
Benar kata Radit, hari pertama meninggalkan ketiga anaknya pasti sangat berat. Setelah beberapa hari meninggalkan mereka, Echa tidak terlalu khawatir karena ayahnya merawat si triplets dengan sangat baik.
Seperti sekarang ini. Ketika perut Rion tak tertahan, dia ingin buang air besar. Akan tetapi, ketiga cucunya tidak ingin berjauhan dengannya. Rion dibuat bingung apalagi perutnya yang semakin melilit.
"Please ... Engkong mau buang air dulu, ya." Ketiga cucu Rion menggeleng dengan cepat.
"Ya Tuhan ... gak tahan ...."
Rion berlari ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Diikuti dengan riang gembira oleh ketiga cucunya.
Namun, ketika pintu kamar mandi ditutup. Ketiga cucunya menangis keras. Menggedor-gedor pintu dan berteriak memanggil Rion.
"Ton!"
"Buta Ton!"
"Buta!"
Begitulah teriakan di triplets. Rion yang sedang berkonsentrasi pun harus terganggu oleh tangisan si triplets.
"Tunggu disitu, ya. Engkong ...."
"Ah ... lega," ucapnya.
Mbak Ina pun tidak mampu menenangkan ketiga balita ini. Mereka bersih keras untuk tetap berdiri di depan pintu kamar mandi. Pintu kamar mandi pun terbuka, ketiga cucunya memeluk kaki Rion seraya menangis tersedu.
"Mbak, kalo mamahnya lagi kebelet. Apa mereka begini?" Mbak Ina pun mengangguk.
"Ya ampun, menderita sekali putriku," gumamnya.
Rion kembali membawa ketiga cucunya ke tempat bermain. Mereka asyik bermain. Hingga Aleeya menunjuk ke arah layar tv besar.
"Eta api, au aik tu," ujar Aleeya.
"Ton, eta api, Ton," rengek mereka semua.
Rion menghela napas kasar. Rion bisa saja membawa mereka bertiga ke mall untuk naik kereta api mainan. Namun, sudah pasti dia akan kewalahan jika membawa tiga tuyulnya.
Berpikir dan berpikir, tercetuslah sebuah ide. Rion mencari tiga kardus mie instan bekas. Dia hubungkan satu per satu kardus bekas tersebut dengan posisi memanjang layaknya kereta api sungguhan.
"Sudah selesai," ucap Rion riang.
Dari per satu anak-anak Echa Rion naikkan ke dalam kardus. Setelah semuanya masuk, Dia mansrik tali panjang di depan layaknya kerbau yang sedang membajak sawah. Keceriaan terpampang nyata di wajah anak-anak Echa.
Tawa riang gembira mereka terdengar jelas di telinga Rion. Ternyata menarik ketiga kurcaci gembil ini sangatlah menguras tenaga. Hingga napas Rion tersengal karena menarik mereka.
"Ton, eyus," ucap Aleeya.
__ADS_1
"Agi, Ton," kata Aleena.
"Dalan, Ton," imbuh Aleesa.
Ya Tuhan, Rion merutuki kebodohannya. Kenapa dia harus membuat kereta dari kardus bekas jika pada akhirnya dia bagai kerbau pembajak sawah yang disiksa oleh ketiga cucunya.
Lima menit berselang, Rion sudah terkapar lemah membuat ketiga cucunya tertawa bersama-sama. Mereka mencoba turun dari dalam kardus. Namun, kardus itu mulai miring dan miring. Akhirnya mereka jatuh ke samping. Bukannya menangis, mereka bertiga tertawa bahagia. Mereka bangkit dari posisi miringnya menuju ke arah Rion. Satu per satu dari mereka naik ke atas tubuh Rion. Hingga Rion semakin tak berdaya.
"Aik Uda," ujar Aleesa.
Mereka menaiki turunkan tubuh mereka ke punggung Rion hingga Rion bagai tak punya tulang.
"Ampun ... Engkong capek. Pinggang Engkong sakit," lirihnya.
Ketiga anak Echa pun turun dari punggung Rion. "Da celu," omel Aleeya.
Sedangkan Aleena dan Aleesa menatap tajam ke arah Rion. Mereka meninggalkan Rion yang sedang tengkurap bagai buaya tak berdaya.
Jam empat tiga puluh sore Echa tiba di rumah. Dia melihat sang ayah tengah dipijat oleh Pak Mat.
