Yang Terluka

Yang Terluka
Hidup Baru


__ADS_3

Kedatangan Echa ke rumah sang mamah sudah ditunggu banyak orang. Mereka sudah menunggu jenis kelamin sang cucu dengan sangat antusias.


"Kenapa pulangnya malam banget?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayanda.


"Maaf, Mah. Tadi mampir ke rumah Papih dulu. Ada Rio yang ingin bertemu dengan aunty-nya," terang Radit.


"Oh, Mamah kira kalian ke mana dulu," ujar Ayanda.


"Echa pasti pulang, Mah. Malam ini Echa dan Radit akan nginep di sini," ujarnya.


Bukan hanya Ayanda yang merasa sangat bahagia, Gio serta kedua putranya pun tersenyum lebar.


"Bagaimana hasil USG?" tanya Ayanda, yang kini mengajak putrinya duduk di sofa. Meskipun tangan Echa tidak pernah ingin lepas dari Radit.


"Anak-anaknya tidak mau menunjukkan jenis kelaminnya. Lagi pula Radit dan Echa tidak ingin mengetahuinya."


Mata Gio dan Ayanda menatap aneh ke arah menantu serta anak mereka.


"Apapun jenis kelaminnya, Echa dan Kak Radit tidak masalah. Yang Paling penting mereka harus sehat dan sempurna." Echa menjelaskan dengan senyum yang terus mengembang,


Ayanda mengusap lembut kepala Echa. Putrinya yang dulu manja kini sangat dewasa.


"Kalian sudah makan?" tanya Gio.


"Sudah, Pa," jawab Radit.


"Apa ada makanan yang kamu inginkan?" Ayanda menatap ke arah ibu hamil.


"Echa ingin salad buah buatan Mamah."


Ayanda tersenyum hangat ke arah putrinya dan langsung membuatkan salad buah untuk sang putri kesayangan.


"Daddy mau ya, Mom," teriak Gio.


Radit dan Echa memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Radit membantu sang istri untuk melepaskan pakaian. Di usia enam bulan, kondisi kandungan Echa seperti sembilan bulan.


"Sehat terus ya, kesayangan Baba." Radit mengecup perut Echa kemudian mengecup kening Echa sebelum dia keluar dari kamar mandi.


Selama kehamilan ini, Echa tidak ingin lepas dari Radit. Dipeluk, itulah yang selalu Echa inginkan. Ketukan pintu membuat Radit harus melepaskan pelukannya sejenak. Sang mamah mertua sudah membawa nampan. Radit meminta sang mamah untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ya ampun, Kak. Lagi hamil juga masih aja pake piyama seksi," imbuh Ayanda sambil menggelengkan kepala.


"Cuma di kamar kok, Mah," balas Echa.


"Biar gampang nengokin dedek bayinya, Mah," seloroh Radit.


Pukulan pun mendarat di pundak Radit. Dia hanya tertawa.


"Makan saladnya, jangan begadang." Pasangan ini pun mengangguk mengerti.


Echa menikmati salad buatan mamah tercinta. Salad yang Echa inginkan ketika hamil pertama. Apalagi Radit tidak akan pernah membiarkan istrinya untuk makan sendiri. Dia yang akan menyuapi Echa dengan sabar dan telaten hingga salad itu habis.


"Sekarang tidur, ya." Echa merengut kesal ke arah Radit.


"Kamu nyuruh aku gendut? Habis maka tidur," sinis Echa. Radit tertawa terbahak-bahak.


"Emang kamu sekarang gendut." Jawaban yang membuat Echa menatap Radit dengan tatapan membunuh.


"Mau lewat jalur mana? Rumah sakit atau pemakaman?"


Radit segera menarik tangan Echa ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Echa dengan penuh cinta.


"Sekarang kita tidur, ya. Aku kangen dua bantal kesukaanku." Radit membaringkan tubuh sang istri. Kemudian menurunkan tali kecil yang menyangkut di pundak sang istri. Dia keluarkan bantal kesukaannya. Tanpa buang waktu dia menempelkan wajahnya di sana dengan mulut layaknya anak bayi yang sedang menikmati ASI ibunya.


Tangan Echa mengusap lembut rambut Radit. Tak butuh waktu lama, Radit terlelap dengan damainya.


