersenyum. Sedangkan Echa merasa nyaman memeluk tubuh suaminya dari belakang. Menghirup aroma tubuh Radit yang sekarang menjadi candu untuknya.
Radit membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukan sang istri. Radit mengecup bibir Echa sekilas. Tangannya pun mulai membalas pelukan sang istri.
"Aku buatkan mie goreng dulu, ya. Nanti kamu boleh peluk aku sepuasnya," imbuh Radit.
Echa menggeleng, dia bersandar di tubuh sang suami dan matanya dia pejamkan. Merasakan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman.
"Mie gorengnya gimana?" tanya Radit.
"Biar Bibi yang buatin." Radit pun terkekeh mendengar ucapan Echa. Hati Radit kembali bahagia mendapat perlakuan seperti ini dari Echa.
"Ya udah, kita ke ruang keluarga aja, ya."
Manjanya Echa tak lantas membuat Radit risih. Inilah yang dia mau, istrinya selalu bergantung padanya. Dia pun ingin seperti suami-suami lainnya yang selalu direpotkan akan kehamilan istri mereka ketika sedang mengandung.
"Aku usahakan pulang cepat, ya. Itulah yang diucapkan oleh Radit ketika Echa memasangkan dasi di leher sang suami sebelum Radit berangkat kerja.
"Iya, tapi janji kita ke mall. Aku pengen jalan-jalan." Radit menjawil hidung mancung Echa seraya terkekeh.
"Bawel," ledeknya.
"Nak, nanti kalo udah lahir jangan bawel kayak Bubu, ya." Echa menarik pelan rambut Radit sehingga Radit tertawa.
"Ampun, Yang. Ini rambutku udah rapi," ucapnya yang masih terkekeh.
"Salad buahnya enak?"
"Masih enakan salad buah bikinan Mamah," sahut Echa.
Radit menatap sang istri dengan tatapan sendu. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan Echa.
"Kamu rindu dengan Mamah?" Echa yang sedang fokus ke salad buah pun menoleh ke arah Radit. "Tidak ada seorang anak yang tidak rindu dengan orang tuanya."
Radit menarik Echa ke dalam pelukannya. Dia merasakan kesedihan yang istrinya rasakan. Di saat merasakan ngidam hamil anak pertama dan ngidamnya terbilang parah. Echa harus jauh dari orang tuanya. Hidup di negara orang yang berbeda budaya. Pasti ada kesedihan yang dia pendam di dalam hati. Di saat Echa menginginkan makan masakan sang mamah atau memakan makanan apapun, dia hanya bisa membayangkannya saja. Sungguh berat menjalani kehamilan seperti Echa di luar negeri.
"Setelah kandungan kamu kuat, kita akan berkunjung ke sana." Echa semakin mengeratkan pelukannya tanpa menjawab ucapan dari Radit. Rasa rindu terhadap orang tuanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi, Echa sangat dekat dengan mamah dan juga ayahnya.
Sudah dua bulan usia kandungan Echa. Namun, Echa melarang Radit untuk memberitahukan kabar bahagia ini kepada orang tuanya. Bukan tanpa alasan, Echa ingin memberikan kejutan kepada mereka. Hanya keluarga Radit yang mengetahui bahwa Echa tengah mengandung.
Sesuai janji Radit, sore ini dia pulang cepat. Ketika dia masuk ke kamar, Radit tersenyum melihat istrinya yang sedari tadi menyuruhnya cepat pulang malah tertidur pulas.
Radit membenarkan posisi selimut supaya memberikan kenyamanan dan kehangatan kepada sang istri. Radit masih melengkungkan senyum ketika dia selesai membersihkan badan pun Echa masih terlelap dengan damainya.
"Ngapain aja kamu hari ini? Lelah sekali nampaknya," gumam Radit ketika mendekat ke arah sang istri.
Radit memilih untuk membaringkan tubuhnya di samping Echa. Akhir-akhir ini pikirannya terbagi-bagi. Belum lagi tenaganya yang terkuras karena pasien di rumah sakit yang banyak.
Echa mengerjapkan mata tepat jam lima sore. Dia menatap lengan yang berada di atas perutnya. Ketika menoleh ke samping kiri, suaminya sedang terlelap dengan damainya. Senyum pun merekah di bibirnya.