"Ayah kenapa?" tanya Echa heran.
"Ayah dianiaya sama ketiga anak kamu," adunya sambil menahan sakit.
"Aniaya?" Rion tidak menjawabnya.
Echa segera mencari ketiga putrinya, ternyata mereka semua sedang bermain bersama Riana di kamar mereka. Sebelum Echa membersihkan diri dia tidak akan menyentuh ketiga anaknya. Echa membersihkan tubuhnya. Kemudian dia mengecek cctv yang ada di rumah.
"Kenapa ketawa, Yang?" tanya Radit yang baru masuk ke dalam kamar.
Echa menunjukkan cctv yang sedang dia tonton. Bukan hanya Echa yang sakit perut, Radit pun tertawa lepas.
"Anak kita benar-benar jahil, ya," kata Radit.
"Banget," sahut Echa.
"Temui anak-anak gih. Urusan Ayah nanti aku yang periksa." Echa pun mengangguk.
Kehadiran Echa membuat ketiga anaknya bahagia.
"Bubu uang," kata mereka bertiga dengan sangat antusias.
"Tadi nakal gak?" tanya Echa.
Dengan cepat ketiga anaknya menggeleng. "Aik kok," jawab Aleeya. Kedua anak Echa yang lainnya pun mengangguk menyetujui ucapan Aleeya.
"Terus Engkong kenapa? Katanya karena kalian nakal." Ketiga tangan mungil anak-anak Echa mengibaskan ke kanan dan kiri.
__ADS_1
"Nyonyonyo."
"Dak atal," ucap Aleena.
Setelah Radit selesai membersihkan tubuh. Radit menghampiri Rion yang sedang dipijat.
"Radit periksa dulu, ya." Rion mengangguk.
Semuanya Radit cek, setelah pengecekannya selesai dia berangkat ke apotek yang tak jauh dari rumahnya.
"Bubu Sayang, mau nitip makanan gak? Aku mau keluar nyari obat untuk Ayah," ujar Radit yang kini sudah masuk ke kamar si triplets.
"Mau bakso, Ay," jawab Echa.
"Mending bakso aku aja, Yang. Dijamin nikmat," bisik Radit. Tak segan Echa memukul lengan Radit hingga dia terkekeh.
"Ri juga mau, Bang," timpal Riana.
"Iya. Ya udah, aku berangkat, ya." Radit mencium kening Echa sebelum pergi.
"Ngeliat keromantisan Kakak sama Abang tuh buat Ri iri," ungkap Riana.
"Iri kenapa?" tanya Echa.
"Perlakuannya manis banget sama Kak Echa. Meskipun udah lama berumah tangga ngeliatnya kaua pengantin baru terus." Echa pun tertawa mendengar ucapan dari Riana.
"Kakak doain semoga kamu juga mendapat pendamping seperti Bang Radit. Kalau bisa lebih dari Abang Radit," ucap Riana.
"Amiin," jawab Riana.
Tibanya Radit di rumah, dia membawa bungkusan obat serta bungkusan bakso yang jumlahnya tidak sedikit.
"Banyak banget, Ay."
"Kita makan rame-rame. Itung-itung syukuran udah bisa buka puasa," kelakar Radit.
Merek semua berkumpul di ruang keluarga, termasuk Mbak Ina dan Pak Mat yang sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
Bakso pun dibuka, mereka mulai meracik bakso dengan saus, sambal serta kecap dan cuka. Mencicipinya hingga terdengar kata enak dan nikmat dari mulut mereka.
Berbeda dengan ketiga anak Echa. Diberi bakso malah dijadikan mainan oleh mereka. Merak saling melempar satu sama lain dengan bakso. Radit hanya menggelengkan kepala begitu juga dengan Echa.
"Itu buat dimakan, anak-anak. Bukan buat mainan," sergah Radit.
"Mam?" tanya Aleena.
"Iya, dimakan. Nih seperti ini." Radit mempraktekan cara menambah bakso.
__ADS_1
Ketiga anaknya hanya ber-oh ria. Aleena segera menghampiri Rion. Ketika mulutnya hendak menyuapi bakso yang sudah ada di sendok, Aleeya memasukkan bakso kecil ke dalam mulut Rion. Begitu juga dengan Aleesa dan Aleeya.
Mulut Rion benar-benar tak bisa berbicara. Bagaimana jadinya tiga bakso kecil masuk ke dalam mulut Engkong sekaligus?