
Radit menunggu istrinya di kamar. Apa yang dia pikirkan benar adanya. Istrinya datang dengan wajah yang sembab. Radit menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Echa.
"Besok aku akan bawa Iyan ke suatu tempat," ujarnya.
Echa menatap Radit penuh tanda tanya. Namun, dia tidak berani menanyakannya kepada sang suami.
"Sembuhkan psikis Iyan," pinta Echa.
Radit tersenyum dan Echa sudah tahu tujuannya mengajak Iyan itu apa.
Keesokan sorenya, Radit menjemput Iyan di sekolahnya dan mengajak Iyan ke rumah Papihnya. Dahi Iyan mengkerut ketika mobil Radit berhenti di jalan rumah Addhitama.
Baru saja Iyan akan bertanya, Radit sudah memotongnya. "Ikuti saja," tukas Radit.
Iyan mengikuti kakak iparnya dari belakang. Ternyata di sana sudah ada Addhitama yang menyambutnya.
"Hai Iyan!" sapa Addhitama.
Iyan mencium tangan Addhitama dengan sopan. Tangan Addhitama mengusap lembut kepala adik dari menantunya ini.
"Iyan, apa kamu merasa kesepian tanpa seorang ibu?" tanya Addhitama.
Iyan terkejut mendengar pertanyaan dari Addhitama ini. Dia menatap ke arah Radit. Hanya seulas senyum yang Radit berikan. Iyan tidak ingin menjawabnya, tetapi tatapan Addhitama seolah menginginkan jawaban darinya.
"Jawablah! Om hanya ingin tahu saja," ujar Addhitama.
"Tidak ada seorang anak yang tidak merindukan ibunya, Om," jawab Iyan lirih.
"Dit, apa kamu merindukan mamihmu?" Kini Addhitama bertanya kepada Radit.
"Tentu, Pih. Namun, Radit sudah berdamai dengan rasa rindu itu."
Iyan yang mendengar ucapan Radit menatap ke arah sang kakak ipar. Senyum penuh ketenangan yang dia tunjukkan .
"Iyan, kamu tahu tidak. Laki-laki yang berada di samping kamu itu adalah anak piatu sedari dia lahir ke dunia," tutur Addhitama.
Iyan mengangguk menandakan dia tahu akan kakak iparnya tersebut.
"Raditya Addhitama lahir tanpa mengetahui wajah ibunya seperti apa. Dia juga sama sekali tidak merasakan sentuhan hangat dari sang ibu. Nasib dia lebih menyedihkan dari kamu, Iyan."
Iyan menatap pilu ke arah kakak iparnya. Akan tetapi, Radit memperlihatkan wajah biasa.
"Rasa iri dan sedih itu pasti ada. Apalagi ketika seusiamu. Malah, Abang iri pada kedua kakak Abang sendiri," terangnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Iyan aneh.
Radit tersenyum tipis. Dia menatap lurus ke depan.
"Mereka berdua bisa melihat wajah Mamih Abang, bisa bermain bersama Mamih serta bisa merasakan kasih sayang Mamih. Sedangkan Abang sendiri ... jangankan digendong atau bermain dengan mamih. Wajah Mamih pun Abang tidak pernah tahu, jika bukan dari foto yang terpajang pada dinding kamar kedua kakak Abang."
Iyan terdiam mendengar perkataan dari Radit. Dia merasa menjadi anak yang paling menyedihkan, tetapi Abang iparnya lebih menyedihkan darinya.
"Abang juga pernah marah kepada Tuhan. Kenapa Abang dilahirkan jika Mamih harus berpulang? Abang sendiri pernah menyesal telah dilahirkan ke dunia ini tanpa mengenal sosok seorang ibu. Rasanya Tuhan terlalu kejam kepada Abang," ungkapnya.
"Lebih parahnya, kakak Abang dan juga keluarga Mamih menyalahkan Abang atas kepergian Mamih. Dimusuhi dan dibenci keluarga sendiri pernah Abang alami dan itu berlangsung cukup lama."
Iyan benar-benar tidak bisa berkata mendengar cerita dari kakak iparnya ini. Dia kira hidup Abangnya bahagia sedari kecil, tetapi malah sebaliknya. Iyan tidak bisa membayangkan bagaimana jika sekarang dia mengalami hal serupa seperti abangnya. Dibenci dan dimusuhi keluarganya ketika sang ibu tiada.