"Wajar saja, jika banyak yang terpesona dengan ketampananmu. Wajahmu sangat sempurna ditambah dengan sikapmu yang membuat kamu semakin sempurna di mataku," gumam Echa sambil mengusap lembut pipi Radit.
Echa hendak beranjak dari tempat tidur. Namun, tubuhnya dicekal oleh sang suami.
"Temani aku dulu, Yang. Aku masih ngantuk." Radit semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Echa.
Echa tidak bisa menolak dan dia pun menelusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami. Tubuh suaminya seperti aroma terapi untuk Echa. Damai, tenang dan nyaman jika menghirup aroma tubuh Radit. Niat hati hanya ingin menemani. Echa malah tertidur kembali.
__ADS_1
Mereka terbangun tepat jam tujuh malam. Niat untuk pergi ke luar pun akhirnya dibatalkan. Angin malam tidak baik untuk Echa. Lagi pula, Echa sudah tidak menginginkan jalan-jalan ke mall lagi.
"Terus kamu mau makan apa? Apa kita pesan aja?" tawar Radit.
"Aku ingin ayam bakar kayak yang di pecel lele gitu, Ay. Pake sambel terasi." Makanan yang Echa inginkan seperti sudah berada di tenggorokannya. Dia hanya bisa menelan air liurnya. Jika, di Indonesia makanan itu sangat mudah ditemukan. Berbeda dengan di Canberra. Masakan Indonesia sedikit sulit ditemukan.
"Ya udah kita bikin aja, mau?" Echa mengangguk pelan.
Radit menarik tangan Echa menuju dapur. Kedua asisten pun ikut membantu majikan mereka membersihkan ayam dan menyiapkan bahan yang diperlukan. Jadi, Radit dan Echa hanya tinggal memasukkan bahannya saja.
Sambil menunggu ayam diungkep. Radit membuatkan lemon tea hangat untuk sang istri ditambah pisang goreng teman ngemil ibu hamil yang dibuatkan oleh Bi Iroh.
"Tuan, biar saya saja yang meneruskan masakan ini. Lebih baik Tuan menemani Nona saja yang sedang melamun," ujar Bi Ami.
Radit menoleh ke arah sang istri. Radit menghela napas kasar dan menyetujui tawaran Bi Ami. Echa memegang pisang goreng, tetapi hanya dia tatap tanpa dia santap.
Pisang goreng yang Echa pegang segera Radit gigit, Echa sedikit terkejut. Lalu, menatap ke arah Radit dengan dahi yang mengkerut.
"Lagian cuma diliatin doang, dimakan mah nggak." Echa hanya tersenyum, kemudian dia menyuapi sang suami kembali.
"Ada yang kurang, Yang," ucap Radit.
"Apa?"
"Kopi." Echa pun tertawa. "Bapak-bapakable banget, ya," ejek Echa.
Echa yang hendak membuatkan kopi untuk Radit dilarang oleh Radit. "Kita ke taman samping aja. Biar Bibi aja yang buatin aku kopi."
Radit dan Echa pergi ke taman belakang. Menyuruh Bi Iroh untuk membawa pisang goreng, lemon tea serta kopi ke taman. Mereka berdua bercanda dan juga tertawa bersama. Mengenang masa PDKT yang konyol dulu, berlanjut ke LDR yang selalu menimbulkan kesalahpahaman.
Radit mengeluarkan ponselnya. Masuk ke dalam sebuah aplikasi musik. Dia perdengarkan satu buah lagu yang sedang Radit mainkan kepada Echa.
🎶
Bahagia aku
Bila bersamamu
Tenang hatiku
Dalam pelukanmu
Tetap denganku
Hingga kau menua
Memutih rambutmu
Senang hatiku
Hidup bersamamu
Belahan jiwa
Jagalah diriku
Karena denganmu
Damailah hatiku
Menualah bersamaku
Echa tersenyum ke arah Radit, mengecup singkat bibir Radit. Menatap manik mata Radit dengan tatapan penuh cinta.
"Aku juga bahagia hidup bersama kamu," ucap Echa dengan penuh ketulusan.
Romantisme pun kini muncul kembali. Di mana bibir mereka saling berpagut dengan tangan Echa yang sudah merangkul leher sang suami.
"Astaga!"
Seruan Bi Iroh membuat acara romantis itu berkahir. Apalagi Echa yang sudah menunduk dalam dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Radit. Sedangkan Radit sudah berdecak kesal.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan."
...****************...