Kehamilan Echa tidak terlalu berat meskipun anak yang berada di dalam kandungannya berjumlah tiga. Dari segi makanan apapun selalu dia lahap.


Kado istimewa yang Radit berikan adalah rumah mewah yang berada di samping rumah Ayanda dan Gio. Awalnya Echa tidak percaya, tetapi memang rumah ini yang Radit beli untuk istri, mertua serta adik-adik iparnya.


"Ay, ini gak kegedean?" Dengan cepat Radit menggeleng.


"Ini cukup untuk kita, Sayang. Sebentar lagi tiga anak kita hadir ke dunia." Echa memeluk pinggang sang suami seolah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.


"Maaf, merepotkan." Radit tertawa, lalu mencium puncak kepala Echa.


"Tidak ada kata merepotkan untuk istri tercinta."


Bersyukur, itulah yang terus Echa ucapkan. Radit adalah hadiah yang telah Tuhan siapkan untuk mengganti kesedihannya di masa lalu. Di balik kesedihan pasti ada kebahagiaan. Kebahagiaan inilah yang sekarang Echa rasakan.

__ADS_1


Echa berkeliling rumah baru yang sudah Radit beli satu setengah bulan lalu. Radit merenovasi hampir semua ruangan agar memberikan kenyamanan untuk istrinya.


"Kamu suka?" Echa mengangguk cepat.


Radit merangkul pundak Echa. Dan menunjukkan apa saja yang ada di rumah ini.


"Ketika kita pindah ke sini, jangan pernah bawa apapun. Semua keperluan kita sudah ada di sini," jelas Radit.


Echa melangkah menuju lemari pakaian. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat deretan baju yang sudah tersusun rapi di dalam. Begitu juga baju Radit yang sudah siap semua lengkap dengan dasi, jas serta jubah putih (jas dokter).


"Makasih, Ay." Echa memeluk tubuh Radit dengan air mata yang berlinang. Kini, saatnya dia akan membawa ayah serta kedua adiknya untuk tinggal di rumah baru.


Keesokan paginya, Rion serta Riana dan juga Iyan diajak ke rumah baru Radit dan Echa. Hanya ketakjuban yang mereka perlihatkan.


"Dek, ini hampir sama dengan rumah mamahmu," ujar Rion.


"Bedanya tidak ada lapangan basket," sambung Iyan.


Radit tersenyum dan mengusap lembut rambut Iyan. "Kalo kamu mau lapangan basket, nanti Abang buatkan." Iyan menggeleng. "Makasih, Bang. Rumah ini pun sudah terlalu mewah untuk Iyan tempati."


Hati Echa terenyuh mendengar ucapan Iyan. Echa memeluk tubuh kecil adik bungsunya.


"Rumah Kakak adalah rumah Iyan juga. Jangan sungkan karena Kakak ingin kalian bahagia hidup di sini."


Riana menunduk dalam, malu dia kepada sang kakak. Dia menyesali perbuatannya. Beranggapan bahwa kakaknya ini sudah jahat kepadanya. Pada nyatanya, kakaknya adalah malaikat tidak bersayap yang Tuhan kirimkan ke dalam keluarganya.


"Ri, apa kamu tidak bahagia tinggal di sini?"


"Bahagia, Kak," jawab Riana sambil menyeka ujung matanya.


"Kakak ingin, kita semua memulai hidup baru di sini. Melupakan semua kesedihan kita dan menggantikannya dengan kebahagiaan tiada tara."


"Kakak sayang kepada kalian. Jika, kalian butuh apa-apa jangan sungkan untuk bilang ke Kakak. Semua keinginan kalian yang masih berada dalam batas positif akan Kakak usahakan untuk Kakak penuhi."


Bulir bening menetes begitu saja di wajah Rion. Bangga bercampur haru menjadi satu.


Riana dan Iyan memeluk tubuh Echa dengan air mata yang sudah menetes di mata mereka. Hanya kata 'terima kasih' yang mampu Riana dan Iyan ucapkan.


"Ya Allah, mampukan aku untuk membahagiakan ayah serta kedua adikku. Mereka adalah harta yang sangat berharga yang aku miliki."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2