"Pernah sekali Abang ingin mengakhiri semuanya karena Abang lelah sekali selalu disalahkan. Padahal Abang juga tidak meminta untuk dilahirkan. Jika, boleh memilih ... lebih baik Abang yang tidak selamat dari pada harus Mamih yang pergi. Meninggalkan Papih dan buah kedua kakak Abang," terangnya.
Hati Addhitama masih terasa sakit jika mendengar ucapan tersebut. Dia sangat tahu bagaimana tersiksanya Radit. Dia tahu bagaimana depresinya Radit karena tekanan dari keluarganya sendiri. Addhitama merasa gagal menjadi seorang ayah ketika Radit meminum racun serangga. Ketika ditanya alasannya kenapa itulah yang membuat Addhitama menangis berhari-hari.
Suasana mendadak hening, ketiga laki-laki yang berbeda era itu pun tengah bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
Lima menit berselang, Radit menatap ke arah Iyan. Dia menepuk lembut pundak sang adik ipar. Ketika Iyan menoleh, dia tersenyum ke arah Iyan.
"Hidup kamu lebih beruntung dari Abang. Kamu masih bisa melihat bunda, merasakan kasih sayang bunda. Kamu juga memiliki foto bersama bunda serta keluarga kamu. Berbeda dengan Abang."
"Ini ada Abang di sini," tunjuknya ke arah foto tersebut.
Radit tersenyum kecut melihatnya. "Coba kamu lihat dengan teliti. Itu foto asli apa editan," ujarnya.
Iyan melihat lebih tajam lagi wajahnya berubah sendu. Foto itu arah foto editan dan gambar abangnya hanya ditempel pada foto tersebut.
Ya Tuhan, kenapa Iyan tidak bersyukur dengan apa yang Iyan miliki sekarang ini? Iyan kira ... hanya Iyan yang bernasib malang. Namun, masih ada anak yang lebih malang dari Iyan. Dia adalah Abang Iyan sendiri.
Iyan menyesal karena selalu membuat kakaknya bersedih. Padahal, kakaknya sudah memberikan hal yang terbaik untuknya. Melebihi ibu kandungnya sendiri.
Teman-teman Iyan memang memiliki ibu. Mereka juga berhak memamerkan ibu mereka kepada anak-anak yang lain. Meskipun Iyan gak memiliki ibu, Iyan memiliki Kakak yang bisa Iyan kenalkan kepada teman-teman Iyan. Kakak yang seperti ibu untuk Iyan.
"Kamu lebih beruntung dari anak-anak piatu yang lainnya, Iyan." Ucapan Addhitama membuat Iyan menoleh.
"Kamu memiliki kakak dan Abang yang selalu mensupport kamu. Tidak pernah menyalahkan kamu perihal apapun. Malah banyak orang yang menyayangi kamu. Seperti keluarga dari para sahabat ayah kamu," imbuh Addhitama.
Iyan mengangguk dan dia sadar, apa yang dia pikirkan itu salah. Tidak seharusnya dia iri kepada teman-temannya. Setiap anak pasti memiliki cerita keluarga masing-masing. Ada anak yang terlahir dari keluarga lengkap belum tentu mendapat kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tua serta keluarganya. Begitu juga dengan anak yang hanya memiliki keluarga 'sebelah'. Belum tentu anak itu tidak bahagia, bisa saja anak itu sangat bahagia karena kasih sayang salah satu orang tuanya hanya tercurah kepadanya untuk menebus segala kesalahan.
Dari cerita sang Abang, Iyan mengerti akan rasa bersyukur. Hidupnya tidak seberat sang Abang ketika kecil. Hidupnya lebih bahagia karena banyak orang yang menyayanginya. Ditambah dia juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh anak pada umumnya.
__ADS_1
Sahabat-sahabatnya yang tak kasat mata pun sangat menyayangi Iyan. Apalagi satu sosok yang dia panggil ibu. Dia selalu memberikan kasih sayang yang tidak pernah Iyan dapatkan dari ibundanya.
"Makasih, Bang. Sudah membuka lebar mata Iyan," ucapnya.
"Makasih juga, Om. Telah menyadarkan Iyan artinya bersyukur," lanjutnya lagi.
Radit dan Addhitama tersenyum bahagia mendengar ucapan Iyan. Mereka melihat sorot mata Iyan tidak lagi sendu. Seakan sudah tidak ada yang harus dia irikan. Takdirnya sudah seperti ini, dia harus menjalankannya takdirnya dengan baik. Di balik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan yang nantinya akan Iyan dapatkan.
Iyan sangat berterima kasih kepada kakak iparnya. Radit hanya mengusap lembut ke arah Kepala Iyan.
"Jangan cengeng, nanti kamu akan jadi pengganti Ayah. Pelindung untuk Kak Echa dan juga Kak Ri."
Iyan tersenyum serta mengangguk mantap. Pandangannya kini menatap lurus ke depan. Ini manga sudah skenario Tuhan Iyan hanya tinggal menjalankan.
Bundanya pergi untuk menjadikan Kakaknya, Riana menjadi wanita baik. Juga menyudahi kesedihan yang ayahnya rasakan.
Tuhan memang sangat baik, Iyan saja yang kurang bersyukur dan terlalu banyak mengeluh. Iyan lupa bahwan Tuhan tidak akan menguji umatnya di bahasa kemampuannya. Iyan berterima kasih sekali karena telah dilahirkan dari keluarga yang sangat luar biasa. Banyak orang yang menyayanginya. Banyak orang yang terus mendoakannya.
Dia menatap ke arah Radit. Di balik senyum yang terus berkembang di wajahnya ternyata banyak menyimpan luka yang tak terlihat yang dia rasakan. Iyan harus seperti kakak iparnya. Tidak perlu menunjukkan kesakitannya karena orang lain hanya akan mengucilkan jika terus bersedih.
Semerbak melati melewati hidungnya. Iyan tersenyum ke arah ibu yang kini datang menjenguknya. ibu yang menjadi ibu pengganti untuk Iyan. Ibu mendekat dan memeluk tubuh Iyan dengan penuh cinta.
"Jangan bersedih, Nak. Kamu pasti akan melalui semuanya. Kamu pasti menjadi anak yang kuat. Ibu yakin itu." Iyan tersenyum dan tangannya seperti tengah memeluk seseorng. Addhitama menukikkan kedua alisnya. Radit hanya tersenyum.
"Terima kasih, Ibu. Tetap jaga Iyan dan selalu bimbing Iyan menuju jalan kanaikan."
Addhitama tercengang dengan apa
yang Radit katakan. Ternyata bukan hanya ibu yang datang, teman-teman Iyan yang lain pun ikut datang ke rumah Addhitama. Mereka memeluk tubuh Iyan apalagi Jojo.
"Kamu kan punya Jojo. Jang sedih, ada Dev juga ada juga Om Uwo. Kita keluarga susah senang harus dihadapi bersama," tutur Jojo.
"Iya, Jo. Maafkan Iyan."
"Kakak beruntung punya mamahnya di kembar, orang-orang dekat ayah Kakak sayang sama Kakak. Harusnya Kakak senang. Jangan sedih, biarin gak punya ibu juga kan Kakak masih punya ibu kun-kun."
Iyan tersenyum dan memelik tubuh Dev. Iyan baru sadar akan kasih sayang sesungguhnya itu berasal dari orang yang terdekat. Bukan orang lain. Rasa iri hanya akan menjadi penyakit hati bukan membahagiakan diri.
"Iyan sangat beruntung dikelilingi oleh manusia dan makhluk tak kasat mata yang menyayangi Iyan. Kenapa Iyan harus itu terhadap orang lain?" tanya pada Radit.
"Karena kamu hanya melihat kebahagiaan yang kamuflase. Sekilas bahagia, belum tentu aslinya. Berbeda dengan kamu, kamu terlihat menyedihkan tetapi kamu memiliki orang-orang yang menyayangi kamu dengan sepenuh hati. Malah mereka tidak bisa seperti itu. Kamu anak yang berbeda dan istimewa. Kamu disayangi oleh banyak makhluk ciptaan Tuhan. Tanamkan rasa bersyukur sejak sekarang, dengan seperti itu kamu tidak akan pernah merasa iri dengan apa yang dimilik oleh orang lain."
Iyan sangat paham dengan ucapan sang Abang. Dia akan mencoba mengamalkan.
__ADS_1